Rindu Alexa

Rindu Alexa
Gelisah


__ADS_3

"Kita sudah sampai." lanjut lelaki itu saat Hanum menoleh ke arahnya. Arkha tersenyum dan kemudian turun, membukakan pintu mobil untuk Hanum.


Tanpa banyak bicara Hanum mengikuti lelaki itu masuk ke dalam sebuah warung bakso kecil tapi cukup ramai dengan sepasang muda mudi.


Seperti tempat khusus untuk berkencan. Tapi, Hanum kembali lagi mengingat hanya Rania gadis yang Arkha sukai.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Arkha setelah memesan dua mangkuk bakso. Hanum hanya menggeleng lemah, padahal dalam hatinya mengakui jika tempat ini memang bagus. Di pinggir sungai dengan bebatuan besar dan di bawah pepohonan besar tentu saja sangat nyaman. Padahal letaknya tidak jauh dari kota.


"Baiklah, ayo ikut Kak Arkha." Arkha langsung menarik tangan Hanum ke dekat sungai. Dia juga memberi tahu tukang bakso untuk membawa pesanannya di meja yang ada pinggir sungai.


Hanum tidak memberikan reaksi apapun, gadis itu masih terdiam. Dan hanya beberapa pengamen jalanan yang mampir untuk meramaikan suasana.


"Kamu kenapa, dari tadi diam terus?" tanya Arkha yang tidak biasa melihat gadis itu hanya terdiam.


"Aku tidak bisa lama- lama, Kak. Sebelum pujukt sembilan aku harus sampai rumah." ucap Hanum.


Mereka terdiam sejenak saat pelayan membawakan dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk.


"Tenang saja, nanti Kak Arkha yang akan mengantarmu dan bilang sama Papa kamu." jawab Arkha.


"Nggak-nggak, aku akan pulang naik taxi." jawab Hanum dia mulai mencampur kuah bakso dengan sambalnya. Arkha tidak menjawab lagi gadis di depannya Tapi, dia akan mengantarnya pulang.


"Sudah! Jangan terlalu pedas! Kamu bisa sakit perut." Arkha menahan tangan Hanum yang akan menyendokkan kembali sambal ke dalam.


"Aku sudah terbiasa! Jangan mengaturku!" ketus Hanum dangan menatap tajam Arkha. Arkha pun langsung mengganti mangkuk Hanum dengan mangkuknya, setelah mengambil tempat sambal.


"Aku sudah tidak selera lagi." Hanum pun menyodorkan mangkuk bakso ke hadapan Arkha. Tatapan tajam dia layangkan pada lelaki yang saat ini tersenyum mengetahui kemarahannya.


"Kak Arkha hanya tidak ingin kamu sakit, Hanum. Ayo... makan jika kamu tidak mau makan sendiri!" Arkha menyodorkan sendok ke arah mulut Hanum. Gadis itu hanya mendengus kesal dan melirik sendok berisi yang berisi bulatan bakso dan siap masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak membuka mulut ini akan tetap seperti ini, lo. Dan orang akan melihat aneh ke arah kita." ucap Arkha membuat gadis itu bertambah kesal. Arkha yang suka memaksa membuat Hanum tidak punya pilihan lain karena banyak mata yang sedang memperhatikan mereka.


"Aku akan makan sendiri." ucap Hanum dengan menarik lagi mangkok baksonya yang sudah ada sedikit sambalnya.


Arkha hanya tersenyum, saat melihat gadis di depannya menyuap sendiri satu persatu bulatan baksonya. Arkha kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia harus mengantarkan Hanum sampai rumah sebelum jam sembilan malam.


Tepat setengah sembilan Arkha menghentikan mobil di depan rumah mewah bercat putih.


"Kak, Arkha pulang saja! Aku akan masuk sendiri." ucap Hanum setelah perdebatan panjang di dalam mobil. Hanum meminta Arkha untuk menurunkan ya di depan komplek saja. Tapi, lelaki itu tidak mau dengan alasan takut terjadi sesuatu saat gadis itu masuk ke dalam gang.


Hanum membuka pintu mobil Arkha dan membantingnya. Sementara Arkha langsung mengejarnya membuat gadis itu bertambah kesal.


"Kak Arkha faham Bahasa Indonesia, nggak? Aku bisa masuk sendiri!" bentak gadis itu terlihat kesal.


"Sudah aku katakan aku akan mengantarmu sampai kamu masuk!" Arkha langsung berjalan cepat menuju pintu rumah itu. Sementara Hanum mengomel dengan kelakuan lelaki itu.


"Assalamualaikum, Tante." ucap Arkha saat melihat wanita mungil yang mirip Hanum itu membuka pintu rumah.


"Maaf saya sedikit terlambat mengantarkan Hanum." lanjut Arkha membuat lirikan tajam gadis itu. Hanum hanya mencium tangan Zoya, kemudian dengan cuek dia masuk ke dalam rumah tanpa peduli dengan Arkha yang sedang menjelaskan sesuatu pada mamanya.


"Ohhh.. terima kasih, saya kira Hanum pergi sendiri tadi. Oh ya, silahkan masuk dulu." ucap Zoya mempersilahkan Arkha untuk masuk.


"Saya memang tidak sengaja bertemu Hanum di mall tadi, Tan. Terima kasih, tapi saya harus pulang sekarang." ucap Arkha dengan menganggukkan kepala dan kembali berjalan menuju mobilnya.


Hanum melihat kepergian Arkha dari balik tirai jendela kamarnya. Dia hanya tidak mengerti dengan hatinya. Saat bersama lelaki itu, dirinya begitu sulit untuk mengendalikan diri, tapi dia tahu lelaki itu hanya tertarik pada Rania, aktifis kampus yang sangat popular di kalangan cowok.


###


Alexa begitu gelisah dengan kesepiannya, sejak kembali ke rumah, Shakti terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya. Dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa setelah menemani Mama Gayatri hingga mertuanya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Alexa berjalan mengambil tas kecil yang dia bawa dari rumah. Dia kemudian mengambil selembar foto yang sengaja dia sisipkan di dalam tasnya.


"Oma... Ale sudah menikah. Seandainya Oma masih ada." Alexa menitikkan air mata, tiba tiba saja dia merindukan Oma Shanti. Wanita yang menjadi sosok Ibu pertama untuknya.


Akhir- akhir ini dia begitu sensitif dengan perasaannya. Selain dia memang tidak punya aktifitas yang rutin, Shakti juga begitu sibuk, bahkan lelaki itu sering pulang kantor sampai jam sepuluh malam.


Alexa masih tertegun dengan duduk di tepi ranjang dan membelakangi pintu. Dia tidak tahu, jika sejak tadi suaminya memperhatikannya. Shakti juga bisa melihat istrinya mengusap air matanya.


Berlahan Shakti melangkah mendekati Alexa, membuat Alexa terkejut dengan kehadiran Shakti yang dianggapnya tiba tiba.


"Mas Shakti sudah pulang." ucap Alexa kemudian berdiri saat suaminya sudah berdiri di dekatnya.


"Mau mandi apa mau makan, dulu?" tanya Alexa sedikit gugup, dia tidak ingin suaminya tahu kegelisahan yang saat ini.


"Aku ingin memelukmu!" Shakti langsung mendekap istrinya, ada rasa bersalah saat melihat istrinya tidak bahagia. Alexa pun melingkarkan tangannya yang cakupannya tidak sampai di tubuh kekar itu.


"Maafkan aku, jika akhir akhir ini aku tidak punya waktu untukmu!" bisik Shakti dengan menciumi rambut wangi istrinya. Alexa hanya mengangguk dalam dekapan hangat tubuh besar suaminya.


"Ayo, temani aku makan. Perutku sudah sangat lapar, Ay." Alexa mengurai pelukannya saat mendengar kalimat Shakti.


Mereka berjalan keluar kamar dan menuju ke meja makan. Di sana sudah ada menu kesukaan Shakti.


"Mas, siapa yang beli martabak ini?" tanya Alexa sedikit berbinar saat melihat makanan favoritnya.


"Aku, Ay. Setelah bertemu dengan kolegaku, aku melewati martabak legend favoritmu." ucap Shakti. Dia memang sengaja mencari martabak favorit istrinya.


"Terima kasih, Mas." ucap Alexa dengan berbinar. Wanita itu senang, diantara kesibukannya, Shakti masih mengingatnya.


"Ay, lusa kita harus datang di acara tunangan temanku. Besok aku akan minta Mama untuk memanggil butik langganannya untuk datang ke rumah." ucap Shakti sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Tapi, aku masih takut datang di tempat umum, Mas." sahut Alexa. Dia memang belum terbiasa menghadapi publik setelah kejadian viral itu.


"Ay, jangan mikir macam macam. Mereka tahu kita sudah menikah. Oke." Shakti mencoba meyakinkan istrinya, dia juga harus bisa mengembalikan rasa percaya diri istrinya untuk menghadapai publik.


__ADS_2