
"Tidak, Dok! Hanya sedikit gerah." Shakti benar benar menautkan kelingkingnya dengan kuat hingga Alexa tak bisa lagi untuk berontak. Lelaki itu seolah tidak akan membiarkan Alexa tenang bersama lelaki yang membuat dirinya menahan emosi kali ini.
Mereka menikmati suasana pesta, tapi tidak dengan Alexa. Pikirannya berkecamuk karena sosok di belakangnya itu terus saja menautkan jari kelingking di kelingking mungilnya. Alexa berusaha agar orang lain tidak melihat interaksi diantara mereka.
"Halo, Dokter Agam." sapa seorang lelaki dengan menggandeng seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya.
"Dokter Faris, apa kabar?" balas Agam dengan menyambut seniornya itu dengan mengajaknya bersalaman.
"Siapa, Dok? Cantik sekali." timpal wanita yang saat ini berdiri dengan menggandeng lengan Dokter Faris. Dia adalah Dokter Anya, wanita yang baru tiga bulan menyandang status istri Dokter Faris.
"Kenalkan, saya Anya." Anya pun menjulurkan tangan. Shakti yang mendengarnya pun melepaskan tautan di kelingking alexa. Sungguh saat ini Shakti malah fokus dengan Alexa, bukan lagi pada bahasan seputar bisnis yang tengah dia bicara dengan teman satu dunia dengannya.
"Alexa." Alexa menyambut uluran tangan Dokter Anya dengan rasa lega karena terlepas dari Shakti.
"Kapan kalian menyusul kita?" goda Dokter Fariz karena saat ini menganggap mereka berpacaran. Di rumah sakit Dokter Agam dan Alexa selalu menjadi topik perundungan.
"Menyusul kemana?" Agam seolah tidak mengerti candaan Dokter Fariz. Shakti pun semakin memasang pendengarannya dengan baik. Apalagi setelah kepergian kedua temannya yang tadinya berbincang bersamanya. Lelaki itu kini berdiri sendirian di belakang Alexa.
"Menuju sah, dong." jawab Fariz sambil tertawa. Seketika wajah Shakti yang mendengarnya pun langsung memanas. Rahangnya mengeras, menahan gejolak emosi yang mulai berkecamuk tapi masih tertahan.
"Doakan saja, Dok. Semoga sang bidadari memberi lampu hijau." lirik Agam, lirikannya mengarah pada Alexa dengan sebuah senyum simpul yang tercetak begitu manis. Bahkan, Alexa pun membalasnya dengan senyum tipis disertai salah tingkah. Alexa sedikit menoleh ke samping dengan ujung mata tertarik untuk mendapati lelaki yang kini berjalan menjauh darinya.
Shakti memang berjalan menghampiri sebuah meja bar yang menjadi salah satu fasilitas resort, tapi tatapan tajam dengan wajah yang terlihat dingin itu tidak bisa beralih dari gadis yang saat ini bersama lelaki yang membuat hatinya ingin meledakkan emosi.
Lelaki tampan itu semakin mengetatkan rahangnya, tatkala senyum menggoda Agam tertuju pada Alexa. Shakti yang bergelut dengan rasa marah itu pun mengambil sebuah minuman. Dia menegak segelas wine yang sudah disiapkan bartender. Sesekali dia memang melihat Alexa menoleh ke arahnya, tapi rasa marahnya tidak juga kunjung bisa mereda.
"Dok, saya permisi ke toilet dulu!" izin Alexa yang merasa ingin buang air kecil.
Langkah kecilnya berjalan tergesa menuju toilet. Beberapa menit berada di dalam kamar kecil dan dilanjutkan dengan membenarkan dandanannya di depan kaca toilet membuat gadis cantik bertubuh mungil itu melanjutkannya dengan berjalan keluar.
"Astagfirullah, Mas Shakti." Alexa tersentak kaget ketika membuka pintu, Alexa mendapati tubuh tinggi atletis itu sudah berdiri di depannya.
Wajah putihnya terlihat memerah dengan tatapan tajam dan guratan kemarahan yang nampak di wajahnya. Alexa memundurkan langkahnya. Nyalinya sedikit menciut kala melihat kemarahan di wajah Shakti.
Tanpa bicara, lelaki itu menarik lengan Alexa untuk mengikutinya. Ada rasa takut yang baru kali ini Alexa rasa, saat melihat Shakti begitu marah padanya. Di sisi lain, dia tidak lagi tahu kesalahan apa yang sudah dilakukannya.
Gaun berwarna baby blue itu cukup membuat Alexa kewalahan untuk bisa menyamai langkah lelaki yang menarik lengannya dengan pandangan jauh ke depan.
__ADS_1
"Mas Shakti." Keluhan Alexa terdengar hampir menangis, tapi tidak dipedulikan oleh Shakti. Lelaki yang kemarahannya sudah di ubun-ubun itu terus saja menarik lengan Alexa menuju parkiran
Shakti memaksa Alexa masuk ke dalam Mobil dan menguncinya secara otomatis bersamaan saat dia berjalan menuju bangku yang ada di belakang kemudi.
Tanpa menunggu persetujuan dari gadis di sebelahnya, Shakti melajukan mobilnya meninggalkan resort.
"Mas Shakti, bukan seperti ini caranya. Bagaimana dengan Dokter Agam?" suaranya terdengar tercekat, dan itu malah membuat lelaki yang melajukan mobilnya dengan menggila itu semakin tidak peduli.
"Kirim pesan pada laki-laki itu, jika kamu sudah pulang dengan papamu." Shakti melihat Alexa menatap ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dari Dokter Agam sudah tertera di layar ponselnya. Alexa semakin bimbang, haruskah dia berbohong? Dirinya yakin jika saat ini Dokter Agam pasti bingung dan mencemaskan dirinya.
Maaf, Dok. Aku harus pulang bersama Aleks tanpa memberitahu Dokter terlebih dahulu.
Dengan rasa bersalah pada lelaki itu, Alexa mengirimkan pesan dan kemudian mematikan ponselnya. Dia tidak tahu apa yang dikatannya jika Dokter Agam menelpon.
"Ciiitttt..." Shakti menghentikan mobilnya tepat di pinggir tebing yang di bawahnya merupakan laut lepas.
"Keluarlah!" ucap Shakti saat membukakan pintu mobil untuk Alexa.
Dengan ragu Alexa pun keluar, dia merasakan tenaganya lolos begitu saja. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di samping badan mobil, kedua tangannya memeluk erat tas kecil yang mengalung di bahunya. Hatinya kini didera rasa takut yang begitu hebat.
"Apa salahku, Mas." bibirnya bergetar, saat memberanikan diri mengucapkan kalimat itu.
"Apa benar, kamu punya hubungan dengan lelaki itu?" suara Shakti terdengar penuh penekanan. Tatapannya seolah ingin membaca isi hati Alexa.
Alexa hanya menggeleng, tubuhnya mulai terasa lemas dan dingin ketika dia melihat sorot yang mengerikan di dalam ceruk mata lelaki yang berdiri begitu dekat dengannya.
"Kenapa dia mengatakan hanya menunggu persetujuan untuk menikahimu?" Nada suara Bariton itu sedikit mengendur.
"Aku tidak tahu, Mas." jawab Alexa dengan menggelengkan kepala, Alexa menundukkan tatapan, dia tidak berani menatap wajah lelaki di depannya.
Di tempat mereka saat ini tidak ada siapapun, sedangkan dia melihat Shakti dalam keadaan emosi. Dan sulit mengendalikan diri. Alexa berusaha tidak menambah kemarahan Shakti.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya!" Shakti semakin melemahkan suaranya. Dia menatap detail wajah cantik di depannya yang sudah terlihat pucat.
"Aku menyukaimu, Ay!" lirihnya meluncurkan kalimat yang membuat Alexa membuka kelopak matanya. Dia rasanya tidak yakin jika lelaki itu mengatakannya saat ini.
"Iya aku menyukaimu. Dan aku tidak suka kamu bersama laki laki lain." Dengan suara lembut dan sorot mata yang begitu dalam, Shakti mulai mengungkap isi hatinya.
__ADS_1
"Aku memang minum wine tapi aku tidak mabuk, aku mengatakan ini dengan sadar." Shakti melanjutkan kalimatnya saat tidak mendapatkan respon dari Alexa. Dia hanya minum wine, segelas saja dan itu tidak berpengaruh banyak padanya.
"Jangan, Mas!" elak Alexa dengan menahan bahu yang sudah menunduk ke arahnya. Lelaki yang ingin mendaratkan ciumannya itu memang sudah lama mendambakan bibir ranum Alexa.
"Aku hanya ingin meyakinkan perasaanmu padaku, Ay." desak Shakti mendorong lengan mungil itu untuk berhenti menahannya.
Shakti menghentikan geraknya, sejenak dia meyakinkan apa yang sedang dilihatnya. Sebutir cairan bening sudah menetes dari kedua kelopak mata yang mengatup rapat itu. Alexa menangis? Lelaki itu kembali menegakkan tubuhnya dan mengusap lelahan air mata gadis yang saat ini mulai mengeluarkan keringat dingin. Baru kali ini, Shakti melihat seorang gadis menangis saat akan diciumnya.
"Maafkan, aku! Aku tidak akan melakukannya jika kami tidak menginginkannya." Mendengar kalimat itu membuat Alexa membuka matanya dengan perasaan sedikit lega. Dia memang tidak tahu harus berbuat apa? Gejolak hati kecilnya menolak semua yang akan dilakukan lelaki yang keberadaannya sudah menelusup di dalam hatinya.
"Aku akan menjagamu, Ay!" Shakti mengambil tangan dingin itu dan mengecupnya dengan begitu dalam. Jika harus jujur, dia memang menginginkan bibir ranum milik Alexa yang seolah selalu menggodanya.
"Jangan takut, Ay!" lanjutnya dengan menatap mata yang masih berkaca-kaca. Melihat tangis Alexa, Shakti tidak tega untuk melanjutkannya. Alexa memang berbeda dengan gadis yang menganggap hal semacam itu sudah biasa. Tapi, justru itu yang membuat hasratnya sebagai seorang lelaki semakin menjadi penasaran.
Shakti masih menarik pelan lengan Alexa untuk berjalan mendekat ke arah tebing. "Maafkan aku, Ay!" ucap Shakti sekali lagi dengan menghadap ke laut lepas. Genggaman tangannya memang tidak pernah terlepas dari tangan mungil yang mulai terasa hangat.
"Mas, pulangnya jangan sampai malam, ya!" Alexa bersuara, berlahan ketakutannya berangsur menghilang.
"Sebentar lagi. Aku ingin menikmati kebersamaan kita." pinta Shakti mulai mengerti seperti apa kepribadian Alexa dan cara berinteraksi dengannya.
Shakti pov
Jika seperti ini terus aku semakin tenggelam dalam rasa yang tidak aku yakini. Mungkin ini artinya, aku mencintai Ayu dan clarisa di saat yang bersamaan.
Dengan clarisa aku yakin jika aku mencintainya karena hubungan kami sudah terjalin cukup lama. Dia bisa menerima kekuranganku dan aku pun menerima kekurangannya, tapi aku tidak punya rasa seperti yang aku rasakan pada Ayu.
Dengan Ayu aku bisa merasakan debaran jantungku yang terasa hebat saat berdekatan dengannya. Bahkan, saat menatapnya aku selalu mendambakannya, bibirnya dan kulitnya yang terlihat lembut, rasanya aku ingin menyentuhnya, dan aku merasakan sebuah emosi yang luar biasa saat dia bersama lelaki lain. Dan semua tidak aku rasakan pada Clarisa.
Memutuskan hal yang aku tidak bisa menyimpulkan adalah yang terberat bagiku. Seperti saat ini.
"Pantainya cantik kan, Ay?" Suara shakti memecahkan kebisuan diantara mereka. Alexa hanya menjawabnya dengan mengangguk malu.
"Seperti kamu!" Gadis yang wajahnya sudah merona mendongakkan kepala saat mendengar kalimat lelaki yang berdiri di sebelahnya.
"Cantik, tapi tidak bisa dinikmati." goda Shakti dengan menyenggolkan sikutnya dengan pelan di lengan Alexa dan meliriknya sambil tersenyum.
Mereka menikmati pantai dari atas tebing, suara deburan ombak yang menghantam karang terdengar begitu riuh. Hembusan angin yang menutupi rasa panasnya terik membuat mereka tak ingin waktu berlalu dengan cepat.
__ADS_1
Visualnya clarisa