Rindu Alexa

Rindu Alexa
Bertemu Besan


__ADS_3

Saat mobil berhenti di parkiran, Hanum mulai mengerjapkan mata. Semua terlihat asing, hanya saja dia sudah bisa mengira jika mereka sudah sampai pada tujuannya.


"Kita sudah sampai, Sayang." ucap Arkha yang sedang menunggu istrinya memulihkan seluruh kesadaran.


"Ayo kita turun." ajak Hanum dengan membenarkan jilbabnya.


Meskipun ragu kedatangannya bisa diterima oleh sang mertua, tapi Hanum hanya menyimpan keraguan itu di dalam hati.


Arkha menggenggam tangan wanita bertubuh mungil itu setelah bertanya ruang rawat inap Ibu Arini. Sesekali dia melirik wajah lesu Hanum, ketika mereka menelusuri koridor rumah sakit yang terlihat sangat sepi.


Ruangan VIP no.09, keduanya berhenti, mengetuk pelan dan membuka pintu ruangan secara berlahan.


" Bang Arkha... " sapa Kania saat melihat Arkha berjalan masuk.


"Bagaimana keadaan Ibuk?" tanya Arkha. Lelaki itu tidak lagi bisa menutupi kecemasannya saat melihat beberapa alat medis menempel pada tubuh ibunya.


"Besok pagi Ibu dioperasi untuk pemasangan ring jantung." ujar Kania dengan melirik Hanum yang berdiri di samping Arkha.


"Apa kabar Mbak Hanum?" sapa Kania dengan senyum ramah di wajah manisnya.


"Baik." Mereka pun bersalaman dan saling memeluk.


"Nia, sebaiknya kamu pulang bersama Hanum untuk istirahat. Biar Abang yang nungguin Ibu." ucap Arkha yang tidak tega melihat Hanum sudah terlihat payah.


"Aku di sini sama Kak Arkha saja." tolak Hanum.


"Ayolah, Sayang. Lihatlah! Kamu terlihat lelah sekali. Besok pagi, kamu dan Kania bisa datang lagi ke sini." bujuk Arkha yang masih mendapat gelengan kepala dari Hanum.


"Apa Abang sama Mbak Hanum istirahat di rumah dulu! Besok pagi baru ke sini. " Kania memberi opsi yang berbeda. Dia juga mengerti jika Abangnya juga letih.


"Nggak, aku yang akan jagain Ibu! " tegas Arkha.


"Dan aku akan menemani Kak Arkha." mendengar Hanum menyela kalimatnya Arkha pun menatap tajam istrinya untuk sebuah penolakan.


"Aku bisa tidur di mana saja. Aku mohon!" rengekan Hanum yang tak biasa membuat Arkha tak bisa menolaknya lagi.


Akhirnya hanya Kania yang pulang ke rumah, sementara Hanum dan Arkha yang menunggui ibunya yang masih tertidur.


Arkha melirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam saat dirinya mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sebelah bad pasien.


"Mama dan Papa sudah sampai di hotel, Kak. Mereka memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Besok pagi baru datang ke sini." ujar Hanum setelah menerima panggilan dari Papa Hans.


Wanita yang sudah dilanda rasa lelah itu pun menyandarkan kepala di lengan suaminya.


"Kamu rebahan saja di sini." ujar Arkha meminta Hanum untuk meletakan kepalanya di kedua paha miliknya.

__ADS_1


Belum juga Hanum merebahkan diri, Bu Arini terlihat membuka netranya.


"Arkha... kamu sudah datang, Nak." panggilnya dengan suara lirih. Senyum lemah terlihat dari wajahnya yang pucat.


"Iya, Bu, Arkha sudah datang. Ibu jangan cemas." Arkha pun menghampiri Arini di barengi Hanum yang mengikuti langkahnya.


"Kenapa kamu bawa dia ke sini? Bukankah kamu sudah tahu jika ibu tidak menyukainya? Apa kamu mau Ibu kena mati seketika." ketus Arini dengan menatap tajam Hanum. Sedangkan Hanum hanya menunduk. Dia tidak ingin menambah runyam keadaan karena perdebatan.


"Arkha mohon, Buk... Kita fokus dulu sama kesehatan Ibu." Arkha menggenggam erat genggaman tangan Hanum. Lelaki itu seolah memohon pada Hanum untuk bisa mengerti.


"Tapi Ibu tidak suka dia ada di sini bersamamu." jawab Arini.


"Itu artinya Ibu juga mengusir Arkha?"


Mendengar pertanyaan putranya Arini hanya mendengus kesal. Dia memang mengharapkan putranya untuk bisa menemaninya saat ini.


Melihat ibunya kembali memejamkan mata Arkha menaikkan selimut Arini hingga dada. Lelaki itu kembali kesofa bersama Hanum.


"Maafkan ibuku, ya!" lirih Arkha membuat Hanum hanya mengangguk, meskipun dalam hati wanita itu merasa sangat marah.


"Terima kasih." Arkha mengecup kening istrinya. Kemudian, meminta Hanum untuk istirahat.


Hanum merebahkan diri di sofa dengan kepala bertumpu pada paha suaminya. Hanya butuh beberapa menit gadis itu sudah terlelap karena rasa lelahnya.


Arkha menatap wajah lelah yang kini berasa di pangkuannya. Dia merasa sangat bersalah, saat Hanum mendapatkan perlakukan buruk dari ibunya. Dia yakin Hanum sudah mati-matian menahan emosi untuk menjaga keadaan agar tidak kacau.


###


Operasi yang berjalan lancar, sedikit memberi rasa lega pada lelaki yang kini bersandar pada kursi panjang di depan ruangan ibunya.


"Kak, minum hangat dulu!" ucap Hanum dengan menyodorkan teh hangat pada suaminya.


"Terima kasih." Arkha mengambil satu cup minuman hangat dari tangan Hanum. Keduanya kini menikmati minuman teh hangat yang dibeli oleh Hanum dari kantin.


"Sebentar lagi, Kania sampai, setelah itu kita bisa mencari makan." Keduanya belum sarapan. Arkha sudah meminta Hanum untuk sarapan terlebih dahulu, tapi Hanum menolaknya jika jika tidak makan bersamanya.


Terlihat gadis berambut panjang melangkah dengan cepat ke arah keduanya bersama sepasang suami istri. Sebelumnya, salah satu perawat yang mengenal Kania memanggilnya saat melihat gadis itu memasuki lobi rumah sakit. Kebetulan di sana ada Hans bersama Zoya sedang bertanya ruang rawat Ibu Arini.


"Kak, itu Kania sama Mama dan Papa." Hanum tersenyum girang. Kemudian berdiri menyambut kedatangan orang tuanya, begitu juga dengan Arkha terlihat senang melihat ketiganya berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Hans saat Arkha menyalami mertuanya.


"Masih menunggu siuman, Pa. Tapi, alhamdulillah operasi berjalan lancar." jelas Arkha yang direspon dengan anggukan lelaki berkharismatik itu.


Kania yang sedari tadi mengamati orang tua Hanum pun semakin terlihat penasaran saat samar- samar ingatannya tertuju pada salah seorang lawyer yang cukup dikenal publik.

__ADS_1


"Kenalkan ini Mama dan Papaku, Dek. " ujar Hanum memperkenalkan Mama dan papanya. Panggilan 'Dek' memang terasa aneh bagi Hanum yang usianya lebih muda dari Kania.


Gadis itu pun tersenyum kikuk kemudian bersalaman. Zoya menyambutnya dengan senyum ramah dan melontarkan beberapa sapaan untuk mengakrabkan perkenalan mereka.


"Beliau lawyer seniormu, Nia. Papa Hans Satrya Jagad." ucap Arkha yang sempat membuat Kania tercekat. Dia tidak menyangka jika selama ini kakak iparnya adalah putri seorang yang cukup disegani.


Gadis yang saat ini magang di salah satu kantor advokad itu semakin gugup bertemu langsung dengan sosok yang selama ini dia kagumi.


Ternyata tidak hanya kejeniusannya menangani banyak kasus, tapi di mata Kania beliau termasuk lelaki berumur yang cukup tampan dan berkharismatik. Kekaguman yang cukup sempurna.


Setelah sedikit basa basi, mereka memutuskan masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ibu Arini. Sedangkan, Arkha meminta izin pada Hans untuk membawa Hanum mencari sarapan terlebih dahulu.


Tidak ingin berlama- lama menikmati sarapan yang sudah dikatakan telat, Arkha pun mengambil baju ganti yang ada di mobil. Dia akan membersihkan diri karena tubuhnya yang terasa lengket.


"Setelah mandi, sebaiknya Kak Arkha istirahat dulu." ucap Hanum saat mereka berjalan untuk kembali ke ruangan Arini.


"Seharusnya saat ini lagi enak-enaknya kerja keras bikin adek ya, Num." goda Arkha membuat Hanum mencubit pinggang lelaki yang berjalan merangkul bahunya.


Arkha sudah bisa berkelakar mencairkan suasana. Mereka berjalan menuju ruangan Arini dengan obrolan ringan untuk menghilangkan rasa lelah keduanya.


Setelah pintu diketuk pelan, Arkha masuk ke dalam diikuti dengan Hanum. Terlihat ibunya sudah sadarkan diri dan dokter sedang memeriksa kondisinya.


Setelah kepergian dokter yang memeriksa kondisi Arini, Wanita sepuh itu kembali memperhatikan dua orang yang berdiri di dekat menantunya. Beliau sedikit heran saat wanita cantik bertubuh mungil itu memeluk dan merangkul menantunya.


"Bu, kenalkan ini papa dan mamanya Hanum." ucap Arkha memperkenalkan mertuanya.


Ada rasa tak percaya saat mendengar pengakuan putranya. Wanita yang masih terlihat lemah itu pun kembali mengamati sekali lagi, kedua orang asing yang ada di ruangannya.


"Iya Bu, perkenalkan saya Zoya dan beliau suami saya Mas Hans. Kami kedua orang tua Hanum." ucap Zoya berjalan mendekati wanita yang masih menatapnya kosong.


Dengan sikap santun, Zoya menyapa besannya diikuti Hans yang masih menampilkan kharismatiknya yang tinggi.


Arini menatap lekat Zoya, wanita cantik dengan tampilan sederhana tapi cukup elegan. Iya, satu cincin berlian yang melingkar dijari mungil Zoya membuat Arini yakin jika wanita yang mengaku mamanya Hanum itu bukan wanita sembarangan. Arini membalas sapaan Zoya dengan tersenyum kikuk, kemudian mengalihkan pandangannya pada Hans yang berdiri penuh dengan wibawa.


"Benarkah anda orang tua dari istrinya Arkha?" tanya Arini membuat Hans merasa heran. Ada sedikit rasa yang cukup janggal bagi Hans, bahkan ada sebuah pertanyaan 'Apakah putrinya tidak diterima dengan baik?' kini merongrong di kepalanya. Berbeda dengan Zoya yang sudah mengetahui hubungan putri dan mertuanya.


"Tentu saja? Apa ada yang salah dengan putriku?" tanya Hans dengan penuh penekanan.


"Maafkan kami yang baru bisa bersilaturahmi, Bu. Hanum adalah putri kami yang kedua." Sela Zoya dengan menggenggam tangan suaminya. Wanita anggun itu selalu ingin semua bisa berjalan dengan baik.


"Oh, tidak apa-apa, Besan. Terima kasih sudah menjenguk saya." jawab Arini dengan wajah berbinar. Tatapannya pada Hanum pun kini berbeda. Arini percaya jika menantunya berasal dari keluarga priyayi.


Arkha tersenyum lega, ternyata hubungan dia dan keluarga berjalan dengan baik. Dia melirik Hanum dengan penuh rasa bahagia.


Setelah berbasa- basi sejenak, Arini meminta Arkha untuk membawa mertuanya singgah ke rumah dan meƱcarikan oleh-oleh. Bahkan, wanita sepuh itu meyakinkan putra dan menantunya jika dia akan baik- baik saja meski hanya ditemani Kania.

__ADS_1


"Makanya Buk, jangan suka melihat orang dari luarnya. Untung saja Mbak Hanum anaknya baik. Jadi Ibu tetap bisa besanan dengan keluarga priyayi." sindir Kania ketika hanya tinggal mereka berdua.


Arini tahu dia salah, Wanita itu hanya mendengus dan melirik putrinya yang seolah memojokkan dirinya. Tapi, bagi Arini sikapnya tidak semua salah karena seorang Ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya apalagi putra kesayangan yang sangat dia banggakan.


__ADS_2