
"Kumpulkan semua ahli IT. Take down semua berita dan lacak akunnya." titah Shakti membuat Ringgo dan Arka bergegas menghidupkan kembali ponselnya untuk melaksanakan perintah Shakti.
Semua terlihat tegang, bahkan Shakti sudah terlihat sangat bingung. Bukan dirinya yang dia pikirkan, tapi Alexa. Bagaimana Alexa menghadapi semuanya?
"Bagaimana Alexa?" tanya Shakti mendekati Hanum yang terisak di dekat Arka.
"Mungkin bunuh diri!" celetuk Hanum sekenanya membuat semuanya menoleh ke arah gadis yang terlihat frustasi itu.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Shakti, Kalimat Hanum langsung membuat lelaki itu panik. Begitu juga Hanum, dia baru tersadar jika apa yang terucap olehnya mempunyai peluang terjadi disaat seseorang tidak bisa lagi menghadapi dunia.
"Kak Ale...hik hik hik." Hanum langsung berdiri dan kembali menangis membayangkan keadaan kakaknya. Gadis itu keluar dari ruangan Shakti dia ingin segera bertemu kakaknya.
"Shak, biar aku yang mengantar bocah itu dan melihat keadaan Alexa. Aku yakin media sedang mengincar dirimu dan Alexa." sahut Arka cepat tanggap. Arka tidak akan menjadikan kedatangan Shakti ke rumah Alexa membuat media merebus kembali berita yang sudah beredar.
"Antarkan dia." titah Shakti membuat Arka mengejar Hanum. Lelaki bertubuh kekar itu kembali terduduk lemas, semua yang dikatakan Arka benar.
"Sepertinya yang diincar dalam kasus ini Alexa. Semua tim sedang bekerja." ucap Ringgo yang kini masih mengawasi perkembangan.
"Hubungi semua stasion TV agar tidak berani menampilkan berita itu." tanpa bertanya lagi Ringgo pun menghubungi seseorang untuk menyelesaikan semuanya.
"Astaga... kenapa harus Alexa?" pekik Shakti dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Lelaki itu tidak memikirkan dirinya tapi Alexa. Dia tidak bisa membayangkan hancurnya gadis yang begitu mengagungkan arti sebuah harga diri.
"Pak Shakti, di bawah banyak wartawan yang ingin mengklarifikasi berita." Mas Bimo terlihat panik membuka ruangan Shakti. Dia tidak berani mengatakan isi berita yang memuat tentang bosnya.
"Bilang kepada mereka, besok kita akan mengadakan konferensi pers di sini." ucap Shakti masih berusaha tenang. Padahal pikirannya sedang bergelut memikirkan cara untuk melindungi nama baik Alexa. Hanya Alexa yang dia cemaskan saat ini.
"Dia pasti sedang menangis. Dan itu lagi lagi karena kesalahanku." gumam Shakti hatinya begitu ngilu membayangkan perasaan gadis yang dia kenal begitu santun selama ini.
"Bagaimana, sudah ketemu pemilik akunnya?" tanya Shakti masih terlihat panik. Lelaki itu kemudian berjalan mendekati Ringgo yang berada di depan laptop.
__ADS_1
"Masih dilacak, Tapi beritanya sudah satu persatu berhasil dibereskan." jawab Ringgo. Lelaki yang biasanya selengekkan itu pun tidak kalah panik menuntaskan urusan dengan media.
Shakti masuk ke dalam ke ruangan pribadi di dalam kantornya. Dia berganti pakaian dan mengenakan masker, kaca mata hitam dan topi agar sedikit menyembunyikan identitasnya.
"Aku akan keluar sebentar! Terus pantau perkembangannya." ucap Shakti dengan melangkah keluar ruangan. Ada sesuatu yang harus dia lakukan sendiri saat ini.
###
Di luar gedung setelah terjadi perdebatan yang cukup alot akhirnya Arka berhasil membujuk Hanum agar mau diantarkan sampai rumah. Hanum memang sempat menolak dan akan mencari taxi. Tapi, Arka mencegahnya karena Hanum saat ini benar benar kacau.
"Nurut, kan, lebih enak." ucap Arka sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Lelaki itu cukup heran dengan sikap keras kepala dan sikap bar bar gadis di sebelahnya. Kedua adik perempuannya tidak begitu amat.
"Cepat! Aku ingin bertemu kakakku." ketus Hanum dengan membuang pandangan ke luar jendela.
Arka hanya menggeleng, baru kali ini dia menemukan gadis berjilbab yang galaknya membuat orang ingin segera bertobat saja.
Di dalam mobil saat suasana tenang, Arka terus saja memperhatikan gadis yang enggan menoleh ke arahnya. Hanum juga sudah tidak meracau karena pikirannya hanya mencemaskan Alexa, papa dan mamanya.
Hanum menangis dengan meletakkan keningnga di dasboard mobil membuat Arka memberanikan diri mengusap kepala gadis itu. Dia berharap gadis itu lebih tenang.
"Kasian, Kak Ale." ucap Hanum dengan langsung berjingkat dengan menatap mata lelaki yang cukup terkaget dan langsung menarik tangannya.
"Aku yakin Kak Ale tidak seperti itu, meskipun foto yang beredar seperti itu." Kalimatnya melemah dengan tatapan mengiba, seolah menuntut lelaki yang saat ini mengemudi itu percaya.
"Iya aku percaya, kejadiannya tidak seperti foto yang beredar." ucap Arka mencoba menenangkan. Hanum pun kembali meluruhkan bahunya dan kembali menatap keluar jendela.
####
Hans turun dari mobil dengan langkah tergesa. Wajahnya yang sudah terlihat memerah karena amarah yang tidak bisa di sembunyikan lagi. Tubuhnya seolah menabrak pintu utama karena rasa tidak sabar ketika membukanya. Selain membaca sendiri berita yang beredar tentang putrinya. Dia juga mendapatkan telepon dari teman temannya untuk menanyakan kebenarannya.
__ADS_1
"Alexa!" teriak Hans.
"Alexa..." suara Hans terdengar menggema di seluruh ruangan. Mbak Atun yang mendengar suara menggelegar tuannya tidak berani menampakkan diri. Ini pertama kalinya dia melihat Hans semarah itu. Wanita itu memilih pergi untuk menghubungi Zoya agar segera pulang.
"Alexa...keluar!" teriak Hans saat menaiki tangga rumah dengan berlari. Darahnya seperti mendidih di seluruh tubuhnya sejak dia melihat berita yang beredar di internet.
"Alexa, keluar... !" teriak Hans lelaki itu terus saja berteriak memanggil putrinya hingga berlahan pintu kamar berwarna pink itu terbuka.
Dengan rasa takut Alexa memberanikan diri melangkah keluar. Dia sudah pasrah dengan hukuman yang diberikan papanya. Dia yakin kemarahan papanya karena pemberitaan tentangnya.
"Dasar, ******!" umpat Hans saat berada didepan putrinya. Matanya menatap tajam dengan emosi yang yang tersirat di sana.
"Pa, bukan seperti itu?"
"Apa coba, apa kamu akan mengatakan kalau tidak berciuman?" ucap Hans dengan menunjukkan ponsel yang berisi foto diri berciuman dengan Shakti.
"Plaaakkk... " Sebuah tamparan dari tangan besar itu membuat Alexa tersungkur saat tidak ada penjelasan dari Alexa. Kepala Alexa terbentur sebuah rak besi yang menjadi tempat beberapa guci antik. Alexa menangis, bukan hanya keningnya yang sakit, tapi juga perasaannya, umpatan papanya sangat melukai hatinya hingga dia tidak bisa berkata apapun.
Alexa mencoba mengerjapkan mata, seketika menggelapkan pandangan. Gadis itu mencoba merangkak mendekati kaki papanya.
"Maafkan Ale, Pa." Dengan kepala pusing, dia juga sudah tidak bisa membawa tubuhnya untuk berdiri. Alexa terisak sementara Hans masih berdiri tegak dengan emosi yang masih memenuhi rongga dadanya.
"Bukan seperti itu, Pa!" ucap Alexa mencoba menjelaskan. Tapi Hans langsung menarik lengan kecil putrinya agar tubuh mungil itu berdiri sejajar dengannya.
"Jangan panggil aku papamu! Aku tidak pernah mengajarimu menjadi ******!" Hans sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak pernah berfikir jika putri kebanggaannya akan mempermalukan keluarga dan dirinya.
"Kelakuanmu itu sangat menjijikkan!" tangan besar itu menegakkan tubuh lemas putrinya.
Tubuh Alexa menggigil ketakutan melihat kemarahan papanya. Alexa hanya bisa menangis tergugu, tenggorokannya seperti tercekat untuk bisa berucap lagi. Tangis dan rasa takut membungkam dirinya di depan papanya.
__ADS_1
"Aku malu mempunyai putri sepertimu!" Hans mendorong tubuh Alexa hingga membentur tembok. Alexa hanya tergugu dengan tubuh meluruh bersandar di dinding kamarnya. Dia tidak tahu bagaimana dia menjelaskan semuanya.
"Mas Hans!" panggil Zoya yang tiba tiba berada di dekatnya. Tapi tubuh itu langsung tersungkur saat kepalanya terasa berputar. Melihat keadaan putrinya membuat Zoya seketika Shock.