
Tatapan Hans masih tak bergeming dari dua sejoli yang kini masuk ke dalam rumah. Hans sangat mengenal Arjuna Shakti Arashya, seorang executive muda dengan segudang kesuksesan di beberapa bidang usaha.
Saat cowok itu memeluk putrinya membuat Hans mencemaskan Alexa. Alexa memang sudah dewasa tapi menurut Hans, Alexa belum berpengalaman untuk mengenali lawan jenis. Kali ini, Hans memilih menyimpan rasa yang mengganjal di hatinya untuk sementara. Selain melihat Alexa yang terlihat masih sangat kehilangan dan masih ada tamu dari teman dan keluarga yang datang.
"Mas, Keluarga Bang Rey datang berkunjung." suara Zoya membuyarkan lamunan Hans.
Tanpa menjawab istrinya, Hans langsung merangkul bahu mungil istrinya dan mengajaknya keluar dari musala.
Zoya melirik wajah suaminya. Melihat wajah serius Hans, Zoya tahu jika ada yang sedang dipikirkan suaminya. Pasti sesuatu yang sangat serius, wanita cantik itu mulai menerka nerka, karena suaminya sudah enggan mengeluarkan suara.
Terlihat Rey, Kyara dan Kirey sudah duduk di ruang tengah. Rumah memang masih ramai dan masih ada teman Aleks juga yang sedang duduk di kursi yang ada di dekat tangga.
"Bang, kami mengucapkan bela sungkawa sedalam dalamnya. Aku mendengar kabar duka, tepat saat meeting. Jadi baru bisa datang." ucap Rey saat Hans duduk di depannya. Lelaki itu hanya mengirimkan karangan bunga terlebih dahulu.
"Terima kasih, Rey. Mama memang sudah sepuh. Ya, seperti hakikatnya, ada kelahiran juga ada kematian." Hans memang sudah ikhlas dengan kepergian Mama Shanti. Meskipun, tetap saja ada rasa kehilangan. Tapi, lelaki itu sudah bisa menerima kepergian mamanya.
Kirey pun beranjak saat melihat Hanum dan duduk di depan TV. Gadis yang saat ini mengenakan jilbab itu pun mendekati Hanum yang nampak lesu.
"Kak Hanum." sapa Kirey saat berdiri di dekat Hanum.
"Ya Allah kirey, hampir saja aku tidak mengenalimu." jawab Hanum dengan menatap mantan adik kelasnya yang terlihat sangat cantik saat jilbab berwarna biru navy.
"Jilbabnya masih sebatas pemanis, Kak. kirey ikut bela sungkawa atas kepergian Oma." ucap Kirey, dia memang mengenakan jilbab hanya untuk kunjungan ini.
"Terima kasih, Kirey. Duduklah di sini." ujar Hanum dengan menepuk tempat dia sebelahnya. Mereka pun mengobrol, pembahasan kampus baru Kirey pun menjadi topik bagi keduanya.
Sejak Kirey datang Aleks memperhatikan bocah yang dianggap paling menyebalkan itu. Kirey yang terlihat berbeda membuat tatapan tajam lelaki cool itu enggan untuk beralih.
"Leks... bukanya kamu nggak suka sama Kirey!" suara Dito membuat Aleks mengalihkan pandangannya. Dito memang sudah mengenal Kirey. Mereka sekolah di SMA yang sama.
"Emang siapa yang bilang suka?" jawab Aleks dengan membuka kaleng soft drink.
"Terus kenapa menatapnya seperti itu?" desak Dito yang tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
"Heran saja, aneh itu bocah pakai kerudung!" Aleks memalingkan muka dan menatap ke luar jendela. Padahal hati kecil cowok itu memuji kecantikan Kirey. Bocah yang biasa terlihat seperti ulat bulu yang nggak mau diam itu terlihat anggun dan dewasa. Aleks memang menyukai gadis yang kalem dan dewasa, bisa jadi seperti Zoya dan Alexa adalah gambaran perempuan idaman cowok berhidung mancung dan bermata tajam itu.
###
Pagi itu, setelah tujuh hari kepergian Oma. Keluarga Satria Jagad mulai beraktifitas seperti biasa. Hans sudah rapi dengan tampilan kantorannya. Lelaki itu sedang menikmati kopi pagi dengan membaca berita terbaru dari ponselnya seperti pagi sebelumnya.
__ADS_1
"Zoy, hari ini kamu pergi ke toko?" tanya Hans tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
"Nggak, Mas. Aku masih ingin di rumah." jawab Zoya masih menata kotak bekal pesanan yang akan dibawa Hans dan Hanum.
Terlihat Alexa juga sudah rapi menuruni tangga. Gadis dengan rok hitam dan kemeja bermotif floral yang sedikit longgar itu berjalan menuju meja makan dengan mengapit tote bagnya.
"Al, kapan kamu ujian?" tanya Hans saat melihat putrinya duduk di sebelahnya.
"Minggu depan, Pa. Tapi pagi ini Ale masih harus datang ke rumah sakit." jawab Alexa dengan mengambil segelas jus dan selembar roti yang kemudian diolesnya dengan sele.
"Al, Kamu kenal Arjuna Shakti Arshya." Hans mulai bertanya dengan serius. Seketika pula Alexa memelankan gerakannya. Dia sedikit takut mendengar pertanyaan papanya.
Sementara, Zoya menoleh dan diam-diam memperhatikan keduanya. Dia bisa melihat Alexa yang terlihat salah tingkah.
"Iya, Pa. Dia putra Tante Gayatri?" jawab Alexa lirih. Dia bisa membaca aura papanya yang terlihat mencekam.
"Hanya itu? Pendidikannya? Pekerjaannya?" tanya Hans dengan penuh penekanan.
"Tidak, Pa." lirih Alexa dengan menggeleng pelan. Dia memang tidak tahu, apapun tentang pendidikan Shakti dan Pekerjaan Shakti. Alexa tidak terlalu tahu tentang dunia bisnis.
"Jangan terlalu dekat dengan lelaki yang kamu tidak tahu apapun tentang dirinya. Pekerjaan dan pendidikan adalah hal umum saja kamu tidak tahu. Apalagi sesuatu yang ada di belakangnya."
"Harga yang paling mahal bagi perempuan adalah harga diri. Jangan sampai mempermalukan diri sendiri dan keluarga." Kalimat Hans kali ini tak ada lagi jedanya. Hans masih mengingat saat lelaki itu memeluk putrinya, baginya itu sudah berlebihan.
Lelaki yang lebih kharismatik itu membuat pagi ini terasa mencekam. Bahkan, Hanum pun menghentikan langkahnya saat melihat wajah papanya yang sudah terlihat serius.
Hans tidak lagi menunggu jawaban Alexa. lelaki itu langsung beranjak pergi. Sementara Zoya langsung mengejarnya dengan membawa bekal yang sudah dia siapkan.
Alexa menyandarkan tubuhnya di badan kursi. Sementara Hanum melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
Gadis bermata sipit itu kemudian menatap makanan di depannya dengan tidak berselera. Dia bisa merasakan papanya tidak terlalu menyukai kedekatannya dengan Shakti. Dan itu sangat berpengaruh untuk Alexa.
"Kak, Papa hanya mencemaskan Kak Ale. Papa sangat menyayangi Kak Ale." Zoya merangkul bahu kecil putrinya dari belakang.
"Ale ngerti, Ma." ucap Ale dengan mengelus jari jari kecil yang mengalung di bahunya. Gadis itu pun tersenyum pada mamanya meski ada yang mengganjal di hatinya.
"Papa tidak melarang Kak Ale dekat dengan lelaki manapun, Papa hanya takut putrinya salah menilai laki laki." Zoya kemudian memilih duduk. Zoya memang selalu menjembatani komunikasi yang kurang difahami anak anaknya.
"Ale ngerti, Ma. Terima kasih selalu menjadi Mama yang terbaik buat Ale." Ale mengambil kedua punggung tangan mamanya dan menciumnya secara bergantian. Kalimat Zoya memang terdengar lebih adem bagi Alexa, meskipun punya makna yang tidak jauh beda dengan apa yang dikatakan papanya.
__ADS_1
Hanum hanya melirik Mama dan Kakaknya yang terlihat melankolis. Dia tidak habis pikir. Kenapa juga kakaknya harus menyukai lelaki yang tidak dikenalnya dengan betul. Padahal dia tahu banyak teman Alexa yang menyukai gadis berwajah oriental itu.
###
Setelah mengurus semuanya di rumah sakit tempat dia praktek, Alexa pun memenuhi undangan Dokter Agam untuk makan siang.
Alexa berjalan memasuki kafe dengan begitu anggun meski dengan tampilan yang sederhana. Kecantikannya yang sejati terpancar begitu kuat, hingga membuat lelaki yang sudah menunggunya itu tersenyum. Agam sudah menunggu Alexa di meja yang ada di dekat jendela.
"Maaf harus menunggu lama, Dok." ujar Alexa saat sudah berdiri di dekat meja yang sudah dipesan Dokter Agam.
"Nggak juga, silahkan duduk, Lexa." jawab Dokter Agam. Warna jilbab marun membuat wajah putih Alexa semakin terpancar cerah.
"Mau makan apa?" tanya Agam.
"Minum saja, Dok. Aku tadi sudah makan bareng Nindy di kantin." jawab Lexa. Tidak biasanya Agam terlihat seserius kali ini.
"Apa ada hal penting, Dok? Hingga dokter meminta berbicara empat mata di sini." tanya Alexa setelah pelayan meninggalkan meja mereka.
"Lexa, Apa kamu dengan Putra nyonya Gayatri punya hubungan?" tanya Dokter Agam penuh selidik.
"Ehmmm, Kenapa, Dok? Saya memang dekat dan sering bertemu dia, saat bersama dengan Nyonya Gayatri." jawab Alexa. Bukan rahasia lagi jika Alexa dan Gayatri memang dekat hingga jawaban Alexa membuat dokter Agam mengartikan kedekatan Alexa dengan Shakti hanya sebatas kenal dan karena Nyonya Gayatri.
"Lexa, mungkin kamu sudah tahu jika Aku menyukaimu." kalimat Agam membuat Alexa mendongakkan wajah menatap lelaki di depanya itu sedang membenarkan posisi duduknya.
"Iya, aku hanya ingin tahu jawabannya langsung darimu." Dokter Agam dengan sedikit grogi mengatakan semuanya. Dia tidak ingin laki laki lain lebih mendahuluinya.
Obrolan mereka terjeda dengan kehadiran pelayan yang membawa segelas jus melon pesanan Alexa, hal itu memberi sedikit kelonggaran dari perasaan serba salah Alexa pada Agam.
"Maafkan, Dok. Saya sudah berkomitmen dengan laki laki lain." jawab Alexa dengan polos Dia memang tidak ingin berbohong dan juga tidak suka dibohongi.
Seketika, Dokter Agam seperti kehilangan semangatnya. Dia tidak menyangka akan mengalami penolakan dari gadis yang selama ini diperhatikannya.
"Maaf, Dok." lanjut Alexa dengan rasa sungkan saat melihat lelaki di depannya itu hanya mematung dan terlihat lesu.
"Aku mengerti, Lexa. Hati memang tidak bisa dipaksakan." jawab Agam dengan tersenyum getir. Sungguh, saat ini hatinya merasa kecewa. Semua harapan akan gadis pujaannya itu pun sudah lenyap.
"Tapi, kita masih bisa berteman, kan?" tanya Agam berharap setelah ini Alexa tidak menutup diri untuk hubungan mereka.
"Tentu, Dok. Dokter Agam senior yang sangat saya kagumi." jawab Alexa dengan tersenyum pada lelaki yang saat ini patah hati. Tapi, Agam berusaha berbesar hati. Dia menghargai kejujuran Alexa dan sebuah kata kagum sedikit memberinya kekuatan untuk tersenyum di depan Alexa.
__ADS_1