
Shakti memeriksa laporan mingguan yang baru saja diberikan oleh Mas Bimo. Hari ini, semua laporan yang masuk membuatnya tidak mempedulikan ponselnya lagi. Secepatnya dia harus menyelesaikan tugasnya karena ada janji bersama Alexa setelah sekian lama tidak bertemu. Minggu kemarin Alexa memang fokus dengan ujiannya karena jika sampai gagal dia harus menunggu tiga bulan kemudian lagi.
"Selamat siang." suara berat itu menyapa setelah pintu ruangan Shakti terbuka. Kini, Arka sudah berdiri di depan pintu.
"Masuk, Ar." ucap Shakti sambil membereskan beberapa lembar laporan yang sudah di baca dan ditanda tangani.
"Aku sengaja mengantarkan laporan pabrik ini sendiri. Dan ada beberapa file yang sudah aku kirim lewat email." ucap Arka saat meletakkan beberapa map di atas meja Shakti. Lelaki yang terkesan lebih kalem dan dewasa itu memilih duduk di depan sahabatnya itu.
"Ar, bagaimana jika kita realisasikan rencana kita untuk membuka tempat produksi yang baru?" ucap Shakti mengawali.
"Sebentar...!" Shakti mendahalui Arka yang akan menjawab kalimatnya. Telpon dari Clarisa membuat Shakti beranjak dari duduknya.
"Hai, Cla... " Shakti membawa ponselnya yang menampilkan wajah Clarisa menuju ke dekat jendela.
"Hae sayang... kenapa tidak membalas pesanku?" ujar Clarisa dengan mengerucutkan bibirnya dengan manja.
"Sory... aku sibuk sekali, Cla."
"Kapan balik? Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Shakti dia ingin sekali mengakhiri petak umpet yang bisa saja melukai semua pihak. Kedua wanita itu tidak bersalah sama sekali.
"Ah, sayang... apa kamu sangat merindukanku?" tebak Clarisa dengan suara manjanya.
"Tapi sayang, aku malah akan menunda kepulanganku. Lihatlah! Saat ini saja aku masih berada di Ballroom untuk mengecheck persiapan untuk pesta besok pagi." ucap Clarisa.
"Tapi, kan masih ada orang kepercayaanmu, Cla." desak Shakti.
"Tidak bisa, Yang. Ini harus aku sendiri yang memantaunya."
"Baiklah aku akan keluar sebentar, nanti malam aku telpon lagi." Gadis dengan rambut blonde itu langsung mematikan panggilannya. Tentu saja hal itu membuat Shakti menghela nafas berat, dia rasanya tidak ingin menyembunyikan sesuatu lagi pada Alexa.
"Kenapa? Ada rasa bersalah?" tanya Arka yang sudah berdiri di dekat lelaki yang saat ini memutar mutar ponselnya dengan pikiran yang cukup mengganjal.
"Iya, aku malah lebih merasa bersalah pada Alexa. Dia terlalu tulus untuk mendapatkan sebuah kebohongan." Shakti memandang hamparan kota dari lantai sembilan.
"Clarisa?" tanya Arka dengan senyum sumbang. Dia merasa Shakti lebih berpihak pada Alexa.
__ADS_1
"Iya memang aku bersama Clarisa sudah duan tahun. Tapi, aku merasa ketulusan Alexa lebih dari ketulusan Clarisa. Gadis itu menyayangi Mama bahkan dia lebih suka aku tidak menemukannya di rumahku. Dia tidak tahu siapa aku, pekerjaanku dan semua tentang diriku. Dia terlalu polos untuk mencintai seseorang."
"Dan dia sangat cantik dan keibuan." Sela Arka yang sudah tahu jika Shakti sebenarnya menyukai gadis kalem dan keibuan.
Shakti hanya tersenyum saat mendengar tebakan Arka. Sahabatnya itu memang sudah faham seperti apa dirinya.
"Apa kamu yakin Clarisa tidak curiga sama sekali?" jawab Arka yang merasa mengganjal dengan sikap Clarisa. Gadis itu tidaklah bodoh dan cukup agresif, rasanya sangat tidak mungkin dia tidak merasakan perubahan sikap pasangannya yang saat ini sedang mendua.
"Aku yakin dia tidak tahu. Kamu tahu Clarisa cukup dominan. Dia pasti langsung marah jika dia mengetahui semuanya."
"Tapi dia juga tidak bodoh untuk menahanmu yang sedang keluar arah." Arka mencoba memberikan kemungkinan yang ada. Shakti hanya terdiam, Dia sangat mengenal Arka yang tidak akan ngawur saja memberikan pendapatnya.
Shakti melirik jam Rolex yang ada di pergelangan tangannya.
"Ayo, antarkan aku!" titahnya pada Arka yang masih tidak tahu mau kemana bosnya itu.
"Aku ingin bertemu Alexa." lanjut Shakti yang meninggalkan jasnya di kantor dan mengambil Kaca mata dan topinya agar tidak ada yang mengenalinya saat bertemu dengan Alexa.
"Astaga, kayak penyelundup saja." gerutu Arka yang tetap saja menuruti apa yang dikatakan Shakti.
Dua lelaki dengan perawakan yang tidak jauh beda itu pun berjalan keluar. Tidak hanya sebagai pemilik perusahaan, lelaki yang punya bentuk tubuh dan ketampanan yang luar biasa itu juga memliki aura karakter yang cukup kuat untuk menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Tapi, air muka yang cool dan sikapnya yang cuek membuat orang enggan untuk mendekatinya.
"Santai sajalah. Ayo Ar, aku tidak ingin Alexa menungguku. Di sana tempatnya jauh keramaian." ujar Shakti yang sudah mengkhawatirkan keberadaan Alexa. Semula Shakti menginginkan bertemu di apartemennya. Tapi, Alexa masih dilema saat bertemu dengan sang kekasih di uang tertutup. Takut keduanya akan melakukan hal hal yang jauh lebih buruk.
"Astaga, kalian kayak maling saja! Jika anak SMP aku masih bisa mengerti tapi jika orang dewasa backstreet kayak gini sungguh di luar akalku." Masih dengan menatap jalan menuju sebuah tempat di pinggiran kota Arka hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum sinis. Beginilah jika orang selingkuh, pasti sangat merepotkan.
Di tempat lain, di sebuah taman yang ada di pinggir kota Alexa duduk termenung. Banyak yang mengganjal dalam hatinya saat harus bertemu dengan lelaki yang sudah dia rindukan itu.
Selama ini tidak ada hal yang dia tutupi dari keluarga, dan saat ini dia harus diam diam bertemu dengan seorang laki laki. Ada juga rasa bersalah yang luar biasa pada papanya saat mengingat reaksi papanya ketika mengetahui kedekatannya dengan Shakti. Ada perang batin dalam hati Alexa saat dia yakin papanya hanya ingin dia bahagia tapi sisi lain dia yakin Shakti lelaki yang pantas untuk dia cintai dan perjuangkan.
"Cantikkk.... sendirian saja!" Kedatangan dua orang pemuda dengan perawakan gempal itu membuat Alexa terkejut. Dia mulai mengetatkan pelukan tasnya saat kedua pemuda itu berdiri mengelilingi
"Jangan ganggu aku!" ucap Alexa dengan panik, dia mulai ketakutan saat melihat seringai jahat di wajah kedua lelaki itu.
"Kami tidak ingin menggangu, kami hanya ingin mengajakmu bersenang senang, cantik." goda salah satu diantara mereka dengan hampir saja menyentuh wajah cantik Alexa tapi gadis itu dengan gesit menepisnya.
__ADS_1
Alexa ingin beranjak dari duduknya, dia sudah merasa insecure dengan situasinya saat ini. Tapi, tangan besar itu mendorongnya dengan kuat hingga membuatnya terpelanting dan terduduk kembali di kursi berbahan kayu itu.
"Arhhh..." pekik Alexa tak kalah kaget dengan sikap kasar lelaki itu.
"Bughhhh.... " Sebuah pukulan keras mendorong lelaki itu hingga tersungkur ke tanah. Shakti sudah berdiri didekat Alexa dengan wajah memerah dan sorot menghunus tajam, seolah ingin menguliti kedua berandalan itu
"Jangan macam macam kalian!" tegas Shakti penuh penekanan.
"Sialan... " pekik salah satu dari mereka saat melihat temannya terjatuh karena pukulan Shakti.
Baku hantam pun terjadi, kedua berandalan tersebut berusaha melayangkan pukulan. Shakti yang pernah menjuarai sabuk hitam karate itu pun selalu berhasil mengelak dan membuat kedua berandalan tersebut babak belur.
Saat merasakan tendangan dan pukulan dari lelaki yang postur tubuhnya lebih tinggi dari mereka, membuat salah satu dari kedua berandalan tersebut mengeluarkan pisau lipat yang hampir saja mengenai Shakti. Untung saja kaki panjang itu dengan gesit menendang pisau dan pemiliknya hingga terpental jauh. Kedua berandalan itu lari tunggang langgang saat mengetahui kemampuan lawannya.
"Ay, kamu baik baik saja? " Shakti mendekati Alexa yang duduk dengan tubuh masih gemetar, wajahnya memerah dan ketakutan dengan mata yang hampir menangis. Tidak pernah terlintas dalam diri Alexa jika ini akan terjadi.
"Ini yang aku khawatirkan jika kita bertemu di luar, apalagi tempatnya terlihat sepi." ujar Shakti sambil merengkuh kepala sang kekasih untuk bersandar di lengannya. Satu tangannya pun menghapus air mata yang kini berhasil meleleh dari sudut mata Alexa.
"Jangan menangis! Ini sudah aman. Aku pastikan ini tidak akan terjadi lagi padamu." Shakti masih menenangkan Alexa.
Alexa mengangkat kepalanya dan menatap mata lelaki di sebelahnya dengan penuh mengiba, "aku percaya padamu, Mas." ucap Alexa saat mengingat papanya yang seperti meragukan Shakti. Gadis itu masih percaya jika di depannya saat ini adalah pilihan terbaiknya.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Shakti saat melihat sebuah rumah makan sederhana tapi jauh lebih nyaman duduk di sana dari pada tempat mereka saat ini.
Bagi Shakti berpacaran dengan Alexa adalah pengalaman yang berbeda. Dia pertama datang di tempat yang baginya sangat sederhana, seperti rumah makan yang akan dia tuju. Tentu saja, karena harga kemeja yang dia kenakan saja bisa memborong semua yang dijual di warung.
Ini juga kencan pertama dia tanpa sebuah mobil. Dia hanya berjalan kaki dengan menautkan jari jari tangannya di sela sela jari mungil gadis yang kini tersenyum malu-malu.
Sesekali Shakti melirik Alexa dan membuat gadis itu tersipu. Lelaki itu juga juga tak kalah bahagia. Meski dengan sesuatu yang sederhana, tapi itu semua mendebarkan jantungnya. Iya, gadis yang sesekali tertangkap meliriknya dengan malu malu itu selalu membuat hatinya bergetar.
Sederhana bukanlah sesuatu yang buruk dan hina. Sederhana bisa saja mendatangkan sebuah chemistry dan rasa bahagia yang sebenarnya.
Bersambung.
Catatan: Terkadang kita akan melewati sebuah masa di mana ada gejolak gejolak yang sebenarnya tidak dibenarkan. Dalam bentuk apapun pacaran memang tidak dibenarkan. Hehehe ( Alexa lagi keluar arah untuk menemukan tujuan hidupnya).
__ADS_1
Hayoo siapa yang ingat pas ketemu lawan jenis yang masih malu malu meong. hahahah ðððĪŠ
Maaf kemarin jeda author lagi tidak enak badan.