Rindu Alexa

Rindu Alexa
Jatuh Cinta


__ADS_3

Shakti pun mengabulkan permintaan Alexa untuk secepatnya pulang. Alexa tidak ingin pulang terlambat, apalagi dia pulang tidak bersama Agam. Entah, apa yang akan dikatakannya pada papa dan mamanya jika mereka bertanya, kenapa Dokter Agam tidak mengantarnya pulang.


Berbeda dengan lelaki yang saat ini masih fokus mengemudi, dia lebih terlihat seperti orang yang baru saja berkencan, hatinya dipenuhi dengan rasa bahagia. Sesekali, dia melirik Alexa yang terdiam menatap ke depan.


"Ay, kenapa?" tanya Shakti, suara bariton itu memecahkan kebisuan diantara mereka.


"Mas, bolehkah aku bertanya?" Alexa menoleh menatap lelaki yang saat ini tersenyum padanya.


"Apa Mas Shakti sering minum alkohol?" Alexa melontarkan pertanyaannya dengan penuh hati hati.


"Terkadang. Tapi tidak sampai mabuk, kok!" jawab Shakti dengan memperhatikan jalan yang sedang mereka lalui.


"Orang mabuk pasti bilangnya tidak mabuk, Mas. Seperti halnya orang gila tidak akan pernah mau dibilang gila." Alexa bingung bagaimana cara mengingatkan lelaki di sebelahnya. Shakti yang melihat wajah bingung Alexa pun hanya terkekeh.


"Mas."


"Hem... " kali ini Shakti hanya menjawab Alexa dengan deheman. Dia memberi kesempatan Alexa untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah dia tahu.


"Minum alkohol merusak kesehatan juga lo, Mas. Dan.... " kalimat Alexa menggantung. Tangannya mencengkeram tas kecil yang ada di pangkuannya karena belum juga ada kalimat yang lebih tepat untuk mengingatkan lelaki yang sudah mencuri hatinya itu.


"Dilarang agama?" tebak Shakti masih menyuguhkan senyum yang biasanya terkesan langka, tapi bersama Alexa hari ini senyum itu seperti sengaja diobral.


Alexa mengangguk pelan. Melihat tatapan lekat sang bidadari yang diam diam membuat debaran yang berbeda di jantung lelaki itu. Sorot mata sipit itu mampu mengumpulkan semua rasa indah dalam jiwanya.


"Benarkah aku jatuh cinta atau hanya perasaan sesaat yang menggebu di hatiku?" Shakti bermonolog dalam hati, kemudian mengulurkan tangannya mengelus kepala Alexa. Bukan sebuah kebohongan jika dia menyayangi gadis naif di sebelahnya. Tapi untuk memilih antara dua hati itu dia belum bisa meyakinkan perasaannya.


"Setiap apa yang dilarang agama pada hakekatnya pasti ada alasannya jika kita mau mengkaji lebih dalam tentang aturannya. Agama tidak hanya bicara tentang dosa tanpa sebuah alasan yang logis." lirih Alexa.


"Iya -ya, Sayangku." Shakti mencubit pipi cabi Alexa.


"Sebenarnya pacaran dan bersentuhan yang bukan muhrim itu juga tidak diperbolehkan, Mas!"


"Astaga bisa gila, Ay. Banyak amat aturannya. Kenapa juga? lagian cuma sentuhan... tidak sampai obok obok atau bergabungnya dua cairan yang berbeda gender hingga berakibat pada pembuahan." protes Shakti. Baginya itu seperti berlebihan karena Tuhan sendiri menciptakan sebuah hasrat.


"Sebelum ada pembuahan pasti bersentuhan dulu, kan mas? Makanya dalilnya janganlah kamu mendekati zina. Bukankah semua itu berawal dari menjaga pandangan dan bersentuhan?" Alexa kembali memberi jawaban yang belum bisa diterima oleh Shakti.


"Kalau aku hanya melihatmu dan tanpa bersentuhan pun rasanya sudah ingin menerkammu, Ay." balas Shakti dengan menggoda Alexa. Lelaki itu malah terkekeh saat melihat rona merah di wajah gadisnya. Hanya diajak bicara menjurus ke hal yang mesum saja, gadis di sebelahnya itu sudah terlihat tersipu.


Alexa mengalihkan pandangnya dari tatapan mata tajam Shakti. Lelaki itu benar benar membuatnya salah tingkah.


"Maka dari itu sebenarnya kita perlu menjaga pandangan. Pacaran itu tidak pernah dibenarkan apapun alasannya. Dan aku melakukan kesalahan itu saat ini." Alexa menundukkan wajahnya, dia mengakui hubungan ini tidak benar.


"Tapi, kesalahan yang indah. Siapa yang bisa mengelak dari perasaan sayang, Ay." Alexa sudah tidak mau meneruskan lagi perdebatan itu. Dia hanya terdiam. Kenyataan dan teory memang sulit untuk dipisahkan jika berurusan dengan hati.


"Tapi emang kita pacaran? Bukannya khitbah, Ay?" lanjut Shakti dengan tertawa, dia sengaja menggoda Alexa. Tapi, Alexa sudah tidak ingin menanggapi, dia tahu Shakti akan terus menggodanya jika ditanggapi. Tapi, Alexa dibuat penasaran karena lelaki itu tahu soal Khitbah.

__ADS_1


###


"Sayang, Mama selalu bilang, jika terlambat pulang kabari Mama. Bukan malah mematikan ponsel." suara Zoya terdengar saat Alexa membuka pintu tanpa bersuara. Alexa terdiam sejenak, dia tahu jika Mama Zoya pasti sedang mengomelin Hanum.


"Mama, batrai ponsel Hanum low." jawab Hanum.


"Nak, Mama hanya mencemaskan anak gadis Mama. Hanum masih muda untuk mengerti pergaulan di luar sana." jelas Zoya saat melihat putrinya mulai cemberut. Wajah Hanum terlihat kesal.


"Mama selalu berlebihan, coba jika Kak Ale yang seperti itu, pasti Mama bebaskan meski seharian dia harus berada di rumah orang lain. Meski dia berteman dengan Kak Helen yang bajunya kurang bahan. Apa Mama pernah protes?" protes Hanum yang tidak terima.


"Yang baik di mata Mama hanya Kak Ale, Hanum tidak pernah ada baiknya di mata Mama" Gadis itu langsung meninggalkan Zoya dengan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia merasa Zoya terlalu pilih kasih. Hanya Kak Ale putrinya yang paling baik di mata Zoya menurut Hanum.


Zoya meluruhkan bahunya tatapannya menerawang memikirkan apa yang barusan diucapkan putrinya. Hatinya merasa sedih saat putrinya beranggapan seperti itu.


"Assalamu'alaikum... " Alexa berucap salam dengan lirih setelah mendengar keributan barusan.


"Waalaikum salam... " jawab Zoya dengan segera mengusap air matanya.


"Jangan diambil hati, Ma. Ale yakin Hanum hanya kebawa emosi. Seusia Hanum masih labil." ucap Ale kemudian duduk di samping mamanya.


Alexa mengambil tangan mamanya. Dia bisa mengerti kesedihan mamanya. Hanya perasaan Hanum saja jika mengira Zoya tidak menyayanginya.


"Jika sudah seperti ini Mama hanya bisa berdoa untuk adikmu, semoga Allah selalu melindunginya dan menunjukkan jalan yang benar." mendengar kesedihan mamanya Alexa memeluk Zoya. Mungkin, untuk seorang putri sambung Zoya memberikan rasa sayangnya lebih dari cukup. Iya, Ale kadang merasa Zoya memang mamanya.


"Nanti biar Ale yang biacara sama Hanum. Mama jangan bersedih. Ale percaya Hanum hanya mencari jati dirinya. dia tidak ingin diidentikkan dengan siapa pun. Termasuk dengan Ale."


"Mama sebenarnya khawatir saat Hanum bergaul dengan teman kampusnya Dira. Tapi, bukan berarti Mama melarangnya berteman dengan Dira."


"Tapi, Hanum salah faham, Kak. Maksud Mama kalau Dira main ke rumah nggak apa apa. Tapi jangan kluyuran tidak jelas." Zoya bercerita tentang awal terjadi keributannya dengan Hanum.


"Ale mengerti maksud Mama, Nanti biar Ale yang jelasin ke Hanum." kalimat Ale terdengar menenangkan Zoya. Zoya mengusap pipi cabi putrinya dengan tersenyum, "Ale putriku, kamu memang putriku meski bukan aku yang melahirkanmu." gumam Zoya dalam hati. Wanita cantik dengan mata bulat itu pun tersenyum menatap bangga sulungnya.


Sebuah notifikasi pesan ponsel milik Ale pun terdengar. Pesan dari Shakti.


Apa kamu kena masalah di rumah, Ay?


Pesan yang barusan dikirim oleh Shakti. Tapi Alexa tidak membalasnya. Dia memasukkan kembali ponselnya.


"Papa di mana, Ma?"


"Assalamu'alaikum..." tanpa menunggu lama suara Hans pun terdengar. Hans baru saja tiba. Seorang klien mengajaknya bertemu di sebuah restoran.


"Walaikum salam. " jawab kedua wanitanya. Lelaki yang kharismatiknya terlihat semakin kuat itu berjalan mendekat ke arah Ale dan Zoya.


"Sayang, kenapa?" tanya Hans saat Ale dan Zoya mengambil tangannya untuk bersalaman secara bergantian. Hans memilih duduk di sebelah Zoya dan merangkul bahu mungil istrinya.

__ADS_1


"Hanum, Mas. Kalau dibilangin selalu membantah terus." jelas Zoya.


"Ohh itu.." jawab Hans dengan santainya.


"Ma, Ale naik keatas dulu ya!" Ale langsung kabur. Dia memilih kabur terlebih dahulu karena tahu jika akan terjadi perdebatan hebat.


Dan benar saja, perdebatan langsung dimulai saat Ale beranjak. Tapi ketika dia sampai di lantai atas. Dia melirik ke bawah dan mendapati papanya susah memeluk dan menciumi pipi mamanya dengan penuh rasa gemas.


Ale hanya tersenyum dan menggelengkan kepala setiap kali melihat kelakuan papa dan mamanya.


Gadis itu kemudian membuka kamarnya yang bernuansa girly. Wallpaper bermotif abstrak dan sebuah lukisan bunga membuat nuansa feminim begitu melekat kuat di kamar Ale.


Alexa mengambil ponselnya, sebelum meletakkan kembali tasnya di sudut tempat tidur. Sambil merebahkan tubuhnya, dia membalas pesan Dokter Agam sekaligus memberi tahu jika dirinya sudah sampai di rumah.


Dokter Agam, perhatiannya kadang membuat Alexa merasa sungkan, juga kebaikan Dokter Agam padanya terkadang membuat dirinya serba salah. Dokter agam belum pernah mengungkapkan perasaannya tapi perhatian Dokter Agam membuat Alexa merasa jika lelaki itu memperlakukannya bukan hanya sekedar sahabat tapi lebih.


"Mas Shakti." gumam Alexa saat nama itu melakukan video call.


"Assalamu'alaikum, Mas." jawab Alexa saat terlihat wajah ganteng lelaki itu.


"Ya Allah, kenapa nggak ganti baju dulu!" keluh Alexa saat melihat dada telanjang lelaki itu. Sungguh, tidak bisa dipungkiri lelaki itu punya body yang cukup bagus dadanya bidang dengan bulu halus yang terlihat seksi. Roti sobek di perutnya pun terlihat sebagian, membuat wajah Alexa memerah seperti rebusan kepiting.


"Aku habis mandi, tidak sabar ingin melihatmu Ay." Shakti terlihat menggosok rambut basahnya.


"Orang rumah ada yang curiga?" tanya Shakti.


"Tidak, Mas. Sebaiknya Mas Shakti ganti baju dulu."


"Bolehlah aku lihat rambutmu? Jangan jangan kriting." Pancing Shakti. Gadis seperti Alexa memang selalu membuat rasa penasaran.


"Emang kenapa kalau kriting?" tanya balik Alexa, padahal rambutnya lurus dan indah.


"Nggak apa, aku juga makin sayang meski kriting kayak mie goreng spesial pakai telur." gombalan Shakti mulai meluncur begitu saja dan membuat Alexa tertawa.


Entah kenapa saat bersama Alexa spontan sikap lelaki itu menjadi aktif. Alexa yang tertutup dan malu-malu membuat stimulus untuk sikap agresifnya itu.


"Aku mau mandi dulu, Mas!" ucap Alexa ingin mengakhiri obrolan itu.


"Baiklah, tapi besok kita bisa ketemu, kan?" tanya Shakti yang hanya dijawab anggukan Alexa. Gadis itu kemudian menutup panggilan Shakti setelah berucap salam.


Alexa memeluk ponselnya, baru kali ini dia merasa bahagia layaknya gadis yang baru pertama jatuh cinta. Rasanya dia ingin segera menyelesaikan semuanya dan secepatnya mendapatkan gelar dokter. Dia memang berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menikah sebelum mendapatkan gelar yang sudah dia cita citakan itu.


Bersambung.


Hallo gaes ... author ingin menyapa kalian semua dan mengucapkan Terima kasih atas like, hadiah dan votenya. author tidak pernah menyangka akan masuk dalam rangking karya. tanpa dukungan kalian Rindu Alexa tidak ada apa apanya. Sekali lagi Terima kasih atas dukungan supportnya selama ini....

__ADS_1


Happy reading semoga sehat selalu dan diberi keselamatan.


__ADS_2