
"Masih Sakit, Ay? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Shakti yang masih mengkhawatirkan Alexa.
"Setelah diberi obat oles sudah enakan, Mas." jawab Alexa dengan tersenyum.
"Sementara jangan membawa mobil sendiri, ya!" Shakti menjulurkan tangannya mengusap pelan puncak kepala gadis yang tampak malu-malu. Wajah Alexa yang merona setiap kali tersipu malu membuat membuat lelaki berhidung mancung itu semakin gemas.
Sesaat mereka kembali terdiam menikmati perjalan pulang yang diiringi musik menuju rumah Alexa.
"Helen cantik ya, Mas?" Alexa memecahkan
"Heh... apa?" Shakti tergagap saat menyadari pertanyaan Alexa. Setiap kali dia merasa bahagia bersama Alexa, selalu saja urusannya dengan Clarisa masih mengganjal dalam pikirannya. Bagaimana cara dia mengakhiri hubungannya yang masih baik baik saja? Apalagi Clarisa juga mulai take down semua egonya dan menuruti permintaannya untuk sedikit memperhatikan mamanya.
"Biasa." lanjut Shakti.
"Bohong sekali jika bilang Helen biasa saja." Alexa sedikit merengut saat mendengar jawaban Shakti yang menurutnya tidak jujur.
"Ay, versi cantik itu beda-beda. Sudut pandang cewek dengan cewek pun beda. Kalau aku lebih suka yang sederhana dan cantik hatinya. Gimana ya, aku susah mendefinisikan cantik itu." jelas Shakti.
"Dulu, aku selalu ingin seperti dia. Cantik, berbakat dan baik." Alexa kembali mengurai memory saat dia sempat ingin menjadi seperti Helen. Tapi, untung Mama Zoya selalu membimbingnya untuk menjadi diri sendiri dengan cara lembut. Tanpa kata penolakan atau kalimat yang menjatuhkan rasa percaya dirinya.
"Benarkah?" jawab Shakti hampir tidak percaya, dia melihat gadis yang bernama Helen terlalu biasa dibandingkan gadis di sebelahnya. Karakter Alexa yang begitu kuat membuat sosoknya terlihat menarik dengan dirinya yang apa adanya.
"Aku boleh mampir nggak? Kenalan sama calon mertua gitu hehehehe." sambil menaik turunkan alisnya, Shakti kembali menggoda gadis di sebelahnya dengan melajukan mobil milik Alexa dengan santai.
"Boleh, tapi Papa orangnya galak."
"Aku sudah faham sama Pak Hans. Lawyer ternama yang penuh kharismatik." puji Shakti, karena seperti itulah publik menilainya.
Alexa sebenarnya masih meragu untuk mengenalkan Shakti pada kedua orang tuanya, dia masih ragu dengan papanya. Tapi, dia juga tidak bisa menolak kekasihnya yang ingin berkenalan dengan kedua orang tuanya.
Mobil Yaris putih yang membelok ke jalan komplek menuju rumahnya itu membuat jantung Alexa berdetak tak karuan. Dia tidak bisa membayangkan reaksi orang tuanya terutama papanya jika pulang bersama lelaki yang asing bagi papanya.
Dari kejauhan rumah pengacara ternama terlihat lebih ramai dari biasanya. Shakti dan Alexa semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Beberapa tetangga datang dengan pakaian serba hitam.
__ADS_1
Deg...seketika wajah Alexa menegang saat melihat bendera putih berada di depan rumah. Tubuhnya seperti dihantam benda besar dengan berat berton-ton. Sejak keluar dari rumah sakit, dia tidak tahu kabar apapun karena ponselnya yang mati karena low batrei.
"Tenang, Ay." Shakti mencoba menenangkan Alexa, meski dia tahu simbol bendera putih di depan rumah gadis kesayangannya. Lelaki itu juga tak kalah cemas saat meminggirkan dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Dengan berlari kecil, lelaki bertubuh tinggi itu membukakan pintu mobil untuk Alexa dan membantu gadis yang matanya sudah berkaca- kaca itu masuk ke dalam rumah.
Alexa berjalan dengan tertatih, tidak hanya karena kakinya yang masih sakit tapi tubuhnya pun terasa lemas. Dengan tubuh yang sudah gemetar dan pikiran tidak menentu Alexa menyeret langkahnya hingga di depan pintu utama.
"Oma." lirih Alexa saat berdiri di depan pintu, matanya langsung berair saat melihat omanya sudah berbaring tenang setelah disucikan. Alexa hampir limbung, sekejap pandangannya menjadi gelap hingga beberapa kali dia mengerjapkan mata. Bahkan, kepalanya pun seolah berputar membuatnya mencengkeram kuat kemeja Shakti yang kini menjadi tumpuan dia berdiri.
"Kak Ale..." Zoya berjalan sambil menangis menghampiri putrinya. Dia memeluk Alexa yang hanya berdiri mematung dengan air mata yang terus mengalir.
"Oma, Mama!" Alexa langsung memeluk mamanya begitu erat. Baru saat itu tangis Alexa meledak.
"Ay, sabar." Shakti mengusap punggung Alexa yang terus tergugu dipelukan mamanya. Lelaki itu rasanya tidak tega melihat Alexa yang sudah tidak bisa mengendalikan tangisnya.
"Sayang, jangan menangis, doakan Oma." Zoya tahu diantara orang rumah yang paling terpukul adalah sulungnya. Ikatan batin dengan Oma Shanti begitu kuat. Berlahan, Shakti mengarahkan Alexa untuk duduk di sebelah Oma yang sedang dikafani.
Shakti tidak peduli meski tuan rumah yang melayangkan tatapan tajamnya saat dia berusaha menenangkan putrinya.
Setelah pulang dari pemakaman Oma Shanti, Shakti kembali ke rumah Hans, dia ingin melihat keadaan Alexa. Lelaki itu sudah tidak peduli dengan apa kata orang yang melihat keberadaannya di dalam keluarga Hans Satrya Jagad, karena tidak sedikit orang datang melayat memang sudah mengenalnya.
Saat dia kembali sampai di rumah bernuansa putih itu. Shakti melihat mamanya turun dari mobil Jaguar miliknya yang di kendarai oleh Arka. Shakti menghampiri mamanya untuk menemui Alexa.
"Assalamu'alaikum... " ucap Gayatri saat masuk ke dalam rumah dengan dikawal Shakti dan Arka.
"Waalaikum salam." Zoya yang melihat kedatangan tamu langsung menyambutnya.
"Saya ikut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarGa Bapak Hans." ucap Gayatri saat bersalaman dengan Zoya.
"Terima kasih sudah berkenan datang. Mari silahkan duduk." Zoya mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Alexa-nya ada?" Gayatri memang ingin tahu keadaan gadis kesayangannya itu.
__ADS_1
"Oh Kak Ale sepertinya ada di belakang. Mari saya antar." ucap Zoya. Arka memilih duduk di di ruang tamu sementara Shakti ikut berjalan di belakang mamanya.
Shakti sedikit terkejut saat melihat Dokter Agam duduk di samping Alexa, bahkan lelaki itu membuat senyum tipis di wajah yang masih terlihat sedih itu. Dadanya pun berdesir menahan rasa tidak senang bercampur sedikit emosi. Dia berjalan menatap Agam bersama teman teman Alexa yang sedang berpamitan.
Teman nakes Alexa pun berjalan keluar, mereka berpapasan dengan Zoya dan sekalian berpamitan. Sementara, Shakti masih menampilkan sikap dinginnya saat Agam menatapnya.
Begitupun juga Dokter Agam, dia juga sempat dibuat penasaran dengan kehadiran lelaki yang cukup disegani itu di rumah Alexa. Tapi, dokter ganteng dengan perangai kalem itu menyimpan dulu semua rasa penasarannya.
"Sayang." Gayatri langsung memeluk gadis yang matanya terlihat sayu. Setelah mengantarkan Gayatri pada Alexa Zoya kembali ke rumah utama.
"Ikhlaskan dan Doakan Oma. Setiap manusia semuanya pasti akan kembali padanya." Gayatri masih berusaha menenangkan perasaan Alexa dari kesedihan yang terlalu dalam.
Alexa memeluk Gayatri, Dia kembali menangis dan terisak dalam pelukan wanita berumur itu.
"Oma juga seperti Mama. Wanita pertama yang dikenal Alexa sebagai Mama adalah Oma..." Alexa tak mampu meneruskan kalimatnya. Gadis itu hanya bisa tergugu, dipelukan wanita yang juga ikut menetaskan air mata. Gayatri bisa memahami Alexa yang menghabiskan masa kecilnya bersama Oma yang juga berperan sebagai ibu pertama dalam hidupnya.
"Sayang, Oma akan berat merasa berat menghadap-Nya jika kamu seperi ini." Gayatri mengusap air mata Alexa yang seperi tidak ada habisnya.
Shakti yang sempat mengusap sudut matanya saat melihat Alexa menangis dipelukan mamanya itu pun beranjak untuk mengambil sebuah minuman.
"Minum, Ay. Kamu sudah makan?" Alexa hanya menggeleng dan mengambil minuman yang diberikan Shakti. Lelaki itu semakin tidak tega saat melihat Alexa yang semakin pucat.
Waktu yang semakin petang membuat Gayatri segera pamit. Beliau meninggalkan Shakti yang terlihat ingin bicara dengan Alexa.
"Ay, aku balik dulu ya!" pamitan Shakti dia menggenggam tangan mungil yang terasa dingin itu.
"Jangan lupa makan, ya! Jaga kesehatan. Oma pasti sedih jika melihatmu seperti ini." pesan Shakti." pesan lelaki itu dengan mencium kepala yang berbalut kerudung itu dengan penuh rasa sayang. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Alexa dengan kondisi yang seperti ini.
"Aku menyesal, kenapa tadi pagi tidak melihat Oma terlebih dahulu. Kenapa aku buru buru pergi tanpa menyiapkan Oma Sarapan." ucap Alexa dengan tatapan menerawang bersamaan dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir.
"Sayang, Kamu dengar, kan tadi cerita Mama Zoya. Jika tidak ada yang mengira Oma meninggalkan. Aleks pun mengira Oma sengaja tidur dengan mengenakan mukena." Entah keberanian dari mana yang membuat lelaki itu memeluk Alexa. Dia hanya ingin menenangkan gadisnya itu.
"Jangan menangis lagi. Kasian Oma bila seandainya melihat kamu seperti ini." Shakti kembali meregangkan pelukan nya dan mengajak Alexa masuk ke dalam. Keduanya tidak menyadari jika tatapan tajam itu tidak pernah beralih dari mereka.
__ADS_1
Bersambung....