
Shakti sedikit gugup kala mobil yang tengah ditumpanginya melaju menuju rumah mertuanya. Dia berharap Papa Hans masih di kantor.
Gerbang otomatis terbuka, mobil Jaguar metalik itu berhenti tepat di halaman rumah orang yang paling dia segani. Meskipun, kegugupan mendera, Shakti tetap harus menghadapi semuanya demi untuk menemukan istrinya.
"Assalamu'alaikum... " ucap Shakti sambil memencet bel.
"Ceklek... " terlihat Zoya kini membuka pintu rumahnya.
"Mah... "
"Ayo silahkan masuk!" sela Zoya langsung mempersilahkan Shakti dan temannya untuk segera masuk.
"Ada apa? Mana Kak Ale?" tanya Zoya karena tidak biasa Shakti datang sendirian. Apalagi dengan situasi seformal ini.
"Emm... berarti Alexa nggak ada di sini, Ma?" cecaran pertanyaan Zoya malah dijawab Shakti dengan pertanyaan.
"Kak Ale, nggak ada di sini? Emang kenapa?" Zoya menatap penuh selidik pada sosok di depannya. Wajahnya menunjukkan semburat kecemasan akan putrinya.
"Ehmmm... Alexa belum pulang ke rumah, Ma. Aku khawatir, nomernya juga nggak bisa dihubungi." jawab Shakti masih menyisakan keraguan untuk menceritakan semuanya.
"Apa dia ke rumah sakit?" tanya Zoya.
"Nggak, Ma. Aku baru saja ke rumah sakit tapi Alexa tidak ada." lirih Shakti semakin bingung tentang keberadaan Alexa. Tapi, dia juga belum berani menceritakan masalah yang sebenarnya menimpa hubungan mereka.
"Baiklah, Aku permisi dulu, Ma. Aku akan mencari Alexa lagi!" pamit Shakti, Zoya masih dirundung rasa gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.
"Shakti... nanti kasih kabar jika sudah ketemu Kak Ale." pesan Zoya saat menantunya akan keluar dari rumah miliknya.
"Iya, Ma." jawab Shakti singkat.
Shakti dan Ringgo kembali menyusuri jalan sambil berfikir kemana lagi mereka akan mencari Alexa.
"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kamu berhubungan lagi dengan Clarisa? Bukankah kamu sudah tahu jika wanita itu jahat." tanya Ringgo di tengah perjalanan.
"Aku hanya merasa bersalah dengan Clarisa. Gara- gara kasus kemarin dia kehilangan papanya. Dia tidak punya siapa siapa lagi." jelas Shakti, dia tidak mengira jika niat baiknya akan menjadi boomerang untuk keluarganya.
"Kamu itu terlalu naif apa bodoh?" Ini pertama kalinya Ringgo mengatai Shakti bodoh. Lelaki itu begitu gemas mendengar pengakuan Shakti .
"Kita makan dulu!" tanpa persetujuan dari Shakti lelaki itu membelokkan mobilnya menuju restoran terdekat. Shakti pun tidak menolak selain lapar dia juga masih berfikir kemana dia akan mencari Alexa.
__ADS_1
###
Alexa menatap langit langit kamarnya, dia terus saja berfikir apa yang mesti dia lakukan. Tapi, ada hal yang membuat hatinya terasa adem, yaitu saat dia sudah membayangkan bermain dengan bayi mungilnya.
"Lexa, ayo istirahat!" ucap Nindy sambil meletakkan ponselnya, gadis itu baru saja bertukar pesan dengan sang kekasih yang sebentar lagi akan pulang dari Libanon.
"Aku belum mengantuk, Nin." jawab Alexa sambil tersenyum. Malam ini, dia merasa bersyukur karena Nindy berkenan menemaninya, tapi bagaimana dengan besok? Dia tidak bisa memaksa gadis itu untuk terus menemaninya.
"Tapi, kamu harus istirahat, Lexa. Ini demi janin yang ada di perutmu." desak Nindy membuat Alexa tersenyum menatapnya. Dia bersyukur di saat terpuruk seperti ini masih ada sahabat yang masih mendukungnya.
"Nin, boleh aku bertanya?" atmosfir di dalam ruangan pun berubah menjadi serius. Nindy menatap Alexa dengan menautkan kedua alisnya seolah meminta Alexa untuk terus terang saja mengatakannya.
"Batasan orang berpacaran itu ngapain saja? Dan bagaimana jika pasanganmu selingkuh?" tanya Alexa. Nindy pun berjalan mendekati Alexa yang masih terbaring.
"Ya tergantung orangnya, Ay. Tidak ada patokan untuk orang yang sedang pacaran, nyatanya aku saja nggak pernah ketemu pacar. Atau mereka termasuk penikmat **** bebas."
"Jika pasanganku selingkuh aku akan membuangnya begitu saja, selain takut terulang lagi pasti hal itu tidak bisa terlupakan begitu saja." jawab Nindy dengan idealismenya.
Alexa tersenyum kecut, sekali lagi dia mengelus perutnya memikirkan bayinya yang lahir tanpa Papa. Tapi, untuk memaafkan Shakti itu sangatlah mustahil. Entahlah, dia tidak bisa membayangkan lelaki yang sudah bertukar nikmat dengan wanita lain itu kembali menyentuhnya. Tidak bisa. Dia merasa tidak bisa.
"Ay, aku sarankan beritahu keluargamu atau suamimu tentang semua ini, tentunya setelah kamu merasa lebih baik ya!" ujar Nindy.
Alexa pun berusaha memejamkan mata, dia memang akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Cepat pulih, dan si janin dalam keadaan aman.
###
Dengan mata yang sudah mengantuk Hanum menyeret langkahnya masuk ke dalam apartemen Arkha. Lelaki itu mengurungkan niatnya menginap di hotel dan memilih langsung pulang ke apartemen, karena itu membuat keduanya tiba di apertemen pukul satu dini hari.
Arkha yang merasa haus pun berjalan masuk ke dapur untuk mencari minum, sedangkan Hanum memilih untuk ambruk di sofa depan karena sudah tidak kuat menahan kantuk.
"Num, kamu mau susu hangat?" teriak Arkha dari dapur. Dia bermaksut membuat susu hangat agar bisa langsung terlelap sambil menunggu subuh datang.
Arkha meletakkan susu hangatnya di meja dan berjalan menghampiri Hanum yang sudah tergeletak di sofa.
"Num, kenapa tidur di sini?" Arkha berusaha membangunkan Hanum, tapi sayang gadis itu benar benar tidak bergeming.
Sejenak Arkha menatap wajah cantik dengan mata tertutup, dia bahkan menjulurkan tangannya dengan jari mengusap bibir ranum gadis itu. Bibir mungil tapi penuh itu membuat magnet yang tiba tiba menarik lelaki itu membungkukkan badannya dan menyentuhkan bibirnya pada benda kenyal itu. Dia kembali teringat ciuman pertamanya dengan Hanum yang ingin terus dilakukannya kembali.
"Astaga... " Arkha langsung menarik tubuhnya setelah mendapatkan kesadarannya. Entah setan apa yang tiba tiba membuatnya menginginkan itu.
__ADS_1
Arkha pun segera menggendong tubuh mungil itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tapi wajah cantik Hanum membuatnya sulit untuk memalingkan tatapannya.
Arkha meletakkan Hanum ditempat tidur, dia juga berniat untuk merebahkan diri. Di biarkan lengan kokohnya menjadi tumpuan kepala Hanum. Dia bahkan, memiringkan tubuhnya menatap intens gadis yang kini berbaring bersamanya.
Hatinya merasakan debaran halus kala dia berbaring di dekat gadis itu, menatap wajah cantik itu penuh dengan kekaguman. Entah sejak kapan dan apa alasannya Arkha sendiri tidak mengerti. Lelaki itu kemudian mencoba menemukan jawabannya, dia merasa karena dirinya lelaki normal yang berada di dekat seorang gadis hingga membuat ada getaran yang berbeda.
"Kamu cantik, Num." lirihnya kemudian mencium pipi sebelah Hanum.
"Ya ampun, dia masih bocah, Arkha! Sadar... " sisi lain Arkha pun berteriak tiba tiba membuat lelaki itu tersenyum kecut. Iya, bagaimana bisa dia melakukannya dengan seorang bocah. Arkha pun memilih memejamkan matanya hingga keduanya saling berpelukan.
Hanum mengerjapkan matanya, dia merasa tubuhnya terhimpit sesuatu yang besar. Tangan besar itu memeluknya begitu erat.
"Arrrkkkk... " pekik Hanum ketika melihat sosok disebelahnya halus.
"Kenapa?" Arkha berusaha membuka matanya yang terasa lengket saat mendengar teriakan.
"Kamu memperkosaku, Kak?"
"Kamu sudah mencuri kesempatan ya? Katanya tidak nafsu, katanya meskipun terjadi satu tempat tidur tapi tidak akan terjadi apapun!" Hanum masih berusaha menyingkirkan lengan Arkha dari tubuhnya Hanum terus aja mengomel.
Sedangkan Arkha hanya tersenyum menatap gadis yang masih memeriksa keadaan tubuhnya.
"Tidak terjadi apa apa, kan?" tanya Hanum untuk meyakinkan.
"Arrrkhhh... " kemudian Hanum menutupi dadanya saat melihat kancing piyamanya terlepas satu di bagian teratas. Dia pun mengalihkan tatapan tajamnya pada lelaki yang masih tersenyum menatapnya.
"Kak arkha, yang melepasnya,kan?" tuduh Hanum dengan bola mata yang hampir melompat.
Arkha langsung bangkit dan menjatuhkan kembali tubuh Hanum dalam kungkungannya. Hanum hanya bisa melotot menatap wajah yang hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya.
"Jika aku melepasnya kenapa harus nanggung? Aku pasti akan melepasnya semua!" gumam Arkha, tangannya berusaha merebut kancing baju yang masih di genggam erat jari jari mungil itu.
"Kak Arkha... " lirih Hanum dengan tatapan mengiba membuat Arkha berhenti. Bahkan, jantungnya berdebar tidak karuan.
"Makanya jangan menuduh sembarangan! Aku tidak tahu soal kancing bajumu."
"Sana mandi! sudah masuk Salat Subuh!" Arkha mendaratkan ciumannya di pipi yang sudah merona itu. Lelaki itu pun bangkit dan keluar kamar.
"Ampun ya Allah, bisa kenapa serangan jantung jika seperti ini terus!" gerutu Hanum berlahan bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1