
Jika jantung sudah berdegup untuk cinta dan nadi sudah mendenyutkan rindu untuk seseorang maka jiwa akan terus meronta untuk bisa memeluknya. Tapi tidak dengan Alexa, gadis itu memilih menutup semua rasa bahkan pikirannya tidak akan memberi celah rasa cinta atau rindu untuk seseorang yang sudah membuatnya terluka. Selain tidak ingin terluka lagi, dia juga ingin fokus pada cita citanya.
Hidup tidak hanya bicara tentang cinta, tapi banyak sisi yang mesti diperhatikan. Ada cita cita dan harapan orang orang yang sudah digantungkan pada dirinya.
Gadis mungil berwajah oriental itu berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan menebar senyum pada setiap orang yang di lewatinya termasuk orang yang saat ini berjalan di sampingnya. Dokter Agam. Mereka baru saja memeriksa kondisi pasien.
Hari jadi rumah sakit membuat sebagian tim medis disibukkan dengan acara tersebut. Banyak undangan yang datang dari mereka yang menjadi bagian rumah sakit dan undangan khusus dari kalangan pemerintahan.
"Apa rencanamu setelah mendapatkan gelar dokter, Lexa?" tanya Agam penuh selidik.
"Tentu saja intership, Dok." jawab Alexa sambil tertawa. Sebisa mungkin Alexa terlihat baha
"Maksudku, menikah atau langsung mengambil spesialis?" selidik Agam dengan menatap tajam Alexa seolah tidak sabar mendengar jawaban dari gadis itu.
"Mungkin, saya akan mengambil spesialis. Tapi, entahlah, Dok. Saya belum punya rencana yang matang untuk ke depannya?" jelas Alexa yang memang tidak mengerti. Dia belum menyiapkan rencana yang matang setelah sumpah dokter nanti. Agam pun tersenyum, ada sedikit harapan yang tertuju pada gadis yang kini mengulas senyum di bibir mungilnya itu.
Dari kejauhan seorang lelaki dengan tinggi 187cm itu menatap dingin dua orang berjas putih yang berjalan bersama dengan wajah sumringah. Sudah dua minggu hubungannya bersama Alexa sudah benar benar mati. Shakti juga berfikir gadis yang sempat diperjuangkan itu sudah melupakan hubungan mereka yang hanya beberapa bulan itu.
"Shak, itu Alexa!" tunjuk Gayatri yang berjalan bersama Shakti. Gayatri baru saja menghadiri acara di gedung sebelah ditemani putranya. Wanita yang punya beberapa persen saham di rumah sakit itu termasuk tamu khusus dalam acara itu.
"Mama samperin dulu, ya!" ucap Gayatri. Wanita yang terlihat begitu anggun dan elegan itu berjalan lebih cepat menghampiri Alexa.
"Sayang, apa kabar?" sapa Gayatri kemudian memeluk Alexa.
"Baik, Tante. Tante, apa kabar?" tanya Alexa kemudian mencium punggung tangan wanita berumur itu.
"Kabarnya Tante baik, sayang."
"Dokter Agam. Apa kabar?" sapa Gayatri saat menyadari keberadaan Dokter Agam. Gayatri memang sudah mengenal dokter Agam yang dikenal paling ganteng dan ramah itu.
"Baik, Nyonya." jawab Agam dengan tersenyum ramah pada Gayatri.
__ADS_1
Shakti pun menghentikan langkahnya di dekat Gayatri. Tatapannya tertuju pada Alexa kemudian beralih pada lelaki di samping Alexa, tapi tak ada niat dari lelaki itu untuk menyapa keduanya. Wajah yang terlihat cool dan sorot mata tajam lelaki itu menyimpan rasa cemburu pada Agam.
"Ayo, Ma. Shakti masih ada meeting penting dengan klien." ucap Shakti dengan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia enggan menatap wajah dua orang di depannya.
"Tante pulang dulu, Sayang. Kalau ada waktu mampirlah ke rumah." ucap Gayatri.
"Iya tante, Insyallah." jawab Alexa. Suara lembut itu membuat Shakti membuang muka.
Shakti langsung menarik pelan lengan mamanya. Ada rasa marah dan kecewa dalam hatinya saat melihat Alexa yang sudah terlihat nyaman dengan lelaki yang dia ketahui sama sama menyukai gadis kesayangannya itu.
Alexa sendiri kembali berjalan menuju ruangannya ditemani Dokter Agam. Di sela sela obrolan mereka, Alexa sempat menoleh ke belakang melihat punggung bidang yang berlahan menjauh.
###
Clarissa mematut diri di cermin. Wajah pucat dan lingkar hitam di sekitar matanya terlihat jelas dalam pantulan cermin. Setelah putus dari Shakti membuatnya susah tidur. Dia begitu frustasi apalagi saat teman sosialitanya bertanya tentang kabar yang sudah mencuat jika dirinya putus dengan lelaki crazy rich yang menjadi dambaan banyak gadis.
"Arrrrghhh.... " pekik Clarisa dengan membanting hairdryer yang ada di depannya.
Sejenak gadis itu tertegun, tatapannya menatap betapa buruknya keadaannya saat ini . Beberapa cara, sudah dia tempuh untuk bisa mengembalikan Shakti padanya. Tapi hasilnya masih nihil.
Perlahan, Clarisa mengusap air mata yang menetes dari kedua sudut matanya. Dia mulai menyapukan make up agar terlihat lebih segar. Dia tidak ingin terlihat kalah saat bertemu dengan Alexa. Gadis itu sudah mengirim pesan pada Alexa untuk bertemu di sebuah kafe.
Dengan melajukan mini coopernya menembus jalan yang terlihat begitu ramai diantara temperamnya lampu kota, Clarisa sudah mengatur semua yang akan di katakan pada gadis sudah membuat sang kekasih meninggalkannya.
Pukul tujuh malam, Clarisa memarkirkan mobilnya di depan kafe yang cukup ramai dengan anak muda. Dengan tas kecil yang mengalung di bahu kirinya Clarisa berjalan masuk. Gadis dengan dress pendek dan belahan dada rendah itu berjalan dengan menegakkan pandangannya.
Langkahnya terhenti di depan pintu utama. Tatapannya mengedar mencari gadis yang mengenakan kerudung merah hati. Dia memang sudah mengatur janji dengan Alexa pada pertemuan mereka.
Dia langsung berjalan menuju meja nomer 17 saat mendapati sosok yang sudah di carinya. Alexa memang sudah duduk di sana dengan menatap suasana di luar kafe.
"Selamat malam." sapa Clarisa dengan tersenyum yang dibuat semanis mungkin.
__ADS_1
"Selamat malam." Alexa pun berdiri menyambut kedatangan Clarisa.
"Kenalkan, aku Clarisa kekasih dari Arjuna Shakti Arashya." Clarisa mengulurkan tangan yang kemudian disambut Alexa. Gadis itu pun langsung duduk di depan Alexa, membuat Alexa mengikutinya.
Bukan karena terkaget dengan wajah Clarisa yang sudah ditemui untuk kedua kalinya. Tapi kata 'Kekasih' membuat Alexa terhenyak kaget. Kebenaran mana yang harus dia percaya? Gadis berkulit putih dengan mata sipit itu kembali menyadarkan dirinya, apapun hubungan Clarisa dengan Shakti bukan lagi menjadi urusannya. Tapi, Alexa masih menunggu tujuan Clarisa menemuinya.
"Sebaiknya aku bicara ke Inti saja ya! Tentang hubungan kita, iya aku, kamu dan Shakti." Clarisa sudah tidak ingin berbasa basi lagi.
"Silahkan!" jawab Alexa yang belum tahu kemana arah pembicaraan gadis seksi di depannya.
"Aku hanya ingin bertanya, ada hubungan apa kamu dengan Shakti?" tanya Clarisa dengan menatap sinis Alexa.
"Kami tidak ada hubungan apa apa, Mbak." jawab Alexa singkat.
"Baguslah! Aku hanya ingin tahu kedekatan kalian. Iya, semua tahu jika Shakti adalah kekasihku. Bahkan, hubungan kami terjalin cukup lama. Tapi, akhir akhir ini hubungan kami merenggang dan ternyata semua karena kehadiranmu." kalimat Clarisa membuat wajah Alexa memanas. Dadanya berdegup kencang entah karena kecewa atau rasa marah. Alexa merasa sangat buruk dengan kalimat kalimat Clarisa yang seolah dia sudah menjadi alasan keretakkan hubungan mereka.
"Jangan khawatir. Aku dengan Mas Shakti sudah tidak ada hubungan apapun." jawab Alexa . Dia begitu sulit mengucapkan semuanya, tenggorokannya terasa tercekat karena sebuah rasa yang menusuk ke dalam hatinya.
"Berjanjilah kamu akan menjauh darinya. Jangan jadi alasan keretakkan hubungan kami. Hubungan kami sudah terlalu jauh. Bahkan kami sudah sering melewatkan malam bersama di apartemennya."
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jangan khawatirkan keberadaanku." Sela Alexa, dia rasanya tidak tahan mendengar semua yang di ucapkan Clarisa. Pandangannya seperti berputar, aliran darah yang berdesir begitu hebat membuat tubuhnya seperti tidak lagi berpijak di bumi ini.
"Terima kasih. Aku harap kamu tahu diri, apalagi kamu berjilbab. Tidak selayaknya disebut pelakor." ucap Clarisa dengan mengulurkan tangannya menggenggam tangan dingin Alexa.
"Aku hanya ingin mengatakan itu. Terima kasih atas waktunya." Clarissa pun kembali mengambil tasnya dan beranjak meninggalkan Alexa yang kini hanya bisa mematung menatap kepergian Clarisa.
Tubuhnya terasa lemas, dadanya terasa sesak. Hanya kedua matanya yang berhasil meloloskan butiran air yang tidak bisa dia tahannya lagi. Gadis itu tidak bisa lagi menggambarkan rasa sedihnya itu. Buruk. Dia hanya merasa dirinya sangat buruk karena sudah menjadi alasan hancurnya hubungan perempuan lain.
Bersambung....
Yup dukung Rindu Alexa dengan like, vote atau hadiahnya ya... Terima kasih... Happy reading ya gaes....
__ADS_1