
Alexa masih berusaha menikmati suasana pesta, dia menyimpan rasa marah dengan mengambil sebuah jus jeruk untuk membasahi tenggorokannya.
"Lexa, di mana Shakti?" sapa Arkha bersama Ringgo saat melihat Alexa berdiri sendirian.
"Di luar sama mantan." jawaban Alexa yang lirih dan penuh penekanan membuat keduanya mengerti jika wanita itu sedang marah.
Saat akan keluar, Ringgo dan Arkha bertemu berpapasan masuk ke dalam.
"Shak, lo kayaknya akan berada dalam masalah." ucap Ringgo membuat Shakti mengerutkan dahi.
"Maksudnya?" tanya Shakti dengan sedikit bingung.
"Alexa... Coba lo samperin aja!" lanjut Arkha membuat Shakti bergegas mencari keberadaan istrinya.
Terlihat Alexa sedang menikmati segelas jus sendirian. Shakti juga bisa melihat rasa jenuh di wajah istrinya.
"Ay... " sapa Shakti membuat Alexa menoleh.
"Aku ingin pulang sekarang!" sergah Alexa sebelum Shakti melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kita belum lama di sini, Ay."
"Baiklah, jika Mas Shakti masih betah di sini. Aku akan pulang sendiri." Alexa langsung meletakkan gelasnya dan berjalan keluar Ballroom.
"Kamu ini kenapa sih?" tanya Shakti sedikit berbisik. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dia pesta.
"Aku hanya ingin pulang." hanya itu jawaban yang terlontar dari Alexa membuat Shakti mendengus kesal.
"Baiklah, tunggu aku di luar. Aku akan mengambil mobil dulu." Shakti langsung berjalan keluar menuju baseman. Dia ikut kesal dengan Alexa yang tiba tiba mengajakny pulang. Padahal, dia belum bertemu dengan teman temannya yang lain.
Mobil berwarna metalic itu meluncur menghampiri Alexa yang berdiri di pintu keluar baseman. Alexa langsung masuk ke dalamnya.
"Kamu kenapa si, Ay?" tanya Shakti saat dia kembali melajukan mobilnya keluar halaman hotel.
"Kamu ini seperti anak kecil, sedikit sedikit ngambek. Aku belum juga belum menyapa kolegaku yang hadir di sana." lanjut Shakti membuat Alexa menoleh ke arahnya. Kali ini tatapannya begitu tajam seolah sedang membendung sebuah kemarahan yang begitu hebat.
__ADS_1
"Bukankah sudah aku bilang, aku bisa pulang sendiri!" lanjut Alexa. Melihat mata Alexa berkaca kaca, Shakti memilih diam.
Keheningan kembali menyapa dalam perjalanan pulang mereka. Sesekali Shakti melirik istrinya yang sedari tadi menghadap ke luar jendela mobil.
Setelah mobil berhenti di halaman rumah, Alexa pun berlari masuk ke dalam di susul Shakti dengan langkah panjangnya mengejar istrinya.
"Loh, kenapa dengan Alexa, Shak?" tanya Mama Gayatri terlihat sedang menggenggam segelas air.
"Nggak tau, Ma. Ngambek kayaknya." Mendengar jawaban Shakti membuat Gayatri hanya mengangguk, merasa bukan urusannya, wanita sepuh itu pun kembali pada niatnya mencari segelas air karena haus.
"Ay, kamu kenapa?" Shakti menggedor pintu kamar mandi, saat tidak melihat istrinya tidak ada di kamarnya. Dari gemericik suara air, Shakti tahu, jika istrinya ada di kamar mandi.
"Astaga, punya istri kayak anak kecil. Dikit- dikit ngambek." gumam Shakti sambil menunggu Alexa keluar dari kamar mandi. Dia masih ingin tahu secara langsung apa yang membuat Alexa semarah itu.
Terlihat wanita yang sudah berganti dengan baju tidur itu keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut. Alexa pun langsung berjalan untuk merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke leher.
"Ay, kenapa mengajak pulang? Kita baru saja sampai di sana. Nggak enak juga sama yang punya acara." ucap Shakti dengan mendekati istrinya yang sudah berbaring memunggunginya.
"Tidak enak sama yang punya acara atau sama mantan kamu, Mas?" tanya Alexa dengan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Shakti hanya menelan salivanya, kali ini tenggorokannya terasa tercekat.
"Kenapa nggak mengajak mantan saja, jika kamu lebih nyaman bersama mantanmu." lanjut Alexa.
"Maaf, Ay. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Clarisa hanya ingin minta maaf untuk semua kericuhan yang sudah terjadi dan membuat masalah besar antara aku dan kamu." jelas Shakti.
"Lalu apa perlu, jika harus bicara di luar?" sambung Alexa meski masih dengan memunggungi Shakti dia masih menyimak obrolan diantara keduanya.
"Kamu cemburu?" Shakti mencoba menyentuh bahu kecil itu, tapi Alexa menggerakkan bahunya seolah melakukan sebuah penolakan.
"Nggak usah pegang- pegang." ucap Alexa masih terdengar kesal.
"Terus aku harus pegang apa kalau bukan istriku? Guling?"
"Terserah kamulah, Mas!" Alexa sudah merasa kesalahan.
"Ya sudah, aku meluk guling saja!" Shakti benar benar memeluk guling. Hal itu membuat Alexa memejamkan mata menahan rasa sabar karena ulah suaminya yang menyebalkan.
__ADS_1
"Guling, kamu aku peluk ya? Nggak apa- apa, kan aku cium? Istriku lagi ngambek, lagi galak, lagi cemburuan, nggak mau aku peluk." sambil menunggu reaksi Alexa Shakti mengelus guling yang sudah dia peluk.
"Nggak usah absurd, Mas! Kamu nggak merasa bersalah tapi justru kamu mengejekku." Alexa membuang guling yang di peluk Shakti. Hatinya bertambah kesal dan bercampur geli saat melihat kelakuan suaminya.
"Kamu galak banget si, Ay. Stress aku jadinya." ujar Shakti bermaksud menarik dan mendekap tubuh mungil istrinya. Tapi, Alexa lebih cepat menghindar dan membawa bantal dan selimut ke sofa. Dengan perasaan yang bercampur membuat Alexa memutuskan untuk tidur di sofa.
Sedari tadi, Shakti hanya menatap tubuh mungil yang meringkuk di sofa. Dia tidak tahu lagi cara membujuk Alexa. Hingga Alexa yang pura-pura tidur pun berakhir dengan tertidur pulas.
"Astaga, Ay. Kamu itu kayak anak kecil saja main cemburuan sembarangan." gumam Shakti dengan mengangkat dan memindahkan Alexa ke atas tempat tidur.
Dia menatap lekat wajah cantik itu. Wajah yang tidak pernah bosan untuk dipandanginya. Lelaki itu mulai menghela nafas, kala mengingat sikap Alexa yang terkadang masih kekanak-kanakan di umurnya yang cukup dewasa.
###
Arkha masih mondar mandir memikirkan bocah galak yang sudah memblokir nomernya. Arkha yakin Hanum sudah memblokir nomernya.
"Benarkah, dia merasa terganggu denganku?" gumamnya lirih kalau dia kembali berfikir tentang apa yang pernah dia lakukan. Tapi, lelaki itu tidak menemukan hal buruk yang pernah dia lakukan pada gadis galak itu.
"Ah, ngapain aku harus memikirkan ya? Toh, semua yang dilakukannya tidak harus berpengaruh padaku." gumamnya kemudian menyeruput secangkir kopi yang sudah dia buat sejak tadi.
Suara bel berbunyi, membuat Arkha segera membukakan pintu.
"Astaga, nggak ada kerjaan apa kamu, sampai datang ke apartemenku?" ucap Arkha saat tahu yang datang ternyata Ringgo.
"Aku kira kamu lagi kangen aku." jawab Ringgo kemudian nyelonong masuk ke dalam.
"Cih, kangen sama kamu? Lo kira gue cowok apakah." Arkha membuntuti Ringgo yang sudah masuk ke pantry dan terlihat akan membuat kopi.
"Makanya cepat kawin, biar tidak meragukan."
"Kowan- kawin, lo kira kambing!" sahut Arkha terdengar sewot.
"Bukannya begitu, Arkha. Gua khawatir saja lama-lama lo jadi belok, karena lupa rasanya belaian perempuan. Lo sadar kan, jika yang paling tua diantara kita itu lo!" seloroh Ringgo dengan menaduk kopinya.
"Sialan... " umpat Arkha kemudian meninggalkan lelaki yang masih tergelak di pantry.
__ADS_1
Arkha sendiri masih bimbang, dia belum fokus dengan urusan percintaan. Apalagi kedua adiknya yang baru selesai kuliah tahun depan.
Dia memang menyukai Rania, tapi ada rasa yang membuatnya belum klik, jika saat ini dia harus menyatakan perasaannya. Tapi, yang di katakan Ringgo tidaklah salah, memang sudah saatnya dia mengakhiri masa lajangnya.