Rindu Alexa

Rindu Alexa
Kejutan Untuk Shakti


__ADS_3

Shakti Keluar kamar dan menuruni tangga dengan tampilan kasual tapi tetap saja masih memberi kesan rapi. Rangga dan Arka malam ini mengajak bertemu di apartemen Arka yang hanya beda lantai dengan apartemen miliknya.


"Coba saya punya anak perempuan ya, Bi." Kalimat Gayatri membuat Shakti menoleh ke arah mamanya yang sedang berada di dapur bersama Bi Jum.


"Kalau saya malah berharap Mbak Alexa jadi menantu Ibu." jawaban Bi Jum membuat Shakti memelankan langkahnya. Bi Jum memang lebih akrab dengan Alexa dari pada Clarisa. Berbicara dengan Clarisa saja Bi Jum tidak pernah, karena gadis dengan style modern itu tidak pernah sampai ke dapur jika datang berkunjung.


"Saya si berharap seperti itu. Tapi sayang, Shakti sudah punya pacar, Bi." jawab Gayatri yang tidak ingin mencampuri urusan putranya.


"Iya si, Bu. Tapi, saya senang, sejak Mbak Alexa sering datang ke rumah, saya melihat ibu lebih bersemangat. Banyak senyum dan lebih banyak beraktifitas." sambut Bi jum dengan menyuci sayur dan buah. Sementara Gayatri masih duduk di meja makan yang letaknya tidak jauh dari pantry.


"Ma, Shakti keluar sebentar untuk bertemu Arka. Sepertinya Shakti pulang malam! Mama nanti cepat istirahat." pamit Shakti saat berada di ruang makan. Gayatri merasa tidak enak ternyata orang yang diomongin sudah ada di ruang makan


"Iya, hati-hati." jawab Gayatri membuat Shakti langsung berbalik. Wanita paruh baya itu menatap punggung putranya. Shakti sekarang lebih perhatian padanya. Biasanya dia mau pergi mau tidak pulang, putranya itu tidak pernah peduli atau sekedar meminta izin padanya.


###


Dengan melirik arloji dengan model classic yang melingkar di pergelangan tangannya. Shakti keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemen Arka.


Hanya sekali memencet bel, Ringgo sudah berdiri di depan pintu. Dan tanpa bicara apa pun lelaki bertubuh atletis itu masuk melewati Ringgo begitu saja.


"Astaga, salam kek, memaki kek. Bukannya ngeloyor begitu saja." gerutu Ringgo paling kesal jika sahabatnya sudah bersikap cuek seperti itu.


Lelaki dengan wajah genteng itu pun duduk di sofa yang sama dengan Arka.


"Gila ya, lo nyuruh sopir perusahaan untuk jemput kita. Dan tiba-tiba saja, lo ngilang begitu saja." mendengar ocehan Arka, Shakti hanya tersenyum. Dia sudah meramalkan jika kedua sahabatnya itu pasti akan mengoceh karena dia langsung meninggalkan mereka tanpa pamit.


Ringgo yang tadinya membawa dua botol wine pun menuangkannya di dalam gelas untuk dirinya dan kedua sahabatnya.


"Aku tidak minum! Buatkan aku kopi saja." hanya itu yang keluar dari mulut lelaki yang saat ini masih membaca balasan pesan Alexa. Jika malam ini, gadisnya itu hanya di rumah dan besok pagi jam enam harus sampai rumah sakit.


"Shak, nggak salah? Kita nggak akan mabuk jika hanya menghabiskan dua botol saja." bujuk Arka yang merasa aneh dengan perubahan sahabat sekaligus bosnya itu.


"Serius." Shakti mencoba meyakinkan kedua sahabatnya. Setelah memikirkan apa yang diucapkan Alexa kemarin mungkin benar.Dia harus menjaga kesehatannya. Saat ini dia hanya ingin sehat untuk mamanya dan mungkin nanti dia ingin selalu sehat untuk anak dan istrinya juga.


"Shak, lo banyak berubah. Apa karena gadis lain?" tanya Arka, sedangkan Ringgo beranjak ke dapur membuatkan si bos kopi sesuai dengan pesanannya.


"Mungkin." sambut Shakti kemudian meletakkan ponselnya di meja.

__ADS_1


"Ingat, Shak. Jangan terlarut dengan kenikmatan selingkuh. Lagian, dimana-mana selingkuhan tidak jauh lebih baik dari pasanganmu." Arka mulai menasehati.


"No- no... terkadang selingkuhan itu jauh lebih cantik, muda, seksi dan desahannya itu, gimana gitu..." sahut Ringgo dengan membawa secangkir kopi dan meletakkannya di depan Shakti.


"Sialan, lo... emang kamu? Otaknya mesum." Arka melempar bungkus rokok ke arah Ringgo, membuat cowok itu dengan sepontan mengelak.


"Bukan- bukan seperti yang semua yang ada di pikiran kalian. Dia gadis yang baik, polos, bahkan aku rasanya tidak percaya masih da gadis yang seperti itu. Pokoknya sulit diceritakan, bahkan saat aku ingin menciumnya dia malah menangis dan ketakutan, hingga aku tidak tega melanjutkanya." jelas Shakti, membuat kedua temannya menatap dirinya dengan begitu serius.


"Awalnya aku juga iseng saja. Tapi, sepertinya aku memang sayang ke dia meski mungkin hanya seciul rasa saja." lanjut Shakti saat tidak mendapatkan reaksi dari kedua temannya.


"Beneran itu? Atau hanya cara dia menarik perhatianmu?" Ringgo sulit percaya jika masih ada gadis se-naif itu.


"Dia tulus. Dilihat dari matanya saja sudah kelihatan." Shakti kembali meyakinkan kedua temannya seperti apa sosok Alexa.


"Terserahlah, meskipun aku memang sedikit ragu masih ada cewek yang kayak gitu di era ini. Tapi, aku sarankan ya, lo jangan terlalu lama bermain api jika menggunakan perasaan." Saran Arka mengakhiri pembicaraan yang bersifat pribadi dan kemudian mereka melanjutkan dengan topik tentang pekerjaan.


###


Hari ini Shakti menuntaskan semua laporan yang diajukan untuk diperiksa olehnya. Layaknya pemuda yang baru pertama jatuh cinta, hari ini dia sudah mengatur janji dengan Alexa di tempat yang sudah ditentukan. Bukan tempat mewah layaknya tempat kencan executive muda, tapi hanya tempat biasa yang sering dilewati beberapa orang.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak." ucap Bimo asisten pribadi Shakti saat sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"Baik, Pak." Bimo mengambil flashdisk dan sebuah map yang sudah Shakti siapkan di meja.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya permisi, Pak." Pamit Bimo yang diiyakan Shakti.


Lelaki itu kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan melepas dasinya, seolah melepas rasa lelahnya. Hampir seharian dia bersitegang dengan pekerjaan agar cepat untuk menyelesaikannya. Bahkan, dia juga melupakan makan siangnya.


Alexa.


Entah kenapa rindu ini malah untuk Alexa. Dia mulai merindukan gadis itu. Bahkan, rasanya dia ingin selalu melihat senyum manis itu terus menerus. Tapi, Clarisa? Sudah dua minggu dia tidak bertemu Clarisa. Biasanya setiap pertengkaran Shakti yang memulai untuk baikan. Terkadang dia mendatangi Clarisa di mana kekasihnya berada. Tapi, entah kenapa pertengkaran kemarin masih membuatnya biasa saja. Bahkan, dia terkesan tidak peduli.


Benarkah cintanya sudah memudar untuk gadis itu? Atau hanya karena kehadiran Alexa sehingga dia bisa melupakan kekasihnya itu. Dia kembali teringat akan nasehat Arka jika sebaiknya jangan terlalu menikmati permainan ini.


"Ehm-Ehm, hae sayang... " Clarisa membuka pintu ruangannya.


"Cla... " ucap Shakti sedikit terkaget jika gadis yang baru saja dia pikirkan itu sudah berdiri di depan pintu ruangannya.

__ADS_1


Mendengar panggilan Shakti, Clarisa pun berjalan mendekat. Gadis berambut curly dengan warna bloonde itu berjalan dengan menjinjing tasnya.


"Sayang aku merindukanmu." gadis dengan dress pendek hanya berlengan tali di pundak itu menghampiri Shakti yang masih duduk di kursi.


Dia meletakkan tasnya di meja kerja Shakti dan kemudian duduk di pangkuan sang kekasih dengan mengalungkan tangannya.


"Sayang... maafkan aku atas pertengkaran kita terakhir kalinya. Aku salah. Hari ini aku menebus kesalahanku. Sebelum ke sini aku sudah mampir ke rumah untuk menjenguk Tante Gayatri." jelas Clarisa. Dengan menempelkan dahinya pada dahi kekasihnya. Hembusan wangi nafas keduanya saling beradu. Dia juga tidak akan membiarkan Shakti lepas dari dirinya. Baginya, hanya Shakti yang pantas berdampingan dengannya.


"Benarkah? Mama sedang apa?" tanya Shakti sambil tersenyum tangannya pun sudah memeluk sang kekasih. Dia senang ada perubahan pada kekasihnya.


"Tadi sedang bikin kue sama cewek mungil berjilbab, katanya tadi mahasiswa yang sedang praktek dan kebetulan dekat dengan Tante." mendengar keterangan Clarisa membuat wajah Shakti mendadak pias. Tangannya yang semula berada di pinggang gadis itu pun berangsur turun. Dia mulai gelisah memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.


"Sayang, apa kamu tidak senang aku datang ke rumah?" Clarisa langsung mendaratkan ciuman lembut di bibir tipis lelaki didepannya.


"Bukan itu, Cla. Aku baru ingat jam empat nanti aku ada janji dengan Mr. Daichi untuk kontrak baru." ucap Shakti dengan menahan rasa gelisah di hatinya. Apa yang terjadi saat Alexa dan Clarisa bertemu? Tentu saja ada rasa panik pada diri lelaki yang kini wajahnya menampilkan senyum sumbang.


"Sayang, apa kamu tidak merindukanku? Bagaimana jika kita menghabiskan malam ini di apartemenmu." bujuk Clarisa, dia merasa sekarang Shakti sedikit cuek, karena itu Clarisa memilih lebih aktif untuk mempertahankan hubungan mereka. Gadis itu pulang cuma satu hari dan besok harus balik ke Bali lagi. Iya, kantor cabangnya di Bali memang lebih berkembang pesat karena banyak acara mewah yang di adakan di sana.


"Bagaimana dengan Mama? Aku tidak tega meninggalkan mama sendiri di rumah." ucap Shakti beralasan. Padahal dia sedang memikirkan Alexa, lelaki itu tidak fokus lagi saat jam melirik jam yang menunjukkan pukul 03.45.


"Ayolah, apa kamu tidak menginginkannya? Kita sudah dewasa, Yang." Clarisa kembali mencium kekasihnya itu, bahkan dia sengaja menekan dadanya ke dada bidang Shakti agar menimbulkan gairah kekasihnya.


"Cla, ada saatnya nanti kita sepeti ini." ujar Shakti dengan meregangkan tubuh Clarisa dengan pelan. Sungguh senyum kecil Alexa membuatnya tidak bisa lagi di khianati dalam ingatannya.


Clarisa terdiam menatap lelaki di depannya. Entah kenapa dia merasa Shakti berbeda, tidak seperti umumnya lelaki yang tidak pernah bisa menolak pesonanya. Tapi, mengajak Shakti menikah saat ini rasanya dia juga masih enggan. Gadis yang masih ingin bersenang senang itu punya target akan menikah saat berumur dua delapan tahun. Dia masih ingin menikmati kesuksesan karir dan memanfaatkan posisi Shakti yang cukup dikenal di kalangan para crazy rich sebagai pengusaha muda yang cukup sukses. Ya, di mata orang orang yang mengenal mereka, keduanya adalah pasangan yang sangat serasi.


"Baiklah, tapi malam ini aku akan bertemu temanku yang menawarkan perhiasan." Clarisa mengambil ponselnya.


"Bisakah membelikan aku kalung ini? Katanya limited edition." Clarisa menunjukkan sebuah kalung berlian.


"Baiklah nanti aku akan mentransfernya ke rekeningmu." ucap Shakti dengan enteng. Dengan wajah berbinar, gadis itu pun mulai beranjak dari pangkuan Shakti.


" Enam ratus juta, Yang." lanjut Clarisa yang sudah menjinjing tas tangannya. Dia bersiap untuk pergi.


"Baiklah aku pergi dulu. Oh iya... jangan melirik cewek, kecuali dia lebih cantik dan seksi dari aku." canda Clarisa kemudian melangkah meninggalkan Shakti yang saat ini menatap kepergiannya.


Shakti hanya mengelengkan kepala, untuk urusan rasa percaya diri, dia mengakui Clarisa gadis yang paling percaya diri yang pernah dia temui, mungkin bukan tanpa alasan. Clarisa memang cantik, seksi , menyenangkan dan smart. Tapi, Alexa. Shakti kembali teringat Alexa.

__ADS_1


"Seperti katamu, Cla. Aku hanya boleh melirik gadis yang lebih cantik dari dirimu. Dan Senyum manis di bibir mungil itu adalah hal tercantik yang pernah akun temui di dunia ini." Shakti bermonolog dalam hatinya. Dia melihat Alexa tidak hanya cantik, tapi dia bagaikan bidadari.


Jangan silau akan ambisi dan pujian orang, hingga melalaikan kebahagiaan yang sebenarnya.


__ADS_2