
Sambil menunggu Dira, dia terus saja menyesap minumannya. Perasaannya begitu kesal temannya itu sama sekali tidak membaca pesannya.
"Mau kemana, Num?" tanya Adrian saat melihat Hanum beranjak dari duduknya.
"Aku akan ke toilet sebentar!" jawab Hanum, dia merasa tubuhnya terasa aneh. Gadis itu pun pergi ke toilet. Tapi bukan untuk buang air, tapi hanya untuk berfikir, kenapa tubuhnya merasa gerah.
Tubuhnya semakin lama semakin merasa panas gadis itu segera meninggalkan rumah itu dari pintu belakang. Dia semakin gelisah, hingga dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Sebagian dari kesadarannya menahan hasratnya yang mulai berdesir dalam aliran darahnya.
Setelah sampai di depan gerbang dia menyandarkan tubuhnya di dinding tembok sambil menggigit bibir bawahnya tapi dia merasa itu percuma.
Hanum hanya memejamkan matanya dengan meremas kedua sisi roknya dengan keras untuk menahan gejolak yang terus meledak dalam dirinya.
Tidak jauh dari situ Arkha berhasil mengganti ban mobilnya yang baru saja kempes. Lelaki itu pun meletakkan ban yang sudah diganti itu di mobil bagian belakang.
Sejenak dia mengedarkan pandangannya menatap suasana sepi sepanjang jalan. Tapi, kedua dahinya mengernyit saat melihat sosok yang kini bersandar dengan gelisah di dinding tembok pagar.
"Hanum?"
Arkha langsung berjalan menghampiri Hanum, bersamaan Adrian yang kini mencari Hanum hingga keluar rumah.
"Hanum... " suara Arkha membuat Hanum membuka matanya yang terlihat sayu menatap dirinya.
"Kak Arkha... " Gadis itu langsung menubruk dan memeluk lelaki yang masih merasa heran dengan sikapnya. Ini pertama kalinya Hanum memeluknya. Bahkan, pelukannya terasa sensual karena gadis itu seperti menggesekkan dadanya di perut atasnya.
"Hanum, ayo kita kembali ke dalam!" suara Adrian mengalihkan tatapan Arkha ke arahnya. Adrian kini berdiri di depan Arkha.
"Aku akan mengantar Hanum pulang." ujar Arkha dengan nada tajam.
"Dia datang untuk ke pesta. Apa hakmu memaksa membawanya pulang?" sergah Adrian dengan nada lantang, bahkan lelaki itu berjalan mendekat menarik tangan Hanum saat kedua temannya datang.
"Brengsek kalian!" Seketika Arkha menendang Adrian hingga cowok itu terjungkal ke belakang. Dan itu membuat kedua temannya langsung mengkroyoknya tanpa aba-aba.
Baku hantam pun terjadi, Arkha memang dari awal sudah dibuat geram dengan kelakuan Adrian. Lelaki itu pun meluapkan emosinya hingga ketiga cowok itu terkapar.
"Ayo aku akan mengantarmu!" ucap Arkha langsung menarik tubuh yang sudah sangat gelisah itu ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Kak, Hanum tidak tahan." ucap Hanum dengan suara mendesah saat mereka masuk ke dalam mobil.
Arkha hanya melirik gadis yang terus saja bergerak gelisah dengan menggigit bibir bawahnya. Lelaki itu memilih melajukan mobilnya. Dia tahu Hanum seperti terkena obat perangsang, tapi dia bingung kemana dia harus membawa bocah di sebelahnya.
"Kak, panas!" keluhan Hanum membuat otak Arkha semakin bingung. Harus diapain gadis di sebelahnya.
Hanum tidak bisa mengendalikan dirinya yang terus bergerak gelisah, bahkan terkesan cukup erotis. Padahal otaknya sudah berusaha menahan semua gairah yang terus meledak dalam aliran darahnya.
Arkha membelokkan mobilnya pada sebuah hotel yang paling dekat dengan jangkauannya. Dengan cepat lelaki yang terlihat panik itu membawa Hanum turun dari mobil. Dia mendekap kuat tubuh kecil itu agar tidak terus bergerak saat berjalan menuju meja resepsionis.
Setelah Check in dia seperti menarik saja Hanum menuju kamar. Tingkah keduanya membuat resepsionis tersenyum geli karena merasa pasangan itu sudah tidak tahan untuk bersenang senang.
"Kak... " desah Hanum dengan memeluk tubuh atletis itu. Iya, setengah kesadarannya entah melayang kemana.
Lelaki itu hanya langsung menarik Hanum ke kamar mandi. Memandikannya di bawah air shower bersamanya karena gadis itu terus saja memeluk tubuhnya.
Dia sebenarnya tidak tega melihat Hanum menggigil kedinginan, tapi tidak ada cara lain untuk menyadarkannya. Hampir satu jam keduanya berada di bawah shower. Lelaki itu sesekali mendesah kesal, semua kelakuan Hanum sangat mempengaruhi libidonya. Bahkan, dia juga tersiksa karena menahan semua hasratnya.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Arkha.
"Kamu berendamlah sebentar di sini. Airnya tidak sedingin air shower. Kamu jangan kemana mana. Aku akan mengambil baju di mobil." ujar Arkha yang hanya diangguki Hanum gadis itu sungguh tidak berdaya di dalam bath up. Wajahnya pucat, bahkan dia merasa lemas karena menahan dinginnya air shower.
Bergegas Arkha turun dan mengambil beberapa pakaiannya yang sengaja selalu dia bawa di dalam mobil. Dia juga sudah basah kuyup hingga banyak orang yang dia lewati menatapnya aneh.
Arkha kembali masuk ke dalam kamar, dia pun menarik seprei dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Pakai kemejaku dan seprei itu!" titah Arkha kemudian keluar untuk memberi ruang Hanum berganti. Lelaki itu juga bingung bagaimana mengantar Hanum agar orang tuanya tidak curiga.
Sesaat kemudian Hanum keluar dari kamar mandi tanpa jilbab. Rambut panjangnya yang basah, mata bulat yang dihiasi bulu mata lentik itu membuat Arkha terpana. Hanum terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan lilitan seprei dan kemeja kedodoran.
"Kak..." panggil Hanum membuat Arkha tersadar.
"Mana baju basahmu!" Arkha mengambil baju basah dari tangan Hanum. Lelaki itu bermaksud akan mengeringkannya dengan hair dryer.
"Minum teh hangatnya, Num. Agar bisa menetralkan keadaanmu." ujar Arkha saat melihat gadis itu mematung.
Tidak hanya Arkha yang merasa bingung. Bahkan Hanum pun dibuat lebih dari itu, ada rasa canggung, ada rasa bersalah dan ada rasa berdosa kala dia menyadari, berada dalam sebuah kamar hotel bersama lelaki yang bukan muhrimnya, bahkan dia sekarang tidak berjilbab, dan sempat memeluk lelaki yang bukan siapa siapanya.
__ADS_1
"Kemarilah aku akan mengeringkan rambutmu!" ujar Arkha. Hanum pun beranjak mendekat ke arah Arkha.
"Braaaakkk..."
"Hanum!" teriakan suara bariton itu membuat Hanum terhenyak kaget dan spontan bersembunyi di balik tubuh besar Arkha. Rasa panik dan bersalah membuat gadis itu ketakutan saat mengetahui papanya membuka keras pintu kamar hotel.
Hans meminta pelayan, untuk membukakan hotel dan meminta menunggu di luar. Dia bersama temannya masuk ke dalam kamar dan benar benar mendapati putrinya.
"Tenang, Om. Bisa saya jelaskan." ucap Arkha dengan panik, tapi lelaki itu memberikan jilbab lembab yang sempat dia keringkan pada Hanum.
Hans pun terpukul melihat putri kesayangannya mengenakan sprei dan dan kemeja lelaki yang membalut tubuhnya. Bahkan, sempat melepas jilbabnya. Dia juga melihat lelaki yang bersama putrinya hanya bertelanjang dada.
"Papa tidak menyangka kamu bisa berbuat kurang ajar!" ucap Hans dengan suara bergetar. Perasaan kecewa, marah dan sedih menjadi satu saat melihat kondisi putrinya bersama lelaki di dalam sebuah hotel. Ini sangat menyakitkan bagi lelaki berumur itu.
"Om, bisa saya jelaskan!" Arkha menahan tangan Hans yang akan menarik kasar Hanum dari balik tubuhnya.
"Jelaskan apa? Sudah jelas semuanya. Penjelasanmu hanya sebuah alibi!" Hans pun berhasil menarik tangan Hanum. Hanum yang biasa memberontak pun hanya menangis. Dia juga merasa bersalah karena keadaannya yang tidak pantas dilihat papanya di sebuah kamar hotel.
"Jika kamu laki laki sejati nikahi Hanum! Perbuatan kalian sangat menjijikan." ucap Hans dengan suara lantang. Lelaki itu menahan amarahnya yang sudah berada di ubun ubun.
"Menikah?" Arkha bergumam lirih. Dia tidak menyangka akan serumit ini jadinya.
"Tapi... " lanjut Arkha.
"Kamu akan mengelak?" teman Hans pun menyela, lelaki dengan perawakan tegap yang berpangkat AKBP itu pun tidak akan membiarkan pemuda di depannya itu lolos.
"Kak Arkha... " Hanum menangis, gadis itu juga merasa bersalah pada Arkha. Sementara Arkha tidak tega melihat gadis itu menangis dengan tatapan mengiba.
"Besok datanglah ke rumah!" titah Hans. Kemudian menyeret Hanum.
"Hanum... " pekik Arkha saat melihat Hanum terjungkal dan tubuhnya membentur dinding saat Hans menyeretnya. Mengenakan lilitan seprei membuat gerak kaki Hanum tidak leluasa.
Arkha terduduk lemas dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Selain, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia juga kepikiran Hanum entah apa yang akan dilakukan oleh keluarganya nanti. Rasanya dia tidak tega saat melihat wajah Hans yang penuh amarah menyeret Hanum.
Menikah.
Pernikahan macam apa jika itu terjadi. Dia hanya sayang dengan Hanum seperti adiknya bukan wanita dewasa yang di idamkan untuk bersamanya melewati kehidupan ini.
__ADS_1