
Hanum menatap halaman buku yang sudah dibukanya, tapi entah kenapa otaknya seperti tidak bisa fokus.
Serumit inikah perasaan dan pernikahan?
Gadis berhidung mancung itu pun tengah memikirkan semua yang sudah terjadi. Arkha memang mengatakan menyayanginya, dia juga melihat ketulusan dari kalimatnya. Tapi, otak dan hati Hanum mulai bertentangan.
Pernikahan yang diawali dengan sesuatu yang mengganjal membuat Hanum terus saja merasa ragu untuk bisa bertahan dengan semuanya, meski dia melihat Arkha begitu tulus dengannya.
"Hanum... " panggil Arkha mencari keberadaan istrinya. Dilihatnya siluet tubuh mungil itu duduk di balkon depan kamar, membuat Arkha berjalan mendekatinya.
"Num, ayo masuk ke dalam! Anginnya kencang di luar." ujar Arkha kala menemukan istrinya sedang duduk di balkon sendirian.
"Enakan gini, sepoi - sepoi." jawab Hanum membuat Arkha melayangkan tatapan tajam ke arah istrinya.
" Kamu paling jago jika protes ya!" Arkha langsung mengangkat tubuh mungil itu untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kak Arkha, lepasin! Aku masih ingin menikmati suasana malam." protes Hanum berusaha untuk berontak.
"Nanti kamu sakit!" jawab Arkha kemudian meletakkan tubuh mungil itu di atas bed, di susul dirinya yang ikutan merebahkan diri.
"Mau kemana?" Arkha pun menarik tubuh Hanum dan mengunci tubuh Hanum dengan kakinya.
"Ihhh... jangan begini, Kak! Aku nggak bisa bergerak." Hanum masih berusaha memberontak. Tapi Arkha malah mengeratkan pelukannya pada tubuh itu.
"Kita sudah menikah hampir dua bulan. Tapi, kamu selalu menghindar! Aku laki laki normal, Hanum!" lirih Arkha berusaha membujuk Hanum.
Seketika Hanum hanya mengerjapkan mata dan menelan salivanya dengan susah. Jantungnya mulai berdegup kencang dengan wajah yang sudah terasa memanas. Ini yang selama ini ditakutkan Hanum, jika Arkha meminta haknya, sementara dia belum siap jika segera hamil ketika masih kuliah.
"A- aku belum pernah lihat tutorialnya." ucap Hanum terdengar gugup.
"Hahaha..." Seketika Arkha malah tergelak mendengar jika untuk melakukan itu semua butuh tutorial. Dia mencubit gemas hidung mungil istrinya.
"Sejak kapan, orang butuh tutorial untuk melakukan ***- ***? Itu insting, sayang." lanjut Arkha dengan menghujani pipi cabi milik istrinya.
"Sekarang ya?" bujuk Arkha sekali lagi. Dengan membuka kancing atas piyama yang dikenakan Hanum.
"Ak- aku, ehm... aku sedang menstruasi, Kak!" ujar Hanum.
"Uuuhhh..." Keluh Arkha dengan menempelkan hidung mancungnya di dekat telinga istrinya dengan gerakan lemah. Itu artinya dia harus menunggu lagi setelah dia yakin jika pernikahan inilah yang terbaik yang harus dia jalani seumur hidupnya.
"Maaf... " Sebenarnya Hanum lega, sungguh dia belum siap jika melakukannya saat ini.
Saat ini Arkha hanya bisa memeluk istrinya, mengendus aroma wangi tubuh yang membuatnya nagih. Tapi, hanya beberapa menit saja, tiba- tiba ponselnya berdering membuat tangannya menggapai benda pipih yang tergeletak di nakas.
__ADS_1
"Iya, Ran." jawab Arkha yang terdengar begitu malas. Dia memang sedang menikmati kebersamaan dengan istrinya setelah beberapa waktu belajar untuk mengenali gadis bar bar itu dan memahami perasaannya.
"Bang, sepertinya aku besok belum bisa masuk. Kakiku masih sakit, Bang. Bahkan, sekarang tubuhku terasa demam." ujar Rania dari sebrang. Dia berharap Arkha akan menjenguknya di kos dan memberi sedikit perhatian untuknya.
"Baiklah! Besok kamu boleh libur." jawab Arkha begitu singkat. Dia ingin mengakhiri percakapan itu kala Hanum menatapnya begitu tajam.
"Bang... "
"Ran, lebih baik kamu istirahat dulu ya! Biar besok Hanum yang akan datang untuk menjengukmu." sela Arkha memotong kalimat Rania. Dia tahu Hanum sudah cemberut dengan mata nyalang ke arahnya, sungguh dia tidak ingin mendengar lagi Hanum meminta untuk berpisah darinya.
"Kenapa tidak menjenguknya? Mungkin dia rindu padamu, Kak." sindir Hanum kemudian memutar tubuh dan memunggungi Arkha.
"Kamu cemburu? Aku tahu bagaimana bersikap sebagai atasannya, sayang." bisik Arkha dengan kembali memeluk Hanum dari belakang. Dia bisa mencium aroma wangi rambut panjang istrinya.
"Bukankah, Kak Arkha menyukainya. Ini kan kesempatan memberi perhatian padanya." Dadanya masih terasa nyeri, meski dia berusaha untuk serasional mungkin. Bahkan, matanya mulai memanas tapi dia masih menahan air yang mendesak untuk keluar dari kedua matanya.
"Sayang...!" Arkha memutar tubuh Hanum agar menghadapnya.
"Dulu aku memang pernah berharap padanya, tapi saat ini aku sudah mempunyai istri jadi aku harus menata hatiku dan menjaga perasaan istriku. Aku ingin kamu menjadi istriku selamanya." jelas Arkha, dia memang sudah berniat membangun rumah tangga yang sebenarnya, rumah tangga yang bahagia dan di warnai dengan canda tawa anak anaknya kelak.
Arkha menatap wajah cantik itu dengan seksama dan memeluk hangat Hanum. Berlahan Hanum pun membalas pelukan suaminya. Dia juga berfikir, jika tidak ada pernikahan pura - pura, atau sekedar sebuah kesepakatan atau permainan. Pernikahan itu suci yang akan dipertanggung jawabkan pada Allah suatu saat nanti.
####
Shakti merapikan tampilannya di depan cermin. Pagi ini, dia harus datang ke kantor tepat waktu. Ada jadwal pertemuan dengan beberapa kolega yang sangat penting.
Rindu. Dia sangat merindukan Alexa yang selalu melayaninya dan menyiapkan semua keperluannya sebelum berangkat ke kantor. Dia juga merindukan, Alexa yang selalu tersenyum lembut saat berada di depannya.
Lelaki yang kini hanya mematung itu menghela nafas, dia sudah benar- benar merindukan Alexanya.
"Sampai kapan aku bisa menyakinkanmu, Ay." gumamnya sedikit lelah, dia merasa hidup sendiri lagi. Dia butuh wanita yang sudah menjadi bagian yang sudah berarti dalam hidupnya.
"Mas- Mas Shakti! Mas... Mbak Alexa!" Suara Bi Rom terdengar sangat panik.
"Iya... " Shakti pun bergegas membuka pintu kamarnya.
"Mbak Alexa terlihat lemas di kamarnya. Sejak tadi pagi tidak ada keluar kamar." jelas Bi Rom, dia bergegas mengabari Shakti setelah melihat keadaan Alexa di dalam kamar.
Tanpa menjawab kalimat Bi Rom, Shakti pun langsung melangkah cepat ke kamar sebelah.
"Ay, kamu kenapa?" tanya Shakti, saat melihat Alexa merebahkan tubuhnya di sofa. Alexa terlihat sudah bersiap keluar.
"Kita ke dokter ya!" bujuk Shakti saat melihat wajah pucat istrinya.
__ADS_1
"Aku sudah membuat jadwal besok, untuk bertemu dokter Siska." jawab Alexa. Sebenarnya Alexa ingin keluar untuk mencari bubur ayam yang ada di dekat perempatan. Tapi, tubuhnya terasa lemah dengan kepala sedikit pusing. Padahal selama ini menjalankan kehamilannya dengan biasa saja.
" Aku ambilkan sarapan dulu ya!" tawar Shakti yang di jawab gelengan Alexa. Dia sangat tidak ingin makan nasi saat ini.
"Kamu akan semakin lemah, Ay. Kasihan bayi kita." bujuk Shakti. Tapi, wanita itu hanya terdiam. Dia masih merasa gengsi untuk mengatakan ingin makan bubur ayam di tempat penjualnya.
"Ay, kamu ingin makan apa?"
"Bubur ayam!" jawab Alexa.
"Aku belikan ya!" Shakti yang semula berjongkok pun kini beranjak tapi ditahan Alexa saat lelaki itu akan melangkah pergi.
"Aku ingin makan di warungnya. Di warung bubur ayam yang ada di perempatan." Alexa malu- malu mengatakan keinginannya.
Seketika Shakti terdiam, dia tidak pernah makan di warung lesehan seperti itu. Bahkan, dia meragukan kebersihan dan cara memasaknya.
"Kita cari bubur ayam di resto yang ada di dekat kantorku ya!" Seketika Alexa langsung menggeleng. Dia hanya menginginkan bubur ayam di perempatan dekat lampu merah itu.
"Baiklah, kita akan ke sana." gumam Shakti kemudian membantu istrinya bangkit dan membantunya berjalan menuju mobil.
"Apa perempuan hamil memang aneh aneh ya? Atau hanya untuk ngerjain aku?" Shakti bertanya dalam hati sebelum dia melakukan mobilnya. Padahal pagi ini dia ada acar penting. Tapi, dia juga tidak bisa mengabaikan keinginan istrinya.
Hanya lima menit mereka sampai. Dia kembali membantu Alexa keluar dari mobil dan membawanya duduk.
"Satu prosi saja, Pak!" pesan Shakti, dia sendiri enggan makan di tempat lesehan seperti ini.
"Semuanya, Pak!" kalimat Alexa membuat Shakti dan penjual bubur ayam menoleh, keduanya bingung apa yang di maksud wanita yang tengah ngidam itu.
"Iya, saya ingin membeli semua buburnya, Pak!"
"Tapi, Ay!" protes Shakti.
"Jika tidak mau membayarnya biar aku bayar sendiri!" Ketua Alexa, terlihat dia kecewa saat melihat Shakti merasa keberatan.
"Buka masalah itu, hanya siapa yang akan memakannya?" tanya Shakti merasa istrinya seperti orang yang mengada ada.
"Iya, Pak. Aku beli semuanya sekalian grobak nya pun tidak masalah." Shakti sedikit kesal tapi dia tidak ingin membuat masalah lagi dengan istrinya.
"Hanya bubur ayamnya saja, Pak." lanjut Alexa.
Sedari tadi penjual bubur hanya terdiam memperhatikan perdebatan keduanya, untuk menunggu kesimpulannya.
"Saya satu porsi yang lainnya berikan gratis sama yang mampir ya, Pak. Oh ya, berikan juga sama penjual yang kaki lima dan anak anak di sana ya, Pak!" ujar Alexa dengan menunjuk di seberang jalan.
__ADS_1
"Baik, Mbak." Akhirnya si penjual itu sudah faham.
"Dua porsi, Pak. Aku juga mau." ucap Shakti, akhirnya dia mengalah, dia akan mencoba makanan di pinggir jalan yang awalnya dia pikir tidak hiegenies.