Rindu Alexa

Rindu Alexa
Memeriksa Orang Sakit


__ADS_3

Alexa mengantarkan Mama Zoya ke toko kuenya. Zoya membawa Oma Shanti sekalian agar mertuanya tidak jenuh jika selalu di rumah.


"Ma, nanti Ale mau menjenguk Tante Gayatri." ucap Ale dengan melajukan mobilnya. Sebenarnya sejak kemarin dia kepikiran dengan Gayatri tapi dia masih belum sempat mengunjunginya.


"Boleh, Kak. Tapi, pulangnya jangan malam malam, ya! Nanti, Papa marah." pesan Zoya. Meskipun Zoya dan Hans sudah percaya pada putri sulungnya, tapi kalimat mewanti-wanti itu tetap tidak bisa dia tinggalkan.


"Iya, Ma. Alexa ngerti." Meskipun sudah dewasa tapi Alexa tidak pernah merasa keberatan dengan aturan yang diterapkan kedua orang tuanya. Memberi kebebasan tapi tidak melepaskannya begitu saja, itu yang di lakukan Hans dan Zoya pada anak-anaknya.


"Oh ya, Kak. Bawakan Nyonya Gayatri kue karamel dan lapis legit, siapa tahu beliau suka." pinta Zoya yang diiyakan oleh Alexa.


Mobil Yaris putih itu berhenti di depan toko kue yang cukup punya nama di kota itu. Alexa langsung membantu Oma Shanti untuk turun dari mobil. Sedangkan Zoya membawa keperluan Oma Shanti. Membawa Oma keluar rumah, sama seperti membawa balita. Kebiasaan Oma yang sering meludah membuat Zoya harus membawa kaleng khusus yang sudah diisi pasir. Dan ada lagi, pempers. Oma Shanti sudah mengenakan pempers karena beliau tidak bisa lagi menahan pipis untuk sampai di kamar mandi. Beruntungnya menantu dan cucunya begitu sabar merawat beliau.


"Kak, langsung bawa Oma masuk ke rumah belakang." titah Zoya saat Ale menuntun Oma berjalan masuk. Mereka memang tidak memberikan kursi roda pada Oma agar otot-otot Oma bisa terus dilatih dan tidak kaku.


Di belakang toko mereka, ada sebuah ruangan dimana bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman. Ruangan yang dilengkapi dengan tempat tidur dan sofa serta ada taman kecil yang tertata cukup apik. Zoya sengaja membuatnya seperti itu karena terkadang Hans atau anak-anaknya sering mampir ke toko untuk menyusul dirinya.


"Kak, Mama sudah Minta Mbak Lita membungkus kue buat Nyonya Gayatri." ucap Zoya dengan meletakkan barang bawaan untuk Oma di atas sofa. Dia juga menyalakan TV agar Oma tidak merasa kesepian.


"Ma, Ale berangkat, ya!" Ale kemudian salim dengan Zoya dan omanya. Gadis itu kembali melangkah mengambil bingkisan yang sudah disiapkan di toko depan untuk dibawa ke rumah Gayatri.


Sudah beberapa hari Alexa tidak mengunjungi Gayatri. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Shakti di kafe, jadwal Alexa di rumah sakit begitu padat. Bahkan dia juga harus visit malam sehingga baru hari ini Alexa baru bisa mengunjungi beliau.


Di dalam mobil, Alexa kepikiran dengan sikap Shakti saat terakhir mereka bertemu. Dia bisa melihat tatapan tidak suka di mata lelaki itu. Tapi, Alexa mengembalikan pikiran buruknya karena dia datang untuk Gayatri bukan putranya. Mau suka atau tidak suka, terserah. Tapi wanita paruh baya itu mengharapkannya untuk datang, karena sudah beberapa kali beliau mengirim pesan pada dirinya.


Mobil Yaris itu melesak begitu cepat hingga tak terasa sampai di depan rumah mewah yang dikelilingi pagar tembok yang menjulang tinggi.


Gegas Alexa turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, Mbak Anik pun membuka pintu rumah.


"Oh, sejak tadi Nyonya sudah menunggu Mbak Lexa." ucap Mbak Anik, Asisten rumah tangga yang punya bagian untuk bersih bersih.


"Iya, Mbak." Alexa langsung masuk mencari Gayatri. Wanita paruh baya itu sedang duduk di kursi malas dengan menatap taman dari balik jendela dari kaca bening jendela rumah.


"Assalamu'alaikum Tante." Sapa Alexa membuat Gayatri menoleh dan menebarkan senyum sumringah. Wanita paruh baya itu langsung bangkit untuk menghampiri dan memeluk Alexa.


"Tante, ini ada titipan dari Mama." ucap Alexa dengan menunjukkan sebuah paper bag.


"Apa itu, Sayang."


"Lapis legit dan kue caramel, Tan." jawab Alexa.


"Ayo ke meja makan. Tolong bilang Mama, jika Tante berterima kasih. Oh ya, kamu sudah makan?" ucap Gayatri dengan menarik lengan Alexa ke arah meja makan.

__ADS_1


Alexa menatap heran wanita paruh baya itu. Gayatri ternyata sosok yang penuh perhatian. Sosok yang awalnya hanya bisa mencari perhatian kini berlahan menjadi sosok yang penuh perhatian.


"Sudah, Tante." jawab Alexa singkat membuat Gayatri tersenyum ke arah gadis cantik di sampingnya. Bahkan, wanita paruh baya itu berandai, jika saja dia punya anak perempuan? Tapi, itu tidak mungkin lagi. Kecuali menganggap gadis yang saat ini menemaninya itu sebagai putrinya sendiri.


"Bi Jum, tolong kuenya dipindah ke piring ya!" titah Gayatri saat melihat Bi Jum lewat di dapur. Bi Jum tersenyum ke arah majikannya dan Alexa secara bergantian. Dia sangat senang melihat Gayatri terlihat lebih bersemangat.


"Oh ya Bu, bahan makanan banyak yang sudah habis. Ibu bisa mencatat apa yang Ibu butuhkan." ucap Bi Jum sambil membawa piring untuk kue yang di bawa Alexa.


"Bagaimana jika kita belanja bersama, Tan?" tanya Alexa. Dia pikir Gayatri butuh menikmati dunia luar agar pemikirannya lebih terbuka.


"Kamu mau menemani, Tante?" Gayatri benar benar terlihat girang saat mendengar tawaran itu.


"Iya, Tante ... " kalimat Alexa terpotong saat melihat seseorang datang.


"Loh, tumben sudah pulang, Shak?" tanya Gayatri saat melihat putranya yang baru saja masuk itu. Tidak biasanya Shakti pulang kerja saat siang hari.


"Nggak enak badan, Ma." jawab Shakti. Sebelum berlalu lelaki itu sempat melayangkan tatapan dingin ke arah Alexa. Bagi Alexa, lelaki itu lebih terlihat kesal bukan lesu.


Alexa terdiam dengan tatapan mengiringi punggung lelaki yang sedang menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tumben, dia sakit." gumam Gayatri. Dia terlihat cemas. Gayatri pun langsung bangkit bermaksud membuatkan minuman hangat untuk putranya.


"Dia sudah makan apa belum, ya?" Gayatri terus saja bergumam dengan mencemaskan Shakti. Alexa bisa melihat kecemasan yang berlebihan pada sosok di depannya.


"Terima kasih, Sayang. Hanya Shakti yang membuat tante masih bisa bertahan di dunia ini." Gayatri terlihat hampir menangis mengucapkan kalimatnya. Alexa bisa merasakan, ditinggal dua orang sekaligus dengan tiba tiba sudah meninggalkan trauma yang mendalam.


Alexa menyiapkan secangkir teh hangat dan beberapa potongan kue yang barusan dia bawa.


"Biar Alexa yang membawanya ke atas, Tan."


"Terima kasih sayang, kamar Shakti yang ada di dekat tangga." Gayatri langsung saja memanggil Bi Jum untuk segera menyiapkan makan siang untuk putranya.


Alexa berjalan menaiki anak tangga. Rumah yang sangat besar tapi sunyi. Dengan hati-hati Alexa mengetuk pintu. Masih terbayang tatapan dingin lelaki itu untuknya. tapi, dia tidak tega jika membuat Gayatri yang terlihat cemas itu repot naik ke atas membawa teh hangat untuk putranya.


"Tok... tok...tok." Dengan ragu Alexa mengetuk daun pintu bercat putih itu.


Deg ...


Seketika wajah Alexa langsung memanas. Tubuhnya sedikit gemetar karena aliran darah yang berdesir hebat saat melihat sosok yang membukakan pintu itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kerja yang tadinya dia pakai.


"I- ini teh hangatnya." ucap Alexa dengan suara bergetar kemudian mengalihkan pandangannya. Alexa masih berdiri di depan pintu, saat tidak ada reaksi dari Shakti. Kakinya terasa berat untuk masuk, karena Alexa memang tidak pernah masuk ke kamar cowok kecuali kamar Aleks.

__ADS_1


Kebetulan Alexa menemukan sebuah meja tempat memajang guci, tepat di dekat pintu kamar Shakti. Dia memilih meletakkan nampan itu di sebelah guci.


"Tehnya, aku taruh di sini ya?" ucap Alexa lirih. Dia juga menekan degupan jantungnya yang berpacu hingga membuat tubuhnya sedikit gemetar.


"Kenapa menaruhnya di luar? Kamu mau ngasih sesaji untuk demit di rumah ini?" celetuk Shakti terdengar menyebalkan di telinga Alexa hingga membuat gadis itu menoleh dan melupakan lelaki itu masih bertelanjang dada.


"Bicara baik-baik, apa tidak bisa?" tanya Alexa dengan melayangkan tatapan tajam. Baru pertama kali ada lelaki bersikap songong padanya.


"Kalau begitu bawa masuk!" titah Shakti masih dengan acuh.


"Tapi... "


"Jika tidak mau, bawa ke bawah lagi." Sejak melihat kedekatan Alexa dengan lelaki yang seprofesi itu membuat Shakti begitu labil dan cepat terbawa emosi.


Alexa hanya menghela nafas panjang." sabar, Ale." gumam Alexa dalam hati. Dia mencoba menahan rasa kesalnya dengan membawa masuk nampan itu ke dalam kamar mewah bernuansa maskulin itu.


Tanpa bicara lagi, Shakti memungut kembali handuk yang sempat dia lempar ke tempat tidur saat mendengar ketukan pintu. Lelaki dengan tinggi 187 cm itu sudah berniat akan mandi.


"Mas Shakti mau mandi?" tanya Alexa menghentikan lelaki itu saat akan membuka handel pintu kamar mandi. Alexa mulai mengingat tujuannya untuk melihat kondisi Shakti yang mengatakan dirinya sakit.


"Iya , masalah?"


"Katanya sakit? Jika sakit jangan mandi dulu!" jelas Alexa kemudian berdiri setelah meletakkan teh dan kue di meja. Shakti hanya menoleh ke arahnya. Dia pun kembali membuka pintu kamar mandi.


"Atau hanya pura-pura sakit?" Seloroh Alexa membuat lelaki itu mulai gerah dengan kecerewetan Alexa. Shakti pun berjalan mendekat ke arah gadis yang saat ini malah terlihat cemas.


"Kamu mau periksa? Periksa saja!" Shakti menarik dua telapak tangan Alexa. Sambil menundukkan tubuhnya dia meletakkan kedua telapak tangan Alexa di kepalanya.


"Astagfirullah... " gumam hati Alexa dengan reaksi yang ditunjukkan Shakti.


"Biasa, tidak demam!" ujar Alexa saat merasakan suhu kulit kepala lelaki di depannya. Kali ini , Shakti benar benar membuat Alexa harus extra sabar.


"Kepalaku sakit! Aku tidak bilang demam, kan?" kalimat Shakti membuat Alexa segera menarik kedua tangannya. Kemudian hanya berdecih dengan berjalan cepat meninggalkan kamar lelaki yang paling menyebalkan yang pernah dia temui.


Alexa menuruni tangga dengan wajah memanas, berulang kali dia melihat kedua tangannya. Lelaki pertama yang selama ini berani bertindak sesuka hatinya. Rasanya Alexa ingin marah saja, tapi dia juga menyesalkan otaknya yang begitu lamban untuk memberi reaksi yang seharusnya. Seharusnya, dia lebih cepat untuk menepisnya, bukan malah membiarkan merasakan suhu di kulit kepalanya.


"Ya Allah aku hanya ingin memeriksa kondisinya saja." gumamnya lirih meski ada rasa yang beda saat dia sedang memeriksa pasien.


Alexa


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2