Rindu Alexa

Rindu Alexa
Awal yang Indah


__ADS_3

Hanum menggigit bibirnya menahan isak tangisnya agar tidak terdengar nyaring. Begitupun dengan Arkha, tenaganya seperti lolos begitu saja setelah gejolak rasa yang begitu hebat menyergah hatinya. Rasa marah, rasa cinta dan rasa bersalah karena melihat pertama kalinya gadis keras kepala itu terlihat terpukul dan itu membuat dirinya memilih terduduk di samping istrinya. Seolah, apa yang terjadi barusan membuatnya tersadar atas perasaan yang sesungguhnya.


Beberapa menit mereka terdiam dengan perasaannya masing-masing. Arkha berusaha keras mengontrol perasaannya yang terus saja mendesak dan meletup dalam hatinya.


"Kenapa kamu melakukannya, Num?" lirih Arkha dengan sedikit membungkukkan tubuh tingginya ke depan. Kedua jemarinya saling bertaut dan meremas, tatapannya pun menerawang ke depan. Dia tidak pernah menyangka dengan semua yang di rencanakan Hanum.


"Apa kamu berniat meninggalkanku atau mempermainkan pernikahan ini?" Arkha hanya menolehkan wajahnya menuntut jawaban jujur dari gadis yang diam diam menelusup, bertempat di hatinya.


"Aku hanya tidak ingin mengikatmu dengan pernikahan ini, Kak. Sementara hatimu untuk gadis lain." tegas Hanum setengah terisak, sontak saja itu membuat Arkha menegakkan kembali tubuhnya dan menatap Hanum dengan penuh tanya.


"Gadis lain?" sela Arkha, kemudian dia memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah istri mungilnya. Begitu pun Hanum, dia membalas tatapan Arkha dengan lantang.


"Aku tahu Kak Arkha mencintai Rania. Bahkan, hingga detik ini aku tahu Kak Arkha masih menjalin hubungan dengannya. Lalu untuk apa sebuah pernikahan ini di jalani? Aku sudah berusaha bertahan, tapi semua terlalu sakit. Dan yang paling membuatku merasa buruk adalah mempertahankan seseorang untuk tetap di sampingku, sementara hatinya mencintai gadis lain." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Hanum setelah sekian lama dia pendam sendiri.


Sementara itu, Hanum tidak bisa lagi menahan semua gejolak dalam perasaannya yang datang dan pergi tanpa permisi. Tidak ada kekuatan lagi untuk berpura pura tegar sementara hatinya begitu rapuh.


"Hanum... " Panggil Arkha ketika mulai memahami situasi diantara keduanya.


"Sayang... " sekali lagi lelaki bertubuh atletis itu melanjutkan kalimatnya setelah tidak ada jawaban dari Hanum. Bahkan, di sudut bibirnya tersungging senyum tipis. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya. Tapi kalimat itu begitu jelas. Gadis yang dia anggap anti pati padanya kini terkesan cemburu.


"Tidak ada gadis lain, sayang!" Arkha kini membingkai wajah cantik di depannya. Menatapnya begitu dalam, dia ingin Hanum mempercayai kejujurannya.


"Aku memang pernah mendekati Rania tapi itu dulu. Saat aku belum menyadari jika ternyata aku sangat mencintaimu, bahkan kamu adalah bagian dari diri dan tanggung jawabku." jelas Arkha.


"Hubunganku dengan Rania tidak terlalu jauh. Kami hanya rekan kerja saja." Arkha kembali meyakinkan Hanum. Semua yang dikatakan Arkha adalah sebuah kebenaran. Pernikahan yang dijalaninya menjadikan sebuah proses untuk dirinya menyadari perasaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Apakah saling bergenggaman tangan adalah hal yang biasa dalam konteks hubungan kerja?" Hanum tersenyum sinis, dia masih saja tidak yakin karena kejadian yang sempat dia lihat saat menghadiri acara ulang tahun temannya di sebuah resto.


Saat Hanum akan menarik diri untuk menjauh, Arkha malah mendekapnya begitu erat tidak ada alasan lagi bagi Arkha untuk melepaskan gadis mungilnya setelah mengetahui perasaan cemburu Hanum.


Tubuh mungil itu pun tak bisa mengelak, Hanum pun tenggelam dalam pelukannya." Aku mencintaimu, tidak ada Rania atau siapapun. Aku hanya ingin kamu!" bisik Arkha yang masih betah mendekap tubuh mungil istrinya.


"Jangan suka berdusta! Selama ini aku sudah terlalu sakit, Kak. Aku tidak ingin memaksa hubungan kita untuk bertahan lagi." lirih Hanum mencoba mengingkari perasaan nyamannya saat ini.


"Aku mencintaimu, Num. Aku tidak pernah ingin memainkan pernikahan. Untuk kejadian tadi siang, aku minta maaf... " kalimat Arkha terjeda, dia meregangkan pelukannya dan menatap lekat mata cantik yang selalu dia kagumi itu.


"Ayo kita mulai pernikahan kita dari awal. Dengan niat dan tujuan yang jauh lebih. Aku mencintaimu Alexia Hanum Salsabilla." Arkha kembali membawa Hanum dalam pelukannya. Kali ini, Hanum hanya bisa menjatuhkan diri dalam pelukan suaminya. Lelaki yang memang sudah membuat perasaannya kalang kabut dari dulu.


"Izinkan aku membuatmu jatuh cinta seperti aku yang tidak bisa jauh darimu!" bisik Arkha saat merasakan jari-jari mungil itu memeluk punggung tegapnya. Sedangkan, Hanum hanya terisak lirih dengan merasakan kehangatan hatinya setelah tahu jika lelaki yang selama ini berhasil memporak porandakan perasaannya ternyata punya rasa yang sama bahkan mereka sudah terikat dalam hubungan yang sebenarnya.


Berlahan saat merasakan dadanya basah oleh air mata Istrinya, dengan pelan Arkha melepas pelukannya. Kemudian menatap bola mata cantik yang kini terlihat sembab.


Tidak ada lagi kata kata yang terucap dari Hanum kecuali menjatuhkan kepala pada dada bidang suaminya. Memang tidak mudah bagi Hanum mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Tapi, gadis itu tak lagi sungkan untuk bermanja dengan suaminya.


"Sebaiknya kita ke rumah Mama Zoya. Aku yakin Mama sudah sangat mengkhawatirkan keadaanmu." ucap Arkha dengan lembut.


"Aku akan ke toilet untuk cuci muka, Kak." Hanum pun bangkit meninggalkan Arkha yang belum bisa menghilangkan senyum kecil dari bibirnya.


Hanya butuh beberapa menit Hanum keluar dengan wajahnya yang sedikit segar meskipun masih menyisakan wajah sembab. Mereka pun keluar dari ruangan itu masih dengan saling menggenggam tangan meskipun beberapa pasang mata memperhatikan keduanya yang terlihat lebih berbinar.


###

__ADS_1


Sore yang masih terlihat cerah mereka sudah sampai di depan rumah Mama Zoya dalam satu mobil. Seketika itu Arkha mengernyitkan kedua alisnya saat melihat mobil Shakti yang sudah terparkir di halaman rumah besar itu.


"Sepertinya Mas Shakti sudah sampai sini lebih dulu!" ucap Hanum.


"Bagaimana ini? Aku malu, ntar kita diledekin, Kak." lanjut Hanum mencoba mengutarakan maksud hatinya.


"Santa saja! Yang penting kita, kan? Ayo... !" ujar Arkha mencoba meyakinkan Hanum. Mereka akhirnya keluar dari mobil. Bahkan, saat berjalan menuju ke dalam rumah, Arkha sudah tidak segan untuk merangkul tubuh mungil Hanum.


"Assalamu'alaikum... " Suara Arkha membuat Hans dan Zoya yang sedang duduk di ruang keluarga pun menoleh, melihat siapa yang datang.


"Waalaikum salam... " jawab Zoya dan Hans hampir bersamaan. Keduanya, kemudian tersenyum saat melihat kedatangan anak dan menantunya dengan wajah bahagia.


"Ayo masuk! Kalian sudah pada makan?" tanya Zoya kemudian berdiri menyambut keduanya yang kini berjalan menghampiri keduanya.


"Nanti saja, Ma! Kita rasanya butuh mandi untuk menyegarkan tubuh kita." jawab Arkha setelah mereka bersalaman kepada Zoya dan Hans.


"Oh, baiklah. Kalian bisa membersihkan diri dan istirahat sebentar." timpal Zoya dengan rasa bahagia. Setelah, seharian dia mencemaskan kondisi Hanum dan pernikahan putrinya.


"Jangan lupa, Salat magrib berjamaah!" ucap Hans dengan wajah tegasnya meskipun tidak dipungkiri ada rasa lega juga melihat keduanya akur.


"Iya, Pa." sahut Hanum kemudian dengan kalem. Hanum kemudian menarik lengan Arkha untuk menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya.


"Akhirnya... " ucap Hanum saat merebahkan tubuh lelahnya setelah melepas jilbab dan mengatur suhu AC dalam kamarnya. Sejenak dia memejamkan mata menikmati empuknya kasur kamarnya yang begitu menenangkan.


"Sayang, bagaimana jika kita mandi bersama?" Seketika Hanum terkaget dan membuka matanya saat menyadari jika ternyata wajah Arkha sudah berada di atasnya.

__ADS_1


"Apaan sih, Kak Arkha! Mandi aja sendiri." balas Hanum dengan mendorong dada bidang Arkha untuk menjauh darinya. Gadis itu pun memiringkan tubuhnya memeluk boneka besar untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya karena rasa malu.


Arkha hanya terkekeh menatap tingkah malu malu Hanum dengan memulai melepas kancing kemejanya. Dia pun berjalan menuju kamar mandi sambil tersenyum kecil setelah menggoda Hanum yang begitu naif.


__ADS_2