
" Loh, kenapa ke apartemen!" ucap Hanum.
"Aku ada janji, nanti aku akan mengantarmu pulang!" jawab Arkha saat menghentikan mobilnya di baseman. Lelaki itu pun membukakan pintu untuk Hanum, tapi gadis itu malah terdiam.
Tak mau menunggu lama, Arkha pun kembali menggendong Hanum keluar dari mobil.
"Loh - loh turunin!" ucap Hanum dengan terus bergerak. Arkha hanya diam saja, hingga melewati lobi dan menurunkan tubuh kecil itu di depa lift dan memencet tombol lift.
Arkha menunggu Hanum masuk ke dalam lift, sambil meringis dan tertatih Hanum masuk ke dalam lift.
"Sakit banget?" tanya Arkha yang kasihan juga melihatnya. Terlihat sekali Hanum menahan sakit.
Lift terbuka. Arkha langsung menggendong Hanum kembali hingga gadis itu memekik kaget. Dan benar saja, seseorang sudah menunggu di depan unit apartemennya.
"Sudah lama?" tanya Arkha pada staffnya dan menurunkan Hanum dari gendongannya.
"Baru saja, Pak. Jika Bapak belum datang, mau saya tunggu di loby." ucap salah satu staf di kantor Arkha sambil melirik Hanum yang memegangi lengan Arkha untuk bertumpu.
"Baiklah, untuk beberapa hari nanti, kamu bisa menghubungiku via telpon jika ada kendala." jawab Arkha.
"Baik, Pak. Jika begitu saya permisi, dulu!" ucap lelaki itu kemudian meninggalkan Arkha yang kini membuka pintu apartemennya.
Kali ini dia membantu Hanum masuk ke dalam apartemennya. Dan membawanya pada sebuah sofa yang ada di ruang tengah.
Arkha juga membanting tubuhnya di sofa dan melonggarkan dasinya. Hari ini dia begitu lelah, ada meeting dengan beberapa klien, dan perintah Shakti untuk segera balik ke pabrik cabang membuatnya harus membereskan pekerjaan yang ada di sini terlebih dahulu.
"Sssstttt.... " mendengar Hanum mendesis kesakitan Arkha pun tersadar.
"Kamu ganti baju dulu ya! Jika mau mandi sekalian, juga nggak apa." tawar Arkha membuat Hanum menggeleng cepat. Lelaki itu pun bangkit dan mencari kotak obat dan berjongkok di depan di depan luka kaki Hanum.
"Ini kamu harus ganti celana, Num. Bagaimana Kak Arkha ngobatinya?" Arkha menatap mata bulat itu.
"Aku nggak bawa ganti!" jawab Hanum.
Arkha pun membawa Hanum masuk ke dalam kamarnya untuk berganti.
"Ini ada rok milik adik Kak Arkha. Lagian baju kamu juga basah."
Hanum langsung menarik baju yang dibawa Arkha dan masuk ke dalam kamar mandi. Arkha sendiri, berganti pakaian di kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Kak Arkha... "
__ADS_1
"Kak... " panggil Hanum saat tidak melihat siapapun ketika selesai ganti baju.
Dengan terpincang pincang Hanum keluar dari kamar mencari Arkha. Lelaki itu pun juga sudah berganti pakaian.
"Jalannya lumayan enak, ketika mengenkana rok!" ucap Hanum saat mendapati Arkha.
"Kak Arkha akan mengobati lukamu."Hanum pun mengikuti kemana lelaki itu berjalan.
" Eh- tapi, jangan diangkat roknya!" Hanum menahan tangan Arkha saat akan mengangkat roknya.
"Astaga, aku tuh nggak naf*u sama bocah kayak kamu, Num." ucap Arkha dengan memberikan kapas pembersih pada Hanum.
"Kamu obatin sendiri, aku akan bikin makanan dulu!" ucap Arkha kemudian beranjak.
Arkha pun berjalan menuju dapur, dia akan membuat spaghetti. Hari ini, sebenarnya hari yang cukup melelahkan ditambah lagi bertemu dengan bocah bar -bar yang cukup merepotkan.
Setelah semuanya siap, Arkha kembali menghampiri bocah itu untuk makan.
"Loh, belum diobatin?" tanya Arkha saat melihat Hanum hanya duduk mematung.
"Perih!" jawab Hanum dengan menatap Arkha.
Lelaki itu terus saja membersihkan luka Hanum dan memberinya obat.
"Perihhh... hik hik hik. " teriaknya dengan meremat bahu Arkha yang berjongkok di bawahnya.
"Sebentar lagi perihnya berangsur hilang." Arkha memang dengan cepat mengobati luka Hanum. Kenyataannya saat melihat kaki putih dan menyentuh kulit lembut gadis itu jantungnya sempat berdebar.
"Ayo kita makan. Nanti aku anterin kamu." ucap Arkha dengan membantu Hanum berdiri.
"Aku sudah kirim pesan pada Kak Aleks untuk menjemputku, tapi sebentar lagi, dia baru keluar kelas." jawab Hanum.
"Kak, di tasku ada bakso bakar." Mendengar kalimat Hanum, Arkha pun berdiri mengambil tas Hanum yang tergeletak di sofa.
"Kamu suka bakso?" tanya Arkha melihat bocah itu mengeluarkan lima tusuk bakso bakar.
"Iya, coba saja! Enak banget ini." Sambung Hanum dengan meletakkan dua tusuk di piring Arkha.
Sambil menikmati makan sore, mereka bercerita bagaimana Hanum bisa terjatuh. Dan, Hanum juga cerita jika papa dan mamanya sedang menyusul Kak Alenya.
###
__ADS_1
Shakti melepas kepergian istrinya dengan berat. Jika punya pilihan dia akan menahan Alexa, tapi rasa bersalahnya pada wanita itu membuatnya tidak punya alasan untuk melarang Alexa.
Mercy hitam itu berlahan menghilang dari halaman Villa. Sepi, tidak ada lagi sosok yang bisa menghilangkan rasa lelahnya saat ini.
Dengan langkah gontai dia memasuki kamarnya dan kemudian menguncinya. Shakti merebahkan tubuhnya di tempat tidur, hari ini dia merasa lelah sekali, berlahan lelaki itu memejamkan matanya.
"Ay, jam berapa ini?" Masih dengan memejamkan mata, Shakti bertanya. Dia tidak menyadari jika sudah beberapa jam dia tertidur.
Lelaki itu membuka matanya, saat tidak ada jawaban, tangannya pun meraba tempat kosong yang biasanya ada istrinya. Baru saja dia pergi, tapi aku sudah merindukannya.
Pukul sebelas malam, Shakti melihat jam yang menggantung di dinding. Lelaki itu pun bangun dan sejenak tertegun. Biasanya Alexa akan membangunkannya saat dia tertidur dengan kemeja kerja.
Shakti mengambil ponselnya. Dia mulai mengirim pesan pada istrinya.
[ I Miss You, Ay]
Dia menunggu cukup lama tapi tidak ada balasan. Hingga dia kembali mengirim pesan lagi.
[Sampai di mana? Sudah makan?] Shakti
[Di perbatasan kota, sedang istirahat dan makan.] Alexa
Itu artinya, istrinya masih mode marah, Alexa hanya akan menanggapi hal hal penting saja.
Lelaki itu menghela nafas panjang , kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
###
Di salam sebuah mobil yang terus melaju menembus jalan yang cukup sunyi Alexa terus saja melamun menatap ke luar jendela.
Dia memang marah dengan Shakti tapi dia juga kepikiran dengan suaminya. Ada rasa yang berbeda saat mereka harus berjauhan. Setelah menikah, Shakti seperti bagian dirinya yang tidak bisa lepas begitu saja dari pemikirannya.
"Kak, sedang mikirin apa?" tanya Zoya yang duduk di sebelahnya. Sedangkan, Hans hanya melirik putrinya dari spion. Dia bisa melihat sorot mata kesedihan dari putrinya.
Sekeras apapun manusia berusaha, terkadang ada sesuatu di luar kendalinya.
"Ale ngantuk, Ma." Alexa merebahkan tubuhnya dengan kepala bertumpu pada kedua paha mamanya.
Iya sedewasa apa pun seorang anak, orang tua selalu menganggap anaknya masih butuh untuk dilindungi dan di khawartikan.
Zoya mengusap kepala putrinya dengan lembut. Dia masih seperti Alexa kecil yang selalu minta dielus kepalanya saat merasa sedih dan kecewa.
__ADS_1