Rindu Alexa

Rindu Alexa
Tamparan


__ADS_3

Semua yang baru dilantik dengan gelar dokter terlihat bahagia. Hans dan Zoya tampak bahagia saat melihat senyum ceria tidak lepas dari bibir mungil putrinya.


"Melihat putriku mendapatkan gelar dokter, hatiku merasa bahagia, Zoy." ucap Hans, tatapannya lurus ke depan agar Zoya tidak melihat matanya yang sudah berkaca- kaca. Tangan besar itu menggenggam erat jari mungil istrinya.


"Aku juga bangga, Mas. Akhirnya kita sudah membawa putri kita sampai di titik ini." Zoya pun menitikkan air mata, hatinya begitu terenyuh. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya kini berdampingan dengan seorang pengacara dan mempunyai putri seorang dokter.


"Terima kasih, Zoy, untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk keluarga kita." Hans merengkuh bau kecil itu dengan mengusapnya lembut. Hatinya dipenuhi rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan.


"Mama, Papa." Alexa berjalan mendekati Hans dan Zoya, gadis itu memeluk haru kedua orang tuanya. Betapa bahagianya Alexa saat ini. Tinggal selangkah lagi, dia akan berada pada posisi yang sudah dia cita citakan.


"Apa Kak Ale sudah melupakanku?" suara Hanum membuat Alexa menoleh ke arah kedua adiknya.


"Sayang, adik kakak yang paling cantik." ucap Alexa dengan mendekat ke arah gadis yang saat ini memutar bola matanya. Alexa memeluk hangat adik kesayangannya itu.


"Ini buat Kakak, kasian jika tidak mendapatkan bucket bunga." sindir Hanum dengan mengurai pelukannya. Gadis berkerudung ungu itu tahu jika tidak ada cowok yang membawakan bunga sebagai ucapan selamat untuk kakaknya.


"Thank you." Alexa menerima bucket bunga anggrek yang cantik dari adiknya.


"Selamat, Kak." Aleks pun tidak ketinggalan datang dengan tampilan formal.


"Ya Allah... kamu ganteng sekali kalau rapi gini, Leks." goda Alexa saat melihat fotocopy papanya. Bahkan tinggi Aleks setara dengan Papa Hans. Benar benar Hans muda.


Mereka terlihat sangat bahagia. Di bawah terik mentari yang masih sangat menyengat, mereka berjalan menuju parkiran. Tamu yang datang pun bergantian meninggalkan gedung yang sudah ditata dengan sangat mewah itu.


"Sayang, Mama sama Papa akan pulang terlebih dahulu!" ucap Zoya yang juga akan pulang.


"Iya, Ma. Mungkin, Ale sampai rumah malam." Alexa memang sudah pamit jika setelah acara dia akan melakukan foto studio dan berkumpul bersama teman temannya.


"Jika tidak ada yang mengantar pulang, telpon Papa saja. Biar Papa yang jemput." pesan Hans.


"Iya, Pa." jawab Alexa

__ADS_1


Alexa melambaikan tangan saat mobil keluarganya meninggalkan halaman parkir gedung. Gadis yang saat ini terlihat begitu anggun dengan make tipis yang masih melekat di wajah cantiknya itu pun berjalan menghampiri segerombolan gadis gadis berkebaya di depan gedung megah itu.


Shakti sudah menunggu saat yang tepat untuk menemui Alexa, lelaki itu segera mengambil bucket bunga yang sudah tergeletak di bangku sebelah. Dia sudah menyiapkan semua dengan matang.


Flashback Back


Dengan tampilan rapi, Shakti berlari kecil menuruni tangga. Pagi ini dia harus segera ke kantor lebih awal untuk bisa mendatangi wisuda sumpah dokter Alexa. Sejak kemarin dia meminta Mas Bimo untuk mengosongkan semua jadwal pertemuan dengan siapa pun.


"Ma... " panggil Shakti, saat melihat Gayatri di dapur bersama Mbak Jum.


"Ma, tolong siapkan oleh oleh kecil untuk melamar Alexa." ucap Shakti yang sudah berada di dekat mamanya.


"Apa?" Gayatri terlihat bingung dengan apa yang baru saja di katakan putranya, bahkan dia tidak yakin dengan apa yang didengarnya baru saja.


"Mama... nanti malam kita akan melamar Alexa." Sambil mengenakan blazer, Shakti menyakinkan mamanya. Hari ini lelaki itu tampil tidak biasa. Dia mengenakan kaos neck turtle yang dipadu dengan celana jeans dan blazer. Tubuh tinggi dan atletis itu sebenarnya cocok mengenakan apapun.


"Maksudnya bagaimana?" Gayatry masih bingung dengan permintaan putranya.


"Benarkah? Alexa akan menjadi menantu, Mama?" Betapa bahagianya Gayatri. Dia memang sudah berharap jika Alexa akan benar benar menjadi putri rumah ini.


"Do'ain saja Shakti berhasil." Shakti meninggalkan mamanya yang masih dalam bengong bahagia. Lelaki yang sudah rapi itu akan menyiapkan semuanya, dia akan datang di acara wisuda sumpah dokter untuk memberitahu Alexa jika nanti malam mamanya akan datang untuk melamar. Shakti yakin, Alexa tidak dapat menolak jika mamanya yang akan meyakinkan gadis kesayangannya itu.


Flash On


Shakti menghentikan gerakannya ketika akan membuka pintu mobil. Dia melihat Dokter Agam menghampiri Alexa. Sebuah bucket bunga cantik dan kotak cincin berwarna merah itu sudah berada dalam genggaman jari jari besar lelaki yang saat ini menyapa Alexa.


"Tidak, ayu tidak boleh dengan lelaki itu. Dia tidak tahu apa apa soal dokter munafik itu." ucap Shakti begitu kesal.


Shakti keluar mobil dengan meninggalkan bucket bunga yang sudah dia siapkan. Rasa marah dan cemburu memaksa langkahnya menghampiri dua orang yang sedang berbicara di bawah pilar besar di depan gedung.


"Aku ingin bicara, Ay!" Shakti menatap tajam Alexa.

__ADS_1


"Bicara saja, Mas." jawab Alexa yang merasa tidak enak jika tiba tiba meninggalkan dokter Agam.


"Aku ingin bicara empat mata saja." suara Shakti sudah terdengar geram.


"Diantara kita sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi, Mas." Mendengar jawaban Alexa membuat Shakti menggenggam lengan kecil itu dan akan menariknya pergi.


"Lepaskan dia! Anda tidak berhak memaksanya." Dokter Agam berusaha mencegah tindakan Shakti yang dirasa terlalu kasar.


"Kamu juga tidak berhak melarangku!" sahut Shakti dengan amarah yang sudah memenuhi dadanya.


"Sebentar, Dok." Alexa pun berjalan kewalahan mengikuti langkah memburu lelaki yang kini sudah dipenuhi amarah. Alasan Alexa mengikuti Shakti karena tidak ingin ada keributan antara dua lelaki yang akan mengundang perhatian banyak orang.


"Kamu harus menjauh dari dokter itu, Ay!" ucap Shakti saat mereka sudah berhenti di dekat toilet.


"Kenapa? kita sudah tidak ada hubungan apapun. Mas Shakti tidak berhak melarangku." Alexa semakin tidak suka dengan sikap otoriter lelaki di depannya. Gadis itu benar benar ingin lepas dari cinta masa lalunya yang salah.


"Dengarkan Aku Alexa Salma Aqilla. Dia bukan lelaki yang pantas untukmu." ucap Shakti penuh penekanan dia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan semuanya pada gadis di depannya tentang Agam.


"Terus siapa yang pantas? Kamu, Mas?" sarkas Alexa. Suara lembut itu juga terdengar menahan emosi.


"Berhentilah mengaturku! Kamu sudah tidak ada dalam hatiku lagi. Biarkan...!" Kalimat Alexa menggantung. Shakti memojokkan Alexa di dinding dengan emosi yang susah melebur menjadi satu dalam hatinya. Jantungnya pun berdetak begitu kuat menahan segala amarah yang ditimbulkan gadis yang dia cintai itu.


"Kamu tidak akan bisa berhenti mencintaiku!" Shakti mengunci kedua lengan kecil Alexa hingga gadis itu tidak bisa berbuat apapun.


"Lepaskan!" Alexa berusaha melawan. Tapi percuma. Tubuh kecilnya bergetar dengan hebat menahan rasa takut saat sorot mata tajam itu menunjukkan kilatan kilatan kemarahan yang sudah tidak bisa ditahan oleh pemiliknya.


"Kamu hanya mencintaiku. Kamu hanya akan jadi milikku." Kalimat lirih itu terdengar sangat mengerikan saat Shakti mengikis jarak diantara mereka.


Shakti mencium paksa Alexa. Sebuah lumayan kasar dia lakukan di bibir mungil Alexa dengan begitu gila. Alexa hanya bisa mengerjapkan mata basahnya setelah meraup nafas yang sempat tertahan seperkian detik.


"Plak... Jahat!" pekik Alexa setelah menampar lelaki di depannya. Dia begitu marah dan kecewa atas apa yang barus aja dilakukan Shakti.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2