Rindu Alexa

Rindu Alexa
Tidak merelakan


__ADS_3

"Kalian sudah Salat Magrib?" tanya Hans saat baru tiba di toko kue. Semua anak- anak sudah berderap menunggunya, termasuk Oma Shanti.


"Nunggu kamu kayak nunggu Chang Kwok!" celetuk Oma membuat semua orang yang ada di sana tertawa. Oma masih saja sering melihat drakor. Hanya di kamar beliau yang ada televisinya, itu pun suaranya menggelegar karena pendengaran Oma yang sudah melemah.


"Ya Allah, Mama, namanya juga kerja. Lagian ngapain yang diingat malah artis K-pop?" balas Hans dengan mendekati mamanya dan mengangkat tubuh ringkih itu untuk dibawanya masuk ke mobil. Zoya diikuti anak anak mengekor di belakang Hans.


Mobil Pajero melaju di atas aspal yang masih basah karena tetesan gerimis. Hans dan Aleks memang sempat bertukar mobil. Dengan pesan "Jangan sampai mobil milik Mama Zoya lecet". Aleks pun bisa mengerti.


"Al, kemana mobilmu?" tanya Hans saat sudah masuk di dalam mobil. Sejak tadi, dia tidak melihat mobil putri sulungnya.


"Tadi kempes di jalan, dan sedang diurus teman Ale, Pa!" jawab Alexa. Sedangkan Hans masih melirik penuh selidik Ale yang duduk di bangku tengah bersama Oma.


"Cowok?" tebak Hans dengan suara lantang. Zoya yang melihat reaksi Hans yang mendadak serius itu pun mengusap paha suaminya.


"Iya, Pa." jawab Ale lirih. Ale bisa melihat reaksi papanya tidak senang.


"Ganteng lo, Om." sela Kirey dari bangku paling belakang. Seperti biasa, Hanum langsung memukul tangan si mulut cablak itu.


"Ganteng saja tidak cukup!" sergah Hans dengan nada dingin, membuat Kirey mengkerut, dan Hanum menahan tawanya.


"Al, jangan mudah percaya laki-laki. Selain menggunakan perasaan mereka juga menggunakan logika." Hans merasa khawatir karena dia tidak tahu seperti apa lelaki yang di percaya putrinya itu. Jika Dokter Agam, sedikit banyak Hans sudah mengenal sosok laki laki itu dan keluarganya.


"Iya, pa." Jawaban Ale membuat suasana di dalam menjadi hening.


Lelaki yang semakin hari semakin memancarkan kharismatiknya itu pun mulai banyak berfikir tentang putrinya. Selama ini, cara dia menjaga putrinya hanya karena Hans merasa khawatir jika Alexa dipermainkan laki laki. Menurutnya Alexa memang cukup pintar tapi terlalu polos untuk urusan itu.


Pajero sport keluaran terbaru itu membelok di sebuah rumah dengan gerbang otomatis itu. Hans bisa melihat mobil Yaris putih sudah terparkir di garasi. Tapi, dia belum ingin membahasnya lagi.


"Biar aku yang membawa Mama masuk." ucap Hans, kemudian bergegas turun untuk menghampiri dan menggendong masuk Oma Shanti.


"Kak Hanum setelah ini mungkin aku akan lama tidak datang ke rumah ini." ucap Kirey saat membuntut di belakang orang orang dewasa itu.


"Syukurlah! Aku tidak perlu berbagi kamar denganmu." ketus Hanum membuat Zoya menggeleng. Meskipun begitu, Kirey sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan Hanum yang cukup nyelekit.


"Tapi, aku pasti merindukan Kak Aleks. Kak Aleks pernah nggak nanyain aku?" Sebentar lagi Kirey akan ujian akhir, dia akan memilih fokus untuk itu dulu.


"Bablas... kamu kayaknya kudu berjuang keras untuk bisa mendapatkan cinta Kak Aleks. Aku juga khawatir ntar itu orang malah bisa jadi jeruk makan jeruk!" sahut Hanum menanggapi keluhan Kirey.


"Hus...jangan suka ngomong sembarang, Hanum, kasian Kak Aleks." sela Zoya yang sejak tadi mendengar obrolan mereka saat berjalan masuk. Tapi, ada yang lebih menarik perhatian Zoya. Ale. Dia melihat Ale lebih banyak tertegun setelah mendapatkan reaksi Hans yang keras.


Setelah anak anak naik ke atas, Zoya langsung masuk kamar. Kamar mereka sekarang berada di bawah. Hans dan Zoya memilih kamar di bawah dengan alasan lebih dekat dengan Oma Shanti. Oma yang sudah sepuh dan punya penyakit diabet yang membuat Zoya lebih sering melihatnya saat beliau ada di kamar.


Zoya masuk ke kamar yang pintunya sedikit terbuka, dia kemudian menutupnya kembali. Hans sedikit menoleh saat mendengar langkah masuk ke dalam kamarnya. Lelaki yang saat ini membuka kemejanya itu melirik seulas senyum manis di bibir sang istri yang kini berjalan mendekat ke arahnya.


"Mas Hans." Zoya memeluk punggung suaminya. Tentu saja, itu sukses menghentikan gerak tangan Hans saat membuka kancing kemejanya. Hans sudah faham pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan istrinya. Hans membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan istrinya.


"Ada apa, sayang?" tanya Hans dengan melemahkan suaranya. Tapi tidak membuat Zoya melepaskan pelukannya.


"Jangan terlalu keras dengan Kak Ale, Mas. Kak Ale cukup dewasa untuk melakukan apa yang dia inginkan." ucap Zoya dengan penuh kelembutan.


Hans meregangkan pelukan istrinya, tangannya membingkai wajah cantik istrinya. Dia juga menatap mata sayu yang selalu bisa menaklukkan hatinya.


"Aku hanya takut putriku disakiti dan dipermainkan." ucap Hans memberikan alasan atas semua reaksinya. Tatapan Hans iki begitu dalam, seolah melihat isi sorot mata yang terpancar dengan teduh itu.


"Dia sangat polos, Zoy. Sama sepertimu!" Hans mencium kening istrinya sebelum memeluk kembali tubuh mungil itu.


"Maafkan aku, pernah membuatmu menderita saat kamu tidak ada tempat untuk mencari perlindungan." lirih Hans, hatinya masih terenyuh saat mengingat masa lalu yang pernah dialami istrinya. Gadis lugu yang menghadapi banyak masalah, tanpa dia tahu harus mengeluh pada siapa kecuali pada Tuhannya.


"Aku punya Allah, Mas. Meski kadang aku merindukan Bapak di masa yang sulit. Tapi, Allah memberikan suami yang bisa menjadi sosok bapak, teman dan orang yang aku cintai."


"Aku mohon, biarkan Kak Ale menentukan hidupnya sendiri. Aku bisa melihat tatapan yang berbeda dari Kak Ale untuk cowok itu." bujuk Zoya.

__ADS_1


"Kamu tahu laki laki itu?" tanya Hans menatap tajam istrinya, dia hanya memastikan kebenarannya dari pendapat istrinya.


"Iya, tadi cowok itu mengantar, Kak Ale. Aku juga kenal mamanya, beliau Nyonya Gayatri Prayogo." jawab Zoya masih mencoba meyakinkan suaminya. Siapapun dikalangan atas akan tahu siapa Tuan Prayogo.


"Baiklah, aku ingin mandi. Tolong siapkan air hangat dan gosok punggungku, ya!" pinta Hans yang kemudian diiyakan istrinya. Dengan senang hati Zoya melayani suaminya. Komunikasi yang berjalan cukup apik diantara mereka membuat keluarga mereka selalu diselimuti kebahagiaan.


###


Di dalam mobil yang melaju menuju resort, mereka bertiga menikmati musik yang di putar oleh audio mobil.


Setelah meninjau tempat yang rencana akan di bangun sebuah resort. Mereka melajukan mobilnya menuju resort yang sudah berjalan, resort yang dimiliki salah satu pengusaha di kota ini. Bahkan resort itu sering disewa untuk berbagai Acara.


Ringgo yang kali ini mengemudikan mobil Jaguar metalic itu sesekali melirik pemiliknya yang duduk di sebelahnya.


"Kayaknya ada yang sedang lope-lope." celetuk Ringgo yang sejak tadi mencurigai Shakti.


"Bahasa apa itu?" sambung Shakti masih menatap lurus ke depan.


"Clarisa sudah balik?" tanya Arka di bangku belakang. Meskipun dia juga curiga tapi menurutnya tidak ada salahnya mengumpan terlebih dahulu.


"Astaga, Ark Ini zaman milenial. Sebelum janur melengkung kita masih bisa berbagi cinta, Kan?"


"Ups...setelah janur kuning melengkung banyak juga sih yang masih berbagi cinta, asal jangan ketahuan yang di rumah." sambung Ringgo, dengan mengendalikan setir di jalan yang mulai banyak kelokannya.


"Mulutmu minta ditabok malaikat, Bro." sahut Arka yang notabene otaknya lebih bener dari Ringgo.


"Ingat Shak, kita hanya berhak menyeleksi dengan tujuan mencari yang nyaman dan tepat. Bukan untuk menjadi player. Mereka punya perasaan." Arka kembali mengingatkan.


Kalimat Arka yang terakhir malah membuat Shakti bimbang. Satu sisi, dia sudah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Clarisa. Gadis itu juga tidak buruk, hanya saja gadis itu seperti tidak bisa menerima keberadaan mamanya.


Alexa? Dirinya terlalu jauh memberi harapan pada gadis itu. Gadis naif jelmaan sang bidadari. Bagaimana bisa dia akan membuatnya kecewa? Sedangkan kebohongan sudah mengalir jauh.


Masih terdiam, saat ini Shakti hanya menghela nafas, senyumnya pun menyurut membuat kedua sahabatnya menatapnya semakin curiga.


"Ada gadis lain." jujur Shakti, tapi belum mendapatkan reaksi dari temannya.


"Belum lama, tapi aku tidak tahu dia posisinya di hatiku." lanjut Shakti, masih dengan wajah gelisah.


"Ohhh... biasa itu." sahut Ringgo dengan enteng, dia kembali menatap jalan.


"Malah, jika berhubungan dengan gadis nakal itu lebih gampang. Tinggal kasih duit, beliin mobil membuat perjanjian, selesai." sahut Ringgo.


"Bukan seperti itu." jawab Shakti malah membuat kedua sahabatnya kembali menatapnya tajam. Tapi, Arka yang bisa membaca Shakti masih merasa penasaran. Kali ini, tatapan Arka masih menuntut penjelasan.


"Dia gadis yang baik. Tidak hanya cantik, tapi hatinya luar biak biasa."


"Halah paling luarnya saja itu. Ntar juga ketahuan belangnya." sahut Ringgo yang tidak sabar mengomentari kalimat sahabatnya. Dia merasa kali ini Shakti terlalu terbawa perasaan.


"Bukan, pertama aku juga mengiranya seperti itu. Tapi, semakin aku mengenalnya, dia semakin terlihat istimewa. Auranya terpancar begitu cantik dan menenangkan." Kali ini Ringgo dan Arka bisa mengartikan cara Shakti bercerita. Sahabatnya itu sudah terbawa dengan perasaannya.


"Terus?" sahut Arka masih merasa penasaran.


"Tapi, aku sudah berbohong jika aku tidak punya pacar. Dia gadis yang polos, bahkan dia percaya dengan apa saja yang aku katakan padanya. Bahkan, karena papanya melarangnya pacaran, dia belum pernah pacaran sama sekali."


"Shittt... kamu bermain dengan orang yang salah, Bro." umpat Ringgo. Meskipun memang brengsek, tapi Ringgo tidak akan menyakiti perasaan gadis baik-baik.


"Caramu salah. Pilih salah satu sebelum terlambat." sambung Arka tak kalah kaget.


"Gadis seperti itu justru lebih mematikan, sekali dia membencimu. Dia tidak akan bisa memaafkanmu, apapun alasannya, gadis tipe seperti itu punya penderian yang kuat."


"Tapi, aku belum bisa menyelesaikan ini secepatnya. Kamu tahu kan, menghadapi clarisa bukanlah hal mudah. Aku dididik buka untuk menyakiti perempuan."

__ADS_1


"Tapi saat ini kamu sudah melakukannya. Tinggalkan gadis itu! "


"Nggak-nggak bisa. Saat ini aku nggak bisa meninggalkannya." Dengan cepat Shakti menyela kalimat Arka.


"Terus? Tidak mungkin seperti ini terus."


"Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan perasaanku. Aku takut perasaanku pada gadis itu hanya emosi sesaat. Selain itu aku juga ingin meyakinkan Clarisa tentang keberadaan Mama. Kalian tahu, kan, aku dengan Clarissa sudah lebih dua tahun. Tidak semudah itu mengakhiri hubungan kami secara mendadak." jelas Shakti, lelaki itu benar-benar di buat dilema dengan perasaannya.


Mobil Jaguar itu membelok diparkiran sebuah resort yang cukup ramai. Ya, seperti ada sebuah acara yang sedang berlangsung.


"Kita kemana ini?"tanya Arka. Lihat lihat saja dulu. Habis itu tentu saja menikmati pantai.


Ketiga lelaki dengan penuh pesona itu keluar dari mobil. Mereka memasuki hall Resort yang masih terlihat cukup ramai.


"Acara ulang tahun sepertinya, tapi sudah potong kue." ucap Ringgo saat melihat kue ulang tahun yang sudah terpotong. Shakti pun mengedarkan pandangannya meneliti setiap detail situasi.


Lelaki yang saat ini mengernyitkan mata itu hampir tidak percaya dengan apa yang di tangkap dari penglihatannya, dia melihat Alexa berdiri diantara beberapa orang tamu.


"Shak, kita ke sana!" ucap Arka menunjuk ujung bangunan yang mengarah ke pantai lepas.


"Kalian duluan, saja." titah Shakti. Dia mengambil ponselnya dan memencet nama Ayu.


Ternyata tebakannya tidak salah. Alexa merogoh tas kecil yang dibawanya. Dengan membawa ponselnya, gadis itu menyingkir diantara jajaran tamu.


"Ay... kamu dimana?" tanya Shakti.


"Aku di resort Nusa Indah."


"Ngapain?"


"Menemani Dokter Agam menghadiri ulang tahun temannya, Mas." jawab Alexa jujur. Alexa tidak tahu jika Shakti sudah melihatnya.


Shakti langsung menutup panggilannya dan mengirim pesan pada Arka untuk menunggunya di tempat yang sempat ditunjukkan Arka.


Shakti melangkah masuk meski bukan tamu undangan. Lelaki itu berjalan membaur dengan tamu undangan yang masih tinggal, untung saja dia cukup dikenal dikalangan orang orang berkelas sebagai seorang executive muda yang cukup sukses.


"Hae Shakti." Panggil salah satu di antara orang bisa dikenal dekat dengannya. Salah satu pengusaha kuliner dengan cabang resto yang tercecer di pulau jawa.


"Hae... " jawab Shakti saat sudah mendekat. Dia yakin saat Alexa mendengar suaranya, gadis itu pasti akan mengenalinya.


Alexa menoleh, betapa kagetnya dia jika lelaki yang baru saja menelponnya sudah berada di belakangnya.


Shakti masih berpura pura berbincang. Padahala, jari kelingkingnya mencoba menautkan kelingking mungil milik Alexa untuk menyapa.


"Astaghfirullah." gumam Alexa dalam hati dengan membulatkan mata karena terkejut dengan reaksi yang diberikan Shakti.


Alexa menoleh dan hanya mendapat lirikan dan senyum tipis dari lelaki yang masih berbincang dengan temannya.


"Lexa, kamu sakit?" tanya Agam saat melihat Alexa terlihat gelisah.


"Tidak, dok! Hanya sedikit gerah." Shakti benar benar menautkan kelingkingnya dengan kuat hingga Alexa tak bisa lagi untuk berontak. Lelaki itu seolah tidak akan membiarkan Alexa menikmati suasana bersama lelaki yang membuat Shakti menahan emosi ini.


Shakti



Dokter Agam



Si ay nya Babang shakti ( Alexa)

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2