Rindu Alexa

Rindu Alexa
Ingin Bicara Kebenaran


__ADS_3

Alexa berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Dia baru saja mengikuti kegiatan operasi bedah. Sudah pukul delapan malam, dia bergegas berjalan menuju ruangannya untuk bersiap pulang.


"Lexa, ada titipan dari Dokter Agam." Nindy memanggil Alexa yang terlihat berjalan terburu buru.


"Apaan?" tanya Alexa dengan suara lirih. Gadis itu pun mendekat ke arah temannya yang sudah menenteng sebuah kotak makanan.


"Biasa." Nindy menyerahkan sebungkus martabak telur pada Alexa.


"Kita makan bareng saja. Lagian aku juga udah mau pulang kok." jawab Alexa yang kemudian duduk di depan Nindy.


Mereka pun menikmati martabak yang masih hangat itu berdua di ruangan Nindy. Sekilas Nindy menatap Alexa. Gadis berkulit kuning langsat itu memang dibuat penasaran oleh sahabatnya. Bagaimana perasaan Alexa terhadap Dokter Agam, karena tidak mungkin Alexa tidak mengetahui jika Dokter Agam selalu memberi perhatian khusus padanya.


"Ehmm... Lexa. Aku mau nanya sesuatu ya?" Nindy mulai mencari celah untuk bertanya.


"Halo, selamat malam. Wah, ikut nimbrung boleh? Kayaknya seru." Suara Dokter Agam membuat kedua gadis itu pun menoleh di mana sumber suara itu.


"Oh, Dokter. Ini kita makan berdua martabaknya." jawab Alexa menyambut kedatangan laki-laki yang kini berjalan ke arah mereka.


"Nggak apa. Jadwal kalian sampai jam berapa?" tanya Agam kini tengah berdiri di antara mereka.


"Sudah selesai, Dok. Tinggal ngabisin martabaknya. Terima kasih lo, Dok." jawab Alexa dengan mengacungkan sepotong martabak yang habis dia gigit.


"Dok, sering sering kayak gini ya! Hahaha." tawa Nindy terdengar dengan mulut penuh membuat Agam hanya menggelengkan kepala.


"Mungkin sebentar lagi sudah tidak bisa sering bertemu kalian. Aku akan mengambil spesialis bedah." ucap Agam dengan menatap Alexa bermaksut memberi tahu rencananya tersebut. Tatapan mereka saling bertemu. Membuat Nindy tidak lagi bersuara.


"Iya, sambil menunggumu mendapatkan gelar Dokter." lanjut Dokter Agam membuat Alexa melemahkan kunyahan di mulutnya. Dia akan merasa bersalah jika Dokter Agam masih menunggu keputusannya. Padahal, Saat ini hatinya sudah tertaut pada laki laki lain, bahkan mungkin Alexa merasa dia sudah menjadi kekasih dari lelaki yang sudah melumpuhkan perasaannya itu.


"Sabar Dok, sebentar lagi. Tinggal menghitung Minggu apa bulan ya?" Goda Nindy. Dia tidak menyadari wajah Alexa yang sudah berubah. Sungguh dia tidak ingin memberi harapan pada dokter ganteng di depannya itu.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku." pamit Agam sebelum keluar lelaki itu menatap wajah cantik yang hanya tersenyum sumbang ke arahnya.


Hati Alexa dibuat tidak tenang setelah mendengar apa yang di katakan Dokter Agam. Dia tidak ingin mengecewakan lelaki yang sudah sangat baik padanya. Tapi, bagaimana cara dia mengatakan hatinya sudah untuk lelaki lain.


Alexa terdiam sejenak, sambil berfikir tentang semuanya akhirnya dia memutuskan untuk mengejar dokter Agam.


"Lexa... " panggilan Nindy tidak juga menghentikan langkah Alexa. Gadis itu pun mulai berfikir apa yang sedang terjadi. Tapi martabak di depannya terlalu sayang jika tidak di habiskan. Nindy kembali lagi menikmati martabak yang tinggal dua potong itu.


"Dok... " panggil Alexa sambil berlari kecil menghampiri lelaki yang kini menoleh ke arahnya. Dokter Agam menghentikan langkah untuk menunggu Alexa.


"Dok, ada yang mau saya bicarakan." ucap Alexa saat berdiri di depan Agam.


"Tentang apa?" tanya Agam dengan tersenyum menatap wajah yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Dok...Ehm... "


"Apa, Lexa?" sela dokter Agam sambil tersenyum saat melihat Alexa berdiri didepannya dengan kebingungan.


"Dok, jangan lagi menunggu saya. Karena... "


"Tenang, Lexa. Aku juga masih harus mengurus sekolah spesialis, jadi tidak harus terburu buru." Dokter Agam langsung menyela dan itu membuat Alexa semakin sulit mengatakan kebenaran jika dia sudah menyukai laki laki lain.


"Sorry ya, aku harus ke ruangan Dokter Daniel. Oh ya, Kalau pulang hati-hati." ujar Agam sambil tersenyum.


"Tapi, Dok. "


"Besok kita sambung lagi." Agan langsung berjalan cepat menuju ruangan Dokter Daniel. Dokter seniornya itu sudah dari tadi memintanya datang, tapi dia malah sempat berbelok hanya untuk melihat gadis yang sudah dia rindukan.


Alexa menatap kepergian Agam dengan rasa bersalah. Dia tidak bisa membayangkan perasaan Dokter Agam saat tahu dirinya sudah menyukai lelaki lain.


"Semoga dokter dapat gadis yang jauh lebih baik dari saya." gumam Alexa dengan tulus. Baginya Dokter Agam lelaki yang baik dan lembut sudah sepantasnya Dokter Agam mendapatkan gadis yang baik.


###


"Terima kasih, Sayang. Hari ini Tante puas jalan jalan." ujar Gayatri saat mereka baru saja memasuki rumah. Hari ini, Alexa mengajak Gayatri jalan jalan, bahkan sempat mampir ke toko kue meski hanya sejenak. Hanya untuk berkenalan dengan Zoya.


"Tapi jangan cerita Shakti, ya." lanjut Gayatri tidak ingin putranya tahu, karena Shakti tidak akan mengizinkannya keluar tanpa dirinya


"Iya. Tante akan rebahan sebentar." Alexa pun tersenyum saat melihat wanita berumur itu terlihat lelah tapi bahagia. Seharian mereka pergi mencari anggrek untuk menambah koleksian di taman. Mereka juga sempat makan siang dia tempat favorit Alexa saat bersama keluarga.


"Seandainya saja gadis itubenar benar putriku." lirih Gayatri saat menatap Alexa yang berjalan ke belakang. Gayatri pun mulai merasa nyaman saat berada di sofa. Rasa lelah berlahan membuat beliau mengatupkan mata dengan cepat.


Alexa memang mencari Mbak Reni untuk membawa anggrek untuk dibawanya ke taman. Setelahnya dia bermaksud menemui Gayatri. Tapi, yang di temui malah sudah terlelap, nafasnya terdengar berangsur begitu tenang.


Alexa mencari Bi Jum untuk mengantarnya mencari selimut untuk Gayatri. Saat menyelimuti tubuh yang sudah berumur itu, Alexa kembali menatap Gayatri dengan rasa iba.


"Mas Shakti terlalu sibuk, hingga Ibu kesepian Mbak." Suara Bi Jum membuyarkan lamunan Alexa. Tapi, tidak bisa disalahkan, Shakti memang punya beberapa usaha di bidang yang berbeda hingga membuatnya seolah tidak ada waktu buat mamanya.


"Ayo Bi! Saya akan membuat makanan untuk Tante Gayatri." Alexa mengajak Bi Jum kembali ke dapur setelah dia menyelimuti Gayatri yang sudah tertidur.


Mereka melakukan kegiatan bersama. Kali ini Bi Jum hanya menjadi figura dan merapikan kondisi dapur. Wanita paruh baya itu menatap kagum Alexa. Gadis yang cantik dan baik. Bahkan, sikapnya yang hangat bisa mencairkan suasana rumah keluarga Prayogo. Bi Jum memang sering memperhatikan Alexa, dia juga curiga jika Alexa dan tuannya punya sebuah kedekatan. Hingga wanita itu tidak akan bicara banyak tentang Clarisa karena diam diam Bi Jum berharap Alexa yang suatu saat menjadi Nyonya besar di rumah ini.


"Bi, jika Tante Gayatri bangun, ada puding di lemari pendingin." pesan Alexa yang di iakan Bi Jum.


"Terus bilang ada pesan dari Alexa untuk makan sayur. Jika tidak mau, Alexa tidak akan datang lagi." ujar Alexa yang dibalas senyuman oleh Bi Jum.


"Beruntung yang jadi suami Mbak Alexa." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bi Jum.

__ADS_1


"Kenapa tidak menunggu ibu bangun, Mbak?" timpal Bi Jum masih dengan mencuci peralatan dapur. Keduanya asyik mengobrol tanpa menyadari jika seseorang sudah berdiri di belakang mereka. Shakti sudah memperhatikan mereka dengan berdiri dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Nggak enak Bi, jika saya di sini sampai Mas Shakti pulang. Habis ini saya akan pulang." Alexa memang membatasi diri untuk bertemu Shakti meski hatinya ingin. Gadis itu kadang sangat merindukan lelaki yang sudah mengisi hatinya.


Shakti hanya menautkan kedua Alisnya. Dia benar benar tidak bisa mengerti maksud Alexa. Bahkan, saat dia mengirim pesan, Alexa tidak memberi tahu jika dia datang ke rumah.


Lelaki yang saat ini merasa gemas dengan gadis cantiknya itu pun hanya tersenyum sinis. Dia merasa Alexa sudah mempermainkan rasa rindunya. Shakti sangat merindukannya, merindukan senyum manis dari bibir mungil itu.


"Ehem...Mbak, Bi Jum ke rumah belakang dulu ya!" pamit Bi Jum yang sudah memergoki Shakti sedang menatap tajam ke arah mereka.


Wanita paruh baya itu merasa tidak enak karena sudah membicarakan lelaki yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.


"Akhirnya selesai juga." Alexa bergumam dengan meniriskan rendang dagingnya ke wadah mangkuk besar untuk di taruh di meja.


"Untung saja Mas Shakti belum pulang. Jadi tidak harus bertemu dengannya." Alexa masih bicara sediri. Tapi... ada sebuah tangan yang mencengkerang ujung kepalanya dengan jari-jari besar.


Blush... seketika wajah alexa memerah, saat kepalanya dipaksa menoleh ke samping.


"Mas Shakti?" gumam Alexa ragu saat melihat sosok ganteng dengan aura tegas itu berdiri di depannya.


"Iya kenapa memanggil? Apa kamu merindukanku?" Shakti mengambil mangkuk rendang di tangan Alexa dan meletakkannya di keramik kitchen set karena gadis itu sudah terlihat grogi.


"Iya.. " jawab Alexa sekenanya dengan wajah merona.


"Iya apa?" desak Shakti dengan tatapan tajam dan tangan memegang pinggang kecil gadisnya.


"Jangan seperti ini, Mas." Alexa berusaha melepaskan jari jari besar itu dari pinggangnya.


"Diamlah, jika tidak aku malah akan menciummu. Apa kamu merindukanku?" Shakti mengulang pertanyaannya dengan nada tegas. Bahkan matanya menghujam menuntut jawaban dari gadis yang saat ini juga memberanikan diri menatapnya.


"Iya aku merindukanmu, Mas." lirih Alexa kemudian menundukkan wajahnya karena malu dan takut. Tapi Shakti kembali mendongakkan wajah Alexa dengan kedua tangannya yang membingkai wajah cantik itu.


"Aku merindukanmu, Ay. Setiap saat aku merindukanmu." Tidak ada nafsu apapun saat seperti ini. Shakti benar benar menggunakan perasaanya saat mengungkapkan rasa rindunya. Rindu yang hanya tertuju untuk Alexa.


"Aku mencintaimu, Ay." lanjut Shakti dengan tatapan yang menelisik ke dalam hati gadis di depannya. Sebuah kalimat yang menghangatkan hati Alexa hingga gadis itu tidak lagi bisa menahan senyum.


"Aku ingin kita cepat menikah." Shakti mengucapkan itu dengan tulus. Dia sudah mulai menentukan hatinya setelah banyak pertimbangan. Dia merasa hatinya semakin menguat untuk gadis itu.


Clarisa?


Lelaki itu akan mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih saat Clarisa pulang. Dia juga butuh waktu untuk mengatakan dan meyakinkan semua kebenarannya, jika dia mencintai gadis lain. Shakti yakin Clarisa tidak akan menerimanya begitu saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2