Rindu Alexa

Rindu Alexa
Meminta


__ADS_3

Otak Shakti hanya berkutat dengan dua kata itu untuk pertimbangan. Bagaimana jika di tolak karena mereka masih dengan mode marah. Dia pasti akan sangat malu. Tapi, hasratnya sudah tidak bisa dibohongi lagi. Shakti terus saja menatap ke arah istrinya sebelum dia memantapkan keputusannya.


Sejenak suasana hening hanya suara jangkrik yang terdengar dari luar. Tapi dia yakin Alexa belum tidur. Berlahan dia menaiki tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.


Dengan hati- hati dia menggeser tubuhnya mendekat ke tubuh istrinya hingga membuat Alexa membuka matanya lebar.


Alexa hanya mematung, ketika merasa tubuh Shakti merapat memeluk pinggangnya. Parasaan Alexa menjadi tidak menentu, dia bingung bagaimana harus merespon.


Seketika dia menoleh dengan cepat, kala telapak tangan besar itu mengelus lembut kulitnya. Dadanya berdegup kencang, tapi dia tidak mempu mengucapkan sepatah kata pun. Matanya menatap lekat lelaki di dekatnya, hingga tatapan mereka saling beradu, seolah melakukan sebuah penawaran.


Shakti menundukkan wajahnya, mengecup lembut bibir tipis nan ranum milik istrinya. Tangannya pun tidak berhenti untuk mengusap lembut kulit halus itu, dari kaki atasnya hingga berlahan naik ke atas.


"Boleh, ya!" bisik Shakti dengan sedikit melepaskan pagutannya. Alexa hanya mengedipkan kelopak matanya. Dia bingung harus menjawab apa. Bahkan tubuhnya pun seolah membeku dengan desiran rasa yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.


Lelaki yang sudah diselimuti kabut gairah itu pun mulai menaikan usapan lembutnya memasuki kaos Alexa yang kekecilan.


"Buka sedikit mulutmu, Ay!" Shakti mulai mengomando apa yang harus dilakukan, Alexa pun terhipnotis dengan semua interupsinya.


Berawal dari ciuman dan sentuhan yang membuat keduanya mendesah dan melenguh sepanjang aktifitas. Hingga akhirnya dia mulai aktifitas inti dari kegiatan itu.


Alexa memekik tertahan dengan mata membulat dan menitikkan air di sudutnya, kedua tangannya meremas seprai dengan sangat kuat. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan jika sakitnya luar biasa.


"Tahan sebentar, Ay." Lelaki itu menghentikan gerakannya, membiarkan Alexa mendapatkan posisi nyaman.


Keringat membuat tubuh keduanya lembab. Setiap inci tubuh istrinya seperti candu, Alexa begitu nikmat hingga beberapa kali terjadi pelepasan dengan posisi yang berbeda, dan berhenti ketika keduanya sudah sangat lelah.


"Terima kasih, Ay." Shakti mengecup puncak kepala istrinya yang tak bergeming. Alexa merasa tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Bahkan dia hanya bisa meringkuk dalam pelukan hangat Shakti.

__ADS_1


Shakti masih tersenyum mengingat percintaan panas yang baru saja terjadi. Meskipun dia harus banyak memberikan interupsi, tapi tidak bisa dipungkiri jika setiap *******, liukan tubuh istrinya dan milik alexa yang sempit membuat sensasi nikmat dan candu baginya.


"Ay, kamu baik baik saja, Kan?" Shakti mencemaskan Alexa ketika Alexa hanya terdiam saja sejak tadi.


"Aku lelah, Mas. Badanku seperti tak bertulang." jawab Alexa dengan berlahan membuka kelopak matanya. Terlihat wajah tampan yang kini menatapnya dengan cemas dan Alexa pun membalasnya dengan seulas senyum dan wajah yang kembali merona karena kilatan kegiatan yang baru saja mereka selesaikan.


"Aku mencintaimu, Ay!" ucap Shakti dengan kembali mendekap hangat tubuh yang sudah memberikan cinta dan kepuasan.


###


Setelah selesai Salat Subuh bersama Alexa berjalan dengan sedikit tertatih menuju meja rias yang diikuti juga oleh Shakti. Pagi ini Salat subuh pertama Shakti, ternyata lelaki itu yang sebelumnya enggan Salat itu punya bacaan yang fasih untuk surat surat pendek yang barusan dia gemakan saat menjadi imam istrinya.


"Masih sakit, Ay?" tanya Shakti dengan membantu Alexa mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan cermin. Di sana memang tidak ada hairdryer.


"Mas Shakti bacaan salatnya bagus, kenapa baru mengerjakan salat." ucap Alexa sambil menatap suaminya dari pantulan cermin.


Saat melihat Alexa mengerucutkan bibirnya, Shakti pun menelangkup wajah Alexa dan kemudian mendongakkannya agar dia bisa mendaratkan kecupannya di dahi istrinya.


Alexa pun berjalan menghampiri tumpukan seprei yang akan ditaruhnya di ember cucian.


"Biar aku nanti yang mencucinya, Ay." ucap Shakti, mau tidak mau dia akan melakukan kegiatan yang tidak pernah dia lakukan.


Tapi, ada rasa puas saat melihat bercak darah yang cukup banyak mengotori kain berwarna baby blue tersebut.


"Biar aku saja, Mas." ucap Alexa.


"Sudahlah! Aku tidak ingin kamu terlalu capek, Ay." jawab Shakti, tidak juga tidak bisa membayangkan Alexa mampu menjalani hidup sulit seperti ini.

__ADS_1


Shakti merangkul Alexa keluar dari kamar, dengan wajah sumringah, keduanya menghampiri Bu Seno yang tengah duduk di meja makan dengan segelas teh hangat.


Wanita paruh baya itu pun tersenyum menyapa, bahkan beliau sempat memperhatikan wajah sumringah keduanya.


"Aku akan membuatkan Mas Shakti kopi dulu." pamit Alexa dengan melepas lengan kokoh itu dari bahunya.


"Shak, salam buat Mbak Gayatri. Mungkin nanti jika masih ada umur dan diberi kesehatan Tante Gendis akan berkunjung ke kota." ucap Bu Seno saat Shakti mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan yang panjang dengan dihiasi ukiran.


"Mama pasti sangat senang jika Tante datang ke rumah. Shakti sepertinya masih harus tinggal di villa dulu sekitar satu mingguan untuk menyelesaikan semua urusan di cabang pabrik." jawab Shakti dengan memperhatikan wajah wanita yang hampir mirip dengan mamanya itu.


"Assalamu'alaikum." suara salam terdengar sangat nyaring dari luar kemudian terdengar langkah seseorang yang mendekat.


"Waalaikum salam, Pak Tono." balas Bu Seno.


"Ayo silahkan, duduk!" Bu Seno pun beranjak untuk mempersilahkan Pak Tono duduk.


"Laras ada, Bu." tanya Pak Tono.


Belum juga Bu Seno menjawab Laras sudah keluar bersama Dewa dari dapur diikuti Alexa dengan membawa secangkir kopi untuk Shakti karena dia tidak tahu jika ada tamu.


"Salma, tolong bikinkan Pak Tono kopi sekalian." ucap Bu Seno. Seketika Shakti langsung menatap tajam Alexa kemudian berganti pada lelaki paruh baya yang pagi pagi sudah bertamu.


"Nggak usah Bu Seno, saya cuma sebentar, hanya ingin memberikan mainan ini buat Dewa." Dewa Langsung turun Dari gendongan Laras dengan girang saat melihat mobil mobilan. Sementara Laras, yang ingin menahan putranya pun tidak kuasa.


"Beneran, Mbah Kung berikan untuk Dewa?" Seketika semua orang yang di sana ingin tertawa mendengar ucapan polos Dewa. Tapi, masih mereka tahan. Berbeda dengan Semua nya, Pak Tono Justru melebarkan matanya saat mendapatkan sapaan dari bocah yang mengambil mobil-mobilan yang dia bawa itu, dengan sebutan Mbah Kung.


"Dewa!" panggil Laras yang sebenarnya ingin mengatakan pada putra ya untuk tidak menyentuk mainan itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2