Rindu Alexa

Rindu Alexa
Prasangka


__ADS_3

Shakti sudah tiba di Bandara Ngurah Rai. Lelaki itu sudah di jemput salah satu staff pentingnya di Bandara.


Mereka pun masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan untuk menjemputnya menuju hotel miliknya.


"Selamat datang di Denpasar, Pak." ucap Doni wakil manager hotel milik Arashya group yang ada di Denpasar. Shakti hanya menampilkan senyum tipisnya lelaki itu tetap menampilkan kharismanya.


Di dalam mobil, dia masih mengamati ramainya kota Denpasar kala petang menjelajah waktu. Dia mulai menghidupkan ponselnya. Dan ada beberapa pesan dari istrinya yang kini dia baca. Lelaki itu kembali tersenyum, dia senang saat Alexa mengatakan sudah merindukannya.


###


Sementara itu di dalam rumah besar yang sangat mewah, Alexa begitu gelisah. Dia bertambah gelisah, kala melihat pesannya hanya di baca oleh suaminya.


Sungguh, rasanya dia ingin menangis saja. Wanita itu memutuskan untuk turun ke bawah mengambil air minum agar bisa tenang.


Rumah memang biasa sepi, hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang masih terdengar sibuk di rumah bagian belakang.


"Mbak Lexa, mau makan?" tanya Mbok Jum yang belum selesai membuat makan malam pun terlihat sedikit panik.


"Nggak Mbok, hanya ingin minum saja. Mbok Jum, masak apa?" tanya Alexa sambil menuang air minum dalam gelas dan meneguknya pelan.


"Nyonya Gayatri ingin mangut lele. Mbak Lexa ingin makan apa, biar nanti Mbok Jum buatin sekalian." tawar Mbok Jum. Dia belum pernah mendengar permintaan Alexa untuk memasak sesuatu. Menantu rumah ini terkadang malah menggantikan perannya sebagai tukang masak kala suaminya menginginkan masakannya.


"Boleh minta dibuatin rujak serut?" tanya Alexa membuat Mbok Jum melongo.


"Mbak Lexa hamil?" spontan itu yang ditanyakan Mbok Jum dengan tatapan penuh selidik.


"Nggak, Mbok. Aku cuma pingin saja, cuaca panas banget sepertinya makan rujak serut enak." jawab Alexa. Sejenak Mbok Jum terdiam, dia kembali meyakinkan jika Alexa adalah seorang dokter dan tentu saja dia lebih tahu tanda tanda orang hamil.


"Salad buah bagaimana? Malam begini masak iya makan rujak." lanjut Mbok Jum yang merasa aneh dengan permintaan Alexa.


"Aku lagi nggak ingin makan yang berbau susu atau mayo, Mbok." bujuk Lexa.


"Baiklah, tapi Mbok Jum bikinkan sedikit saja ya, takut Mbak Lexa sakit perut." wanita setengah baya itu meniriskan masakannya yang sudah matang ke dalam mangkuk dan menyiapkannya di meja makan.


Terdengar gesekan langkah dari kamar Nyonya Gayatri. Wanita berumur itu pun terlihat berjalan mendekat ke arah meja makan.

__ADS_1


"Lexa, Shakti sudah sampai?" tanya Gayatri pada Alexa yang duduk terdiam di meja makan.


"Belum kasih kabar, Ma. Bahkan, pesan Alexa cuma diread saja." Gayatri bisa melihat wajah sedih menantunya.


"Kebiasaan itu anak!" gerutu Gayatri.


"Ayo kita makan!" ajak Gayatri saat melihat semua menu sudah siap.


"Aku nunggu rujak serut buatan Mbok Jum, Ma. Mama makan dulu saja!"


"Kamu hamil, Lexa?" seketika Gayatri terlihat berbinar. Dia sangat berharap akan ada tangis dan ocehan anak kecil yang akan mengisi rumah ini.


"Belum, Ma." jawab Alexa karena seminggu lagi adalah masa menstruasinya.


"Semoga kamu cepat hamil ya, Nak!" ucap Gayatri dengan menggenggam tangan menantunya dengan harapan semoga anak mantunya segera diberi momongan.


"Ini rujak serutnya, Mbak Lexa."


"Lexa, nanti kamu harus makan nasib lo. Mama, nggak mau kamu sakit perut." sela Gayatri saat melihat Alexa begitu bersemangat menerima semangkuk rujak serut pesanannya.


"Iya, Ma. Nanti Alexa makan nasi." jawab Alexa dengan menyantap rujaknya.


"Hallo sayang, Miss you!" sapa Shakti mendahului saat terlihat wajah Ayu istrinya.


"Mas, ini aku lagi makan sama Mama dan ada Mbok Jum juga." Alexa mengkode agar tidak bicara yang memalukan. Terlihat Shakti baru saja mandi. Lelaki itu masih mengenakan kimono handuk membalut tubuhnya saat melakukan face time.


"Ehem... " Mama Gayatri dan Mbok Jum saling melempar pandang dan tersenyum membuat Alexa tersipu Malu.


"Mama dan Mbok Jum juga pernah muda, Ay. Sahut Shakti.


" Ma, Alexa ke atas dulu ya!" pamit Alexa sambil membawa rujak serut dan ponselnya yang masih menampilkan wajah suaminya itu naik ke atas. Dia akan malu jika suaminya yang suka bicara mesum itu kelepasan.


###


"Kak Aleks, bolehkan Mama masuk?" Zoya membuka sedikit pintu kamar putranya. Terlihat Aleks sedang sibuk menyelesaikan tugas rangkaian gambar mesin yang menjadi tugas kuliahnya.

__ADS_1


"Masuk saja, Ma." ucap Aleks kemudian menghentikan kegiatannya dan menghampiri mamanya.


"Besok, Mama minta tolong untuk mengantarkan ke toko bisa?" tanya Zoya.


"Bisa, Ma." jawab Alexa sekenanya. Lelaki yang punya garis wajah yang begitu mirip dengan papanya memang tidak terlalu banyak bicara.


"Kamu kelihatan sibuk sekali, memangnya sibuk di bengkel apa kampus?" selidik Zoya dengan hati hati, dia jarang melihat putranya ikut makan malam. Wanita itu hanya ingin tahu kondisi putranya yang memang terkesan tertutup dengan keluarga.


"Saat ini sibuk di kampus, Ma."


"Sesibuk apapun jangan lupa ngaji ya, Kak!" pinta Zoya, wanita itu terus saja mengingatkan putranya akan kebiasaan kebiasaan yang dia ajarkan sejak kecil.


"Insyallah, Ma."


"Ya sudah, kita besok berangkat habis sarapan." ujar Zoya kemudian meninggalkan kamar putranya.


Zoya melangkah keluar, dia bermaksud untuk pergi ke ruang kerja suaminya membahas tentang masalah Hanum. Dia punya ide untuk memasukkan Hanum ke pesantren saja dari pada dinikahkan muda.


Tapi, saat melihat pintu kamar Hanum terbuka, wanita mungil yang masih terlihat cantik itu mengintip sejenak kegiatan putrinya. Ternyata Hanum masih membaca sebuah buku. Gadis itu terlihat memang sangat rajin belajar akhir akhir ini.


"Sayang...!" panggil Zoya ketika membuka sedikit lebar pintu kamar putrinya.


"Iya, Ma. Masuk saja!" jawab Hanum kemudian gadis itu menutup bukunya menunggu mamanya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Ma, ada yang Hanum ingin bicarakan." ucap Hanum.


"Ma besok Hanum boleh datang ke acara ulang tahun teman Hanum?" lanjut Hanum.


Zoya terdiam sejenak, dia tidak ingin terlalu mengekang anaknya tapi membebaskan Hanum sepertinya tidak mungkin.


"Pulang jam berapa?" selidik Zoya.


"Paling jam sembilan, Ma. Nanti Hanum usahain pulang duluan!" Hanum memang jarang menghadiri acara semacam itu. Tapi saat ini dia merasa perlu meluaskan pergaulan, dia juga ingin masuk dalam pergaulan remaja seusianya.


"Baiklah, nanti biar diantar dan dijemput Papa atau Kak Aleks ya!"

__ADS_1


"Terima kasih, Ma." Hanum terlihat berbinar mendapatkan Izin mamanya.


"Sekarang cepat tidur, anak gadis jangan tidur terlalu larut!" ucap Zoya dengan mencium kening putrinya. Dia kemudian keluar dari kamar Hanum. Niatnya ingin bertanya tentang kesibukan Hanum, tapi dia belum bisa menemukan bahasa yang tepat untuk itu.


__ADS_2