Rindu Alexa

Rindu Alexa
Hadiah Pertama


__ADS_3

Setelah makan malam, Shakti mengajak Alexa pulang. Seusai akad nikah tadi pagi, lelaki itu langsung pergi ke kantor untuk pekerjaan yang sudah tertunda beberapa hari dan meninggalkan Alexa di rumah Zoya.


Kini tinggal Hans, Zoya Arkha dan Aleks yang sedang bermain gitar di teras samping. Sedangkan Hanum sudah pamit terlebih dahulu setelah Kak Alenya pulang.


"Minggu depan saya akan membawa Hanum untuk bertemu Ibu." ucap Arkham saat dia masih berbincang dengan keluarga di teras samping.


"Sekarang, Hanum sudah menjadi tanggung jawabmu!" jawab Hans dengan penuh wibawa.


Setelah pukul sembilan malam mereka pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka. Hans masih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang di siapkan untuk besok.


Arkha menaiki tangga dengan rasa canggung. Malam ini dia harus satu kamar dengan wanita. Dia merasa ada sedikit beban karena Hanum juga terlihat tidak bisa menerima pernikahan ini.


"Ceklek... " Lelaki itu memutar handle dengan pelan, takut akan menganggu gadis itu.


Tapi saat membuka kamar, Arkha sudah mendapati Hanum tidur dengan selimut yang hampir menutup seluruh tubuhnya.


Sejenak dia menatap heran kemudian bergumam," apa dia terbiasa tidur lebih awal dan menggunakan selimut hampir ke seluruh tubuh?" Arkha hanya menggelengkan kepala, Hanum memang masih remaja, jadi wajar jika tingkahnya sangat unik.


Arkha meletakkan ponselnya kemudian membuka satu persatu kancing kemejanya. Lelaki itu kini sudah telanjang dada.


"Ya Allah kenapa dia membuka baju di sini?" gumam Hanum sambil merapatkan matanya. Sejak tadi dia hanya berpura pura tidur dan mengintip lelaki yang membuatnya was-was saat ini.


Dia tahu Arkha tidak mencintainya, karena Arkha menikah dengannya karena terpaksa. Tapi menurutnya yang namanya lelaki satu kamar dengan perempuan pasti nalurinya tidak bisa di bohongi. Sejak tadi Hanum hanya merasa ngeri membayangkan jika terjadi sesuatu layaknya pengantin sewajarnya di malam pertama.


"Drt... drt... drt... " ponsel Hanum berdering sejak tadi membuatnya menahan diri untuk mengangkat ponsel.


"Ihh.. siapa sih yang telpon benar benar nggak tau waktu!" gerutu Hanum dalam hati.


Arkha yang mendengar dering ponsel hingga berkali kali, pun berjalan mendekati ponsel yang terletak di atas nakas dekat dengan Hanum berbaring.


"Jangan diangkat!" sergah Hanum dengan sigapnya menahan tangan Arkha. Sejenak Arkha terdiam, dia baru menyadari jika sejak tadi Hanum tidaklah tidur.


"Apa?" ketus Hanum dengan kesal. Saat melihat wajah Dira


"Ampun deh, Num. Kirain lo sakit ternyata masih kuat untuk marah marah!" jawab Dira dari seberang.


Arkha yang melihat Hanum menerima telepon pun memilih untuk duduk di sebelah Hanum dan kemudian merebahkan diri dengan posisi sembarangan.

__ADS_1


"Aku sakit gara- gara kamu. Coba malam kemarin kamu datang atau mengangkat panggilanku. Aku nggak bakal sakit." amuk Hanum pada Dira.


Mendengar Hanum yang terus mengomel membuat Arkha memejamkan mata tapi tidak tidur melainkan hanya untuk mendengarkan obrolan istrinya.


"Aku sakit, Hanum. Saat kamu telepon aku demam tinggi." jelas Dira dengan jujur.


"Eh..., Num. Kamu dengan siapa?" tanya Dira saat ponsel Hanum tak sengaja menyorot Arkha.


"Nggak ada siapa siapa?" elak Hanum yang sudah membenarkan posisi ponselnya.


"Benar, tadi telanjang lo!" desak Dira yang merasa yakin dia melihat lelaki tidak mengenakan pakaian.


"Nggak ada!" Hanum masih berusaha mengelak, sedangkan Arkha hanya tersenyum dengan mata yang masih terpejam saat mendengar obrolan dua remaja itu.


"Beneran!"


"Sudahlah besok kita sambung lagi!" Hanum langsung menutup panggilan Dira dan mematikan ponselnya.


"Kak Arkha, kenapa tidurnya kayak gini?" ucap Hanum masih dengan menekuk kakinya karena Arkha tidur dengan posisi melintang.


Berlahan Arkha membuka matanya, dia pun tersenyum menatap wajah tegang gadis di sebelahnya.


"Kenapa nggak pakai baju?" masih dengan memeluk selimut Hanum mengarahkan dagunya menunjuk dada bidang yang bergelombang.


"Dimana kaosku?" tanya Arkha, sedari tadi lelaki itu tidak mendapatkan kopernya.


"Di lemari, sudah di rapikan Kak Ale." jawab Hanum.


"Ayo ambilkan untukku, Num!" pinta Arkha.


"Nggak mau." tolak Hanum dengan memeluk selimutnya lebih rapat.


"Hanum, nggak usah segitunya. Lagian aku nggak nafsu sama kamu." Arkha pun berdiri melangkah menuju kamar mandi.


"Baguslah!" jawab Hanum kembali memposisikan dirinya dengan nyaman.


Arkha pun masuk ke dalam kamar mandi dengan menggelengkan kepala. Dia merasa hidup bersama bocah remaja itu hanya seperti lelucon saja. Dia juga tidak tahu bisa bertahan berapa lama dalam hubungan ini.

__ADS_1


###


Sambil bersandar di kepala ranjang, Shakti memperhatikan istrinya. Tingkah Alexa yang tidak biasanya membuat lelaki yang sejak tadi memeriksa email pun tidak fokus. Dia lebih sering melirik heran istrinya yang betah berdandan di depan cermin.


"Ay, kamu dari tadi dandannya tidak selesai. Lagian sejak kapan kamu biasa berdandan saat akan tidur?" Shakti pun akhirnya tidak tahan untuk melontarkan apa yang ada di kepalanya.


Alexa hanya menoleh ke arah suaminya dan melempar senyum manisnya. Dia memang sedang bersemangat mematuk diri di depan cermin.


"Ay... kamu membuatku tidak fokus!" keluh Shakti membuat Alexa beranjak.


"Emang salah bila aku ingin tampil cantik di depan suamiku?" jawab Alexa dengan manja membuat lelaki yang kini tengah menatap wanita cantiknya itu hanya berdecih. Wanita itu pun berdiri dan berjalan menghampiri suaminya.


"Jangan terlalu cantik, nanti aku malas bekerja." jawab Shakti dengan menarik lengan istrinya untuk merapat padanya.


"Benarkah?" Alexa merebahkan tubuhnya di dekat suaminya. Tangannya melingkar di perut rata lelaki yang saat ini balas mendekapnya.


"Mas, bagaimana Hanum, ya? Hanum itu masih labil. Dan pernikahan mereka sangat mendadak." Alexa kembali memikirkan adiknya. Hanum masih terlalu muda untuk menikah dan dia hanya tahunya mereka tidak saling mengenal.


"Hanum itu cerdas, dia akan tau apa yang harus dia lakukan. Sementara Arkha orangnya tanggung jawab. Dia tidak gegabah melakukan sesuatu. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan mereka, mungkin itu jalan jodoh mereka." jawab Shakti membuat Alexa sedikit tenang.


"Ay, tolong ambilkan laptopku di koper." ucap Shakti membuat Alexa beranjak dengan enggan.


Shakti terus saja menatap tubuh mungil yang berjalan menghampiri koper yang ada di sofa. Dia hanya ingin melihat reaksi Alexa.


"Mas, nggak ada laptop." ucap Alexa sambil menatap sebuah kotak yang dia tahu kotak perhiasan. Dia begitu penasaran untuk apa suaminya membeli perhiasan jika tidak diberikan padanya. Apa ada wanita lain? Alexa terus saja bermonolog dengan pikirannya sendiri.


"Itu untukmu, Ay!" sahut Shakti saat melihat istrinya menatap kotak yang sudah dia pegang.


"Aku?" Alexa menoleh ke arah suaminya yang kini tersenyum padanya.


"Iya, Ay." Shakti langsung beranjak mendekati Alexa yang masih tidak percaya.


"Sejak kapan Mas Shakti jadi perhatian?" pertanyaan Alexa membuat Shakti mencubit gemas pipi cabi istrinya.


"Apa nggak mau jika aku perhatian padamu?" Shakti mengambil alih kotak perhiasan dari tangan istrinya kemudian membukanya. Terlihat sebuah kalung dengan liontin berlian membuat Alexa tersenyum kagum.


Shakti langsung memakaikan kalung itu di leher istrinya. Dia menatap leher putih istrinya yang semakin terlihat cantik.

__ADS_1


"Cocok buat kamu, Ay." puji Shakti membuat Alexa tersenyum.


"Terima kasih, Mas." ucap Alexa kemudian memeluk manja Shakti. Dia sangat bahagia, ini pertama kalinya Shakti memberikan hadiah. Ada rasa yang berbeda di hatinya, rasa spesial yang membuat hati Alexa berbunga bunga.


__ADS_2