
Agam melangkah masuk ke dalam kamar, setelah bertemu Shakti, dia tidak lagi menjadi tenang. Agam, laki- laki itu hanya mengingat satu orang wanita yang mengisi masa lalunya. Apa yang dikatakan Shakti, kembali mengoyak rindu yang tak pernah tersampaikan lagi.
"Kenapa kamu pergi meninggalkan semua mimpi yang pernah kita rangkai." gumam Agam saat mengingat gadis yang mengisi hari harinya dulu. Tawa ceria dan mata yang selalu berbinar penuh dengan sejuta harapan itu tak pernah lagi dia dapatkan.
Lelaki itu kembali menghela nafas begitu dalam hingga rasanya, dia kembali menyapa semua rasa yang sudah tertutup rapat di dalam rongga hatinya karena semua cukup menyakitkan untuknya.
Agam membuka kembali sebuah laci di mana dia menyimpan foto gadis yang selalu tersenyum lembut padanya.
"Kamu terlalu egois karena sudah pergi dan menghilang tanpa berpamitan." Agam mengusap sudut matanya yang mulai basah. Banyak yang di tinggalkan gadis itu hingga membuatnya sulit untuk move on.
Lelaki itu menyimpan kembali foto gadis yang pernah dia cintai. Iya, bahkan kala itu dia hampir gila mencari keberadaan pemilik cinta pertamanya sebelum mamanya selalu mendesak dirinya untuk segera menikah.
Sudah beberapa kali mamanya mencoba mengenalkan gadis yang punya status sosial yang sama, tapi Agam tidak pernah merasa cocok. Hanya Alexa yang mampu mengetuk kembali perasaannya. Tapi sayang, kabar pernikahan Alexa yang tiba tiba kembali membuatnya patah hati.
###
Hanum duduk termenung di pinggir jalan yang ada di dekat kampusnya. Gadis itu enggan pulang, karena dia masih ingin sendiri. Hanum merindukan Kak Ale-nya, hampir sebulan Kakaknya menghilang. Kadang ada rasa cemas dalam hatinya saat pikiran buruk menghantuinya. Apalagi, dia sering membaca berita yang kebanyakan berisi kasus kriminal.
"Ya Allah, jagalah Kakakku." lirih Hanum dengan rasa rindu dalam hatinya. Meskipun dia sering kesal dengan kakaknya karena Ale tak jauh beda dengan Mama Zoya yang cerewet tapi Kak Ale-nya lebih sering mengabulkan permintaannya dari pada Mama Zoya.
"Terima kasih, Bang. Sudah memberi tumpangan." Suara lembut Rania membuat Arka tersenyum.
Arka kebetulan bertemu Rania saat melewati kos putri tempat Rania berdomisili. Mereka yang berasal dari satu daerah membuat Arka cukup dekat dengan gadis yang diam-diam menarik perhatiannya. Rania memang tipe gadis yang dia inginkan, dewasa, lembut dan cukup perhatian untuk bisa mengimbangi dunianya.
"Jika ada waktu main ke kos saja, Bang. Nanti aku bayar dengan segelas kopi gratis." canda gadis itu dari balik jendela mobil.
"Iya, nanti aku kabari jika akan main ke kos. Abang duluan, Ran." sambut Arka yang memang terkadang dia main ke kos Rania. Tidak sering karena Arka memang tidak terlalu punya banyak waktu apalagi menjelang pembukaan cabang pabrik baru.
Arka melajukan mobilnya kembali untuk bertemu Shakti dan Ringgo di tempat biasa. Tapi, hanya beberapa meter mobil itu bergerak, dia melihat gadis berjilbab dengan tingkah badung itu duduk termenung sendirian.
Dengan begitu tenang, dia menginjak pedal remnya dan berhenti tidak jauh dari tempat Hanum duduk.
Suasana mendung membuat Arka melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri gadis itu.
"Kamu ngapain di sini sendiri?" tanya Arka membuat Hanum terkesiap. Gadis itu menoleh ke arah lelaki yang kini memilih duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Jangan ganggu aku!" ucap Hanum dengan menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Kenapa? Ayo aku anterin pulang." Arka mulai jahil dengan ikut menggeser duduknya mengikis jarak diantara mereka. Dia memang gemas, gadis di sampingnya punya perangai ketus dan seenaknya sendiri.
"Minggir! Bukan muhrim." Hanum mendorong tubuh kekar itu untuk menjauh.
"Lah, kamu malah yang nyentuh Kak Arka. Katanya bukan muhrim?" goda Arka membuat Hanum meliriknya dengan sinis.
"Ya ampun bocah. Nggak usah menatapku kayak gitu. Aku nggak nafsu sama cewek bar- bar." ucap Arka dengan meletakkan telapak tangannya dan memutar kepala Hanum agar menoleh ke arahnya.
"Ya sudah jangan ganggu aku!" ucap Hanum dengan menatap mata sayu Arka. Gadis itu tidak punya pilihan karena jari jari besar Arka tertancap kuat di atas kepalanya.
"Ayo aku antar pulang! Suasana mendung, lagian anak gadis jangan duduk sendiri di tempat sepi." bujuk Arka dengan tenang. Lelaki itu memang punya karakter tenang dan dewasa.
"Aku bilang nggak mau. Aku bisa pulang sendiri!"
"Ini jilbabku rusak!" protes Hanum dengan memukul lengan kokoh yang telapak tangannya masih di atas kepala Hanum.
"Ayo aku antar! Kalau nggak, aku duduk di sini terus lo!" ucap Arka dengan menatap tajam mata gadis di depannya.
"Gitu kan manis." Arka menggenggam lengan kecil Hanum menuju mobilnya. Dia tidak percaya sepenuhnya pada gadis yang cukup licin itu.
"Aku ke kedai kopi saja." lirih Hanum.
Arka mengiyakan keinginan gadis itu. Lelaki itu memang memaksa Hanum pulang karena dia sempat melihat beberapa berandalan yang sedari tadi memperhatikan Hanum dari kejauhan
"Terima kasih." ucap Hanum tanpa melihat lelaki yang berada di balik kemudi saat mobil yang dia tumpangi berhenti di depan kedai kopi miliknya.
Arka hanya menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan gadis bar-bar yang sempat dia cemaskan. Lelaki berkulit sawo matang itu pun segera melajukan mobilnya menuju tempat telah dijanjikan oleh Shakti dan Ringgo.
Arka turun dari mobil dan segara memasuki salah satu resto yang ada di tengah kota. Sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dan Shakti saat dia memasuki resto tersebut.
"Sudah lama?" Arka sadar, dia terlambat cukup lama.
"Baru satu jam." sindir Ringgo saat lelaki itu mulai meletakkan bokongnya di kursi.
__ADS_1
"Maklum, aku mengantarkan dua gadis sekaligus. Tapi yang terakhir yang bikin lama karena cukup merepotkan." jelas Arka sambil memesan kopi espresso.
"Siapa?" Selidiki Ringgo.
"Rania dan Hanum." mendengar nama Hanum seketika Ringgo tertawa, sedang Shakti hanya tersenyum mengejek.
"Lo, nggak naksir keduanya, kan?" goda Ringgo.
"Aku sebenarnya naksir Rania. Tapi, belum ada kesempatan untuk nembak. Aku juga belum yakin dia sudah punya pacar apa belum. Mahasiswa biasa lebih senang pacaran dengan sesama mahasiswa." jelas Arka.
"Hanum? " lanjut Ringgo.
"Nggaklah, dia masih bocah. Lagian bisa gila punya pasangan gadis bar bar kayak Hanum." ucap Arka, Ringgo pun hanya mengangguk karena Arka memang menyukai cewek dengan perangai dewasa.
"Arka besok kita pergi ke cabang pabrik." sambung Shakti dengan mengubah mode pertemuan mereka menjadi serius.
"Mungkin kita akan berada di sana lama. Aku sudah membagi job job selama kita pergi." lanjut Shakti.
"Tapi... kenapa secepat itu, baru saja Rania menawarkan untuk ngapel di kosnya." protes Arka sambil memasang wajah kesal.
"Pilih Rania apa pekerjaan?" tawar Shakti.
"Di Manapun bos selalu menang!" jawaban Arka membuat Shakti terkekeh.
"Jangan lupa, persiapan nge-trip. Aku ingin nge-trip." Saat Arka mendengar Bos nya ingin nge-trip, membuat Arka tambah kesal, karena itu artinya dia akan melakukan kerjaan double di sana.
"Jangan masam kek gitu! Kasian Pak Bos, siapa tahu nge-tripnya bisa menggantikan malam pengantin yang Zoonk, ha hahaha." Ringgo mulai meledek kembali Shakti. Pengantin baru tanpa malam pertama.
"Sialan... awas saja jika istriku ketemu. Bersiap saja kalian kerja lembur untuk satu bulan." balas saja Shakti untuk membungkam ledekan Ringgo.
"Santai, Bro. Belum tentu Alexa nya langsung mau berdamai saking banyak kecewanya sama suami dadakannya itu haahhaa." timpal Arka sambil tos dengan Ringgo.
Sejenak Shakti terdiam, tidak ada yang salah dengan kalimat Arka. Bagaimana jika Alexa tidak mau menjadi istrinya. Shakti tahu Alexa memang lembut tapi sikap keras kepalanya membuat karakternya terkesan alot. Perpaduan Papa Hans dengan Mama Zoya.
Bersambung.
__ADS_1