
Hanum masih kesal dengan lelaki di sebelahnya. Saat ditanya dia mau makan apa? Gadis itu hanya terdiam. Dia enggan sekali bicara pada Arkha.
Setelah mobil berhenti di baseman, Hanum langsung keluar dan berjalan dengan tergesa-gesa tanpa menunggu Arkha yang menatapnya frustasi. Arkha tahu Hanum sedang murka.
Lelaki itu pun turun dari mobil dan berusaha mengejar Hanum yang ternyata sudah masuk lift duluan.
Hanum meletakkan tasnya dan beberapa buku di sofa depan, dia sempat menoleh saat melihat Arkha yang baru saja masuk. Hanum langsung saja memalingkan wajahnya dan kembali melangkah mencari air minum.
"Num, kamu kenapa?" tanya Arkha yang kini sudah berdiri di dekat Hanum.
"Emang kenapa?" Hanum balik tanya dan kemudian menyesap air putih hingga tandas dan akan berlalu meninggalkan lelaki itu.
"Hanum... " Suara Arkha mulai meninggi, dia juga mencekal lengan istrinya agar masih tetap tinggal.
"Mau apa lagi?" kali ini Hanum seolah menantang lelaki di depannya, terserah dengan istri solehah yang diajarnya mamanya. Hatinya masih terasa memanas setelah bertemu Rania.
"Kamu apa apaan sih, kenapa tiba-tiba marah? Aku mengajak bareng Rania karena kita punya tujuan yang sama, kan?"
"Sudahlah... tidak ada yang mempersoalkan Kak Arkha dengan Rania. Jika mau tiap hari antar jemput silahkan! Toh, pernikahan kita juga TER- PAK- SA." kalimatnya yang penuh dengan penekanan seolah menyindir lelaki yang kini tatapannya melemah.
"Num... maksudnya apa?" Arkha mencoba meyakinkan apa maksud dari ucapan Hanum.
"Lepaskan aku! Dasar mulut ember." sergah Hanum kemudian masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Dia tidak peduli dengan suara gedoran pintu yang semakin kuat. Niatnya hanya ingin menyegarkan kembali otak dan tubuhnya tanpa di ganggu siapapun.
Setelah beberapa menit dia berendam, Hanum pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Tapi, karena emosinya dia lupa membawa baju ganti.
"Pintu kamar masih terkunci." gumam Hanum dalam hati. Dia kemudian mengambil handuk dan melilitkan di tubuh mungilnya. Dia merasa tenang dan aman.
"Ceklek... " Hanum terjingkat kaget saat membuka kamar mandi, gadis itu melihat Arkha sudah berdiri di depan kamar mandi. Hanum menarik lirikannya ke samping ternyata pintu kamar sudah terbuka.
__ADS_1
Kini lelaki yang berdiri depan kamar mandi sudah menatapnya begitu lekat. Niatnya yang akan mengintrogasi Hanum pun gagal, suaranya seolah menghilang seketika saat pemandangan indah tepat berada di depannya. Tubuh molek yang biasa berbalut baju panjang kini hanya tertutupi dengan sehelai handuk dan menunjukkan keindahan kulit putih mulus tanpa cacat. Belum lagi bongkahan dada yang membusung, seolah kini dia melihat sosok wanita dewasa yang menggairahkan.
"Buk- bukankah, pintunya terkunci?" Hanum semakin gugup saat melihat tatapan tajam yang fokus ke arahnya.
Tanpa sadar Arkha semakin mendekat, seketika itu dengan gugup Hanum memundurkan langkahnya membuat Arkha menahan dengan mencengkeram lengan kecil Hanum. Hanya melihat tubuh istrinya membuat gejolak gairah lelaki itu semakin meninggi. Bagian bawahnya pun semakin sesak di dalam celana kerjanya.
"Drt... drt... drt... " ponsel di saku celana Arkha bergetar membuat Arkha tersadar.
Lelaki itu pun mengeluarkan ponselnya, sedangkan Hanum menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dan mencari baju untuk segera berganti.
Rania.
Nama itu yang tertera di layar ponselnya. Arkha menoleh ke arah gadis yang secepat kilat sudah berganti baju dengan kaos dan celana panjang rumahan.
"Kenapa di matikan?" tanya Hanum tanpa menoleh dan kemudian mencari sisir rambut.
Hanum yang berusaha cuek pun bergegas membawa laptop melewati Arkha yang masih menatapnya hampa. Biasanya setelah magrib Hanum pasti membaca Al-Quran, tapi mungkin karena mereka melakukan Salat Magrib di jalan hingga Hanum tidak melakukan kegiatan rutinnya itu.
"Biasanya kamu ngaji, Num?" tanya Arkha mengikuti Hanum yang melangkah menuju ruang tengah.
"Lagi nggak mood. Nanti diganti tengah malam. Aku akan mengerjakan tugas dulu!" jawab Hanum membuat Arkha mematung ketika Hanum membuka layar laptopnya.
"Num, soal tadi. Aku tidak pernah cerita apapun soal pernikahan kita." Arkha mendudukkan tubuhnya di dekat Hanum, tapi sedikit pun tidak membuat Hanum menoleh.
"Asistenmu itu?" sarkas Hanum dengan menoleh ke arah lelaki di sampingnya.
"Aku hanya cerita jika aku sudah menikah denganmu dan situasinya mendadak. Hanya itu saja." Hanum terdiam. Dia tidak bisa berkomentar apapun kecuali melanjutkan niatnya mengerjakan tugas.
"Please deh, Num! Percaya denganku. Aku dan Rania hanya hubungan kerja." ujar Arkha dengan menarik tangan Hanum. Arkha menggenggamnya begitu erat hingga membuat Hanum menghentikan aktifitasnya dan wajah menatap tampan di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli itu. Tapi, badanmu sudah terlalu bau jika tidak mandi sekarang." bohong Hanum. Padahal, dia sangat menyukai parfum yang bercampur keringat lelaki di sebelahnya. Hanya saja dia tidak mungkin mengatakan semuanya.
"Bau badanku akan selalu kamu rindukan, Num." Arkha sengaja memeluk Hanum dan membaukan ketiaknya ke hidup mungil Hanum, sebelum beranjak untuk ke kamar mandi.
'Iya, aku akan segera mengakhiri semuanya sebelum aku benar benar tidak bisa jauh darimu, Kak.' gumam Hanum. Dia akan segera mengejar beasiswa dan memulai kehidupan baru di negara orang.
###
Shakti masih duduk di depan ruangan Alexa. Dia sengaja menunggui Alexa di luar ruangan, meskipun Alexa sudah memintanya pergi.
Keberadaan Shakti membuat setiap orang yang melewatinya berdetak kagum dengan ketampanan lelaki itu, tubuh atletis dan tampilan yang elegan membuat lelaki berahanh tegas itu terlihat sangat ganteng dan berkelas.
Setelah membalas semua email dari kantor, Shakti melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam satu siang, dia mencoba beranjak menuju menuju jendela untuk melihat keadaan istrinya sebelum pergi ke musala dan mencari makan siang untuknya dan Alexa.
"Braaaang... " Seketika Shakti dibuat panik dan spontan berlari menerobos masuk ke dalam ruangan kala terdengar suara barang pecah di dalam.
"Ay, kamu tidak apa apa?" tanya Shakti saat melihat gelas pecah yang ada di lantai. Alexa tak sengaja menyenggolnya.
"Biar aku saja, Ay!" lanjut Shakti menahan tubuh Alexa yang akan berjongkok. Dia khawatir Alexa terkena pecahan kaca gelas.
"Kamu mau kemana?" Shakti kembali bertanya, saat dia menyadari Alexa sudah turun dari tempat tidur.
"Aku akan ke toilet." Tanpa berkata lagi Shakti langsung menggendong tubuh mungil yang berusaha memberontak itu menuju toilet. Alexa masih merasa jijik bersentuhan dengannya.
"Jangan lakukan hal itu lagi. Aku tidak ingin kamu menyentuhku!" tegas Alexa yang masih ingin memberi jarak pada Shakti. Tapi, lelaki itu tidak peduli. Begitulah Shakti, jika dia sudah memutuskan bertahan, sedikitpun dia tidak akan memberi celah bagi seseorang untuk menjauh.
Saat Alexa berada di kamar mandi, Shakti segera menghubungi perawat untuk membersihkan pecahan gelas yang ada di lantai.
"Kenapa masih di situ? Aku bisa sendiri." ucap Alexa saat membuka pintu dan menemukan Shakti di depan toilet. Lelaki itu tidak bergeming, dia langsung menuntun Alexa ke sofa meski beberapa kali mendapat penolakan. Tapi, setidaknya Alexa tidak histeris, mungkin jika histeris dia akan memilih mengalah terlebih dahulu karena takut membahayakan kandungannya.
__ADS_1