Rindu Alexa

Rindu Alexa
Bertemu


__ADS_3

Laras mengantar kepergian Pak Tono hingga sampai di halaman depan. Biar bagaimanapun, dia tetap menghormati lelaki yang sering memberinya perhatian pada putranya, termasuk dirinya juga.


Belum sempat masuk ke dalam, Laras sudah menghentikan gerakannya. Dia melihat putranya bertengger di punggung Shakti. Shakti dan Alexa berjalan keluar bermaksud untuk pergi jalan jalan.


Tatapan wanita itu mengiba saat melihat putranya, Laras bisa melihat betapa bocah itu merindukan sosok Bapak yang selama ini dia tanyakan.


Seandainya eyangmu bisa menerimamu, Wa. Mungkin kamu akan berada dalam gendongan bapakmu.


"Dewa, kenapa tidak jalan sendiri?" tanya Laras


saat mereka berada di depannya. Dia terkadang merasa tidak enak jika Dewa terlalu merepotkan Shakti. Dia merasa Dewa selalu diantara sepasang sejoli yang seharusnya sedang menikmati kebersamaan mereka.


"Om Shakti yang meminta Dewa." jawab bocah itu sambil bersembunyi di balik punggung lelaki itu.


"Nggak apa, Mbak." jawab Alexa. Dia tahu jika Laras enggan merepotkan orang lain.


"Dewa senang, kan?" lanjut Shakti dengan menolehkan kepalanya sedikit ke belakang.


"Senang sekali." Bocah itu berlonjak girang di punggung Shakti.


"Kita akan jalan-jalan dulu, Mbak." Alexa berpamitan pada laras membuat Laras mengangguk dan tersenyum.


Kali ini Shakti menggunakan motornya untuk pergi. Dewa terlihat senang sekali kala Shakti meletakkan tubuhnya di atas tangki motor. Iya, sedangkan Alexa duduk di belakang tubuh tegap suaminya.


"Pegangan yang erat, Ay. Jika tidak, kamu bisa diterbangin angin." ledek Shakti dengan menarik kedua lengan istrinya untuk melingkar di perutnya. Wajah bahagia terlukis di wajah tampan lelaki yang saat ini melakukan motornya.


Mendengar olokan suaminya Alexa hanya berdecih kesal. Alexa memang kesal, setiap kali Shakti mengolok tubuhnya yang kurus dan kecil.


Sesekali, Dewa bersorak girang saat motor itu meliuk karena berbelok dan menanjak di jalan yang cukup terjal.

__ADS_1


"Mas ini sudah jauh lo, naiknya." teriak Alexa mulai khawatir, jika saat Shakti tidak mengenal daerah yang sedang mereka lewati. Mereka kini berada di tengah-tengah pepohonan yang tumbuh liar dengan udara yang cukup lembab.


"Tenang sayang, ada Mas Shakti hahahah." teriak Shakti menjawab Alexa, itu karena Shakti sudah pernah menjelajah daerah itu. Alexa hanya terdiam, dia merasa makin lama tingkah suaminya semakin jayus saja.


Alexa mempererat pelukannya, Bahkan dia menyandarkan kepalanya di punggung bidang suaminya. Shakti melirik ke bawah, di tempat di mana tangan kecil yang bertaut memeluknya hingga membuat lelaki itu tersenyum. Ada sensasi sendiri saat dirinya membawa motor bersama wanita yang dia cintai.


Di dekat aliran sungai yang airnya mengepulkan asap, Shakti menghentikan motornya. Aliran air yang tipis dengan bebatuan yang terlihat dari permukaan air.


"Hore... kita sudah sampai!" teriak Dewa girang saat Shakti menurunkannya dari motor.


Sepanjang perjalanan, Shakti mewanti wanti Dewa untuk selalu di dekatnya. Bocah itu memang luar biasa, biasanya anak seumurannya mudah melupakan apa yang dinasehatkan orang dewasa. Tapi, Dewa berbeda. Bocah itu hanya berjingkrak-jingkrak di dekat kedua orang yang mengajaknya.


Melihat Alexa mengelus lengannya sendiri, Shakti membuka jaketnya dan menggantungkannya di bahu kecil Alexa, " kamu pakai saja jaketku, Ay!" titahnya kemudian mengangkat tubuh kecil Dewa dan menggendongnya ala anak koala.


Shakti menggenggam jari- jari mungil Alexa menelusuri hulu sungai yang terlihat mengepulkan asap. Sumber air hangat yang beradu dengan dinginnya atmosfer pegunungan membuat asap mengepul di permukaannya.


Shakti terus saja menggandeng tangan Alexa, hingga mereka berhenti pada sebuah batu besar yang berada di bawah pohon besar.


"Wa, jangan sampai basah bajunya!" ucap Shakti. Dia lupa untuk membawa ganti.


"Om, airnya hangat, Dewa suka." ucap Dewa dengan memercikkan air ke arah Shakti dan Alexa, membuat Alexa spontan memekik.


"Dewa... !" keluh Shakti dengan menatap tajam bocah itu, tapi bukannya takut bocah itu terlihat cekikikan. Dia tahu Shakti hanya menggertaknya.


Mereka bermain air hangat di sungai hingga tidak menyadari tubuh ketiganya sudah basah. Shakti merasa sudah cukup, sebelum Alexa kedinginan. Shakti mengajak dua pengikutnya itu untuk naik ke atas.


Lelaki yang berniat mencari kayu bakar untuk mengeringkan tubuhnya pun meminta Alexa dan Dewa untuk tinggal sejenak di dekat batu karang. Keduanya memang berdiam di sana, hingga Shakti membawa beberapa ranting dan kayu kering.


Shakti pun mulai menyalakan api unggun untuk menghangatkan dan mengeringkan baju mereka. Dia mulai membuka baju Dewa hingga bocah itu hanya mengenakan ****** *****. Dan kemudian membuka kaosnya sendiri untuk di keringkan pada api unggun.

__ADS_1


"Nggak mungkin aku buka baju, Mas." ucap Alexa langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah mendapatkan tatapan Shakti. Dia menatap tajam Shakti sebagai penolakan. Padahal, lelaki itu hanya menggodanya saja.


"Jilbabnya saja, Ay. Disini, Nggak bakal ada orang!" bujuk Shakti.


Alexa terdiam sejenak, dia masih bimbang. Tapi, sejenak kemudian dia membuka jilbabnya dan menyerahkannya pada lelaki di depannya.


Shakti memang menyukai wajah bulat yang dihiasi bibir tipis dan hidung mancung itu tanpa jilbab. Mereka pun mulai menikmati suasana hangat. Dewa kini duduk di pangkuan Shakti sementara Alexa bergelayut manja mendekap lengan kekar lelaki yang bertelanjang dada.


###


Siang itu, Laras mempercepat jalannya setelah mengirim makanan pekerja di sawah. Entah kenapa hatinya begitu berdebar tidak biasanya. Tapi, dia malah mengkhawatirkan Dewa yang sedang pergi bersama Shakti dan Alexa.


Dengan setidik berlari kecil dia memasuki halaman rumah Bu seno. Dia begitu kaget saat melihat mobil dengan plat kota yang pernah disinggahinya beberapa tahun silam.


"Mungkin, keluarga Bu Seno yang lain." gumamnya dalam hati seraya terus melangkah masuk ke dalam rumah, meski kepalanya sesekali menoleh ke arah mobil tersebut.


"Laras...!" panggil Bu Seno saat melihat bayangan wanita berambut panjang itu akan lewat di sebelah samping.


"Iya, Bu." Tanpa berfikir panjang Laras memutar langkahnya, dia bergegas masuk ke dalam rumah bermodel joglo itu.


Deg...


Langkahnya terhenti, bahkan tas besar yang dibawa pulang dari sawah pun terjatuh. Wanita itu berusaha memulihkan kesadarannya kala tubuhnya seolah tidak menginjakkan kaki di tanah. Dia terus menatap sosok yang kini berdiri di depannya. Antara percaya dan tidak. Tapi, detak jantungnya sempat menggila dengan desiran darah yang bergejolak hingga membuatnya hampir limbung.


"Agam... " lirihnya setengah bergumam. Sungguh, dia tidak percaya jika sosok yang sudah dia simpan rapat dalam hatinya kini berdiri di depannya. Air matanya terus mengalir tanpa ada sepatah kata lagi yang bisa diucapkan.


"Laras... " Begitu pun Agam, lelaki itu hampir tidak percaya menemukan kembali Laras. Perempuan yang membawa pergi separuh dari hatinya.


Dia berjalan mendekati wanita yang selama ini dia cari dengan menitikkan air mata. Semua rasa tumpah ruah dalam ruang hatinya. Ada sebuah kerinduan, bahagia, sedih dan sebuah penyesalan yang terdalam yang kini melebur jadi satu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ras!" seru Agam diantara tangisnya yang pecah. Tubuhnya merosot di depan Laras dengan memeluk kedua kaki wanita yang hanya mematung dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Agam tak mampu lagi mengontrol rasa yang meledak di dalam dadanya.


"Maafkan aku, Ras!" ulang Agam dengan tergugu. Dia kini, bersimpuh di kaki Laras, lelaki itu seperti kehilangan seluruh tenaganya. Semua rasa bersalah dan penyesalan kini membuncah dalam hati.


__ADS_2