Rindu Alexa

Rindu Alexa
Belajar Menikmati Keadaan


__ADS_3

Alexa mengerjapkan mata, tubuhnya terasa sulit bergerak seperti biasanya. Seingatnya dia tidur di sofa, tapi saat kesadarannya mulai kembali sempurna, ternyata tangan dan kaki besar itu sudah menindihnya.


Berlahan dia turun dari tempat tidur, sengaja Alexa tidak membangunkan Shakti. Dia masih kesal dengan suaminya. Seperti biasanya dia memutuskan untuk Salat Subuh, tapi kali ini dia memilih salat sendirian.


"Ay, kenapa tidak membangunkanku?" ucap Shakti sambil mengerjapkan matanya. Dia melihat istrinya sudah melipat mukena.


"Sudah tua, seharusnya tahu kira kira untuk bangun." ketus Alexa, entah kenapa rasa kesalnya tidak juga kunjung reda.


Shakti kemudian turun dari tempat tidur, ternyata persolan semalam masih belum berakhir.


"Ay, masalahnya apa? Seharusnya kamu tidak bersikap seperti anak kecil. Aku hanya mengobrol dengan Clarisa, dia hanya meminta maaf atas kericuhan itu." jelas Shakti dengan mendekati istrinya.


"Iya aku seperti anak kecil. Selalu itu yang kamu lontarkan ke aku, Mas. Lalu kenapa kamu menikahiku? Apa rasa bersalah?" Alexa mulai terisak


"Apa memang perlu kalian bicara di luar gedung? Kamu tau, Mas, Aku selalu terpojokkan dengan komentar orang orang tentang pernikahan kita." Wajah putih itu terlihat sudah memerah, air matanya kembali menetes saat ingatannya kembali pada kejadian yang membuat dirinya jadi perbincangan.


"Siapa yang memojokkanmu?" tanya Shakti yang merasa Alexa hanya mengada - ada. Keduanya sudah mulai terlihat serius.


"Setiap di tempat umum mereka selalu berkomentar tentang diriku. Seharusnya pernikahan ini tidak terjadi."


"Alexa... " Kali ini Shakti terlihat serius. Dia menatap tajam istrinya. Tapi, hatinya kembali melemah saat melihat Alexa mulai meneteskan air mata.


"Kita sudah menikah, Ay. Aku tidak ingin ada penyesalan untuk itu." Shakti mulai mendekati istrinya yang sudah menangis. Dia mulai memeluk tubuh ringkih itu.


"Belajar mengerti, Ay. Biar bagaimana pun aku dan Clarisa pernah berhubungan baik. Dan tidak seharusnya setelah menjadi masa lalu, kita saling bermusuhan." Alexa hanya terdiam, dia tak bisa menjawab lagi kalimat suaminya. Memang tidak baik bermusuhan. Tapi, entah kenapa hatinya masih merasa cemburu kala Shakti masih berhubungan dengan sang mantan.


Mungkinkah, aku yang memang ke kanak kanakan? Hingga cemburu tak beralasan. Atau karena aku selalu membayangkan mereka pernah punya perasaan cinta dan takut perasaan itu masih tersisa atau akan tumbuh lagi.


"Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang berada di antar kita. Jika itu sampai terjadi, aku memilih mundur." kalimat Alexa meluncur begitu tegas.


"Tidak akan, Ay. Hanya kamu, I promise you!" janji Shakti mengakhiri perdebatan pagi ini.


Lelaki itu bergegas untuk Salat Subuh. Sedangkan, Alexa memilih untuk pergi ke dapur menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Sayang, nanti jadi ke rumah sakit?" tanya Gayatri yang ternyata sudah ada di dapur.


"Insyaallah, Ma. Jika Mama merasa tidak enak badan, biar Alexa ke rumah sendiri." jawab Alexa, dia tidak ingin terlalu membebani mertuanya hanya karena mengantarnya ke rumah sakit untuk kembali praktek di sana.


"Nggak, kok. Biar Mama Antar kamu dan Mama kenalkan sebagai putri Mama." ucap Gayatri sambil tersenyum. Dia senang bisa mendukung semua yang diinginkan menantunya itu.


"Terima kasih, Ma. Tapi Alexa akan membuat sarapan dulu." senyum bahagia terpancar dari wajah Alexa. Sebentar lagi, dia kan bertemu dengan teman temannya dan kembali menjalani kehidupan yang memang sudah lama dia geluti.


Shakti terlihat menuruni anak tangga dengan pakaian rapi. Tidak seperti biasanya lelaki itu sudah bersiap berangkat ke kantor.


"Pagi sekali kamu pergi ke kantor?" tanya Gayatri.


"Ada meeting dengan klien baru, Ma." ucap Shakti kemudian melirik ke arah istrinya yang masih terdiam.


"Mama dan Alexa nanti akan ke rumah sakit. Mama akan memperkenalkan pada pengurus yayasan jika Alexa putri Mama." ucap Gayatri bermaksud meminta izin pada putranya.


"Iya, Ma. Tapi, kalian harus diantar sopir." ucap Shakti penuh dengan penekanan, dia juga melirik Alexa yang kebetulan berjalan menuju mejanya untuk meletakkan beberapa makanan yang sudah matang.


Semua faham maksud Shakti, bahkan keduanya juga bisa mengerti kenapa Shakti menjadi protect kalau harus berusaha dengan berkendara.


"Asli lo, ini sengaja menyibukkan diri atau memang mengejar target, Num?" tanya Dira kala mereka berjalan keluar dari kelas setelah mengikuti kelas mata kuliah.


"Hanya ingin lulus cepat. Aku akan kuliah keluar negeri! " jawab Hanum membuat Dira menghentikan langkahnya. Dia baru tahu jika sahabatnya mulai tertarik melanjutkan kuliah keluar negeri.


"Lo, nggak sedang melarikan diri dari keadaan, Kan?" sergah Dira yang mulai curiga ada yang tidak beres dengan sahabatnya.


"Nggak, aku hanya ingin meraih cita citaku!" jawab Hanum masih dengan santai. Hanum memang hanya ingin fokus dengan cita citanya.


Mereka mulai berjalan menuju kantin untuk mencari makan siang. Kampus memang sellau ramai di saat pergantian jam.


Langkah Hanum sedikit terhenti, tapi dia langsung menguasai diri untuk bersikap biasa, biasa dalam artian tidak akan mempedulikan Arkha setelah permintaannya pada lelaki yang kini menatapnya untuk menjauh darinya.


Saat ini, Arkha yang sedang menunggu Rania menatapnya tajam. Tapi, tanpa tegur sapa, seolah mereka tidak pernah saling mengenal.

__ADS_1


"Hanum, apa kabar? Makin cantik saja... " suara Bara terdengar menyapa Hanum, mengalihkan fokus gadis itu pada lelaki yang masih menatapnya begitu lekat.


Bara adalah semester akhir yang cukup dikenal seluruh mahasiswa meski lelaki itu jarang terlihat di kampus karena sudah sibuk bekerja pada perusahaan keluarganya.


Sementara itu, Hanum melihat Rania berjalan dengan tersenyum ke arah Arkha, membuatnya bisa mengerti jika mereka sudah mengatur janji sebelumnya.


"Baik, Kak." jawab singkat Hanum membuat Bara bertambah penasaran. Lelaki dengan tubuh tinggi itu mulai mengikuti langkah Hanum dan Dira, hingga mereka masuk ke dalam kantin.


"Boleh, duduk di sini?" tanya Bara kembali meyakinkan, jika gadis cantik di depannya tidak menolak kehadirannya. Bara tahu karakter Hanum tidaklah mudah di tebak.


"Silahkan!" jawab Hanum singkat kemudian matanya melirik Arkha yang masuk ke dalam kantin bersama Rania.


Dira hanya tidak menyangka sahabatnya mengizinkan lelaki untuk duduk satu meja dengannya.


Mungkinkah karena Bara keren, atau Hanum jatuh cinta pada Bara?


Dira memandang Hanum dan Bara bergantian. Dia tidak hanya masih merasa rancu dengan sikap Hanum yang sedikit banyak berubah. Apalagi, saat Hanum mengatakan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri, hal itu yang membuat Dira tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi.


Mungkin, tidak ada yang menyadari betapa terlihat gelisahnya Arkha saat melihat Hanum satu bangku dengan seorang lelaki. Lelaki yang terlihat tidak asing olehnya, tapi dia belum bisa menemukan jawaban siapa lelaki yang saat ini bersama ipar sahabatnya.


"Bang, pesan apa? Aku lihat abang gelisah." ucap Rania menyadarkan lamunan Arkha.


"Sama seperti yang kamu pesan, Ran." ucap a Arkha dia memang pemakan segalanya, jadi tidak terlalu ribet untuk memilih makanan.


"Ada apa, Bang?" tanya Rania.


"Emang kenapa denganku, Ran?" Arkha balik bertanya saat tidak tahu harus menjawab Rania.


"Bang Arkha terlihat gelisah." jawab Rania. Dia sudah membaca sikap Arkha sebelum masuk ke kantin untuk makan siang.


"Nggak kok, Ran. Hanya banyak kerjaan di kantor." Arkha tidak tahu harus menjawab apa. Dia juga tidak tahu kenapa melihat gadis itu bersama cowok membuatnya se cemas ini.


Mungkinkah karena aku sudah menganggapnya adik hingga membuatku seolah mencemaskan setiap lelaki yang terlihat berusaha mendekatinya?

__ADS_1


Gumam Arkha dalam hati, sesekali dia melirik Hanum yang terlihat lebih banyak diam. Tapi yang dia tahu, Hanum memang anaknya cuek dan sulit untuk bicara manis seperti perempuan biasanya.


__ADS_2