Rindu Alexa

Rindu Alexa
Penjelasan Shakti


__ADS_3

Hanum berdiri di luar ruangan Rania karena dia memang tidak tahan mendapati tatapan kebencian Rania padanya, tapi meninggalkannya sendiri dia tidak tega. Belum ada teman kampus atau teman kos Rania yang datang menjenguk, sedangkan keluarganya pun jauh.


"Bang, aku izin tidak bisa ke kantor hari ini. Aku mengalami kecelakaan. Hanum sudah mendorongku dari tangga." Hanum mengerutkan keningnya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Bagaimana Rania melakukan hal sepicik itu?


"Licik... " gerutu Hanum dalam hati. Dia begitu kesal mengetahui jika Rania ternyata sangat jahat.


Hampir sepuluh menit Hanum menunggu Rania di luar ruangan, hingga akhirnya lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu berjalan dengan tergopoh- gopoh mendekat kearahnya, ekspresi cemas pun tak bisa disembunyikan oleh Arkha.


"Hanum..." sapa Arkha kemudian berlalu dan masuk ke dalam ruangan.


Reaksi Arkha membuat Hanum merasa heran. Begitu cemaskah suaminya pada gadis yang kini berada di dalam ruangan, hingga hanya sekilas saja menyapa dirinya? Atau terkesan lebih tidak peduli.


"Bagaimana keadaanmu, Ran? Apa kata dokter?" tanya Arkha setelah masuk ke dalam. Tapi, suara bariton itu masih terdengar jelas dari luar.


Melihat suaminya yang begitu mencemaskan asistennya membuat hati gadis yang sedari tadi di luar ruangan pun mencelos sakit. Iya, merasa di abaikan dan Arkha memilih lebih percaya pada asistennya itu.


Sejenak dia berfikir, hingga Hanum memutuskan untuk pergi. Terserah apa kata orang, meninggalkan Rania dalam keadaan seperti ini.


"Hanum, jangan kemana- mana!" suara Arkha terdengar begitu dingin. Lelaki yang terlihat begitu cemas itu melangkah menuju administrasi.


Hanum kembali duduk, dia terlihat kesal. Bukan sekedar kesal, hatinya merasa nyeri saat Arkha lebih peduli pada Rania dari pada dirinya, bahkan tatapan mata Arkha terkesan mengintimidasinya membuat hatinya semakin dirundung rasa kecewa.


Setelah semua selesai Arkha memutuskan untuk mengantar Rania ke kos. Kondisi Rania baik baik saja, hanya saja ada sedikit memar dan tangan sebelah kiri terkilir. Tapi, laporan pemeriksaan mengizinkan Rania segera pulang.


Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Sesekali Arkha hanya melirik Hanum yang terus memalingkan wajah ke luar jendela. Hanum memang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Bang, Terima kasih sudah peduli denganku." ucap Rania dengan menatap wajah Arkha dari kaca spion mobil.


"Sama- sama, Ran. Nanti kamu urus cuti kamu selama tiga hari biar kamu benar benar pulih." lanjut Arkha membuat Rania meng- iya- kan nya dengan senyum yang melekat di wajahnya. Rania merasa yakin, selama sakit Arkha akan lebih memperhatikannya seperti saat ini.


Arkha menginjak rem mobilnya saat tiba di rumah kos putri. Dia pun keluar dan membukakan pintu untuk Rania. Di dalam mobil, Hanum melirik sejenak perlakuan suaminya pada gadis itu. Matanya memanas tapi di tahannya agar tidak meledak. Hanum memilih memalingkan wajahnya dari kedua makhluk itu.


Setelah, Rania berjalan tertatih masuk ke dalam kos, Arkha pun kembali masuk ke dalam mobil. Dia melihat Hanum sejenak sebelum menghidupkan mobilnya dan melaju menuju apartemen.

__ADS_1


Dia tahu Hanum marah, tapi lelaki itu memilih diam hingga sampai di apartemen, dia akan bicara pada istrinya.


Hati yang tercokol dengan rasa marah dan penuh dengan rasa kecewa membuat Hanum enggan menoleh ke arah Arkha selama dalam perjalanan. Dia merasa Arkha memang sangat perhatian dengan Rania. Hanum berfikir, mungkin Rania benar jika Arkha terpaksa menikah dengannya. Tidak ada cinta atau pun rasa sayang, dia hanya merasa kasihan padanya. Sesekali, Hanum menarik nafasnya begitu dalam berusaha menghilangkan sesak di dadanya seperti saat ini dia berhasil menahan air matanya meski mata itu sudah memanas dan mengembun.


"Braaakk... "


Pintu mobil dibuka dan kemudian tutup dengan kasar saat mobil itu sudah sampai di baseman apartemen. Hanum pun berlari kecil disusul langkah panjang Arkha menuju unit apartemennya.


"Hanum... " panggil Arkha saat masuk kedalam tapi belum mendapati istrinya. Pintu kamar terbuka, lelaki itu yakin Hanum sedang berada di kamar.


Betapa terkejutnya Arkha, saat Hanum mengeluarkan semua pakainya dari dalam lemari.


"Num, apa apaan ini?" Dengan cemas Arkha menghampiri Hanum, tapi Hanum sudah tak bergeming. Dia terus saja mengeluarkan pakaiannya.


"Hanum... !" Bentak Arkha, membuat Hanum menoleh. Dia semakin terkejut saat mata cantik yang di penuhi dengan air mata itu menatapnya penuh dengan amarah.


"Kamu ngapain seperti ini?" Arkha langsung menahan tangan mungil yang menjulur ke dalam lemari. Dan memaksa Hanum memutar sedikit badan untuk menghadap ke arahnya.


"Aku akan pulang! Kita sebaiknya berpisah saja." ujar Hanum tanpa ragu, tatapannya seolah menantang Arkha yang kini menautkan kedua alisnya karena merasa heran. Hanum yang labil, tiba tiba saja ingin berpisah.


"Buat apa pernikahan ini. Kak Arkha terpaksa,kan? Akuu juga tahu siapa yang Kak Arkha cintai. Lagi pula Kak Arkha tidak pernah percaya padaku, kan? Aku tidak pernah menyakiti Rania tapi Kak Arkha menyalahkan aku tanpa bertanya padaku?" Hanum melontarkan kalimat yang sudah mendesak dalam dada dengan isakannya yang sulit dia tahan. Hanya teramat sakit hingga dia sudah tidak bisa berpura- pura untuk kuat.


"Hanum... " Arkha menarik paksa tubuh mungil itu meski terjadi pemberontakan, tapi tenaganya jauh lebih kuat untuk tetap memeluk istrinya. Dia tidak menyangka jika Hanum merasa seburuk itu selama ini.


"Aku selalu percaya padamu, Num!" ucap Arkha membuat tenaga Hanum semakin melemah. Arkha tidak hanya membual, dia sangat mengenal Hanum. Meskipun dia bar bar, tapi gadis itu punya hati yang baik jadi baginya tidak masuk akal jika Hanum melakukan hal sejahat itu.


"Tapi kenapa tadi menatapku seperti itu? Aku bukan anak kecil yang tidak bisa mengerti ekspresi Kak Arkha yang penuh kemarahan padaku tadi." ucap Hanum masih dengan sesunggukan. Dia memang menumpahkan rasa kesaldan kecewanya yang sejak tadi dia tahan.


"Lihat Kak Arkha, Num!" titahnya saat merenggangkan pelukan meski jarak mereka begitu tipis. Kedua pasang mata itu saling beradu, seolah menuntut Hanum untuk bisa menemukan kebenaran di dalamnya.


"Aku panik, Num. Panik jika Rania terluka parah, dan memperpanjang urusan ini. Sementara, aku hanya tahu keadaannya dari ceritanya. Kamu istriku, tidak mungkin aku membiarkanmu dalam kesulitan." Arkha mencium puncak kepala istrinya. Dia tidak akan mengelak lagi, jika dia sangat menyayangi Hanum.


###

__ADS_1


Alexa kembali melihat jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul sebelas malam tapi Shakti belum pulang. Beberapa kali Alexa menghalau rasa khawatirnya, tapi semua itu percuma. Ada sisi kecil di dalam sana yang terus saja untuk mengkhawatirkan suaminya. Apalagi di luar hujan turun lebat dan di iringi dengan petir.


Sesekali dia mendesah panjang setelah mengintip dari tirai jendela kemudian duduk di sofa. Biasanya paling malam Shakti pulang jam sembilan. Tapi ini sampai jam sebelas malam, pikiran Alexa begitu was- was hingga rasanya dia tidak tahan untuk menghubungi lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


"Ceklek... " baru saja Alexa akan mengambil ponselnya, tapi pintu sudah terbuka. Dia juga sama sekali tidak mendengar deru suara mobil, mungkin karena di luar rintik hujan terdengar sangat berisik.


"Ay, kamu belum tidur?" tanya Shakti yang tidak biasa melihat Alexa duduk di sofa ruang tamu.


"Tidak bisa tidur!" ucap Alexa dengan menatap lelaki yang basah bayah kuyup dan mengeratkan rahangnya karena rasa dingin.


"Kenapa?" Shakti masih sempat bertanya.


"Emang tidak bisa tidur. Seharian sudah tidur." bohong Alexa.


"Kalau tidak masuk nanti itu lantainya banjir." Shakti melihat ke bawah. Benar juga, lantai sudah mulai menggenang karena tetesan air dari baju dan tubuhnya.


"Aku masuk dulu, Ay!" Lelaki itu pun segera masuk ke dalam kamar diikuti Alexa. Tanpa permisi dan bicara sepatah katapun, Alexa pun membuntuti Shakti. Hal itu, membuat Shakti mengurungkan niat menutup kembali pintu kamar dan menatap istrinya yang berjalan menuju lemari yang terletak di pojok kamar.


"Cepetan mandi! Aku tidak ingin ada orang sakit di sekitarku." Meski kalimat istrinya masih terdengar ketus tapi Shakti tersenyum. Alexa masih begitu memperhatikannya meski wajahnya masih terlihat masam.


Setelah menyiapkan baju untuk Shakti, Alexa pun berjalan keluar untuk membuatkan jahe hangat dan memanasi sup yang sudah sejak tadi dia masak.


Dia memang masih kesal dengan Shakti tapi dia juga mengkhawatirkan Shakti, meski dalam hatinya juga terlintas lelaki itu pulang malam untuk menemui mantan kekasihnya itu.


"Ini untukku, Ay?" tanya Shakti saat melihat jahe hangat dan di sebelahnya ada susu yang dia yakin itu susu hamil.


"Hmmm... cepat makan keburu dingin." ucap Alexa, dia hanya menyiapkan piring dan sendok tanpa mengisinya. Tapi sekali lagi Shakti sudah bersyukur Alexa sudah terlihat peduli.


"Aku mohon duduklah!" Shakti menahan lengan Alexa saat wanita itu akan membawa pergi cangkir susunya untuk menjauh. Tanpa bicara lagi Alexa pun duduk.


"Kamu sudah makan?" tanya Shakti sebelum menyendok makanannya.


"Sudah." jawab Alexa kemudian menyesap isi gelasnya.

__ADS_1


"Aku terlambat karena ada meeting dadakan, dan kemudian ban kempes di jalan." jelas Shakti tapi tidak dijawab oleh Alexa. Dia tidak ingin istrinya berfikir lebih buruk lagi.


"Iya..." Alexa hanya menjawab singkat. Dia tidak tahu lagi harus bicara apa, yang penting Shakti tidak bertemu dengan mantannya saja dia merasa sangat lega.


__ADS_2