Rindu Alexa

Rindu Alexa
Geram


__ADS_3

Sejak hubungannya dengan Alexa berakhir. Shakti memilih fokus dengan perkembangan perusahaan dan beberapa usaha lainnya. Hanya sesekali, terkadang dia mencoba menemui Alexa dengan alasan yang terkesan dia yang seolah sudah tidak peduli dengan gadis yang selalu dalam rindunya itu.


"Permisi, Pak." Bimo berjalan masuk menghampiri Shakti yang masih disibukkan dengan laptopnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Shakti yang kemudian menoleh ke arah Bimo.


"Ada yang ingin bertemu, Pak."


"Mbak Clarisa." lanjut Bimo dengan ragu. Sejak orang kepercayaannya melaporkan pertemuan Clarisa dan Alexa membuat Shakti mengambil sikap tegas, jika Clarisa tidak bisa lagi masuk ruangan kerjanya dengan sembarang.


Shakti sudah tahu, jika Clarisa membuat Alexa menangis tapi tidak tahu apa yang sudah diperbincangkan dua wanita yang pernah mempunyai hubungan special dengannya.


"Suruh dia masuk!" jawab Shakti dengan melirik jam model Clasik yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Mas Bimo boleh pulang dulu! Mungkin malam ini saya akan lembur." lanjut Shakti. Dia melihat sudah pukul tujuh malam.


"Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu." pamit Bimo sebelum keluar ruangan. Dia tidak lagi banyak bicara karena bosnya sekarang terkesan lebih dingin.


Lelaki dengan kaca mata tebal itu keluar dan mempersilahkan Clarisa masuk ke dalam.


"Selamat, malam." sapa Clarisa dengan tersenyum ke arah Shakti yang hanya menautkan ke dua alisnya. Dia belum bisa membaca alasan Clarisa datang menemuinya.


Melihat tatapan Shakti yang seolah mempersilahkan dia masuk membuat gadis yang menenteng paper bag yang berisi makanan, itu pun melangkah masuk menghampiri meja kebesaran lelaki tampan yang menatapnya penuh selidik.


"Apa kabar, Shak?" sapa Clarisa dengan santai sambil meletakkan paper bagnya.


"Baik. Silahkan duduk!" jawab Shakti dengan nada datar, bahkan dia kembali menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian menutup laptop yang ada di depannya.


"Aku membawakan makan malam untukmu! Aku sengaja memasak sendiri makanan kesukaanmu." ucap Clarisa dengan kikuk. Dia tidak pernah membayangkan sikap Shakti menjadi sedingin itu, bahkan lelaki itu terkesan enggan berbicara dengannya.


"Tidak usah merepotkan dirimu. Kita sudah tidak ada hubungan lagi." jelas Shakti mempertegas hubungan mereka. Lelaki dengan tatapan tajam itu kemudian berdiri dan melangkah menuju jendela kaca yang memperlihatkan ramainya lampu kota di malam hari.


Clarisa berusaha menenangkan hatinya saat mendengar kalimat yang masih terasa menyakitkan baginya itu meluncur dari bibir mantan kekasihnya. Gadis itu pun beranjak menghampiri lelaki yang masih dikejarnya dengan berbagai cara.

__ADS_1


"Please, jangan langsung membuat jarak diantara kita, Shak." ucap Clarisa dengan meraih tangan lelaki di depannya.


"Aku terlalu mencintaimu dan aku butuh waktu untuk membiasakan diri tanpamu." lanjut Clarisa dengan mata berkaca kaca. Dia menggenggam tangan berotot itu.


"Dan itu akan terus menyakitimu! Belajarlah menerima kenyataan." sahut Shakti dengan menarik tangannya dan memasukkan ke dalam saku celana dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Salahku apa, Shak?" teriak Clarisa membuat Shakti kembali menoleh ke arahnya.


"Gadis itu hanya memanfaatkanmu! Dia hanya gadis sederhana yang hanya menginginkan hidup nyaman. Dia hanya mencintai uangmu dan fasilitas darimu." Clarisa mulai meracau tak karuan. Dan itu membuat Shakti menatapnya sinis dan tersenyum miring. Mungkin itu yang dia katakan pada Alexa hingga membuat gadis Alexa menangis. Pikir Shakti.


"Sadarlah, Shak! Gunakan kewarasanmu. Dia tidak lebih dari ****** yang berpura-pura alim!"


"Diam!" bentak Shakti membuat Clarisa berjingkat dan seketika terbungkam. Suara baritonnya menggema di seluruh ruangan. Dengan wajah murka, Shakti menatap tajam Clarisa. Ini pertama kalinya dia melihat Shakti semarah ini.


"Keluarlah!" Shakti menunjuk pintu ruangannya.


"Sadarlah, Shak." lirih Clarisa dia memberanikan diri mengucapkan kalimat itu.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah mengusik Alexa." Shakti tahu Alexa seperti apa dan latar belakang keluarganya. Bahkan gadis naif itu tidak pernah meminta apapun padanya.


"Keluarlah! Atau aku akan memanggil security!" suara Shakti terdengar penuh dengan penekanan.


Clarisa pun menangis. Dia sangat marah dan kecewa. Ternyata semua yang dia lakukan tidak bisa mengembalikan lagi hubungannya dengan lelaki yang bisa dia banggakan di depan teman sosialitanya.


Kepergian Clarisa membuta Shakti menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia menghela nafas, mengatur emosi yang sudah meledak. Dia tidak bisa membayangkan perasaan Alexa jika Clarisa benar benar memakinya seperti itu, menyalahkan semua pada Alexa atas kandasnya hubungan antara dirinya dan Clarisa.


###


Alexa sedang membaca sebuah buku tentang jurnal kedokteran. Dia hanya tidak ingin waktunya kosong dan memikirkan hal yang tidak penting jika dia tidak punya kegiatan.


"Tok ... tok...tok ...."


" Kak..." panggil Zoya saat saat membuka pintu kamar putrinya. Alexa terlihat duduk di sofa yang ada di balkon dengan membaca sebuah buku.

__ADS_1


"Ada apa, Ma." tanya Alexa saat melihat Mamanya masuk ke dalam rumah.


"Dicari Dokter Agam." sambut Zoya sambil tersenyum menggoda.


"Kayaknya bakal ada yang cepat move on ,ya." Masih menggoda Alexa yang tersenyum ke arah mamanya.


"Ma, Ale akan makan malam bersama Dokter Agam. Boleh, Ma?" tanya Alexa yang sebenarnya sudah mengatur janji dengan Dokter Agam. Tapi, dia belum bersiap karena belum meminta izin mamanya.


"Tentu boleh. Dokter Agam tadi sudah bicara sama, Papa." jelas Zoya menjelaskan saat di bawah, Agam sudah menemui Hans untuk mengajak Alexa dinner.


"Baiklah, Alexa akan siap siap dulu." ujar Alexa yang kemudian masih ke dalam walk in closet untuk berganti.


Alexa berjalan menuruni tangga dengan gaya simple dan elegan. Wajah cantik yang disapu dengan make up tipis membuatnya terlihat sangat cantik. Agam yang melihat kehadiran Alexa pun sangat terpesona menatap wajah yang terlihat lebih cantik dari biasanya.


"Ayo Dok, kita berangkat sekarang." ucap Alexa kemudian melenggang bersama Dokter Agam meninggalkan kediaman bernuansa putih itu.


Mobil Innova itu pun berhenti tepat di depan sebuah resto berbintang. Dokter Agam pun terlihat bersemangat membukakan pintu untuk Alexa saat turun dari mobil.


"Jangan berlebihan, Dok. Tapi, Terima kasih." ucap Alexa sambil tersenyum ramah.


"Sudah sepantasnya, Lexa." Mereka pun berjalan bersama memasuki resto. Agam pun sering mencuri pandang gadis yang punya senyum manis itu. Lelaki itu seperti tidak ada bosannya melihat wajah ayu Alexa.


"Ayo, aku sudah memesan meja nomer 15." ajak Agam. Dengan senyum yang tidak pernah surut lelaki itu menggiring Alexa ke meja yang sudah dia pesan.


Meja yang sudah ditata begitu rapi dengan sebuah bucket bunga yang sangat cantik sudah dipersiapkan untuk Alexa.


"Dok, ini berlebihan." ucap Alexa saat melihat semua yang sudah dipersiapkan Agam.


"Tidak masalah, Lexa. Tidak setiap hari bisa mengajakmu dinner." jawab Agam, dia juga susah memesankan menu spesial yang ada di resto.


Mereka berbincang seputar rumah sakit dan pendidikan spesialis yang tengah dijalankan Agam. Dan mungkin akan di susul Alexa dengan pilihan yang berbeda. Alexa memang ingin sekali menjadi dokter spesialis anak.


Shakti yang bertemu kliennya di restoran yang sama pun menatap pasangan yang terlihat bahagia itu dengan emosi. Rahangnya mengeras menahan ledakan yang meledak di dalam dadanya. Rasanya dia ingin menyeret Alexa dan membawa pergi gadis yang terlihat begitu anggun dan elegan malam ini. Dia bisa melihat Alexa yang terlihat berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Baiklah, kita bisa melanjutkan kesepatakan ini nanti, saat saya berkunjung ke kantor anda." ucap Shakti yang ingin mengakhiri pertemuannya. Tapi memang sudah hampir dua jam dia bernegosiasi dengan kliennya. Dan saat melihat pandangan yang membuatnya geram dia sudah tidak bisa lagi fokus untuk berfikir.


Bersambung


__ADS_2