
Alexa benar benar tidak berselera makan, sedari tadi otaknya berfikir bagaimana bisa, dia harus satu kamar dengan lelaki yang saat ini terus tersenyum cemeh padanya. Seolah olah menertawakan kekalahan musuhnya.
"Shakti nanti akan pulang membawa Salma, Tante. Kemarin, Papa dan Mama mertua sudah bingung mencari keberadaan Salma." ucap Shakti dengan menyuapkan sendoknya ke dalam mulut untuk yang terakhir kalinya.
"Tapi kamu tidak cepat-cepat pulang karena sudah menemukan istrimu, kan?" Tante Gendis yang masih kangen keponakannya pun berusaha menahan Shakti.
"Berarti Dewa akan sendiri lagi bersama Ibu dan Uti saja." bocah itu tertunduk lesu saat mendengar dua orang dewasa itu akan meninggalkannya.
"Loh, di sini Dewa juga masih punyak banyak teman, kan?" Laras berusaha menghibur putranya.
"Nanti Om sama Tante Salma akan datang ke sini lagi." Kalimat Shakti membuat Dewa mengangguk pelan.
Alexa yang melihat raut wajah sendu Dewa menjadi begitu iba. Ada sorot kesedihan dari ceruk mata bocah itu. Sebulan lebih dia tinggal bersama Dewa, sudah tentu dia sudah menyayangi Dewa dan sesuatu yang menjadi dambaan Dewa yaitu menunggu Bapaknya pulang.
"Besok kita main ke air terjun, ya!?" Kalimat Alexa membuat Dewa mendongak ke arahnya.
"Sama Om Shakti, ya!" ucap Dewa, tatapan bocah itu penuh pengharapan, seketika raut wajah Alexa yang terlihat malas.
"Sip! Jagoannya, Om. Besok kita akan bermain air. " sahut Shakti, lagi-lagi keberuntungan sedang berada di pihaknya.
Mereka mengakhiri makan malam dengan cukup tenang dan ramah. Setelah itu Laras menidurkan Dewa di kamar Bu Seno. Bocah itu bilang ingin bersama Uti, dan biasanya membuat mereka bertiga tidur bersama di kamar Bu Seno.
Shakti menatap Alexa yang duduk di depan Rumah. Kasian sebenarnya melihat wajah sendu istrinya. Dia tahu, Alexa dengan keluarganya, dan saat ini mungkin dia sedang merindukan keluarganya.
"Apa seperti ini yang sering kali kamu lakukan saat menjelang tidur?" suara Bariton itu mengagetkannya, bahkan Shakti sudah memeluk bahu kecil istrinya hingga membuat Alexa tersentak kaget.
"Terus mau ngapain lagi? Listrik tidak ada, Signal pun tidak sampai di sini, bahkan aku sudah tidak punya lagi ponsel." sahut Alexa dia masih menatap pendar bintang di langit yang mungkin sulit sekali dia temui suasana seperti ini.
"Kamu tidak ingin pulang, Ay?" tanya Shakti dengan mengelus bahu kecil istrinya.
__ADS_1
"Aku merindukan, Mama. Aku merindukan Hanum dan Aleks." lirih suara Alexa yang terdengar sama dengan suara jangkrik.
"Papa?" tanya Shakti, dia ingin mendengar cerita lebih lengkapnya dari Alexa. Tapi Alexa hanya terdiam dan kemudian menunduk. Ada rasa bersalah pada papanya karena dia telah mengecewakannya.
"Papa merindukanmu, Ay." Kalimat Shakti membuat Alexa menoleh, gadis itu menatap sosok di sebelahnya dengan suasana remang remang.
"Iya, aku sempat melihat Papa merasa terpukul saat membaca suratmu."
"Benarkah?" Alexa malah lebih merasa bersalah saat mendengar semuanya.
"Iya, Kami pulang bersama setelah Papa menghajarku habis-habisan. Iya sampai babak belur."
"Kamu tahu? Hampir Empat hari, lebamnya baru mulai pudar." jelas Shakti.
"Aku malah berharap sampai satu tahun!" jawaban Alexa di luar dugaannya di kira hatinya akan luluh, ternyata malah cuek saja. Tapi, dia memang sangat merindukan Papa Hans. Iya, rindunya semakin bertumpuk untuk keluarganya.
"Tega, Ay." Shakti langsung mengejar Alexa yang berjalan masuk. Ayu- nya benar benar buas.
Lelaki itu dengan langkah panjang mengikuti Alexa yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Sayang...sudah siap, ya? Kok masuk kamar duluan?" goda Shakti dengan mengunci pintu kamar. Lelaki yang senang sekali melihat istrinya gugup itu tersenyum licik. Alexa memang sudah dewasa tapi untuk urusan percintaan dia terlalu picisan layaknya gadis yang baru mengenal lawan jenis.
Seketika Alexa menoleh, raut wajahnya seketika menjadi cemas. Dia takut jika suaminya benar benar menagih malam pertamanya saat ini.
Langkahnya mundur hingga betisnya menabrak tempat tidur dan membuatnya terduduk. Sementara, Shakti menghampiri Alexa yang terduduk di pinggir tempat tidur. Lelaki itu tertawa dalam hati melihat ketakutan Alexa meski wajahnya terlihat serius menatap istrinya yang sangat gugup.
Dia berdiri di depan tubuh mungil yang tidak di sadarinya mulai condong ke belakang untuk memberi jarak pada lelaki yang saat ini menatapnya tajam.
"Jangan sekarang, Mas! Aku belum siap." ucap Alexa dengan suara bergetar. Dia tidak bisa menutupi lagi rasa cemasnya.
__ADS_1
"Lepas jilbabmu, Ay!" sambut Shakti dengan menatap tajam istrinya.
"Tapi... "
"Atau aku yang melepasnya?" tanya Shakti dengan membungkukkan tubuhnya. Saat tangannya akan menyentuh jilbab yang istrinya kenakan, tapi Alexa langsung melepasnya.
Shakti memang suka, saat rambut lurus itu tergerai indah, pipi cabi yang di hiasi lesung pipit membuat Alexa terlihat lebih menggemaskan.
"Kapan, kamu siapnya? Kamu tidak bisa menolak seorang suami jika sudah menginginkanmu." ucap Shakti yang terus menggerakkan tubuhnya maju ke depan saat Alexa beringsut mundur. Bukannya menjauh tapi tubuh mungil itu malah terjatuh dan posisinya yang berbaring membuat Shakti lebih leluasa untuk mengkungkungi tubuh yang seolah pasrah itu.
Dengan mencium pipi yang sudah merona itu, Shakti menggulingkan tubuhnya dengan mengeratkan lengan kokohnya pada pinggang istrinya.
"Astaga, Ay. Mana ada orang mau melakukan malam pertama tubuhnya se kaku ini?" Shakti berbicara tepat di tengkuk putih istrinya hingga membuat Alexa merinding. Bahkan lengan kokoh itu masih memeluk tubuh mungil Alexa.
" A- aku..." kalimat Alexa menggantung, kala dia merasakan Shakti mendaratkan ciuman di tengkuknya, dia hanya memejamkan mata menahan rasa geli geli yang aneh.
"Rileks ,Ay...!" Bukannya rileks tapi tubuh Alexa spontan masih kaku, kala hembusan nafas Shakti mengelus bagian yang cukup sensitif baginya.
Alexa berusaha rileks, dia juga berusaha menetralkan kembali degupan jantungnya yang perpacu, bahkan aliran darahnya yang berdesir kuat membuat tubuh gadis itu panas dingin. Tapi itu sangat sulit di lakukannya.
Shakti bisa mengerti, tidak mungkin dia akan melakukannya secepat ini. Alexa butuh beradaptasi dengan apa yang dinamakan sentuhan. Mungkin, kalau usianya remaja akan mudah terbawa suasana, tapi usia Alexa sudah dewasa. Logikanya sudah berjalan dengan bagus, apalagi selama ini otaknya sudah terdoktrin jika kegiatan saling menyentuh lawan jenis itu sangat tabu.
Saat hidung mancung itu terus menghidu wangi tubuh istrinya, sesekali dia mencium tengkuk putih dengan kulit yang terasa lembut itu membuat gelayar aneh timbul dalam diri lelaki itu. Entah kenapa, di dekat Alexa adik kecilnya mudah sekali berdiri, seperti sangat sensitif jika berdekatan dengan sang bidadari.
"Jangan bergerak, Ay! Yang di bawah sudah berontak. Kegesek sedikit saja, aku mungkin tidak bisa menahannya." ucap Shakti membuat Alexa hanya mematung, memejamkan mata dengan rapat. Alexa juga merasakan rasa geli yang tidak biasanya di bagian yang terkena tonjolan itu.
Alexa memang benar benar terdiam, dia terkungkung dalam lengan kokoh itu. Dia juga tidak berani bersuara hingga lama lama rasa lelah dan mengantuk menghampirinya.
. Bersambung....
__ADS_1