
Shakti berjalan mendekati Alexa, dia menekuk lututnya untuk bisa melihat lebih dekat istrinya yang masih terisak.
"Maafkan aku, Ay." pinta Shakti, dia bermaksud mengusap wajah sembab yang kini tertutup sebagian jari-jari mungil pemiliknya.
Lelaki itu menatap wanita yang kini terlihat begitu terluka pun merasa menyesal. Tidak seharusnya dia membentak istrinya, atau bersikap sekasar itu.
"Ay, maafkan aku! Aku mohon jangan menangis lagi!" ucap Shakti dengan lirih. Dia tidak tahu lagi cara menghentikan tangis istrinya.
Lelaki itu memutuskan untuk duduk di lantai dan bersandar pada nakas berbahan kayu jati. Kedua tangannya kini bertumbuh pada kedua kaki yang sedang di tekuknya. Dadanya terasa nyeri saat isak tangis itu terus menggema di telinganya.
Di kantor ada beberapa masalah yang cukup pelik hingga membuat lelaki yang saat ini terlihat kacau itu mudah tersulut emosi.
"Ay, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin kamu mengerti posisiku. Dinda membutuhkan bantuan. Mana mungkin aku tidak peduli. Aku juga melihat kakinya juga memar." Shakti masih berusaha menjelaskan, meski tidak ada jawaban dari Alexa.
Suasana kini berganti hening. Isak tangis Alexa pun mulai tak terdengar lagi. Berlahan, wanita itu bangkit dan mengusap kedua matanya yang sudah membengkak.
"Ay... bicaralah. Kamu boleh marah padaku. Tapi jangan diam saja kayak gini." ucap Shakti dengan berusaha mengambil tangan kecil itu, tapi Alexa segera menepisnya. Wanita yang matanya sudah sembab itu berjalan menuju kamar mandi.
Shakti masih menunggu Alexa keluar dari kamar mandi. Tidak ada yang lebih mencemaskan, kecuali diamnya istrinya itu. Dia tidak bisa lagi memprediksi apa yang akan dilakukan Alexa nanti.
Beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk mengusir segala bentuk keresahannya. Tapi tetap saja dia belum tenang karena sejak tadi Alexa belum juga keluar dari kamar mandi.
Sambil menyugar kasar rambutnya dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Shakti bermaksud untuk mengetuk pintu kamar mandi. Tapi, saat akan mengangkat tangannya, pintu kamar mandi terbuka. Alexa sudah terlihat segar dengan wangi vanila yang terendus begitu manis di hidung.
"Ay, aku mohon. Bicaralah...!"
"Semua tidak akan selesai dengan hanya diam saja." bujuk Shakti mengejar istrinya yang berhenti di depan cermin meja rias.
"Terus aku harus bicara apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan? Urus saja itu penjaga villamu yang kamu anggap polos itu." kalimat Alexa membuat Shakti terbungkam dia tidak akan bicara apapun meski sebenarnya dia ingin membantah segala amukan Alexa. Apalagi saat melihat mata bengkak itu kembali berkaca kaca menahan tangis. Shakti memilih untuk mundur dan tidak membahasnya lagi.
Alexa kembali membaringkan tubuhnya, kali ini dia sudah bergelung selimut. Suasana kembali mencekam di dalam kamar. Shakti hanya bisa menatap istrinya dari sofa tempat dia yang saat ini mendudukkan tubuhnya yang terasa lelah.
Beberapa jam mereka masih terdiam dengan pikiran masing masing. Dari tempat duduknya Shakti terus menatap istrinya meskipun sedikitpun Alexa tidak menoleh sama sekali. Hingga akhirnya, berlahan Alexa benar benar tertidur.
__ADS_1
"Ya ampun, Ay. Segitunya jika kamu marah!" ucap Shakti dengan kembali mengusap wajahnya secara kasar.
"Aku juga tidak bermaksud membentakmu, Ay. Aku hanya ingin kamu mengerti posisiku." gumam Shakti hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Lelaki itu kemudian berdiri dan membuka pintu kamarnya ternyata Pak Agus yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mas, makan malam sudah siap. Dan Terima kasih sudah menolong anak Bapak." ucap Pak Agus.
"Bagaimana kondisi Dinda?" tanya Shakti.
"Sudah jauh lebih baik setelah diurut. Sekarang Dinda saya minta untuk di rumah dulu."
"Ohh... "
"Kalau begitu saya permisi, Mas." pamit Pak Agus.
Shakti pun menutup kembali pintu kamarnya. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa lelahnya. Tapi belum juga dia masuk ke dalam kamar mandi, ponsel Alexa berdering.
Shakti memutuskan untuk menghampiri ponsel istrinya yang tergeletak di nakas.
"Iya, Pa?" jawab Shakti saat membuka layar ponsel Alexa.
"Ale mana?" tanya Hans saat dia melihat wajah menantunya itu.
"Alexa sudah tidur." jawab Shakti dengan jantungnya yang berdetak kencang. Lelaki itu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Alexa.
"Tumben Ale tidur jam segini." gumam Hans tapi masih terdengar oleh Shakti.
"Dia lelah sepertinya, Pa." jawab Shakti dengan sedikit ragu.
Lelah menangis
gumam Shakti dalam hatinya.
__ADS_1
Coba saja jika mertuanya tahu mata putrinya bengkak, dia bisa digebukin untuk yang kedua kalinya oleh lelaki yang selalu menatapnya sinis.
"Baiklah kalau begitu." Hans langsung menutup panggilannya. Sedang Shakti sedikit bernafas lega.
###
Agam memutuskan membawa Laras dan Dewa ke rumah mamanya terlebih dahulu. Iya berharap sebelum mencatatkan pernikahan secara resmi. Agam berharap Bu Dita bisa menerima Laras dan Dewa.
"Bapak, itu rumah siapa?" tanya Dewa masih dalam gendongan Agam. Bocah itu menunjuk ke arah rumah mamanya.
Agam menggendong Dewa dan satu tangannya kini menggenggam tangan dingin Laras saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah mamanya.
"Assalamu'alaikum, Ma!" ucap Agam yang kemudian mendapat jawaban dari dapur.
Dengan langkah tergesa Bu Dita mencari sumber datangnya suara. Dan seketika langkahnya terhenti, saat melihat seorang anak kecil dalam gendongan putranya dan di sebelahnya telah berdiri sekarang wanita yang pernah dia kenal.
"Apa kabar, Bu?" sapa Laras dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas kedua dress yang dia kenakan untuk sedikit menghilangkan kecemasannya.
"Maksudmu apa, Gam. Kenapa kamu membawa mereka ke sini?" tanya Bu Dita terlihat begitu marah pada Agam.
"Aku sudah menikah dengan Laras, Ma. Ini Dewa cucu Mama." ucap Agam dengan menurunkan Dewa dan meminta anaknya untuk salim pada Utinya.
"Nggak, Gam. Mama tidak akan mengakui anak ini cucu Mama." Bu Dina mengibaskan tangannya saat Dewa akan mengambil tangan keriput itu untuk salim. Mendapatkan reaksi seperti itu Dewa pun langsung menangis dan berbalik memeluk Bapaknya.
"Ma, Dewa tidak bersalah." bujuk Agam.
"Tapi, dia anak haram." Mendengar kalimat itu, Laras pun tidak tahan untuk menangis. Tapi Agam langsung merengkuhnya agar bisa sedikit tenang.
"Dewa tidak salah. Kami berdua yang salah. Jadi, Agam harap jangan katakan itu lagi pada putraku, Ma." Agam langsung membawa kembali Dewa dan Laras keluar dari rumah itu.
"Kita akan tetap menikah. Kita akan memperbaiki kesalahan kita di masa lalu." bisik Agam saat mereka berjalan kembali ke mobil.
"Dewa mau ice cream? Yang kayak kemarin Bapak belikan pas di jalan." tawar Agam saat mereka sudah berada di dalam mobil. Bocah itu langsung menghentikan tangisnya dan mengangguk senang.
__ADS_1
Dewa baru merasakan ice cream baru kemarin, saat Agam baru membelikannya saat mereka beristirahat di jalan.