Rindu Alexa

Rindu Alexa
Sakit


__ADS_3

Sore setelah waktu Ashar mereka baru tiba di rumah Tante Gendis. Dewa langsung turun dari gendongan Shakti saat melihat ibunya tengah menyambut kedatangan mereka dari air terjun.


"Ibu, Tante Salma kedinginan." ucap Dewa dengan memeluk ibunya. Tubuh bocah itu masih lembab.


"Salma, kamu pucat sekali." ucap Laras terlihat cemas saat melihat wajah Alexa.


Shakti langsung menoleh dan untuk meyakinkan kembali dan benar saja, wajah Alexa terlihat pucat pasi.


"Kalau begitu kami masuk ke kamar dulu!" pamit Shakti dengan merangkul tubuh istrinya untuk masuk ke dalam.


"Ayo aku bantu membersihkan diri." lanjut Shakti langsung mendapat tatapan tajam dari Alexa.


"Aku bisa sendiri, Mas!" Alexa langsung masuk ke dalam kamar mandi karena tidak ingin Shakti mengikuti.


"Jangan lama-lama, Ay!" pesan Shakti kemudian mencari minyak kayu putih.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, tapi hanya kepala Alexa yang nongol.


"Mas, kamu menghadap ke dinding." pinta Alexa. Dia akan keluar hanya dengan menggunakan handuk karena lupa membawa baju saat masuk ke kamar mandi.


"Apa apaan sih, Ay. Keluar ya keluar saja! Melihatmu telanjang saja tidak dosa." ucap Shakti dia masih melihat foto- foto yang baru dia ambil sepanjang perjalanan tadi siang.


Alexa terdiam sejenak, dia mengamati terlebih dahulu posisi suaminya. Shakti memang sedang fokus dengan kameranya membuat Alexa mengendap-endap menghampiri lemari pakaian.


Shakti mematung menatap betis putih mulus Alexa. Kulit Alexa yang putih bersih membuat jakun lelaki itu naik turun.


Menyadari ditatap intens oleh suaminya membuat Alexa berjalan cepat untuk segera masuk kembali ke dalam kamar mandi. Shakti hanya menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya.


"Alexa... " panggil Laras dari luar kamar mereka.


Alexa yang baru keluar dari kamar mandi membuat Shakti mengurungkan niatnya untuk bangkit.


"Ini Mbak buatkan jahe hangat!" Laras menyerahkan nampan yang berisi dua gelap jahe hangat.


"Terima kasih, Mbak!" ucap Alexa setelah menerima jahe hangat dan menutup kembali pintu kamarnya.

__ADS_1


"Mas, jahe hangat." ucap Alexa dengan meletakkan satu gelas tapi tidak ada tanggapan dari Shakti.


Lelaki itu masih terlihat sibuk dengan kameranya. Alexa yang merasa tubuhnya sedikit demam pun menyandarkan tubuhnya miring menghadap Shakti yang masih mengacuhkannya.


"Rasanya nggak enak juga ya dikacangin? Tapi kenapa tiba tiba Mas Shakti jadi cuek. Apa kamera itu lebih menarik dari istrinya. " Alexa bergumam dalam hati. Shakti yang biasa menggodanya tiba-tiba mengacuhkannya. Dia terus menatap Shakti hingga berlahan matanya terpejam.


Sudah lama tidak ada pergerakan dari wanita di sebelahnya, Shakti pun menoleh. Dia menatap lekat wajah yang masih terlihat cantik meski dalam keadaan pucat.


"Ay.... " panggil Shakti dengan mengelus pipi Alexa. Shakti sedikit cemas, kulit wajah alexa terasa panas dari biasanya.


"Ay...kamu demam!" ucap Shakti dengan terhenyak kaget. Lelaki itu langsung meletakkan kameranya dan menghadap ke arah istrinya.


"Hmmm... " Alexa hanya menjawab dengan lenguhan, Shakti langsung berdiri dan mengangkat tubuh Alexa kemudian meletakkannya ke tempat tidur.


Lelaki itu semakin cemas, di sini tidak ada dokter. Shakti melirik gelas jahe hangat di atas meja dan kemudian membantu Alexa untuk meminumnya.


Shakti keluar kamar setelah menaikan kembali selimut Alexa, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Belum lagi dia kepikiran keadaan Dewa.


"Mbak Laras, bagaimana keadaan Dewa?" Panggil Shakti saat melihat Laras. Mungkin, mereka seumuran tapi karena Alexa sering memanggilnya Mbak jadi Shakti memilih untuk mengikutinya.


"Dewa masih tidur, dia sepertinya kelelahan." jawab Laras dengan tersenyum.


"Bisa minta tolong, buatkan bubur?" pinta Shakti terdengar sungkan.


"Alexa demam." lanjutnya.


"Baiklah, nanti kalau sudah jadi aku antar ke kamar."


"Oh ya disini tidak ada dokter, sebaiknya di kerokin saja pakai minyak kayu putih dan bawah merah." saran Laras, hanya itu yang penduduk sini lakukan, jika tidak kunjung sembuh mereka baru datang ke kota untuk berobat.


Laras membawakan pisau dan bawang merah untuk Shakti yang akan kembali ke kamar. Meskipun tidak pernah menggunakan metode seperti ini lelaki itu pun menerimanya.


Berlahan dia membuka pintu kamar. Alexa masih memejamkan matanya dengan bergelung selimut. Dengan tergesa-gesa dan panik Shakti mencari minyak kayu putih.


Lelaki itu kemudian naik atas tempat tidur dan membuka selimut Alexa.

__ADS_1


"Mas... " Alexa menahan tangan Shakti yang akan membuka kancing bajunya. Tapi, Alexa merasa enggan untuk bicara.


"Untuk di kerokin saja." ucap Shakti untuk meyakinkan.


Shakti menelan salivanya saat berhasil membuka baju atas Alexa. Tubuh yang biasa terbalut baju longgar dengan jilbab menjuntai menutupi dada kini terlihat polos hanya terlindungi dengan bra, membuat Alexa dengan reflek menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Tengkurap saja!" titah Shakti berusaha menutupi kegugupannya saat benar benar melihat tubuh indah istrinya, jantungnya berdetak kuat dengan gelayar aneh yang sempat dia rasakan.


Tubuh kecil itu ternyata mempunyai ukuran dada yang lumayan dan terlihat cukup kenyal dan padat. Sambil terus melakukan kerokan sesekali Shakti menggelengkan kepala mencoba menyadarkan hasratnya jika istrinya sakit.


Setelah selesai, Shakti memakaikan kembali baju Alexa. Alexa membuka matanya lebar saat Shakti menaikan selimutnya kembali.


"Temani sebentar!" lirih Alexa hampir bergumam dengan menahan lengan Shakti saat lelaki itu akan beranjak.


Shakti hanya tersenyum menatap lekat wajah pucat yang sedikit menyimpulkan senyum di wajahnya. Shakti masuk ke dalam satu selimut dengan Alexa. Dia menenggelamkan tubuh Alexa dalam pelukannya.


"Aku rasanya seperti bulan madu tanpa making love, Ay." ucap Shakti saat wajah istrinya menempel di dadanya.


"Kamu marah, Mas?" tanya Alexa yang sempat merasa dicuekin Shakti.


"Nggak, kapan aku marah?" Shakti masih merasa bingung. Dia mencium puncak kepala istrinya sebagai ungkapan jika dia tidak pernah sama sekali dengan Alexa.


"Tadi Mas cuekin Alexa." ucap Alexa membuat Shakti kembali mengingat sikapnya.


"Aku sedang meredam hasratku, Ay. Melihatmu membuatku ingin menerkammu saja. Aku sudah menginginkanmu tapi, sepertinya waktu tidak berpihak padaku." jelas Shakti masih memberikan pelukan hangat untuk istrinya. Keduanya berbincang dengan saling memeluk hingga akhirnya terdengar suara ketokan pintu membuat Shakti bangkit untuk membukanya.


"Ini buburnya sudah siap." Laras masuk ke dalam kamar setelah dipersilahkan Shakti.


"Kamu makan sekarang ya mumpung masih hangat." ucap Laras, saat Alexa duduk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Terima kasih Mbak Laras. Aku selalu merepotkan Mbak." ucap Alexa dengan mengambil mangkuk bubur.


"Aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian sudah memberikan Dewa kebahagian." jawab Laras dengan menatap gadis di depannya. Bukan hanya Dewa yang akan merasa kehilangan. Tapi, dia juga pasti akan merasa kehilangan jika Alexa kembali. Gadis itu yang akhir akhir ini menjadi teman dirinya untuk bisa bercerita.


"Laras ada tamu yang mencarimu!" panggil Bu Seno, saat masuk ke dalam kamar Alexa.

__ADS_1


"Siapa, Bu?" Laras begitu pemasaran tidak biasa ada yang bertamu untuk mencarinya dan Bu seno sendiri tidak mengenalnya.


Laras pun keluar kamar untuk menemui tamunya, sedangkan Bu Seno memilih duduk di pinggir tempat tidur melihat keadaan Alexa.


__ADS_2