
Alexa berjalan sedikit tergesa menuju lift yang akan membawanya ke loby. Tapi saat lift terbuka, sosok yang dicarinya itu tengah ada di depannya.
"Ay... " sapa Shakti saat terkaget ketika melihat Alexa yang sudah berada di depannya. Alexa terdiam menatap sejenak lelaki yang kini menghampirinya.
"Kenapa tidak memberitahu dulu jika kamu akan ke sini? Ayo ke ruanganku!" ucap Shakti tapi Alexa masih terdiam membuat Shakti mengernyitkan dahi.
"Aku akan makan siang saja." Alexa pun masuk ke dalam lift. Dia tidak mungkin menunjukkan rasa kecewanya di tempat itu karena ada beberapa pegawai yang sedang memperhatikan mereka.
"Aku temani, Ay." Shakti pun mengikuti Alexa begitu saja. Sedari tadi dia melihat wajah murung istrinya.
"Kamu kenapa, Ay?" di dalam lift Shakti bertanya pada Alexa.
"Mas Shakti dari mana? Kenapa nggak mengajak Mas Bimo jika urusan kantor? Lagian Mas Shakti seperti lebih fokus dengan sesuatu." cecar Alexa mengungkapkan semua yang ada di hati.
Litt terbuka membuat percakapan diantara keduanya terhenti. Shakti merangkul bahu Alexa melewati lobi kantornya meski banyak mata menatap mereka, lelaki itu memang selalu menjadi perhatian untuk semua karyawannya.
"Kamu mau makan apa, Ay?" tanya Shakti.
"Apa saja!" jawab Alexa sekenanya.
"Bagaimana jika makan di depan saja?" tanya Shakti.
"Tidak masalah." Alexa masih melontarkan jawaban singkat saja karena belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari Shakti.
Shakti masih menggenggam tangannya saat menyebarang jalan menuju kafe yang dia tuju hingga mereka masuk pada sebuah kafe yang cukup ramai dan memilih bangku yang ada di sudut ruangan.
"Ada penting apa hingga kamu datang ke sini, Ay?" tanya Shakti dengan menggenggam tangan istrinya.
"Hanya ingin makan siang bersama, dari kemarin Mas Shakti selalu sibuk saat jam makan siang. Jadi aku tadi bawa makan siang tapi berhubung Mas Shakti tidak ada aku kasihkan ke Mas Bimo." jelas Alexa dengan wajah lesu.
Mereka memesan makan siang. Alexa yang kini lebih menyukai makanan yang berkuah pun memesan sup iga. Sedangkan, Shakti hanya memesan coffelate karena baru saja makan siang bersama temannya yang akan membeli rumah orang tua Clarisa.
"Aku tadi habis ketemuan sama orang yang akan membeli rumah temanku. Jadi aku tidak mengajak Bimo." jelas Shakti.
"Ohh..." Alexa sedikit lega saat mendengar penjelasan suaminya. Entahlah, dia merasa dirinya memang sangat sensitif hingga sempat berfikir aneh-aneh.
__ADS_1
"Ay, kamu sakit? Kamu kelihatan pucat sekali." sedari tadi Shakti memperhatikan istrinya. Dia merasa bersalah hanya karena ingin makan siang bersama saja membuat istrinya harus datang ke kantor.
"Nggak, Mas. Mungkin karena aku sangat lapar." jawab Alexa.
Shakti hanya menemani Alexa menghabiskan maka siangnya. Dia terus saja menatap istrinya. Ada rasa bersalah saat menyimpan sesuatu dari istrinya. Tapi, dia tidak berani berterus terang tentang dirinya yang bertemu kembali dengan Clarisa bahkan kini membantu mantan kekasihnya.
"Setelah ini kamu jangn balik! Temani aku di kantor ya! Aku akan pulang lebih awal karena tidak ada jadwal meeting hari ini." pinta Shakti yang hanya diangguki Alexa. Wanita itu tersenyum setelah mendapatkan permintaan itu karena dirinya sendiri memang masih ingin bersama suaminya.
###
Kota yang berbeda memberi kesan yang berbeda untuk Hanum. Udara yang sejuk, kota pun tidak terlalu ramai. Arkha terus saja menggenggam jari- jari mungil gadis yang berjalan di sebelahnya.
"Kita duduk dulu, Num!" pinta Arkha saat melihat kursi panjang berbahan besi yang terdapat di pinggir jalan tepatnya di bawah pohon besar yang meneduhkan sepanjang jalan.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Arkha membuka pembicaraan diantara mereka, lelaki itu melirik tajam wajah yang diakuinya sangat cantik.
"Tidak... " jawab Hanum singkat dan itu membuat Arkha tersenyum.
"Kenapa tertawa?" lanjut Hanum merasa diejak oleh lelaki itu.
"Aku tau Kak Arkha menyukai gadis lain. Kita menikah juga karena terpaksa. Bahkan, aku merasa Kak Arkha menjadi korban pernikahan ini... " lirih Hanum, tatapannya menerawang dengan wajah sangat serius membuat Arkha menghentikan tawanya. Lelaki itu kini menatap serius gadis yang terlihat sendu. Tidak biasanya Hanum seperti itu.
"Jika suatu saat kita berpisah... "
"Hanum, apa maksudmu?" tanya Arkha dengan terkesiap.
"Jika kita bercerai nanti, aku akan pergi keluar negeri dan... "
"Husss.. " Arkha meletakkan telunjuknya di bibir mungil Hanum. Dadanya terasa nyeri mendengarnya, entah apa alasannya tidak pernah terfikir olehnya untuk berpisah dengan gadis di depannya. Dia mulai terbiasa bersama Hanum, gadis yang dianggapnya masih bocah itu membuatnya mulai terbiasa.
"Jangan katakan itu lagi! Kita jalani saja dulu... " Arkha memeluk Hanum menenggelamkan tubuh mungil itu dalam dekapannya. Arkha rasanya tidak ingin melepas gadis dalam pelukannya ini.
"Kak, malu dilihat orang!" Hanum kembali menyadarkan Arkha saat menyadari beberapa orang sedang memperhatikan mereka.
"Jangan katakan perpisahan! jangan katakan kamu akan menghilang dari kehidupan Kak Arkha." pinta Arkha dengan menatap lekat mata bulat nan cantik di depannya.
__ADS_1
"Kita cari bakso, yuk!" ajak Arkha berusaha menghilangkan rasa sesak saat mendengar Hanum membicarakan perpisahan. Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benaknya kehilangan gadis yang selalu mengusik hidupnya.
"Ayo... " Hanum pun beranjak dari duduknya dengan girang. Dia membiarkan Arkha yang terus menggenggam jari jari kecilnya itu.
"Pelan-pelan Hanum." protes Arkha saat gadis itu begitu bersemangat berjalan menuju warung bakso yang sempat dia tunjukkan jika itu warung bakso favorit di kota ini.
Gadis itu melangkah dengan terus menarik tangan Arkha. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat senyum tipis lelaki yang membuatnya bahagia hari ini.
Hanum terus saja berjalan lebih dulu, hingga saat akan menyebrang dia sempat menoleh ke belakang, menatap Arkha yang masih menggenggam erat tangannya.
"Kak Arkha aku akan memesan dua porsi bakso dengan level pedas paling tinggi agar bisa menyaingi omongan mertuaku hahahha." Hanum tertawa saat membayangkan kata kata pedas mertuanya, gadis itu kemudian melepaskan genggam tangan Arkha untuk menutup mulutnya yang sudah meluncurkan kata-kata buruk untuk mertuanya.
Arkha hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saat melihat gadis yang berjalan mundur itu tertawa cekikikan hingga kakinya hampir saja menginjak aspal. Dia bisa mengerti jika Hanum seperti itu, tapi untung saja di depan ibuknya Hanum bisa menahan semua sifat bar bar- nya.
Arkha memalingkan wajahnya sambil tersenyum saat melihat istrinya yang terus mengoceh dengan wajah ceria itu. Seketika senyumnya menyurut berubah menjadi kepanikan ketika motor sport melaju begitu kencang ke arah istrinya.
"Hanum... " Arkha langsung berlari menarik tangan Hanum dengan begitu kuat.
Tubuh kecil itu menghantam dadanya dengan begitu kuat, tangannya memeluk erat tanpa sadar diiringi jantungnya yang kini masih saling berpacu.
"Kak Arkha... " lirih Hanum merasakan nafasnya sesak karena pelukan erat lelaki yang masih merasa ketakutan.
Gerakan Hanum membuat arkha tersadar, dia meregangkan pelukannya kemudian menatap penuh teliti gadis di depannya.
"Hati- hati!" Arkha menelangkup wajah Hanum dengan kedua telapak tangannya kemudian menundukkan tubuh dan menempelkan dahinya pada dahi Hanum.
"Jangan seperti tadi. Kak Arkha takut, Num." lirih Arkha matanya memanas diantara sapuan nafas mereka yang saling menyapa. Arkha masih merasakan gugup karena rasa paniknya.
"Aku baik baik saja, Kak." sejenak Hanum memeluk lelaki yang wajahnya masih menegang agar bisa sedikit rileks. Kemudian mengendurkan pelukannya dan mengurainya kemudian.
"Ayo kita cari bakso!" Aja Hanum mencairkan suasana semua orang sudah yang melihat kejadian itu pun memperhatikan keduanya.
"Jangan lepaskan genggaman Kak Arkha." ucap Arkha kemudian menggenggam erat jari jari kecil itu untuk menyebrang.
Ada rasa yang berbeda dalamnya hati lelaki itu. Dia benar benar takut kehilangan gadis yang kini berjalan bersamanya. Hanum Gadis yang selalu menyusahkannya dan membuatnya bermasalah tapi yang membuatnya takut kehilangan.
__ADS_1