
Masih menggenggam lengan kecil Alexa dengan paksa, Shakti mengikuti langkah mamanya menuju bazar swalayan bahan makanan.
"Lepasin!" Alexa mengerang lirih dengan melayangkan tatapan tajam. Tapi, disenyumin saja oleh lelaki yang saat ini berjalan mengikuti mamanya.
"Kamu kelihatan bahagia sekali, Shak?" Gayatri mulai curiga saat melihat wajah sumringah putranya. Tidak biasanya air muka putranya mencetak senyum tipis di wajah ganteng itu.
"Jalan jalan bisa bikin orang bahagia, Ma." sahut Shakti yang hanya di respon dengan decihan lirih Gayatri. Perempuan itu tidak percaya dengan alasan putranya. Tapi, beliau sudah tidak mau ambil pusing.
"Sayang, kemarilah!" Panggilan Gayatri untuk Alexa membuat Shakti spontan melepaskan genggamannya, tapi masih dengan melirik sang bidadari yang tersenyum saat melewatinya. Riuh jantung Alexa pun sedikit berkurang saat dirinya menjauh dari lelaki yang sedari tadi menggenggam lengannya.
Shakti memilih berdiam, menatap dua wanita yang kini memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam keranjang dorong. Tidak bisa dielakkan jika hatinya memang sangat bahagia. Lelaki itu tersenyum, dia benar benar tidak bisa membohongi dirinya jika ternyata Alexa mampu menguasai hatinya.
Oh Tuhan kenapa situasi menjadi sepelik ini. Kenapa ada sebuah kebohongan? Tapi, tanpa kebohongan aku tidak bisa mendekati bidadari itu.
Melihat Alexa dan mamanya yang asik belanja bersama, akhirnya Shakti memilih mencari tempat duduk yang tidak jauh dari bazar swalayan.
Shakti kembali mengambil ponselnya untuk melihat beberapa laporan yang dikirim lewat emailnya. Tapi sebelumnya dia membuka pesan yang di kirim Ringgo jika besok ada pertemuan dengan calon investor baru yang akan ikut andil dalam rencana pembuatan resort di tempat baru. Di daerah, dimana pemerintah daerah baru saja membuka perizinannya.
Alexa melirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia tidak ingin pulang terlambat apalagi saat ini sedang musim penghujan, dia tidak ingin membuat Zoya dan papanya merasa khawatir.
"Tante, masih butuh apa lagi? Tante Gayatri jangan terlalu lelah, kita ke mall untuk mendapatkan suasana baru, lo!" Alexa mulai memperingatkan juga kondisi kesehatan Gayatri. Wanita yang masih memancarkan garis garis kecantikannya itu pun tersenyum. Beliau baru menyadari jika dirinya sedang bersama calon dokter.
"Iya, sayang, ini sudah semua. Tante juga tidak mau kamu terlambat pulang." jawab Gayatri dengan sangat senang. Dia merasa Alexa memberi hari yang berbeda, untuk itu dia sangat berterima kasih pada gadis yang punya perangai lembut dan penuh perhatian.
Setelah membayar di kasir dan meminta seorang pramuniaga membawakan barang mereka ke parkiran, Alexa dan Gayatri menghampiri Shakti yang masih duduk di salah satu kafe.
"Sudah selesai?" tanya Shakti saat menyadari jika dua wanita yang ditunggunya sudah berdiri di dekatnya. Lelaki itu langsung memasukkan kembali ponselnya di saku.
"Sudah, barangnya langsung dibawa ke bawah." jawab Gayatri. Tapi saat Shakti memergoki Alexa yang melirik coklat milkshake yang tadi sempat dia pesan, membuat lelaki yang kini berdiri di dekat Alexa pun mengerti jika Alexa menginginkannya.
"Mau, Ay?" Kali ini bukan sebuah penawaran yang diberikan oleh Shakti, tapi dia langsung mengambil gelas minumannya dan menyodorkan pipet itu ke bibir mungil milik Alexa.
Alexa tak bisa menghindar, meski hatinya merasa sungkan karena tatapan wanita paruh baya di sebelahnya. Dia tidak bisa memprediksi apa yang dipikirkan Gayatri.
"Uhuk... uhuk... " Alexa terbatuk karena rasa grogi yang sulit di kendalikan.
"Ay..." Shakti langsung meletakkan minumannya dan mengusap pelan punggung Alexa.
"Sayang..." panggil Gayatri yang ikutan cemas saat wajah putih itu terlihat memerah karena kesedak.
"Alexa tidak apa apa." ucap Alexa dengan mengatur pernafasannya agar kembali lega.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang, Shak!" Gayatri menggandeng Alexa berjalan terlebih dahulu. Sejenak, Shakti mematung menatap Alexa. Setiap kali kekaguman Shakti terluapkan untuk gadis yang membuatnya hampir tidak percaya jika masih ada perempuan se-naif itu.
###
Sore yang mendung dengan langit menggantungkan awan hitam. Sepertinya, sebentar lagi hujan turun. Tapi, Alexa tidak bisa dibujuk lagi. Janji Alexa untuk pulang sebelum malam pada Zoya membuat Gayatri tidak bisa lagi menahan Alexa untuk tetap tinggal.
Mobil Yaris yang disetir gadis cantik berkerudung biru itu pun berlahan menghilang dari halaman rumah mewah salah satu crazy rich di kota itu.
Shakti sebenarnya merasa khawatir saat menatap kepergian Alexa. Tapi, dia merasa tidak enak dengan mamanya jika ingin mengantar Alexa.
"Shak, buntuti Alexa! Mama merasa khawatir." Mendung yang menjadikan sore semakin petang membuat Gayatri tidak bisa menahan lagi rasa khawatir pada gadis kesayangannya itu
Tanpa menjawab lagi, Shakti langsung berlari ke arah mobilnya. Sejak tadi dia menahan rasa cemasnya pada Alexa.
"Astaga... " gumam Shakti dengan wajah menegang. Hujan berlahan mulai membasahi bumi, bahkan kilatan cahaya dan gemuruh terdengar dari langit yang di penuhi awan
gelap.
Lelaki itu memfokuskan pandangannya. Bahkan setiap ada mobil putih dia menyempatkan untuk menoleh. Tapi sudah tidak dilihatnya lagi mobil Yaris milik Alexa.
"Ay, sampai mana kamu?" gumam Shakti dalam hati dengan rasa cemas. Jalan sudah nampak sepi, dia mencoba membelokkan mobilnya di sebuah jalan pintas menuju rumah Alexa. Dan, ternyata sebuah mobil putih berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Shakti yang melihat Alexa pun langsung ke luar mobil dengan menyambar payung yang sudah tersedia di dalam mobil untuk melindunginya dari air hujan.
"Ay, kenapa?" tanya Shakti saat menghampiri alexa, sambil memberikan sebagian payungnya untuk Alexa dia juga menatap apa yang diperhatikan gadis itu.
"Bannya kempes, Mas." jawab Alexa dengan mendengus kesal.
"Aku akan mengantarmu!" titah Shakti.
"Mobilnya?" Alexa menoleh ke arah lelaki yang berdiri sangat dekat dengannya karena mereka berbagi payung.
"Gampang! Biar di urus orangku!" Spontan Shakti langsung merangkul bahu kecil Alexa.
"Mas, jangan seperti ini! Kita... "
"Bukan muhrim" sela Shakti dengan cepat. Tapi tetap saja dia tidak melepaskan rangkulannya, bahkan dia menarik tubuh Alexa berlari kecil ke arah mobil Jaguar metalic miliknya.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Alexa, dia berjalan memutar untuk duduk di belakang kemudi.
"Kenapa nggak bawa payung, Ay? Tahu lagi musim penghujan." seloroh Shakti dengan menghidupkan kembali mesin mobilnya.
__ADS_1
"Biasanya aku taruh di dalam, tapi entah kemana menghilangnya." jawab Alexa sambil mengingatnya kembali, kemarin dia merasa masih melihat payung dengan motif floral itu di bangku belakang mobilnya.
Mobil sedan itu mulai melaju dengan tenang. Sesekali si pengemudi melirik gadis di sampingnya yang terlihat kedinginan. Lelaki itu mematikan AC mobil dan menarik jaketnya untuk diberikan kepada Alexa
"Nanti jaketnya ikut basah, Mas." ujar Alexa saat menerima Jaket itu.
"Nggak apa." jawab Shakti singkat. Dia menambah laju kecepatan mobilnya agar cepat sampai di tujuan.
"Berikan nomer ponselmu. Jika ada sesuatu hubungi aku." Shakti mengulurkan ponselnya yang kemudian disambut oleh Alexa untuk memasukkan nomer ponselnya.
Hanya sebentar, sepuluh menit mobil itu berlahan berhenti di depan sebuah toko kue.
"Mampir dulu, Mas. Kenalan dengan Mama dan Oma."
"Pemanasan melamar kamu ya, Ay?" goda Shakti membuat Alexa hanya tersipu.
"Aku ingin jadi dokter, dulu! Lagian Aku anak pertama yang akan menjadi contoh adik-adiku nanti, Mas." jawab Alexa serius. Shakti hanya tersenyum melihat kepolosan Alexa menanggapi serius candaannya itu.
Mereka pun turun dari mobil. Alexa memimpin berjalan menuju rumah belakang yang ternyata kedua adiknya dan Kirey sudah berkumpul di sana meski dengan posisi berjauhan. Aleks dan Hanum memang tak bisa sejalan, karakter mereka sangat bertolak belakang.
Seketika mereka langsung terdiam menatap kedatangan Alexa bersama seorang lelaki muda yang tampan. Mereka masih terkesima karena tidak biasanya Alexa datang bersama lelaki kecuali Dokter Agam.
"Kak Ale cowoknya ganteng sekali? Tapi masih tetap saja ganteng Kak Aleks." celetuk Kirey dengan spontan yang langsung mendapat pukulan dari Hanum di bahunya. Tapi, suara Kirey malah mencairkan suasana.
Kirey memang menyukai Aleks sejak mereka masih di SMA yang sama. Tapi, cowok itu malah selalu menghindar karena bagi Aleks, Kirey lebih menyebalkan dari Hanum. Gadis manja yang hanya menyusahkan saja menurutnya.
"Kenapa baju Kak Ale basah? Mama tidak melihat mobilmu, Kak." Zoya yang baru tahu kedatangan putrinya dengan basah kuyup pun terdengar cemas.
"Mobil Alexa kempes di jalan, Ma. Kenalkan ini putra Tante Gayatri namanya Mas Shakti." jelas Alexa terlebih dahulu sebelum di sangka macam macam. Meskipun begitu Hanum dan Kirey masih saja diam-diam berkomentar dan menebak hubungan kakaknya dengan lelaki ganteng dan seksi itu. Mereka juga membanding bandingkan Shakti dengan Agam.
"Oh... silahkan duduk! Terima kasih sudah mengantarkan Kak Ale." Zoya mempersilahkan Shakti untuk duduk terlebih dahulu.
"Terima kasih, tapi saya harus kembali pulang karena pasti saya sudah ditunggu Mama." Shakti mencari alasan saja untuk cepat pulang ke rumah. Lelaki itu bersama mobilnya secepat kilat menghilang dari pandang mereka.
"Num, telepon Papa. Minta dijemput. Aku mau pergi bersama Dito." Aleks meminta pada Hanum untuk menelpon Papa Hans yang masih di kantor.
"Anterin Aku sekalian ya, Kak." rayu Kirey. Dia memang selalu mencari perhatian Aleks meski sering gagal.
"Nggak bisa. Aku ada urusan penting sama Dito." jawab Aleks yang memang enggan untuk dekat-dekat dengan Kirey. Baginya, Kirey gadis yang paling menyebalkan yang pernah dia temui. Mendengar penolakan Aleks membuat Kirey mengerucutkan bibir. Tapi gadis itu selalu mencoba dan mencoba.
Bersambung.....
__ADS_1