Rindu Alexa

Rindu Alexa
Accident


__ADS_3

Alexa masih enggan membuka matanya. Tapi, dia merasa sudah tertidur cukup lama setelah menyiapkan beberapa barang yang akan dia bawa pulang. Bahkan, waktu pun sudah bergeser dari siang menuju sore.


Dia duduk tertegun, wanita itu sudah merindukan melakukan aktifitas seperti dulu. Hidupnya yang penuh kesibukan untuk cita-citanya menjadi seorang dokter.


Tapi, sekali lagi dia menghela nafas berat. Mengingat posisinya sekarang sudah berbeda. Apapun yang dia lakukan saat ini, dia harus meminta persetujuan dulu pada suaminya.


"Bagaimana jika Mas Shakti tidak mengizinkanku bekerja?" gumam Alexa, dia begitu pesimis untuk mendapatkan izin dari suaminya.


"Ah, sudahlah... " merasa tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Alexa pun beranjak dari tempat tidur. Tidak ada rutinitas yang pasti dan tidak salat membuatnya mengabaikan waktu.


Dengan mengenakan jilbab sekenanya, Alexa pun keluar dari kamarnya. Saat keluar dan menutup kembali pintu kamarnya dia mendengar langkah seseorang menaiki tangga.


Dengan langkah tergesa dia ingin menyambut siapa yang datang. Dia yakin itu Shakti.


Langkahnya terhenti saat melihat Dinda sudah menaiki anak tangga dengan kaki yang pincang. Alexa juga masih melihat gadis itu terlihat kesulitan berjalan naik. Tapi untuk apa dia ke sini?


"Din, maafkan ucapanku yang kemarin." ucap Alexa, saat Dinda sudah berdiri di dekatnya. Alexa hanya merasa bersalah karena menuduhnya hanya pura-pura sakit.


"Nggak masalah. Aku juga tidak peduli itu." jawab Dinda. Memang bocah di depannya itu selalu menguji kesabarannya.


"Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Mas Shakti, termasuk melukai diri sendiri." jawab Dinda dengan tersenyum licik. Alexa pun terhenyak kaget mendengarnya.


"Aku mencintai Mas Shakti, tapi aku juga ingin punya kehidupan yang jauh lebih baik. Aku tidak ingin tinggal di kampung lagi. Jadi aku akan melakukan apa saja untuk itu." ucap Dinda dengan tersenyum miring.


"Astagfirullah, Din.... Bukan seperti itu caranya." balas Alexa, dia benar benar tidak menyangka gadis beliau di depannya mampu berfikir seperti itu.


"Kenapa? Kamu juga mencari suami orang kaya, kan? Untuk memperbaiki hidupmu." tuduh Dinda, dia tidak tahu sama sekali latar belakang wanita di depannya. Alexa sudah tidak bisa berkata apapun juga saat ini.


"Hentikan niatmu, Din... " pinta Alexa.


"Tidak... aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan Mas Shakti." Dinda masih saja ngotot. Gadis itu benar benar sudah terobsesi dengan semua keinginannya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengatakan semua kebohonganmu pada Mas Shakti."


Saat Dinda melihat Shakti keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya, gadis itu mulai panik, dia menarik lengan Alexa yang akan berjalan menuruni tangga. Tapi, Alexa mencoba melepaskan tangan Dinda hingga Shakti terlihat memasuki teras rumah. Kedua wanita itu bisa melihat Shakti sudah berada di teras, karena pintu dan jendela villa terbuat dari kaca.


"Aaarghhh hh..... " teriak Dinda tiba- tiba, tubuhnya menggelinding menuruni anak tangga membuat Alexa terhenyak kaget.


"Braaakkkk." Shakti menabrak pintu utama saat mendengar sebuah teriakan.


"Din...." Shakti menghampiri Dinda yang merintih kesakitan di lantai bawah.


"Bukan-bukan aku yang menjatuhkannya." Alexa langsung terlihat panik saat Shakti menatapnya tajam, dia tidak mengerti kenapa Dinda nekat menjatuhkan dirinya.


Dengan panik Alexa menuruni tangga, mencoba memeriksa denyut nadi gadis itu. Tapi, Dinda menolak, dia memilih untuk merangkul lengan Shakti.


"Sakit, Mas." rintihnya.


"Bukan seperti ini caranya jika kamu tidak menyukai Dinda, Ay. Aku tidak menyangka kamu bisa melakukannya." ucap Shakti dengan tatapan kecewa saat Alexa berada di dekatnya.


"Terus, apa Dinda akan menjatuhkan diri? " Suara Shakti terdengar meninggi, membuat Alexa hanya menggeleng dan menangis.


"Sumpah, Mas. Bukan aku... " Alexa masih berusaha mengelak.


"Ada apa ini?" Suara bariton itu membuat semuanya menoleh.


Hans berjalan memasuki villa bersama zoya. Melihat situasi itu, tidak ada yang mengira jika Hans dan Zoya berkunjung ke villa. Suasana semakin menegangkan saat tatapan tajam lelaki berkharismatik itu mengarah pada menantunya yang sedang membantu Dinda untuk bangun.


"Dia mendorongku!" Dinda langsung menuding Alexa, dia tidak tahu jika yang datang adalah papanya Alexa.


"Tidak, Pa! Ale tidak melakukannya." Mendengar panggilan itu Dinda terkaget, dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Zoya mendekati Alexa yang masih terisak, wanita itu memeluk Alexa . Dia sangat mengenal putrinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja! Bukankah istrimu mendapatkan tuduhan itu?" Hans melempar kalimatnya pada Shakti. Lelaki berumur itu masih mengetatkan rahangnya menahan amarah pada menantunya yang saat ini sedang menahan tubuh seorang gadis.


"Jika kamu tidak bisa menjaga istrimu, lebih baik kembalikan saja padaku." tantang Hans.


"Tidak, Pa! Alexa akan tetap bersamaku." Seketika Shakti langsung berdiri. Dengan lantang, dia menentang apa yang diucapkan papanya. Dia tidak akan membiarkan mertuanya membawa istrinya jauh darinya lagi.


"Mas Hans... kita bicarakan baik-baik." ucap Zoya yang juga bingung dengan kejadian sebenarnya.


Pak Andi, sopir yang dibawa Hans, kini masuk dengan membawa koper yang yang berisi barang Hans dan Zoya. Setelah meminta alamat villa dari Nyonya Gayatri, Hans dan Zoya memutuskan untuk mengunjungi putrinya. Mereka sudah tidak sabar jika menunggu Alexa pulang.


"Pak Andy, tolong antarkan gadis itu ke rumah sakit atau puskesmas terdekat." titah Zoya.


"Baik, Bu!" ucap Pak Andi.


"Din... Kamu kenapa? Bapak sudah bilang untuk di rumah saja." Pak Agus terlihat tergopoh gopoh menghampiri putrinya. Dia baru saja pulang dari pasar untuk membeli bahan makanan yang sudah menipis.


"Pak, biarkan Pak Andy mengantar putri bapak berobat." ucap Zoya. Sedangkan Hans, masih menatap tajam gadis yang sudah memberikan tuduhan pada putrinya itu.


"Papa... Ale tidak melakukannya. Sungguh, Ale tidak pernah berbohong, Pa." Alexa menghambur ke dalam pelukan Papanya. Selain menumpahkan rasa kangen, Alexa juga ingin papanya percaya dia tidak sejahat itu.


"Papa percaya padamu, Al."


"Pulanglah bersama, Papa!" Kalimat Hans membuat Alexa mengurai pelukannya, dia menoleh ke arah Shakti yang terlihat merasa bersalah.


"Kita baru saja sampai, sebaiknya kita istirahat sebentar, Mas." pinta Zoya. Zoya tahu, Alexa kini berada pada titik yang sulit.


"Mama benar, Pa!" timpal Shakti yang hanya mendapatkan lirikan Hans. Zoya mulai menaiki anak tangga, dia tahu di atas ada sebuah ruang keluarga yang cukup besar dan terbuka. Desain Villa yang cukup elegan.


"Itu ada CCTV kan?" tanya Hans, saat mengedarkan pandangannya mengagumi villa yang mengusung nilai-nilai estetika dari beberapa peradapan tinggi dunia, Hans tidak sengaja melihat beberapa kamera yang terpasang.


"Oh Iya...Pa. Sebentar Shakti akan mengecheck CCTV-nya." Kali ini Shakti baru teringat CCTV yang terpasang di setiap sudut Villa.

__ADS_1


Seharusnya sejak awal dia menyadari itu, agar tidak berada pada posisi yang membingungkan.


__ADS_2