Rindu Alexa

Rindu Alexa
Rasa Bersalah


__ADS_3

Pagi pagi sekali, Alexa sudah di dapur bersama Laras. Dia membantu Laras membuat sarapan dan menyiapkan kopi untuk Shakti.


"Mbak aku akan mengantarkan kopinya Mas Shakti dulu." pamit Alexa dengan membawa secangkir kopi dan pisang goreng ke halaman depan dimana Shakti terlihat mengenakan kaos dan celana pendeknya memainkan kamera digital bersama Dewa. Lelaki itu sedang mengajari dewa bagaimana cara membidik objek yang benar.


Alexa berjalan ke arah kursi panjang yang ada di bawah pohon mangga. Dia meletakkan nampan yang dia bawa dari dapur. Gadis berwajah oriental itu hanya menatap dua lelaki yang sudah terlihat sangat akrab itu.


Alexa tidak menyangka jika Shakti bisa telaten dengan anak kecil, padahal bila dilihat dari tampilan dan gayanya, lelaki itu tipe orang yang cuek.


Alexa yang menyadari Shakti mengarahkan kamera yang ada di tangan dewa ke arahnya, membuat Alexa langsung tertunduk malu. Shakti pun tersenyum, kemudian meninggalkan Dewa yang masih asyik dengan kameranya dan berjalan menghampiri istrinya.


Melihat Shakti yang sudah mendekat ke arahnya membuat Alexa kembali duduk di bangku.


"Eh.... eh... kakinya nggak ada remnya, Ay!" goda Shakti yang sengaja menabrak dan kemudian memeluk Alexa yang sudah duduk.


"Ih... apaan sih! Malu dilihat orang dan anak kecil." ucap Alexa yang berusaha meronta dalam pelukan Shakti, dan itu malah membuat lelaki itu mengeratkan pelukannya sambil terkekeh.


"Om Shakti." panggil Dewa membuat Shakti melepaskan pelukannya dari tubuh Alexa.


Terlihat Dewa berlari lari sambil membawa kamera digital miliknya.


"Mas, Dewa masih terlalu kecil untuk menggunakan kamera." ucap Alexa. Mengingat Dewa masih balita.


"Biarkan saja, tadi sempat merengek." sambut Shakti membuat Alexa menoleh ke arah lelaki itu. Dia baru menyadari jika Shakti tipe orang yang suka memanjakan anak kecil.


"Om Shakti, Dewa bisa memotret." ucap Dewa saat sampai di depan Shakti. Setelah menyerahkan kameranya pada Shakti, Dewa pun naik ke bangku panjang itu mengikuti Shakti yang sedang melihat objeknya hasil jepretannya.


"Bagus, Dewa pinter ya!" jawab Shakti asal asalan karena hasil jepreten Dewa hanya sebuah gambar buram.


Alexa melongokkan kepalanya hingga mendekati dada Shakti hanya sekedar penasaran, masa iya anak seumuran Dewa sudah bisa memotret dengan bagus?


"Mau dipeluk lagi, Ay?" lirih Shakti dengan suara hampir berbisik. Alexa langsung menarik diri menjauh saat kemudian menarik tajam sudut matanya ke arah Shakti.


"Om Shakti, jangan pulang! Temani Dewa di sini." ucap Dewa sambil bergelendot manja di leher Shakti.

__ADS_1


"Loh, Om, kan harus kerja. Nanti makan apa jika tidak bekerja?" ucap Shakti dengan menarik Dewa masuk dalam pangkuannya. Bocah yang terlihat sangat kesepian, Shakti bisa merasakan itu.


"Mbak Salma dan Mas Shakti sudah cocok punya momongan." sapa salah seorang ppekerja Bu Seno. Saat sapaan santai terlontar begitu ramah membuat Shakti merasakan dirinya memang nyaman di sini. Tidak ada yang tahu siapa dirinya dan mereka menyapanya dengan sebuah keramahan yang tulus bukan sekedar cari muka.


"Baru proses, Pak." jawab Shakti dengan melirik Alexa membuat Alexa menundukkan pandangan.


"Maafkan, aku!" Alexa merasa bersalah. Apalagi, dirinya dan Shakti sudah tidak remaja lagi. Tapi, kondisi hubungan mereka seperti anak yang baru mengalami pubertas.


Shakti tidak berkomentar, dia hanya menggenggam tangan Alexa. Kemudian tersenyum pada wanita di sebelahnya. Dia memang tidak menyalahkan Alexa, karena banyaknya masalah yang mereka alami. Bahkan, pernikahan mereka terjadi saat masalah itu terjadi. Hanya saja, Tuhan terlalu sempurna untuk menuliskan takdir seseorang.


###


Di sebuah Villa, Arka disibukan dengan banyaknya pekerjaan hingga dia tidak memperhatikan banyaknya pesan masuk.


"Ya ampun ini bocah ngotot banget ya! Bisa gila yang jadi pasangannya." gumam Arka saat melihat hampir lima puluh pesan yang dikirimkan Hanum padanya. Dan itu hanya dengan satu pertanyaan 'Mas Shakti sudah menemukan Kak Ale?' tapi ada yang membuatnya tersenyum saat dia melihat pesan dari Rania yang mana menanyakan kabarnya dan sudah lama tidak main ke kosnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas menggambarkan senyum di wajahnya.


Seperti seseorang yang diharapkan ke dagangannya, Arka merasa hatinya senang. Iya, bagi Arka, semua yang dilakukan Rania memang menyenangkan dan membuat nyaman. Gadis yang tahu apa yang dia butuhkan kala rasa lelah menyapa orang lain.


"Iya Hallo..." sambil mendesah kasar Arka mengangkat telpon Hanum.


"Halo... " Dengan ketus Hanum kembali meyakinkan jika Arka masih menyimak teleponnya.


"Iya... Hanum sayang, ini Mas Shakti sedang mencari Kak Ale ke hutan." Bohong Arka, agar bocah itu tidak bertanya lagi. Padahal Arka berfikir tidak mungkin Ale berada di hutan.


"Di hutan?" Kali ini suara Hanum terdengar lebih lirih. Iya, Hanum memang unik, gadis arogan yang hanya akan luluh dengan kesabaran.


"Iya, Sayang." Lagi- lagi panggilan Arka, membuat Hanum merasa salah tingkah meskipun tidak sedang berhadapan.


"Baiklah Kak Arka. Nanti kalau ada kabar dari Mas Shakti kabari ya!" pinta Hanum, kali ini suaranya sedikit melemah. Suara Arka memang terdengar sangat lembut.


"Iya, nanti aku kabari." jawab Arka dengan tersenyum penuh kemenangan karena bocah itu langsung menutup panggilannya.


Tapi bukannya langsung meletakkan ponselnya, Arka malah melihat foto profile gadis bar bar itu.

__ADS_1


"Sebenarnya cantik, matanya indah, bibirnya mungil, hidungnya mancung dan bulu matanya yang lentik, sungguh luar biasa. Tapi.... " kalimatnya menggantung, dia hanya bergidik ngeri membayangkan mempunyai pasangan gadis bar bar seperti Hanum.


###


Agam bersiap mengepack beberapa barang untuk mencari Laras. Dia sudah tidak peduli dengan ancaman mamanya, bahkan dia juga mengambil cuti kerja untuk satu minggu.


Dengan rasa bersalah pada gadis itu, Agam bertekad untuk mencari Laras yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya, keperawanan dan impiannya menjadi seorang Dosen.


"Gam, dengarkan Mama! Laras mungkin sudah melupakanmu dan mempunyai kehidupan baru dengan laki-laki lain." Dita berusaha mencegah Agam untuk pergi. Wanita paruh baya itu khawatir jika putranya bertemu Laras.


"Agam tidak peduli! Agam hanya ingin meminta maaf pada Laras. jika Laras sudah bahagia dengan laki laki lain, Agam akan relakan." jawab Agam kemudian melangkah keluar dari rumahnya.


"Tapi, buat apa jika dia sudah bersama laki laki lain?" Dita mencoba mengejar Agam.


"Setidaknya Agam mengetahui keadaan Laras sekarang." Entahlah, mungkin Laras memang sudah menjadi bagian terpanjang dari hidupnya. Mereka tumbuh bersama, selalu berada di sekolah yang sama hingga mereka harus berpisah karena mengejar cita cita yang berbeda.


Agam mempercepat langkahnya, dia kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan pajero sport ke kota asal Laras. Perasaannya bercampur aduk, ada rasa bersalah, rasa rindu yang sudah mengkarat di sudut hatinya.


Flashback Black


Saat gerimis berganti dengan sebuah rintik hujan yang cukup deras membuat Laras dan Agam yang masih berseragam putih abu abu itu berhenti di sebuah ruko kosong yang tertutup rapat.


Baju mereka yang sudah sedikit lembab membuat Agam berfikir untuk menunggu hujan mereda. Agam selalu menggenggam tangan Laras, menyalurkan rasa hangat, karena sedari tadi Laras terlihat menggigil kedinginan.


"Ras, pakai jaketku!" ucap Agam yang akan menyelimuti punggung Laras dengan jaketnya, tapi dengan cepat Laras menghindar.


"Aku nggak apa apa. Kamu saja yang pakai." Agam pun tidak peduli dengan kalimat Laras. Dia memaksa Laras untuk mengenakannya hingga Laras tidak punya pilihan lain.


Beberapa menit mereka di depan ruko kosong, hingga akhirnya Agam memperhatikan kemana pandangan Laras.


"Kita makan bakso yuk!" ajak Agam saat menyadari jika sedari tadi Laras menatap warung bakso.


"Nggak, ah aku masih kenyang." tolak Laras., dia memang tidak selalu punya uang saku untuk pergi sekolah. Masih untung karena Agam selalu memboncengkannya saat pergi sekolah.

__ADS_1


"Kruk... kruk... kruk... " Kali ini Laras dibuat malu oleh suara perutnya sendiri. Dia menatap Agam dengan senyum kikuk. Tapi, Agam langsung menyeretnya berlari menuju warung bakso yang ada di sebrang jalan. Hal yang Agam tahu, Laras memang tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi memanfaatkan orang lain. Gadis itu selalu prinsip sendiri dan itu yang salah satu hal yang membuat Agam menyukai Laras.


__ADS_2