
Lelaki yang saat ini sudah merubah tampilannya itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Selain rasa penasaran, dia tidak ingin gadisnya menunggu terlalu lama.
Jaguar metalic itu berhenti sedikit menjauh dari tempat Alexa duduk. Sejenak lelaki yang sudah mengenakan kaca mata hitam dan topi itu menatap gadis yang sedang menikmati ice cream sendirian.
"Persis anak kecil kamu, Ay." gumamnya seraya keluar dari mobil. Kaki panjangnya melangkah menghampiri gadis yang tengah duduk di kursi dengan bahan besi di bawah pohon beringin.
"Ternyata aku kurang mempesona dibandingkan ice cream, ya?" Suara bariton itu membuat Alexa menoleh.
Gadis itu hanya mengulas senyum manisnya saat melihat lelaki yang sudah ditunggunya sedari tadi. Masih dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Shakti pun menatap Alexa dengan senyum tipis yang terbit dari sudut bibirnya.
"Sudah lama, Ay?" tanya Shakti yang kemudian mengambil tempat di sebelah gadis bertubuh kecil itu.
"Lumayan, setengah jam lebih, Mas." sambil menjilat ice cream ditangannya Alexa menjawab.
"Duch kasian amat." sahut Shakti kemudian dengan mengusap puncak kepala berlapis kerudung itu.
"Bagi dong! Rasanya kalau masih ada ice cream, aku bakal terus diduakan." ujar Shakti sambil mengambil tangan Alexa dan mengarahkan ice cream vanila coklat ke mulutnya.
"Cuma ice cream, Mas. Bukan dengan laki-laki lain." celetuk Alexa masih dengan menarik ice creamnya dan mengarahkan ke mulutnya.
"Uhukk... " Hampir saja lelaki itu tersedak. Tapi, untung saja dia bisa mengendalikannya.
"Pelan, Mas. Nggak ada yang merebut." jawab Alexa. Membuat Shakti menaikkan pandangannya. Bukan masalah ice cream tapi kalimat diduakan yang membuat Shakti begitu sensitif mendengarnya. Dia merasakan bersalah pada dua gadis yang saat ini sedang berada dalam hatinya.
Shakti menghentikan jilatan ice cream, jika tidak dia bisa menuntaskan ice cream milik Alexa.
Melihat sudut bibir Shakti yang terkena ice cream, Alexa merogoh tissu di tas dengan satu tangannya.
"Mas, bibirnya kotor." ucap Alexa dengan mengulurkan sebungkus tissu ke arah lelaki yang saat ini begitu mengaguminya.
"Dibersihkan sama bibirmu, ya?" goda Shakti saat mengambil tissu dari tangan Alexa. Tapi, tidak dipedulikan oleh Alexa.
"Malu, Ay? Hahahah" tawa Shakti meledak saat melihat Alexa menghabiskan ice creamnya dengan wajah yang terlihat malu.
Gadis itu akan mengambil tissunya tapi Shakti langsung menyembunyikan benda itu. Dia mengambil satu dan kemudian mengusapkan ke sudut bibir Alexa. Bibir mungil yang selalu menjadi dambaannya. Alexa memang selalu memantikkan hasrat laki lakinya, tapi sayang, gadis itu selalu menjaga dirinya dari kontak fisik yang berlebihan.
"Biar aku saja!" tolak Alexa yang merasa tidak enak. Padahal Shakti sengaja mengambil semua tisunya dan mengelak bibir ranumnya itu.
"Kenapa sih harus malu-malu, Ay. Lagian, kayak gitu saja. Nggak sampai basah, kan." protes Shakti. Baginya Alexa tidak lebih seperti anak ABG.
"Oh ya, Mas Shakti sudah makan?" Alexa sengaja mengalihkan pembicaraan yang sengaja Shakti arahkan pada topik dewasa.
__ADS_1
"Belum, kenapa? Kamu lapar?" Shakti balik bertanya. Sedikit pun lelaki itu tidak mengalihkan pandangannya wajah cantik dengan pipi chabi yang begitu menggemaskan.
"Bukan, Aku bawa makan siang buat, Mas." Alexa mengambil paper bag yang ada di sebelahnya.
"Tadi aku masak bersama Tante Gayatri." Alexa membuka sebuah kotak makanan. Soto betawi hasil kolaborasi resep Gayatri dengan resep dari Zoya.
"Kayaknya enak ya, Ay." Shakti terlihat girang. Iya gaya pacaran yang baginya cukup picisan dan tidak jauh seperti anak kecil justru membuat dia merasakan sebuah chemistry yang sangat berbeda. Dia yang merasa lebih nyaman bersama Alexa.
"Dicoba saja, Mas." ujar Alexa pada lelaki yang saat ini menatap sayang gadis di depannya. Mungkin sudah saatnya dia akan memilih. Tapi, melihat sikap Clarisa dan usahanya memperbaiki hubungan membuat Shakti kembali bimbang, bagaimana cara menyelesaikan dilema antara Alexa dan Clarisa.
"Suapin, dong." pinta Shakti masih dengan tersenyum. Tidak bisa ditutupi lagi jika lelaki yang masih dengan tampilan menyamar itu terlihat sangat bahagia.
Alexa menuruti apa yang diminta lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Cinta pertama lebih tepatnya.
"Tadi ada gadis cantik yang nanyain Mas Shakti."
"Uhuk... " Shakti kembali tersedak.
"Hati hati, Mas." Alexa mengambil air mineral. yang tidak lupa dibawanya.
"Terus... " Shakti memang takut banyak bertanya karena dia belum bisa membaca apa yang sudah terjadi antar keduanya.
"Terus..." Shakti mengambil sendok dari tangan Alexa dan memberi sang bidadarinya suapan pertama.
"Aku sudah makan bersama Tante Gayatri, Mas." dengan mulut penuh Alexa berbicara. Gayatri memang meminta Alexa menemaninya makan.
"Tidak apa-apa, biar tidak kurus kecil kayak gini." ucap Shakti dengan melingkarkan jari telunjuk dan jari jempolnya di lengan Alexa, membuat Alexa langsung menariknya pelan.
"Aku dulu gendut, lo. Papa saja sering memanggil gembul." cerita Alexa saat masih bertubuh tambun. Tapi sejak SMP tubuhnya mulai menyusut dengan sendiri karena kesibukan.
"Benarkah?Tapi kenapa jadi kurus banget?" Shakti menatap heran Alexa. Dia -hampir tidak percaya.
Mereka menghabiskan waktu sore hanya untuk mengobrol dan menghabiskan makanan yang dibawa Alexa. Ada kebahagian tersendiri saat melihat lesung pipit yang tercetak di pipi, saat Alexa tersenyum lepas.
Gadis yang cantik dan menenangkan. Bahkan, Alexa kembali membawanya pada masa pertama kali mengenal lawan jenis. Benar benar picisan, tapi mau bagaimana lagi. Alexa memang seperti itu. Dan Shakti pun menyukainya. Beberapa kali sempat terlintas dalam benaknya untuk memilih Alexa, tapi dia masih memilih cara agar tidak terlalu menyakiti Clarissa.
###
Hari ini toko kue milik Zoya sangatlah ramai. Bahkan banyak pesanan kue ulang tahun dan anniversary pernikahan yang masuk dalam agenda.
"Sayang, aku mau balik ke kantor." Hans sengaja makan siang di toko. Lelaki yang lebih menyukai masakan istrinya dari pada di kafe atau restoran itu pun memesan Zoya untuk menyiapkan makan siangnya dari rumah.
__ADS_1
"Mas Hans, nanti biar aku pulangnya di jemput Aleks."
"Nggak-nggak, tunggu aku saja. Anak itu kadang lupa waktu jika sudah di bengkel." Aleks memang paling hobi dengan otomotif. Bahkan dia sering menghabiskan waktu di bengkel milik kakak temannya.
"Baiklah, aku balik dulu. Jangan terlalu capek, sayang." pesan Hans sebelum mencium kening istrinya dilanjut dengan mendaratkan ciuman ringan di bibir istrinya. Karyawan di sana sudah tidak kaget lagi dengan perlakukan Pak Bosnya, yang mereka tahu Pak Bos memang sedikit cuek dan tidak peduli dengan orang di sekitarnya.
"Iya, Mas Hans juga hati hati!" balas Zoya dengan mengantarkan Hans ke depan.
Hans dan Zoya menghentikan langkahnya saat melihat sebuah pick up yang memuat beberapa barang yang masih terbungkus kardus berhenti di depan toko, disusul Hanum, Dira dan Kyrei keluar dari taxi.
"Ada apa ini? " gumam Hans saat melihat semuanya.
Hanum mendekat ke arah papa dan mamanya, Sementara Dira dan Kyrei memberi intruksi untuk menurunkan barang barang itu.
"Ada apa ini sayang?" tanya Zoya saat putri cantiknya berada di depannya.
"Aku akan buka kedai ice cream, Ma." jawab Hanum.
"Sayang kamu harusnya fokus kuliah. Biar cepat selesai." ucap Zoya. Sementara, Hans masih menjadi pendengar yang baik.
"Hanum pikir, jika cuma ngandalin uang saku. Hanum tidak akan bisa membeli mobil. Jadi Hanum putuskan untuk usaha bersama mereka. Kita patungan." jelas Hanum. Zoya semakin tidak mengerti harus bagaimana lagi. Sementara Hans malah tersenyum pada putrinya yang keras kepala. Iya, Hanum memang mirip dengannya yang semau sendiri.
"Nanti kita akan promosikan juga cake yang ada di toko Tante." jawab Dira yang baru datang untuk menimpali. Gadis dengan rok pendek itu hanya ingin mendapatkan persetujuan Zoya.
"Iya tante, nanti Kirey akan bawa teman teman Kirey untuk jajan di sini dan Kyrei akan minta tambahan uang saku pada Grandma yang di Jerman untuk tambahan modal." Bocah manja itu menimpali. Kirey begitu bersemangat karena dengan alasan itu dia bisa bertemu Aleks setiap hari. Itu yang dipikirkannya.
Zoya masih bingung harus menanggapi apa. Sementara Hans tidak berkomentar dan berjalan menghampiri mobilnya.
"Nanti kita bicarakan lagi." Zoya langsung berlari kecil mengejar suaminya yang berada di dekat mobil.
"Mas Hans, bagaimana ini?" tanya Zoya dengan menahan tangan suaminya.
"Biarin sajalah. Itu urusan mereka." jawab Hans dengan santai.
"Tapi Hanum masih kuliah." Zoya kembali menimpali.
"Terus kenapa?" Hans kembali bertanya dengan menatap istrinya. Jika sudah begini Zoya tahu suaminya sudah tidak bisa lagi diajak diskusi. Sifat keras Hanum jika menginginkan sesuatu memang seperti papanya.
"Ya sudah." lirih Zoya dengan mengambil punggung tangan Hans yang sudah mau kembali ke kantor.
Bersambung
__ADS_1