Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pengantin Baru Tanpa Malam Pertama


__ADS_3

"Alhamdulillah." ucap Shakti dengan Perasaan lega sedangkan Hans masih terduduk lemah. Dia hanya bisa berharap keputusannya tidak salah.


Beda dengan Shakti, ada rasa lega yang kini menyentuh relung hati lelaki yang kini tersenyum tipis. Dia yakin akan menemukan Alexa. Hans menatap menantu barunya yang wajahnya tidak berhenti tersenyum. Shakti memang sedang menikmati kebahagiannya.


"Ehm-ehm... Mas Shakti, anggap saja di sini rumah sendiri. Kamu sekarang sudah menjadi putra kami, bagian dari keluarga kami." ucap Zoya dengan lembut. Wanita itu tahu, jika suaminya tidak akan mengatakan apapun untuk menyambut menantu barunya.


Zoya juga bahagia, dia tahu Alexa menyukai lelaki yang duduk di depannya saat ini. Sedangkan, Hans memang tidak mengatakan apapun. Tenggorokannya terasa kering untuk mengatakan sesuatu pada menantu barunya.


"Terima kasih, Ma." ucap Shakti sambil tersenyum. Mendengar panggilan itu membuat Zoya kembali mengulas senyum lembutnya. Tapi, tidak dengan Hans, lelaki itu malah membuang muka. Jika bukan karena putrinya, dia enggan menerima lelaki di depannya sebagai menantu.


"Terima Kasih, sudah menerima putra saya." ucap Gayatri. Sekarang tidak ada lagi yang beliau cemaskan.


Mereka menikmati jamuan seadanya dari keluarga Hans. Ringgo dan Arka rasanya tidak sabar untuk meledek Shakti. Pengantin baru tanpa malam pertama.


Flashback


Hans menarik tangan Zoya untuk masuk ke dalam kamar. Tujuan kedatangan Gayatri membuatnya tidak lagi bisa berfikir jernih. Apalagi saat melihat pemuda yang selalu membuat tekanan darahnya seketika naik.


"Zoy, bagaimana bisa aku menikahkan putriku pada lelaki yang aku ragukan. Dia yang membuat kericuhan."


"Dia yang mempermainkan Ale. Dia juga yang mempermalukan Ale." ucap Hans dengan penuh penekanan. Wajahnya terlihat begitu bingung, bahkan Hans tidak bisa mengontrol gerak cemas tubuhnya.


"Mas, jika mas Hans tidak setuju. Bagaimana, jika Kak Ale menyukai anak laki-laki itu? Aku juga melihat lelaki itu bersungguh-sungguh melindungi Kak Ale."


"Terus bagaimana dengan nasib Kak Ale karena dengan buku nikah itu secara otomatis mengikatnya dan berita yang beredar Kak Ale sudah menjadi istri Shakti." lanjut Zoya mencoba meyakinkan Hans.


Hans tertegun sejenak, semua yang dikatakan istrinya memang benar, " Baiklah, kita lakukan saja." Hans kembali menyeret istrinya untuk kembali menemui tamunya.


flash on


Setelah semua acara selesai, Gayatri pun berpamitan pulang. Shakti, bersama Arka berniat untuk kembali ke kantor.


Ringgo membawa satu mobil untuk mengantar dua Ustad yang menjadi saksi pernikahan Shakti dan kemudian langsung mengantarkan Gayatri kembali pulang.

__ADS_1


"Kami balik dulu, Ma." pamit Shakti saat akan kembali ke mobil. Terpaksa dia harus kembali ke kantor untuk bertemu klien.


"Kalau mau pulang ke sini, ke sini saja! Kamu bisa tidur di kamar, Kak Ale." ucap Zoya. Dia berusaha menghapus jarak diantara Shakti dan keluarganya meski belum adanya Alexa.


"Hati-hati, di jalan." pesan Zoya sebelum mereka menghampiri mobilnya.


Arka menatap lekat wajah gadis mungil dengan mata bulat dan bulu lentik itu dengan seksama, lelaki yang cukup matang itu mengakui gadis di belakang mamanya cukup manis saat bersikap tenang. Tapi sayang, ingatan Arka langsung kembali saat Hanum mengamuk dengan gerak gesit yang sempat membuatnya kewalahan.


"Ayo...!" erang Shakti penuh penekanan saat memergoki Arka menatap Hanum tak berkedip.


Jaguar metalic itu melaju meninggalkan rumah Hans menuju ke kantor pusat.


"Hanum masih kecil, Ark." ucap Shakti membuka suara untuk membahas sikap Arka pada Hanum.


"Emang siapa yang tertarik dengan bocah yang polahnya seperti uget-uget itu." ucap Arka dengan menatap jalan. Dia memang bukan tipe cowok yang menyukai bocah apalagi dengan tabiat ketus dan arogan.


"Benar, kah?" goda Shakti dengan senyum cemeh tidak percaya.


"Kamu tahu kan tipeku kayak apa? Nggak mungkin pokoknya."


###


Di sebuah apartemen mewah, terus saja Clarissa melamun, dia terlihat menikmati hisapan rokok yang ada di tangannya. Hidupnya semakin kacau, setelah berpisah dengan Shakti. Gadis itu lebih senang mengurung diri di apartemen dan keluar ke club malam. Dia tidak peduli lagi dengan banyak hal yang menjadi kebanggaannya.


"Lo, kayak gini terus untuk apa coba?" tanya Septi yang sejak tadi menemani Clarisa. Gadis itu memang selalu ada untuk Clarisa. Clarisa masih terdiam.


"Cla, please tekan sedikit egomu. Buat ini sebagai pembelajaran. Masih ada yang lebih baik dari Shakti." Septi berusaha menyadarkan sahabatnya


"Tidak, tidak ada yang lebih dari Shakti. Siapa? " Clarisa langsung menegakkan tubuhnya. Dia menatap Septi dengan tatapan tajam menuntut sebuah jawaban.


"Tidak ada yang punya kredibilitas lebih dari Shakti. Tidak ada yang bisa mengabulkan banyak keinginanku seperti Shakti. Tidak ada bisa membuatku merasa menjadi wanita nomer satu kecuali Shakti." sergahnya dengan nada meninggi kemudian melemah disertai dengan tetesan air matanya.


Septi hanya terdiam, meski dia tahu jika cinta Clarisa hanya sebatas obsesi. Tapi, gadis itu lebih memilih diam. Bicara saat emosi Clarisa tidak stabil hanya akan membuat sebuah pertengkaran.

__ADS_1


"Dia sudah milik wanita lain." lirih Clarisa dengan wajah tersenyum sini.


"Tapi, dia pernah mencintaiku, menjadikan aku ratu baginya. Dia pasti memiliki cinta untukku." gadis itu kembali bicara. Lebih tepatnya meracau. Septi hanya menggeleng, Clarisa memang tidak salah. Dulu, dia selalu membuat iri anggota squad lainnya, Clarisa selalu mendapatkan apa yang diinginkannlya. Bahkan, tidak ada yang mengalahkan penampilan dan gaya hidup gadis itu. Tapi, apa boleh buat, tidak ada yang bisa menyangka Shakti akan terlepas dari genggamannya.


Terkadang tanpa kita sadar ego kita akan membuat kita kehilangan dan melupakan apa yang terpenting dalam hidup kita.


"Sebenarnya, kamu masih punya banyak hal yang harus kamu syukuri. Kamu cantik, kamu pintar, kamu dari kalangan berkelas. Egomu yang tidak mau kalah dengan siapapun itu, yang akan membuat semua nilai lebih tersamarkan Cla." Septi masih berusaha membujuk. Dia tidak ingin sahabatnya terlalu jauh berbelok.


"Diamlah!" bentak Clarisa. Gadis itu kemudian menyesap batang rokoknya dan menyecakkan di asbak.


Hanya Septi sahabat yang masih mau menemani Clarissa, saat santer kabar putusnya Clarisa dengan Shakti, satu persatu temannya meninggalkannya.


Tidak sedikit yang juga mencemooh kesombongan Clarisa selama ini. Selama ini Clarisa merasa punya segalanya. Dia tidak menyadari jika kapan saja Tuhan bisa mengambil semuanya dengan sangat mudah. kecantikannya, hartanya, perasaannya, Dan kejayaannya.


Suara bel berbunyi, membuat Septi bergegas membukanya.


"Cla, Ada?" tanya Daniel saat pintu dibuka oleh Septi.


"Masuk, Niel!" teriak Clarisa dari dalam. Dia kemudian menghampiri Daniel yang masuk ke dalam apartemen.


"Kenapa baru datang?" tanya Clarisa membuat Septi menyipitkan sebelah matanya.


"Aku baru saja selesai rapat!" ucap Daniel dengan mendaratkan ciumannya pada Clarisa. Septi pun semakin heran ketika dia melihat Clarisa membalas dan menikmatinya.


Maksudnya apa coba? Katanya cinta sama Shakti katanya tidak rela ditinggalkan Shakti. Tapi, ciuman panas itu?


Septi hanya bermonolog dengan hatinya sendiri. Gadis itu tersenyum cemeh dengan menggelengkan kepala merasa heran saja memikirkan temannya itu.


"Aku balik dulu, Cla!" ucap Septi dengan menyambar tasnya. Rasanya percuma dia menunggui orang yang masih saling memeluk dan bercumbu.


"Thank you, Sep." teriak Clarisa masih dalam cumbuan Daniel.


"Never mind." jawab Septi dengan mengangkat satu tangannya tanpa menoleh ke arah dua orang yang saling memantik gairah lawannya masing masing.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2