
"Bagaimana bisa Mas Hans akan menjodohkan Hanum diusianya yang masih muda?" Zoya menatap penuh tanya pada lelaki yang kini juga terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tidak ingin Hanum ke luar negeri, Zoy!" jawab Hans dengan menggenggam tangan istrinya. Zoya bisa mengerti ada sebuah dilema dalam diri suaminya.
"Tapi tidak harus menyuruh Hanum menikah. Biarkan dia mencari ilmu dulu, menyelesaikan pendidikannya untuk bekal hidupnya nanti." ucap Zoya, kali ini dia tidak setuju dengan cara suaminya yang langsung mempertaruhkan masa depan putrinya hanya karena dia tidak ingin Hanum kuliah di luar negeri.
Hans hanya terdiam, dia sendiri masih berfikir keras untuk mempertimbangkannya. Jika masih bisa dengan jalan lain, mungkin dia akan memilih jalan lain untuk mempertahankan putrinya.
Sementara itu, di dalam kamar, Hanum mengamuk dan meluapkan emosinya dengan mengoceh tak karuan. Dia benar benar tidak percaya, jika papanya bisa memikirkan hal semacam itu di zaman seperti ini.
Tapi setelah beberapa saat kemudian dia mulai tertegun untuk memikirkan jalan keluar dari semua masalahnya.
###
"Besok kamu visit jam berapa, Ay?" tanya Shakti mereka sedang berada di balkon. Alexa menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Begitupun Shakti dia terus mengelus rambut lembut istrinya dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Besok pagi, Mas." jawab Alexa masih menikmati suasana malam bersama lelaki pertama yang mengisi hatinya.
"Tapi, aku maunya besok kalau kita sudah punya anak kamu di rumah bersama anak- anak." lanjut Shakti membuat Alexa bisa mengerti jika suaminya sudah mendambakan makhluk kecil yang akan memperkuat hubungan mereka.
"Drt... drt... drt... " ponsel Alexa berbunyi membuat wanita yang sudah malas bergerak pun memaksa dirinya untuk mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaikum, cantik." jawab Alexa saat megangkat panggilan Hanum.
"Waalaikum salam. Kakak.... hik.... hik... " Hanum terdengar menangis membuat Zoya semakin mempertajam pendengarannya.
"Ada apa, Num. Kenapa kamu menangis?" cecar Alexa penuh selidik. Adiknya itu tidak akan menangis jika itu bukan masalah yang serius.
"Kak, Papa akan menjodohkan Hanum." Alexa seketika terhenyak kaget. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Serius? tanya Alexa. Dia juga masih mendengar isak tangis Hanum.
"Kak, tolong bilang sama Papa. Aku masih ingin bebas, aku ingin melanjutkan kuliah ke Oxford." pinta Hanum terdengar dengan suara parau, ini pertama kalinya adiknya terdengar begitu putus asa.
"Iya sayang, nanti Kak Ale akan bicara dengan Papa. Kamu tenang saja, jangan sedih kayak gitu." ucap Alexa.
"Terima kasih, Kak. Assalamu'alaikum!" Hanum menutup teleponnya.
__ADS_1
Alexa bisa mengerti jika Hanum terdengar sedang sedih. Lagi pula dia juga tidak mengerti kenapa papanya sampai memilih jalan sebuah perjodohan.
"Kenapa, Ay?"
"Ada apa dengan si Hanum?" selidik Shakti yang sejak tadi berusaha memahami percakapan kakak beradik itu.
"Papa akan menjodohkan Hanum, Mas."
"Apa?" Seketika itu pula Shakti terperanjat kaget. Dia juga tidak mengerti jika papa mertuanya punya pemikiran sekolot itu.
"Iya, Hanum tadi ceritanya sambil menangis. Sedang Hanum ingin melanjutkan kuliah ke Oxford. "
"Mas tahu sendiri kan, dia sekarang sangat rajin belajar. Bahkan, dia tidak merengek untuk mempunyai mobil sendiri." jelas Alexa membuat Shakti mengerti jika posisi Hanum.
"Sekarang kamu tidur, Ay. Besok pagi kamu harus visit ke rumah sakit. Urusan Hanum bisa dibicarakan saat bertemu dengan Papa." lanjut Shakti saat mendengar suara bel berbunyi. Dia memang meminta Arkha untuk datang ke apartemennya. Apartemen kedua lelaki itu hanya berbeda lantai saja.
Keduanya bangkit dari duduk, Alexa langsung masuk ke kamar sedangkan Shakti memilih untuk membukakan pintu apartemennya.
Terlihat Arkha berdiri di depan pintu, membuat Shakti mempersilahkan temannya itu untuk masuk.
"Ada apa, Shak?" tanya Arkha saat di baru saja meletakkan bobot mereka di sofa ruang utama.
"Baiklah, biar sekretarisku yang datang memberi laporan pada Bimo." sambut Arkha.
"Kamu di sini sendiri, Shak?"
"Ada Alexa di kamar." jawab Shakti dengan berjalan menuju lemari pendingin. Pria itu mengeluarkan dua kaleng soft drink dan memberikan satu pada Arkha..
"Lo, ngurung dia? Gila lo..." decih Arkha.
"Emang kenapa? Istriku sendiri." jawab Shakti dengan cuek, padahal dia faham sekali dengan apa yang dimaksud dengan Arkha.
"Alexa lagi bingung, karena Papa mertua yang tiba-tiba akan menjodohkan Hanum." Seketika Arkha terperangah kaget, tapi sebisa mungkin dia menutupi rasa terkejutnya dari Shakti.
"Hanum mau dijodohkan?" selidik Arkha.
"Lah, karena dia tidak mau makanya tadi curhat sama Kak Ale-nya sambil nangis nangis. Hanum ingin kuliah keluar negeri." Seketika Arkha tertegun mendengarnya. Ini seperti bukan sebuah kelegaan. Bocah itu sudah memblokir nomernya, dia juga akan menjauh pergi. Diam diam, dia tidak menyadari jika ada rasa yang membuat dirinya menjadi gelisah.
__ADS_1
Arkha membiarkan Shakti bercerita sementara dirinya sibuk menenangkan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya.
"Arkh... " pangil Shakti. Dia melihat sahabatnya sedang tertegun.
"Iya... "
"Kamu baik baik saja, kan?" lanjut Shakti merasa janggal dengan sikap Arkha.
"Iya, aku baik baik saja. Aku balik dululah, aku ada janji dengan seseorang." pamit Arkha.
"Siapa? Rania? Atau perempuan lain?" selidik Shakti masih dengan mode curiga.
"Nggak, hanya orang yang akan mengantarkan pesanan saja." jawab lelaki itu kemudian beranjak dan duduknya dan pergi ke luar.
###
Setelah kepergian Arkha, Shakti kembali masuk ke dalam kamar mencari istrinya. Ternyata, Alexa sudah tertidur. Lelaki itu kemudian menarik selimut istrinya hingga ke dada dan mencium kening istrinya.
"Mas... " panggil Alexa dengan menahan tangan Shakti. Lelaki itu menatap perempuan yang sudah membuka matanya.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi, gih!" ujar Shakti kemudian duduk di pinggir tempat tidur.
"Di kulkas ada makanan apa?" tanya Alexa yang merasa perutnya sangat lapar.
"Cuma mie spageti dan daging cornet." jawab Shakti yang merasa heran, tidak biasa Alexa menanyakan makanan setelah lewat pukul sembilan malam.
Alexa bangun dari tidurnya, dia menggelung rambut panjangnya dengan terampil. Kemudian memeluk tubuh tegap itu sejenak.
"Aku ingin buat spaghetti dulu!" ujar Alexa dengan menggeser tubuhnya dan menuruni tempat tidur. Shakti hanya menatap heran istrinya. Kemudian, berjalan membuntut menuju dapur.
Terlihat wanita yang hanya mengenakan kemeja kedodoran itu membuat mie spageti.
"Sayang, tumben kamu makan jam segini." ujar Shakti dengan memeluk pinggang istrinya.
"Aku lapar, Mas. Mas Shakti mau juga?" tanya Alexa dengan sedikit menolehkan wajahnya ke belakang.
"Boleh!" posisi Alexa membuat Shakti dengan mudah mengecup bibir mungil itu.
__ADS_1
"Tapi, jangan begini. Aku susah gerak, Mas." protes Alexa kalau suaminya itu terus mengganggunya. Tapi, lelaki itu tak bergeming, bahkan dia sempat menghujani tengkuk Alexa dengan beberapa kecupan dan gigitan.
Bersambung