
Alexa berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju ruangannya. Siang ini, rasanya dia ingin sekali makan siang bersama Shakti.
Setelah mendudukkan tubuhnya balik meja kerjanya. Alexa mengeluarkan ponselnya. Bermaksud menelpon Shakti. Kali ini, dia ingin makan siang bersama.
"Assalamu'alaikum, Mas." ucap Alexa saat Shakti mengangkat panggilannya.
"Waalaikum salam, ada apa, Ay?" tanya Shakti dengan anggapan setiap kali istrinya menelpon biasanya ada hal penting.
"Mas dimana? Aku ingin makan siang bersama." pinta Alexa. Rasanya dia sudah ingin bertemu dengan suaminya itu.
"Jangan sekarang ya, aku sedang makan siang bersama kolega." bohong Shakti kemudian melirik Clarisa yang duduk di depannya. Clarisa juga membalas tatapannya, dia tahu Shakti sedang berbohong pada istrinya.
"Baiklah, maaf jika mengangganggu, Mas. Assalamualaikum." kalimat Alexa terdengar sangat lemah membuat Shakti merasa bersalah dengan istrinya. Dia tahu Alexa pasti kecewa. Alexa tidak pernah meminta sesuatu pun tapi kali ini dia udah telanjur duduk satu meja dengan Clarisa dan membahas tentang penjualan rumah papanya.
Clarisa memang berniat menjual rumah peninggalan papanya karena alasan rumah itu akan mengingatkan dirinya penyebab papanya meninggal. Untuk itu dia meminta tolong pada Shakti untuk mencarikan pembeli.
Di ruangan yang menjadi bagian dari rumah sakit, Alexa menghela nafas panjang. Rasanya dia sensi sekali karena penolakan Shakti. Tapi dia tidak bisa menyalahkan Shakti karena memang itu untuk pekerjaan.
"Lebih baik aku cari makan saja, sekarang. Jika telat makan pasti akan mengeluarkan keringat dingin." gumam Alexa kemudian membuka jas putihnya dan meletakkan di sandaran kursi.
Alexa kini berjalan keluar ruangannya. Tapi, baru beberapa langkah dia melihat anak kecil yang bersorak saat melihatnya.
"Tante Salma... " teriak dewa kemudian berlari menghampiri Alexa.
"Dewa, apa kabar, sayang?" Alexa pun berjongkok saat mendapati tubuh kecil itu dan memeluknya. Sungguh, dia rindu pada bocah laki laki yang dulu tidak mau lepas darinya.
"Om Shakti mana?" tanya Dewa.
"Om Shakti lagi kerja. Tempatnya jauh dari tumah sakit ini." Jelas Alexa membuat bocah itu mengangguk faham.
"Mbak Laras, apa kabar?" betapa senangnya Alexa bisa bertemu kembali dengan Laras.
"Baik, Salma. Kamu bagaimana kabarnya?" Laras kemudian memeluk Alexa.
"Baik, Mbak. Mbak Laras tambah cantik saja." puji Alexa, dia memang melihat Laras semakin terlihat anggun dari sebelumnya. Kulitnya yang terawat dress yang dia kenakan begitu cocok dengan membalut tubuhnya.
__ADS_1
"Kalian sedang mencari Dokter Agam?" lanjut Alexa.
"Ini Dewa, sepulang sekolah minta ketemu papanya. Ternyata, Mas Agam masih dua jam baru selesai visit." jelas Laras membuat Alexa tersenyum. Ada yang beda dari keluar kecil ini yaitu panggilan mereka.
"Dewa bagaimana jika kita cari es cream di depan? Tante Salma masih kangen kamu." tawar Alexa dengan menoel pipi bocah laki laki itu.
"Boleh ya, Ma?" tanya Dewa dengan mengalihkan pandangannya pada Laras.
"Iya, boleh." jawab Laras. Mereka mulai berjalan keluar rumah sakit, di depan rumah sakit ada sebuah cafe yang cukup ramai dikunjungi saat makan siang.
"Mbak Laras sekarang tinggal dimana?" tanya Alexa.
"Kami tinggal di perumahan yang dekat dengan rumah Mama Dita. Mas Agam bilang, kasian Mama jika kita tinggal terlalu jauh. Tapi, Mama Dita belum bisa menerima kami." ujar Laras. Bisa terlihat semburat kesedihan dari raut wajahnya.
"Sabar ya, Mbak. Semoga Allah bisa membalikkan hati mamanya Dokter Agam." ucap Alexa.
"Kalau Mbak bisa mengerti, tapi kalau Dewa kasihan, anak itu masih takut sama omanya. Setiap Mas Agam meminta untuk salim pada omanya, dia selalu menarikku untuk menemaninya." lanjut Laras.
Sambil makan siang dan menunggu dokter Agam selesai visit mereka pun berbincang menceritakan kabar masing masing. Keduanya juga saling bertukar nomer ponsel agar bisa bertemu kembali jika ada kesempatan.
###
"Kak, Arkha sudah buatkan jus untuk kamu." ucap Arkha dengan duduk di sebelah Hanum Lelaki itu sengaja mengikis jarak diantar mereka.
"Ihh... jangan dekat-dekat!" ucap Hanum dengan menggeser tubuhnya menjauh. Tapi, Arkha malah mengikutinya, hingga Hanum terpojok di pinggir sofa.
"Kak Arkha, jangan nempel- nempel!" tidak hanya bersungut kesal, gadis itu juga memukul paha Arkha membuat lelaki itu semakin gemas menggodanya.
"Nggak boleh nempel tapi boleh peluk!" Arkha langsung merengkuh tubuh kecil di sebelahnya membuat Hanum membentur dadanya.
"Kamu istriku, aku boleh melakukan apa saja dong." pelukan Arkha yang begitu kuat membuat Hanum sulit untuk meronta.
"Auuughh..." pekik Arkha terkaget merasakan perih di dadanya tepat di bagian p*ting karena Hanum menggigitnya.
"Makanya, lepasin!" pelukan erat Arkha malah semakin erat membuat Hanum semakin lemah untuk meronta.
__ADS_1
"Bukan begitu cara gigitnya, Hanum!"
"Tapi begini." ucap Arkha kemudian menyecap leher yang masih terbungkus jilbab tipis itu. Membuat Hanum terlonjak kaget.
"Geli...lepas, Kak!" Hanum terus berusaha mendorong bahu bidang itu, tapi kedua lengan Arkha sudah mengunci lengan dan tubuh mungil istrinya.
"Begitu cara gigitnya bukan pakai gigi." jelas Arkha dia harus bisa menanggapi sikap bar bar singa kecilnya agar tidak terus ribut dan memanas.
Hanum mematung menatap mata tajam lelaki dewasa di depannya. Pelukan Arkha yang seperti ini membuat jantungnya berdegup kencang.
"Besok kita pulang ke kotanya Kak Arkha. Kamu harus kenalan sama ibu mertua dan adik iparmu!" ucap Arkha membalas tatapan Hanum. Lelaki itu memang menyukai mata cantik yang dihiasi dengan bulu lentik itu.
"Tapi, aku takut. Aku tidak pintar beradaptasi." Gadis itu menyadari tidak setiap orang bisa menerima sikapnya. Dia juga bukan tipe orang yang pandai berbasa basi.
"Ibu dan adik Kak Arkha baik kok. Kamu jangan khawatir!" Arkha kembali meyakinkan Hanum. Gadis itu tidak menyadari jika tangan kecilnya melingkar di perut rata lelaki yang saat ini merangkul kuat bahunya agar tetap bersandar.
"Drt... drt... drt... " suara ponsel Hanum membuat gadis itu beranjak.
"Kak Arkha diam, aku tidak ingin Dira curiga." sergah Hanum membuat Arkha tersenyum. Iya kelakuannya persis anak kecil.
"Temenmu emang cuma Dira saja? Siang malam kok cuma itu anak yang menghubungimu!" celetuk Arkha yang membuat Hanum mencubit perutnya untuk diam karena dia sudah membuka layar ponselnya.
"Hanum, kamu tidak masuk kuliah lagi? Apa perlu aku jenguk ke rumah?" tanya Dira saat melihat wajah cantik sahabatnya. Sudah hampir seminggu Hanum tidak kuliah.
"Jangan! Aku sedang di luar kota!" dengan cepat Hanum menjawab Dira, Dira akan tahu semuanya jika sampai di rumahnya.
"Ohhh... kapan kamu pulang? Aku dan Mbak Lita kwalahan mengurus kedai dan toko." lanjut Dira. Padahal dia sendiri merasa kesepian tidak ada Hanum yang biasanya selalu bersamanya.
"Minggu depan sepertinya. Aku lagi ada sesuatu yang penting." Hanum memang belum siap bercerita pada Dira saat ini, dia mungkin akan mengatakannya nanti saat sudah masuk kuliah.
Arkha yang mendengar obrolan dua bocah itu pun bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia hanya merasa dunianya dengan dunia Hanum berbeda, bahkan baginya karakter Hanum sangat sulit difahami. Bisa dibilang tidak menyenangkan, tapi kenyataannya dia harus hidup bersama dengan gadis ketus dan arogan itu.
'Di jalani saja dulu! ' pikir Arkha kemudian mengilang dari balik pintu kamar mandi.
###
__ADS_1
Ya Allah Terima kasih yang sudah selalu setia menunggu Rindu Alexa. Meskipun alurnya enteng, ceritanya biasa saja tapi masih tetap ditunggu Terima kasih untuk dukungannya... semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dan limpahan rejeki yang barokah.... amin.