
Agam terlihat gelisah, dia sudah tidak fokus melakukan pemeriksaan pasien setelah membaca berita jika Alexa dan Shakti telah menikah sebelum acara sumpah dokter itu.
"Benarkah semua pemberitaan itu benar?" Pertanyaan itu yang selalu menggelitik dalam benaknya. Baginya semua sulit dipercaya. Lelaki bermata sipit itu pun berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan banyak pertanyaan yang ingin dia dapatkan jawabannya segera.
"Eh, Nin." sapa Agam saat mendapati Nindy yang akan masuk ke dalam ruangan.
"Iya, dok." jawab gadis itu sedikit heran.
"Benarkah Alexa sudah menikah?" tanya Agam terlihat tidak tenang.
"Aku tidak faham betul. Alexa tidak pernah cerita apapun.
"Kalau itu aku belum tahu sebenarnya tapi saat ini Alexa menghilang, dok." jawab Nindy, dia juga seolah meragu dengan apa yang dikatakannya sendiri. Semua seperti tiba tiba,hingga notabene Alexa yang sedikit tertutup itu pun belum bercerita apapun.
Agam terdiam sejenak, dia merasa semua di luar nalarnya. Membayangkan saja kebenaran itu membuatnya kecewa, " Baiklah, aku balik dulu, Nin." Kali ini dia berniat datang ke rumah Alexa untuk mencari kebenaran.
###
"Ada yang Mama sesali, Shak! " ucap Gayatri saat mereka sedang sarapan bersama. Beliau pernah berjanji akan menjemput adiknya Gendis saat putra bungsunya menikah. Tapi, ternyata pernikahan Shakti tidak seperti yang di rencanakan.
"Ehmmm... rencananya, bulan depan Shakti akan membuka cabang di daerahnya Tante Gendis." ujar Shakti.
"Bukanya di tempat Tante Gendis kampung banget, bahkan mencari sinyal saja seperti mencari berlian." Gayatri menghentikan gerakan mulutnya. Dia menatap heran putranya.
"Bukan di kampung Tante Gendis tapi daerah kecamatannya."
"Jadi, jika perlu sebelumnya Shakti akan survey situasi dan proses pembangunannya." jelas Shakti. Semua perencanaan yang sudah dilakukan Arka jauh-jauh hari sudah mulai berjalan 50%.
"Baiklah hati-hati. Bagaimana perkembangan tentang kabar Alexa?" tanya Gayatri yang rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu menantunya.
"Masih belum ada titik terang. Masa pencarian cuma peretasan CCTV." jelas Shakti.
Sejenak Shakti tertegun, dia juga sangat merindukan Alexa. Bahkan, terkadang dia merasa uring - uringan karena rasa putus asa untuk menemukan Alexa.
"Drt.... drt.... drt.... " panggilan dari Rama menarik perhatian Shakti. Tanpa menunda lagi dia mengangkatnya.
"Halo... " ucap Shakti saat mengangkat telepon.
"Aku dan Bang Dika sudah menemukan pemuda yang menyebarkan fotomu dengan dokter itu." ucap Rama.
"Kalian Di mana?" tanya Shakti begitu Anthuias.
__ADS_1
"Di apartemenku."
" Baiklah, aku akan ke sana!" ujar Shakti. Dengan tergesa, dia berpamitan pada mamanya dan pergi ke apartemen Rama.
Hanya butuh beberapa menit dia sampai di lorong unit apartemen Rama. Dengan tidak sadar, lelaki itu terus memencet bel hingga pintu terbuka.
Shakti langsung menerobos masuk. Lelaki itu rasanya tidak sabar untuk menghajar pemuda lelaki itu. Tapi, ternyata Dika sudah berdiri dengan bersedekap di depan lelaki yang kini terikat kursi.
"Aku tidak akan memberitahu siapa orang menyuruhku meskipun kalian menghajarku hingga mati." ucap lelaki itu dengan tersenyum cemeh. Dia tahu jika tiga lelaki di depannya itu tidak akan bertindak bodoh dengan menghabisinya.
"Berapa orang itu membayarmu? Aku tidak akan membayarmu dua kali lipat." timpal Shakti.
"No... no... aku tetap tidak akan memberitahu meskipun kamu membayarku berlipat-lipat darinya." jawab lelaki itu, membuat Dika langsung menendang kursi itu hingga membentuk tembok. Lelaki yang sudah kehilangan kesabarannya itu pun berdecih kesal.
"Baiklah jika itu maumu! Aku akan membuat laporan dan menjebloskanmu ke penjara!" ucap Shakti. Dia tahu jika lelaki itu sulit dikorek keterangannya.
"Selama kamu di penjara, tidak ada yang tahu kondisi Ibu angkatmu yang masih membutuhkan biaya kemo." kalimat Dika menyurutkan senyum di wajah Kaisar. Tidak disangka orang di depannya akan mengetahui latar belakangnya.
"Bagaimana jika aku menjual adikmu saja. Aku cukup mengenal banyak pemilik tempat hiburan." lanjut Dika dengan tersenyum sinis.
"Jangan macam macam, Bang!" Terlihat Kai sudah mulai gusar. Jika hanya di penjara saja dia tidak takut, tapi bagaimana ibu dan adik angkatnya. Kai mulai berfikir, pilihan mana yang akan dia ambil, karena pada dasarnya dia tidak ingin menjadi pengkhianat.
"Aku tidak punya banyak waktu!" lanjut Shakti, sedangkan Rama masih menanti jawaban pemuda itu.
"Apa? " Shakti tersentak kaget awalnya dia mengira Agam yang melakukan semuanya, karena saat kejadian itu Agamlah yang paling mungkin untuk di curigai.
Rama langsung membuka tali pengikat tubuh Kai dan memintanya menunjukkan semua bukti transaksinya.
"Aku harap kalian tidak menyakiti keluargaku!" ucap Kai dengan tatapan mengarah kepada Dika.
"Lakukan lah, tidak ada untungnya aku menyakiti keluargamu!" dengan tegas kalimat Dika membuat Kai menunjukkan rekaman transaksi dari hasil kemera tersembunyi.
"Aku tahu kamu sangat cerdik! Kamu selalu bekerja dengan teliti." ucap Dika.
"Shiiitt... Bangsat! Benar benar perempuan ******." umpat Shakti ketika mengetahui jika Clarisa dalang semua kericuhan ini.
Rama merampas semua bukti itu. Shakti sudah memutuskan untuk memenjara mantan kekasihnya itu. Dia hanya tidak habis pikir jika semua kejadian yang menimpa Alexa juga perbuatan Clarisa.
"Tunggu! " suara Dika membuat semua menatap ke arahnya. Termasuk Kai yang akan meninggalkan ruangan itu.
"Masih butuh uang? Butuh pekerjaan?" tanya Dika pada Kai. Tapi lelaki itu masih terdiam dia belum mengerti maksud dari Dika.
__ADS_1
"Maksudnya, Bang?" tanya Kai dengan rasa penasaran.
"Menjaga putriku Aruna. Tapi, jangan sampai Aruna atau siapapun menyadarinya jika kamu menjadi keamanannnya."
"Bang Dika masih percaya padaku?" Kai seolah tak percaya. Sedangkan Shakti dan Rama juga menatap heran Dika karena tawarannya.
"Aku lebih pintar dari dirimu. Jika setuju beri laporan setiap bulan tentang apa saja yang dilakukan Aruna dan siapa saja yang dekat dengannya." lanjut Dika. Yang membuat dia memilih Kai adalah kesetiaan Kai. Meski sudah dihajar habis habisan tapi tetap saja pemuda itu tak bergeming. Hanya Ibu dan angkatnyalah kelemahan pemuda itu.
Shakti menyerahkan proses hukum Clarisa pada Rama karena dia masih ada janji dengan Arka dan beberapa investor yang akan bergabung dalam anak cabang perusahaannya.
Shakti melajukan mobilnya menuju kantor Arka. Dia paling jarang menggunakan sopir kantor karena lebih leluasa menyetir sendiri. Pikirannya akhir akhir ini memang selalu bercabang. Urusan penyebar fotonya pun sudah beres. Sekarang dia ingin fokus pada pencarian Alexa.
"Apa nanti aku ke rumah Papa Hans ya?" gumam Shakti yang berniat mengunjungi rumah mertuanya setelah meeting di kantor Arka selesai.
###
Sebuah lantunan musik dari audio menemaninya menyisir jalan kota menuju perumahan elite kediaman pengacara ternama di kota itu.
"Seandainya ada kamu, Ay." Shakti kembali terbayang senyum polos yang terlukis dalam wajah cantik itu. Dia berharap bisa menemukan gadis yang saat ini menjadi istrinya. Suasana sore yang sama, yang setiap kali membuatnya teringat saat kencan bersama Alexa. Semua membuat rindu itu semakin menyiksanya.
"Chiiitt.... " Sebuah mobil Pajero Sport menghadangnya. Agam keluar dari mobil itu dan menghampiri Shakti.
"Bisakah kamu jelaskan tentang berita itu." ucap Agam saat Shakti sudah keluar dari mobil dan berdiri di depannya.
"Berita apa? Yang mana?" tanya Shakti dengan santai sementara Agam semakin geram dengan kelakuan lelaki di depannya.
"Pernikahan itu. Tidak mungkin Alexa secepat itu menikah." Agam tahu semua tentang rancangan hidup gadis yang membuatnya bersabar untuk menunggu.
Shakti pun tersenyum dan memalingkan mukanya. Lelaki yang saat ini terkesan angkuh itu pun merasa bangga karena dia selangkah lebih maju dari lelaki di depannya.
"Itulah kebenarannya."
"Jika tidak percaya tanya saja Papa Hans dan Mama Zoya." ucap Shakti dengan santai membuat Agam menggeretakkan rahangnya.
"Bajingan!" Agam memukul Shakti tepat di perutnya. Agam begitu kecewa, jika Hans dan Zoya mengetahuinya, mungkin itulah yang sebenarnya.
"Bughhh...urus saja hidupmu sendiri dan masa lalumu!" ucap Shakti yang kemudian melayangkan pukulannya di wajah Agam.
Masa lalu.
Sejenak Agam tertegun memikirkan kalimat rivalnya. Sementara, Shakti kembali melajukan mobilnya sesuai dengan rencana awalnya.
__ADS_1
Bersambung.