
"Apa dia memang masih berarti untukmu?" tanya Alexa dengan menatap tajam suaminya. Dia tahu itu masa lalu, tapi tidak ada yang tahu masa lalu itu benar benar pergi atau masih sedikit bertahan di hidup seseorang.
"Aku hanya lupa menyingkirkannya, Ay." mendengar jawaban Shakti Alexa hanya terdiam, kemudian membuka jendela, dan pintu penghubung balkon.
Rumah yang sangat bagus, pikir Alexa, dia bisa melihat rerumputan hijau, pohon pohon besar yang terlihat rindang dan kolam renangnya lebih besar dari kolam renang di rumah Papa Hans.
"Sayang, kamu marah?" ucap Shakti dengan memeluk istrinya dari belakang. Alexa menoleh, tapi saat Shakti membenamkan ciuman di tengkuknya Alexa langsung menarik kepalanya. Dia masih sensitif mendapatkan sentuhan di area itu.
"Nggak juga, hanya butuh waktu untuk bisa mengerti kehidupan masa lalu suami yang penuh dengan mantan." jawab Alexa, dia tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai mantan, bagaimana jika kepingan kepingan kenangan tentang mantan menyapa kembali? Alexa tidak punya tolak ukur dari dirinya.
"Setelah kepergianmu, terlalu banyak masalah yang harus aku selesaikan, Ay. Aku tidak sempat menatap ulang kamarku." Shakti menundukkan tubuhnya, menempelkan keningnya pada kening istrinya, membuat wajah Alexa merona kala hembusan nafas Shakti menyapu lembut wajahnya.
"Mas- Mas, katanya pagi ini ke kantor?" tanya Alexa sedikit gugup. Dia masih saja merasa canggung saat Shakti begitu intents padanya.
"Kenapa? Kamu tidak suka jika kita berduaan?" Shakti balik bertanya, masih dengan posisi yang sama.
"Bukan, Mas... " Kalimat Alexa menggantung lelaki itu memang membungkam kalimat istrinya dengan ciuman pagi. Dia sendiri tidak tahu, saat ******* bibir mungil itu memang candu baginya meski si pemilik tidak terlalu pintar mengimbangi ciumannya.
"Iya, aku ada rapat dengan klien baru. Tolong siapkan bajuku, Ay." titah Shakti kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali menyegarkan kembali wajahnya sebelum ganti pakaian.
Alexa mencari setelan kemeja dan jas yang cocok. Semua yang ada di lemari pakaian suaminya memang barang branded semua. Alexa mengambil kemeja berwana grey dengan jas warna hitam dan celana hitam. Meskipun, Shakti tidak terlalu suka mengenakan jas formal tapi hari ini dia ada rapat penting yang membuatnya harus mengenakan jas.
Lelaki itu kemudian keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer dan menghampiri Alexa yang sudah menyiapkan baju kerjanya hari ini.
"Mas, aku boleh kerja?" tanya Alexa saat membantu mengancingkan kemeja suaminya.
"Aku lebih senang kamu di rumah, mengurus semua urusan rumah yang tidak bisa aku tangani, Ay. Mama juga sudah tua, Mama butuh teman." ucap Shakti membuat Alexa hanya mengangguk. Dia memang punya cita cita, tapi satu sisi dia seorang istri yang harus menuruti apa kata suaminya.
"Percayalah, aku akan menyukupi semua kebutuhanmu." lanjut Shakti saat melihat senyum sumbang dari bibir istrinya.
"Iya, Mas." jawab Alexa meskipun hatinya tidak bisa menerima itu sepenuhnya. Semua tidak hanya tentang uang. Ada sebuah cita-cita yang harus di gantung, dia juga sudah terbiasa dengan banyak aktifitas. Bagaimana dengan harapan papanya? Pikiran Alexa masih saja terseret dalam dilema yang masih membeku dalam pusara status istri. Dia masih mencoba mengikuti alur ini meski sangat berbeda dengan apa yang dia inginkan.
Shakti merangkul istrinya untuk turun, dia juga berpesan jangan naik mobil sendiri membuat Alexa merasa suaminya sangat berlebihan.
__ADS_1
"Nanti ke kantor dianter Pak Hanif saja, Ay." Iya Pak Hanif memang sopir rumah ini, tapi beliau malah lebih cenderung menjadi tukang kebun dari pada mengantar pergi majikannya.
"Iya, Mas." Shakti merangkul istrinya untuk menuruni tangga. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Loh, Mama kira kamu cuti, Shak." sapa Mama Gayatri saat beliau berada di ruang tengah melihat acara berita.
"Hari ini ada banyak jadwal penting, Ma." ucap Shakti seraya mereka mendekati wanita sepuh yang tatapannya tidak beralih dari keduanya.
"Sekarang selain sibuk ngurus pekerjaan, kamu juga harus program calon cucu Mama. Mama tua, Shak." ucap Gayatri membuat wajah Alexa merona, dia sedikit menyembunyikan wajahnya di balik lengan kekar suaminya.
"Sabar, Ma. Shakti, masih tahap ngenalin, belum tahap adu gaya." jawab Shakti membuat wajah Alexa terasa panas karena merasa malu oleh obrolan dewa kedua orang di dekatnya. Dia bahkan, mencubit pinggang Shakti agar bisa berhenti bicara.
Sekarang Gayatri memang lebih terlihat bahagia, semburat sisa sisa kecantikannya pun semakin terlihat jelas. Sosok itu semakin terlihat jelas menurunkan beberapa gen yang cukup potensial pada suaminya.
"Aku berangkat dulu, Ay!" Alexa mencium punggung tangan suaminya sedangkan Shakti mencium kening istrinya.
###
Hanum mengelap keringatnya, dia menghabiskan tenaganya untuk bermain timezone sepuasnya. Akhir- akhir ini dia begitu gelisah. Gadis yang sebenarnya cukup pintar dan dewasa meskipun manja itu handal untuk mencerna sesuatu hal. Tapi, kali ini dia tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, ada rasa gelisah yang tidak bisa di cerna sendiri.
Hans bisa mengerti jika harus memperlakukan Hanum berbeda dengan memperlakukan Alexa. Dia hanya meminta Hanum untuk pulang sebelum pukul sembilan malam dan jika ada apa apa dia meminta putrinya untuk menghubungi rumah.
Gadis itu menghentikan gerakannya dan mengakhiri permainannya. Ternyata sampai energinya habis, dia juga tidak bisa memperbaiki moodnya.
Masih dengan wajah murung dan tanpa peduli dengan sekitarnya gadis itu berjalan keluar dari area permainan.
"Aduh... "
"Kalau jalan pakai mata dong!" Omel Hanum dengan ketus dengan mengusap keningnya yang terkena lengan berotot itu. Hanum yang pada awalnya tidak peduli, kini menoleh ke arah sosok yang tadinya menabraknya malah menghadangkan dada bidangnya.
"Ngerecokin banget, si." gerutu Hanum dengan wajah masam, tapi malah di sambut Arkha dengan senyuman.
"Mau kemana?" Arkha menarik lengan gadis ketus itu.
__ADS_1
"Bukan Muhrim!" tambah Hanum dengan ketus. Tapi membuat Arkha malah tersenyum dan mempererat genggamannya, tapi memang dia hanya menganggap Hanum hanya seperti adiknya saja apalagi gadis bar bar itu adik iparnya Shakti.
"Sekali kali lembut kenapa, sayang!" ucap Arkha masih dengan dengan cengengesan.
"Sayang? Sejak kapan namaku berubah?" cebik Hanum bertambah kesal saat di goda.
"Sejak Kak Arkha sayang sama kamu." jawab Arkha membuat Hanum terbungkam, gadis itu berusaha dengan keras menyembunyikan salah tingkahnya.
"Iya, sejak Kak Arkha sayang kamu seperti adik Kak Arkha." ucap Arkha tanpa menyurutkan senyumnya, lelaki itu memutar tubuh yang seperti membeku dan merangkulnya mengajak berjalan keluar.
"Ih, nggak usah pegang pegang! Kasian suamiku nanti udah sisa sisa tangan laki laki lain." Hanum membuang tangan Arkha dari bahunya, masih dengan mengomel gadis itu mengusap usap bahunya seolah habis terkena kotoran.
"Nggak nafsu aku sama kamu Hanum."
"Beli es cream yuk!" ajak Arkha.
"Males." sahut Hanum berusaha mempercepat langkahnya. Tapi, Arkha langsung menarik tangannya membuatnya harus terhenti.
"Aku ada referensi bakso enak lo! Tempatnya juga asyik." bujukan Arkha membuat Hanum melemah. Baru membayangkan bakso dengan kuah pedas saja sudah membuat liurnya ingin keluar.
" Bagaimana? Mau? " Mendengar pertanyaan Arkha hanya membuat Hanum mengangguk.
Arkha yang semula akan berbelanja bulanan setelah pulang dari luar kota, itu pun menggagalkan niatnya. Entah, kenapa menggoda gadis jutek itu seperti ada hiburan tersendiri untuknya.
"Kok tempatnya jauh? Jangan jangan Kak Arkha mau menyulikku?" tanya Hanum saat mereka mulai masuk jalan yang sedikit sepi.
"Ngapain aku nyulik kamu? Mending nyulik bidadari kayak Rania." celetuk Arkha sekenanya dia lagi fokus saat membelok di sebuah tikungan.
Hanum terdiam, entah kenapa kok hatinya sedikit nyeri. Dia memegang dadanya pelan., meyakinkan kembali hatinya. Iya, ada rasa nyeri di sudut sana. Hanum merasa Arkha sedang membandingkannya, sementara jangan kan dengan orang lain, dengan Alexa saja dia tidak ingin dibandingkan.
"Hae... Ayok turun!" Arkha mengusap kepala Hanum ketika melihat gadis itu hanya tertegun.
"Kita sudah sampai." lanjut lelaki itu saat Hanum menoleh ke arahnya. Arkha tersenyum dan kemudian turun, membukakan pintu mobil untuk Hanum
__ADS_1
Hanum