
Sejak bertemu dengan Alexa dan Dokter Agam di kafe. Shakti memilih kembali ke apartemen. Dia ingin menghabiskan waktu sendiri di sana. Ada sebuah rasa yang aneh di sela-sela rongga hatinya. Hati yang seharusnya hanya untuk kekasihnya, berbaur dengan rasa yang tidak bernama untuk gadis lain.
Dengan membawa kaleng soft drink lelaki itu berjalan menuju balkon. Sesekali diteguknya kaleng berisi minuman bersoda itu dengan menikmati ramainya lampu kota dari ketinggian lantai tujuh belas.
Aku tidak mengerti dengan perasaanku. Tidak seharusnya aku merasa kesal karena gadis itu dekat dengan lelaki lain.
Dia bukan siapa siapaku dan tidak seharusnya itu mempengaruhiku. Gadis itu hanya punya hubungan dengan Mama. Tidak denganku.
Shakti terus saja berusaha meluruskan logikanya kembali. Dia juga berfikir, ini semua mungkin karena hubungannya dengan Clarisa yang sedikit merenggang. Gadis keras kepala itu terlalu dominan dalam hubungan mereka yang terkadang memang membuat lelaki itu merasa lelah dan tidak nyaman.
Shakti sendiri tidak terlalu memikirkannya, karena selama ini, hidupnya memang lebih fokus untuk bekerja. Dia hanya ingin memberi kehidupan yang layak pada istrinya tanpa harus bekerja. Bukan melarang istrinya bekerja, tapi dia hanya ingin istrinya lebih memperhatikan mamanya dan keluarga kecilnya nanti.
Egois. Kata itu yang menjadi tanggapan Clarisa tatkala dia mengungkapkan keinginannya itu, Clarisa merasa Shakti terlalu membatasi dirinya jika sudah menikah.
Lelaki yang saat ini meraup wajahnya dengan kasar itu pun terus saja mencoba meyakinkan hubungannya dengan sang kekasih. Selama ini hubungannya dengan Clarisa berjalan baik baik saja, tidak ada cinta lain, tidak ada keributan bahkan Shakti selalu menuruti apa yang diinginkan sang kekasih. Terkadang dia juga merasakan hubungannya terasa hambar. Tidak ada perasaan yang seperti tadi, perasaan yang dia rasakan terhadap gadis berbibir mungil itu. Ditambah lagi rasa yang tidak biasa. Gadis naif yang terkadang lucu dan bisa juga mendadak berubah menjadi galak. Mengingat Alexa, dia hanya bisa tersenyum sendiri.
"Astaga... sumpah!! Aku tak bisa menghindarinya." umpatnya pada diri sendiri.
Bahkan, tiga hari Clarisa tidak menghubunginya pun dia masih biasa aja. Iya, sejak pertengkaran kemarin itu mereka tidak lagi saling menghubungi. Biasanya, Shakti yang mulai menghubungi sang kekasih tapi entah kenapa saat ini dia masih merasa nyaman tanpa Clarisa.
###
Malam ini, Alexa masih di rumah sakit. Hawa dingin membuatnya merapatkan jas putih yang masih melekat di tubuhnya. Langkahnya mengayun dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri.
Pukul 09.00 wib, suasana rumah sakit sudah mulai sepi, hanya beberapa team medis yang bertugas yang masih terlihat.
"Lexa!" panggil Agam. Alexa menoleh ke arah lelaki yang berjalan cepat untuk bisa mengejar gadis yang kini tersenyum ke arahnya.
"Belum pulang, Dok?" tanya Alexa saat lelaki yang penuh perhatian itu berada di depannya.
"Aku baru saja selesai visit. Ada yang ingin aku bicaranya padamu." ucap Agam. Mereka kembali melangkah menuju ke ruangan Alexa. Dokter dengan alis tebal dan hidung mancung itu memang tidak pernah berhenti mengejar Alexa.
"Emang ada apa, Dok?" tanya Alexa dengan menolehkan pandangannya ke arah Agam.
"Hari minggu nanti kamu ada acara?"
__ADS_1
"Sepertinya kosong, Dok. Emang kenapa?" Alexa masih belum mengerti maksud Dokter Agam.
"Aku ingin mengajakmu ke acara ulang tahun temanku." jelas Agam. Teman yang pernah sekampusnya dulu mengadakan ulang tahun di sebuah resort yang ada di tepi pantai.
"Ehm- .. " Alexa nampak begitu ragu. Dia juga sungkan jika menolak permintaan Dokter Agam. Selama ini Dokter Agam sudah terlalu baik padanya.
Tak terasa langkah mereka sudah membawa keduanya hingga di depan ruangan Alexa.
"Silahkan, Dok." Alexa mempersilahkan Dokter Agam untuk masuk setelah dia membuka pintu.
"Bagaimana, Lexa?" Agam kembali bertanya, dia tidak sabar mendapat jawaban dari Alexa.
"Aku belum bisa memberi jawabannya, Dok. Jika orang tua saya mengizinkan mungkin saya bisa menemani dokter."
"Baiklah nanti saya yang akan bicara dengan Om Hans." Dengan cepat dan bersemangat Agam menerima persyaratan Alexa. Bagi Agam yang sudah mengenal keluarga Alexa, hal itu tidaklah sulit untuk dilakukannya.
Agam memang menemani Alexa hingga Alexa menyelesaikan tugasnya. Pukul sepuluh malam mereka bergegas pulang. Agam yang begitu perhatiannya kadang membuat Alexa merasa tidak enak sendiri. Seperti saat ini, lelaki berhidung mancung itu menawarkan diri mengantar Alexa pulang. Tapi, Alexa memilih mengendarai mobilnya sendiri. Meskipun mendapatkan penolakan, tapi Agam masih membuntuti mobil Alexa hingga membelok memasuki jalan komplek rumah gadis cantik yang membuatnya semakin yakin jika Alexa gadis yang tepat untuk diperjuangkan.
###
Pagi yang begitu cerah. Sinar mentari pun menerobos dari balik jendela yang sudah dibuka semua tirainya. Alexa melihat Zoya sudah berada di dapur. Seperti biasa, Zoya pasti menyiapkan minuman hangat dan sarapan di pagi hari.
Alexa yang melihat semuanya berkumpul mencari Oma Shanti untuk membantunya keluar dari kamar. Oma Shanti yang sudah sepuh itu memang kesulitan untuk berjalan sendiri dengan jarak yang sedikit jauh.
"Papa, kapan Hanum dibeliin mobil? Teman teman Hanum ke kampus sudah nyetir sendiri." rengek Hanum dengan bergelayut manja pada papanya.
"Minta Mama kalau urusan mobil. Uang Papa tak sebanyak uang Mama." jawab Hans singkat dengan membuka layar ponsel membaca berita pagi ini.
"Nanti jika Hanum sudah skripsi." sahut Zoya yang mendengar rengekan putrinya.
"Mama kenapa selama itu?" protes Hanum dengan wajah cemberut. Dia tahu bakal ada penawaran jika meminta semua pada mamanya.
"Ya Allah Hanum. Sayang, jika masih menuntut ilmu kita tidak boleh berlebihan. Kasian mereka yang hanya bisa naik angkot atau naik taxi. Tidak semua orang punya uang untuk membeli mobil. Bayangkan kamu yang di posisi mereka, Nak." sikap Hanum yang sedikit bandel membuat Zoya sering kali harus mengeluarkan jurus ceramahnya. Menasehati anak seperti karakter Hanum memang tidak butuh hanya sekali berbicara, bahkan dia sering mengulangnya berkali-kali, meski putrinya terkadang terkesan mengabaikan. Tapi Zoya yakin, suatu saat Hanum akan bisa mengerti apa yang dia maksud.
Sabar terkadang tidak hanya diam dan menerima, tapi sabar terkadang kita harus terus berusaha dan selalu mencoba.
__ADS_1
"Num." panggil Hans lirih dengan menjentikkan jarinya agar putrinya mendekat.
"Kamu latihan nyetir dulu! Nanti kalau sudah bisa, sesekali kamu bisa pakai mobil rumah seperti Kak Aleks." bisik Hans tepat di telinga putrinya. Zoya yang melihatnya pun sudah faham kelakuan suaminya.
"Kak Aleks, itu menggunakan mobil jika ada hal penting saja. Lagian, jika kamu ingin mobil ya menabung kayak Kak Aleks." timpal Zoya setelah meramalkan apa yang dikatakan suaminya. Hans hanya berani melirik Zoya yang sudah menatapnya tajam. Hal yang paling tidak disukai Zoya, Hans terlalu memanjakan Hanum.
"Mama jangan suka melawan arus jaman, deh." sahut Hanum mulai kesal.
"Mama bukannya melawan arus Zaman. Mama hanya ingin anak-anak Mama punya prinsip sendiri menghadapi arus Zaman. Bisa memahami posisi orang lain." Zoya masih terus saja berusaha membuat Hanum mengerti. Tapi sepertinya percuma, putrinya masih terlihat cemberut.
"Mama, pelit!" Setelah mengatakannya gadis itu langsung meninggalkan ruang makan dengan menghentakkan langkahnya.
"Lihatlah, Mas! Hanum mirip Mas Hans." lanjut Zoya dengan meletakkan semangkuk sayur asam di meja makan. Sementara Hans masih tersenyum tipis saat istrinya mengomel merdu. Pola asuh antara Hans dan Zoya memang sangat berbeda.
"Loh kemana cucu Oma yang paling cantik itu?" tanya Oma Shanti saat melihat Hanum menaiki tangga.
"Ngambek Oma." jawab Alexa dengan mendekatkan teh hangat dengan gula khusus di depan Oma.
"Loh, sudah lama Hanum tidak memberi Oma coklat." Saat Zoya dan Hans menunaikan ibadah haji, Hanum sering memberikan coklat pada Omanya agar lebih menurut.
"Astagfirullah Hanum- Hanum." keluh Alexa saat mendengar ucapnya omanya. Ternyata, gadis itu menggunakan jalan pintas untuk menenangkan kecerewetan Oma Shanti. Zoya dan Alexa menggeleng mendengar pengakuan Oma Shanti. Sedangkan, Hans masih tersenyum dengan akal-akalan putrinya itu.
"Oh ya, Al. Kemarin Dokter Agam menemui Papa di kantor. Katanya, dia akan mengajak kamu menghadiri ulang tahun temannya." ucap Hans setelah menyesap cangkir yang berisi kopi hangat.
"Terus menurut, Papa?" tanya Alexa menunggu reaksi Hans. Pandangan Hans pun tertuju pada Zoya yang sudah mengangguk. Zoya sudah yakin jika putrinya bisa menjaga diri.
"Papa izinin, tapi jangan sampai pulang malam." tegas Hans
"Dokter Agam sepertinya lelaki yang baik. Kelihatannya, dia juga menyukai Kak Ale." Dengan hati-hati Zoya memancing putrinya. Zoya bisa merasakan dari cara Dokter Agam menatap putrinya, jika lelaki itu menyukai sulungnya itu.
"Nggak tahu juga, Ma. Kadang Ale nggak enak dengan yang lainnya." jawab Ale.
"Dulu, Mama seusia Kak Ale sudah ada Hanum dan Aleks. Lagian Papa sudah mulai tua untuk menjaga putrinya sendirian."
"Untuk menjaga Ale, aku masih bisa. Aku belum setua itu, Zoy." protes Hans. Bujukan Zoya agar Ale mulai memikirkan tentang pasangan hidup berakhir dengan ricuh antara Hans dan Zoya. Sedangkan, gadis berkulit putih itu malah asyik menyuapi Oma Shanti sarapan.
__ADS_1
Bersambung...
Hehehe gaes Terima kasih untuk yang masih menunggu Rindu Alexa... Thanks ya selalu memeberi semangat