Rindu Alexa

Rindu Alexa
Bingung Dengan Perasaan


__ADS_3

Alexa merasa enggan untuk pergi ke rumah sakit. Tapi, dia sendiri yang pada awalnya ngotot untuk kembali bekerja.


"Kenapa, Ay?" ucap Shakti saat melihat istrinya tertegun. Dia melihat Alexa sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


"Apa Mas Shakti jadi berangkat hari ini?" tanya Alexa dengan tatapan sendu. Dia juga rasanya berat di tinggal suaminya untuk waktu yang menurutnya cukup lama.


"Tentu, Ay. Tiket pesawat sudah di pesan." jawab Shakti.


"Sebenarnya, aku ingin kamu ikut dan kita bisa honeymoon sekalian di sana." ujar Shakti. Tapi Alexa hanya terdiam. Dia juga ingin ikut, tapi bagaimana dengan pekerjaannya.


"Cuma sebentar, Sayang." ucap Shakti dengan memegang kedua bahu istrinya. Dia tahu Alexa terlihat berat, tapi dia juga tidak punya pilihan lain.


"Nanti pulang aku jemput ya, Ay. Sekalian nganterin aku ke bandara!" mendengar kata Bandara membuat Alexa menghambur memeluk suaminya. Sering berpisah dengan Shakti, tapi kali ini rasanya cukup berat untuknya.


Shakti mengelus pundak istrinya. Dia tidak tahu, sejak kapan istrinya menjadi begitu manja.


"Aku usahakan pulang lebih cepat, Ay. Karena aku pasti sangat merindukanmu." lirih Shakti agar istrinya menjadi tenang.


"Ayo kita berangkat, nanti kamu terlambat." Kalimat Shakti membuat Alexa mengurai pelukannya. Dia pun mengikuti apa kata suaminya, karena hari ini Shakti yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


###


Di dalam sebuah kantor seorang lelaki mendesah kesal di balik meja kerjanya. Dilemparnya bulpoin yang sejak tadi berada di tangannya. Arkha benar-benar tidak bisa fokus.


Dia sendiri tidak mengerti jika karena pikirannya hanya tertuju pada Hanum.


"Hanum? Kenapa harus Hanum?" keluh Arkha yang tidak pernah tahu apa yang membuat otaknya tidak berfungsi hanya karena gadis itu.


Lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar. Dia begitu frustasi dengan apa yang menganggu pikirannya.


"Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan gadis itu." sarkasnya dalam hati dengan tersenyum sinis, memikirkan jika itu terjadi pasti akan membuatnya pusing.

__ADS_1


Jatuh cinta dengan gadis yang selalu membuat sulit hidupnya, gadis judes sekaligus manja. Bagaimana bisa hidupnya akan tenang? Lagi pula dia mengatakan diriku lebih tua dan tidak pantas dengannya.


Arkha bermonolog dengan dirinya sendiri. Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Tatapannya menerawang mempertimbangkan antara hati dan perasaannya.


Arkha Pov


Bagaimana bisa aku memikirkan gadis itu, aku sendiri tidak menginginkannya. Dia sama sekali bukan wanita yang bisa mengimbangi diriku. Dari sisi umur ataupun tingkahnya yang akan menyusahkan diriku.


Tapi, aku tidak bisa menyingkirkan dirinya dalam pikiranku. Dan, yang aku sendiri tidak mengerti adalah ada sesuatu yang selalu mengganjal saat aku tak melihatnya atau mendengar dia akan pergi.


Tapi, sungguh aku tidak menginginkan dirinya sebagai wanita dewasa yang akan menghabiskan waktu bersamaku.


"Selamat siang, Pak." sapa Delia saat berada di depan pintu ruangan bosnya. Arkha menoleh, lelaki itu kemudian berjalan kembali menuju mejanya.


"Apa ada meeting, Del." tanya Arkha sambil memeriksa berkas laporan yang di bawa Delia.


"Jam Makan siang ada pertemuan dengan salah satu klien di restoran jepang." jawab Delia dengan menatap bosnya dengan penuh kagum.


"Apa perlu saya temani, Pak?" tanya Delia saat melihat Arkha beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak usah, ini hanya pertemuan santai." tanpa peduli lagi pada gadis yang menjadi sekretarisnya, Arkha pun bergegas meninggalkan ruangannya.


Langkah panjangnya membuat semua orang yang di lewatinya menatapnya. Lelaki yang tidak selalu menampilkan wajah serius saat di kantor itu selalu mendapatkan decak kagum bagi semua karyawannya.


Range rover itu berlahan memasuki tempat parkir. Lelaki dengan kaca mata hitamnya turun dari mobil, tatapannya tertuju ke dalam restoran.


Dengan langkah tergesa Arkha memasuki ruangan yang di penuhi oleh pengunjung. Sejenak, lelaki itu kemudian berhenti tepat di depan pintu dan mengedarkan pandangannya.


Akhirnya dia melangkah menuju private room yang udah disepakati bersama kliennya.


Hanum

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam ruangan yang sudah dia pesan. Arkha menemukan gadis yang sempat menyita pikirannya sedang makan bersama dengan Bara dan Dira. Meskipun, mereka bertiga tapi Arkha tidak suka dengan sikap Bara yang sok manis.


"Hanum bisa kita bicara sebentar?" tanya Arkha yang nekat menghampiri gadis yang selalu mencoba menghindar dari nya.


"Maaf, Kak. Saat ini aku sedang meeting dengan Kak Bara." mendengar jawaban Hanum membuat Arkha melirik beberapa kertas dan laptop yang dibawa Dira.


"Baiklah, setelah ini aku mau bicara penting."


"Tunggu aku jika kamu sudah selesai terlebih dahulu!" ucap Arkha kemudian dia berbalik dan berjalan menuju sebuah ruang yang cukup tertutup yang biasanya digunakan para eksekutif untuk melakukan pertemuan.


Satu jam sudah berlalu, Hanum memang selesai terlebih dahulu. Kali ini dia dibuat bimbang, harus menunggu Arkha atau pulang terlebih dahulu bersama Dira. Akhirnya Dira pamit terlebih dahulu dan meninggalkan Hanum dengan Bara. Gadis itu memutuskan ke kedai saja untuk mengechek kondisi kedai mereka.


"Kamu akan menunggu lelaki tadi, Num? Jika tidak aku akan mengantarmu pulang." ucap Bara berharap Hanum tidak menunggu lelaki yang dia kenal memegang peran penting di salah satu perusahaan Arashya Group.


"Ehm... Mending Kak Bara pulang saja lebih dulu!" ujar Hanum terlihat begitu ragu.


Lelaki muda dengan wajah ganteng dan perawakan tinggi atletis itu terlihat kecewa dengan keputusan gadis yang saat dia incar untuk menjadi kekasihnya.


Di kampus, Bara mulai mengagumi Hanum. Dan saat tahu gadis itu mengelola sebuah kedai ice cream dan kopi membuat langkahnya semakin mulus untuk mendekati gadis bermata indah itu.


"Baiklah, aku balik dulu. Jika kamu berubah pikiran, telpon saja aku. Aku akan putar balik untuk mengantarmu pulang." ucap Arkha yang di balas dengan seyuman Hanum.


Beberapa menit sudah berlalu, Hanum semakin gelisah. Gadis itu terus saja mengetukkan dua jarinya di meja. Sambil terus berfikir antara menunggu dan tidak.


Fix


Hanum memutuskan untuk meninggalkan restoran itu. Sambil terus berjalan untuk mendapatkan tempat yang nyaman untuk menunggu taxi. Hanum terus saja berfikir.


Baginya tidak penting menunggu Arkha. Dia dan Arkha tidak ada urusan, "dan untuk apa harus menunggu lelaki tua itu." gumam Hanum, kemudian dia berhenti pada sebuah halte dan memesan taxi online.


Sementara, di dalam restoran tadi seorang lelaki mendesah kesal saat tidak menemukan gadis yang dimintanya untuk menunggu. Arkha merasa kesal karena bocah jutek itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang diucapkannya tadi.

__ADS_1


Dengan rasa kecewa dia berjalan keluar dari kamar. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mendapatkan kesempatan bicara dengan gadis itu.


__ADS_2