
Di luar gerimis mengguyur, suasana sore yang semakin sendu membuat semua yang ada kafe begitu betah menunggu gerimis di dalam.
Sejak tadi Shakti tak bisa lagi mengalihkan pandangannya pada meja yang berisi dua gadis berkerudung itu, Alexa dan Nindy. Tapi, posisi Alexa yang memunggunginya membuat Shakti kesulitan untuk bisa menatap wajah yang selalu dalam rindunya. Rindu Untuk Alexa. Mata tajamnya mengisyaratkan rindu yang memang hanya tertuju pada gadis itu.
"Lexa, dari tadi lelaki yang berwajah mirip blesteran Amerika itu selalu menatap ke meja kita." tanya Nindy sedikit berbisik dan menyamarkan tatapannya ke arah Shakti.
"Biarkan saja!" jawab Alexa dengan menyesap teh hangat di depannya.
"Kamu... "
"Jangan membahasnya. Aku ingin memulai lembaran baru, Nin." sela Alexa agar Nindy tidak banyak bertanya tentang lelaki itu. Shakti memang punya sesuatu yang menarik untuk menjadi pusat perhatian siapapun.
Saat ini yang ingin dilakukan Alexa hanya fokus dengan cita citanya, membuat kedua orang tuanya bangga dan bisa menjadi contoh untuk adik adiknya.
Notifikasi ponsel pun terdengar, Nindy mengangkat panggilan telpon dari pacarnya. Sejak tadi, dia memang menunggu kekasihnya untuk menjemput dirinya di kafe yang berada tidak jauh dari rumah sakit.
"Lexa, gimana nih? Bang Niko sudah menunggu di luar." ucap Nindy saat ingin berpamitan pada Alexa. Dia merasa tidak enak karena di luar masih gerimis dan Alexa tidak membawa mobil karena sedang di service.
"Apa sekalian kita antarkan saja dirimu?" tawar Nindy.
"Nggak usah, Nin. Aku bisa pulang sendiri. Lagian mumpung kalian bisa bertemu sebelum Bang Niko tugas ke Libanon." ujar Alexa sambil tersenyum. Alexa sangat mengerti posisi temannya, kekasih Nindy memang seorang perwira tentara. Mereka jarang bertemu dan setiap pertemuan bagi bagi mereka adalah sebuah kesempatan.
"Beneran?" tanya Nindy untuk meyakinkan.
"Iya, cepetan gih!" usir Alexa dengan tersenyum. Nindy pun bergegas keluar dari kafe.
Sementara itu, Alexa memasukkan ponselnya. Dia pun berniat untuk secepatnya keluar dari kafe. Dia sudah tidak ingin lagi berada dalam satu tempat bersama Shakti.
Setelah membayar tagihan, Alexa pun keluar kafe. Niatnya akan mampir ke sebuah toko buku yang mempunyai jarak beberapa meter dari kafe. Masih dengan kedua tangan yang mengapit tasnya, Alexa masih menunggu gerimis mereda di depan kafe. Tapi hampir sepuluh menit, gerimis masih sama, langit masih meneteskan butiran air yang berjatuhan di bumi.
Gadis bertubuh mungil itu pun memutuskan untuk menembus gerimis tipis yang tidak kunjung reda.
Di saat satu langkahnya menginjak halaman berpaping, sebuah tubuh tinggi sudah berdiri di dekatnya, aroma maskulin milik Shakti mengiringi jalannya. Dengan mengangkat jas miliknya, Shakti memayungi Alexa.
Alexa terhenyak kaget, hingga dia menghentikan langkahnya. Posisi mereka yang terlalu dekat membuat Alexa sedikit menjauh hingga gerimis tipis itu dengan bebas membasahi tubuhnya.
"Berhentilah bersikap berlebihan, Mas!" teriak Alexa, hatinya berkecamuk dengan emosi dalam dadanya. Dengan menatap nyalang lelaki di depannya Alexa memundurkan kakinya beberapa langkah.
__ADS_1
Shakti tidak menyangka jika Alexa semarah ini, dia pun menjatuhkan jasnya di lantai. keduanya tidak peduli lagi jika akan basah karena gerimis.
"Aku mencintaimu. Apa aku salah jika aku mengkhawatirkan dirimu?" Suara bariton itu juga terdengar meninggi. Shakti sudah tidak cukup punya kesabaran atas penolakan yang terus menerus di lancarkan Alexa.
"Cinta? Cinta macam apa? Cinta dalam kebohongan? Cinta dalam permainan?" Akhirnya emosi Alexa pun meledak kalimatnya meledak bersamaan tangis yang tidak bisa dibendungnya lagi.
"Iya caraku salah. Tapi tidak seharusnya kamu menghakimiku seperti itu!" jawab Shakti, kakinya selangkah mendekati ke arah Alexa. Tapi gelengan kepala gadis itu kembali membuatnya mematung. Alexa sudah terisak dengan tangisannya.
"Aku mohon berhentilah! Aku sudah tidak akan bisa mempercayaimu lagi." lirih Alexa dengan menyeka wajah dan matanya yang sudah basah.
"Aku ingin melupakan hubungan kita sebelum aku benar benar merasakan sesuatu yang jauh lebih sakit!" Setelah mengucapkan semuanya. Alexa berbalik, dia berlari menjauh dari lelaki yang saat ini menatapnya kosong.
Alexa Pov
Aku pernah mencintaimu dengan semua ketulusanku. Aku juga pernah memilih percaya padamu ketika Papa meragukanmu. Dan kini aku terluka karenanya. Kamu membalas semua ketulusanku dan kepercayaanku dengan banyak kebohongan yang sengaja kau ciptakan.
Aku terluka, luka yang mungkin sangat menyakitkan dan tidak pernah terbayang sebelumnya. Sekarang, kamu mengatakan kamu mencintaiku?
Tidak.
Tidak ada alasan bagiku untuk bisa percaya lagi padamu. Semua ini sudah terlalu menyakitkan untukku. Aku kecewa dan aku sangat terluka.
"Ya Allah... saat ini aku hanya ingin membahagiakan Papa dan Mama. Mereka yang tulus menyayangiku dan mencintaiku." Tangisnya kembali tergugu saat dia mengingat pernah berbohong pada papanya hanya untuk bertemu dengan Shakti.
"Kak Ale!" panggil Hanum dari balik kaca jendela taxi yang sudah terbuka.
Alexa menoleh ke arah taxi yang sudah berhenti di pinggir jalan yang ada di sampingnya. Dia melihat Hanum keluar dari taxi dengan membawa payung ke arahnya.
"Ayo masuk!" ucap Hanum dengan memaksa kakaknya masuk ke dalam Taxi.
Alexa menutup wajahnya sambil menangis. Sedangkan Hanum meminta sopir untuk kembali menjalankan mobilnya menuju rumah.
"Jangan menangis lagi!" Hanum memeluk tubuh basah kakaknya yang kini terguncang begitu hebat.
"Maafkan kakak, tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian." lirih Alexa dengan mengusap air matanya.
"Kak Ale tetap yang terbaik bagi Hanum. Hanum juga sayang sama Kakak." Hanum memeluk kakaknya. Dia yang semula akan ke toko pun memutuskan membawa Alexa pulang.
__ADS_1
"Cowok itu, kan?" tanya Hanum dengan nada sinis. Tangannya mengepal, rasanya dia ingin menonjok cowok yang membuat kakaknya terpuruk seperti itu.
"Kasian Mama jika kakak seperti ini. Lupakan dia, anggap saja pengalaman pertama." ucap Hanum dengan begitu enteng, karena dia sendiri juga belum pernah jatuh cinta. Bagaimana rasanya cinta yang sudah tertaut dalam hati dan harus melepaskannya.
Meskipun begitu, kalimat adiknya yang penuh emosi itu membuat Alexa sedikit tersadar, jika dia masih beruntung karena masih banyak cinta dan kasih sayang yang tertuju untuknya.
###
Di Balkon apartemen miliknya Shakti hanya duduk ditemani rokok yang terus mengepul tiada henti. Lelaki itu sangat frustasi dan juga kecewa karena penolakan gadis yang sudah mencuri hatinya.
"Dari awal sudah aku bilang! Jangan bermain dengan gadis model begitu. Gadis seperti itu memang polos tapi juga kaku." ujar Ringgo yang sedari tadi hanya memperhatikannya.
"Mereka biasanya setia tapi mereka juga kokoh dengan pendirian mereka." lanjut Ringgo yang masih berdiri menatap sahabatnya yang kini menengadahkan wajah dan menatap kepulan asap rokok yang baru saja di hembuskan dari mulutnya.
" Menurutku, lupakan saja! Masih banyak gadis yang juga menginginkanmu." lanjut Ringgo yang masih tidak mendapat tanggapan dari Shakti.
Lelaki itu menegak kaleng bir, "Arrrrghhhh... " teriak Shakti dengan membanting kaleng bir kosong itu ke lantai. Tangannya kemudian mengusap sudut matanya yang basah. Dia sudah putus asa dengan semuanya.
Arka berjalan mendekatinya. Kemudian menepuk bahu bidang sahabatnya, "Mungkin Alexa merasa lebih sakit dari yang kamu rasakan." ucap Arka yang kemudian ikut menyalakan rokoknya. Arka juga bisa mengerti posisi Alexa yang juga pertama kali patah hati.
"Aku harus bagaimana, Ar?" Shakti menatap Arka dengan penuh selidik. Lelaki yang biasa terkesan smart itu sungguh terlihat bodoh untuk saat ini.
"Berilah Alexa waktu untuk menyembuhkan rasa kecewanya."
"Lalu?" tanya Shakti yang belum mengerti maksud Arka.
"Kalian berjalan masing-masing. Posisimu sulit, Shak. Kamu tidak bisa memaksanya. Ini soal hati, perasaan bukan tender yang bisa kamu menangkan dengan sebuah negosiasi." jelas Arka yang sudah mengenal Shakti. Sahabatnya itu selalu punya seribu cara untuk menangkan tender atau kontrak yang cukup menguntungkan perusahaan.
"Apa itu artinya aku harus merelakannya?" Shakti sungguh bukan tipe orang yang bisa merelakan sesuatu yang dia inginkan dengan begitu saja. Tapi, keadaan memaksanya harus melakukan yang seperti itu.
"Seperti itulah kenyataannya." jawab Arka dengan mengepulkan asap rokoknya ke udara. Biar bagaimanapun, dia rasanya tidak tega saat melihat lelaki yang saat ini meraup wajahnya dengan kasar itu terlihat begitu frustasi.
Ringgo pun menatap Shakti dengan rasa iba. Baru pertama kali ini sahabatnya harus terpuruk hanya karena seorang gadis. Padahal, siapa yang bisa menolak Shakti?
Belum ada.
Sosok itu selalu menjadi dambaan bagi kaum hawa dari semua sisi. Ganteng, berduit, karakter dan auranya yang begitu kuat membuat pesona tersendiri untuk menarik banyak wanita.
__ADS_1
Bersambung