
Hanum mulai memasuki ruang yang penuh hingar-bingar. Rumah Adrian disulap menjadi sebuah club malam membuat Hanum merasa aneh karena dia tidak menyangka jika acara pesta ulang tahun temannya akan seperti ini.
Dia mencari keberadaan Dira, tapi tidak juga ditemukan gadis itu. Bahkan, gadis yang ditemuinya terasa asing baginya.
"Halo gadis cantik. Kamu terlihat sangat cantik, Num." puji Adrian saat menghampiri Hanum.
"Dira mana?" tanya Hanum sambil mengedarkan pandangannya.
" Katanya terlambat." jawab Adrian.
"Ayo kita ke sana! Aku memang menunggumu sebelum potong kue!" ajak Adrian membawa Hanum ke dekat kolam renang. Di Sana sudah ada kue yang tertata cukup indah.
Hanum hanya mengikuti Adrean, dia sendiri masih bingung karena semua diluar expectasinya. Jika sebelumnya dia membayangkan pesta yang biasa tapi kenyataanya pesta yang saat ini dia datangi lebih mirip club malam.
Semua tamu undangan mendekat saat Adrian memberikan sambutan sebelum potong kue. Dia juga memperkenalkan Alexia Hanum salsabilla sebagai kekasihnya. Sontak saja itu membuat Hanum terkejut.
Semuanya bertepuk tangan, dilanjutkan dengan nyanyian potong kue yang mengiri cowok dengan gaya kekinian itu memotong kue. Hanum hanya bisa menghela nafas dia benar benar tidak nyaman dengan pesta semacam ini. Apalagi Adrian mengatakan jika dia adalah kekasihnya.
Adrian menyodorkan sepotong kue ke mulut Hanum, membuat gadis itu tergagap. Spontan Hanum mengambil kue dari tangan Adrian dan baru memakannya.
Semua kembali bertepuk tangan dan musik disco mulai berdentum membuat tamu mulai asyik dengan acara yang mereka tunggu.
"Bukan seperti itu, Adrian. Kita tidak pacaran." protes Hanum ketika mereka hanya berdua, gadis itu sungguh merasa kesal dengan apa yang diumumkan Adrian.
"Santai, Num. Jangan dibawa ke hati mereka juga tidak menganggap omonganku serius." sambut Adrian membuat Hanum menghela nafas berat.
"Duduklah, jika kamu tidak menyukai berdansa seperti mereka." Hanum hanya menurut saat Adrian membawanya di tempat yang sedikit tenang. Suara musik disco yang diputar Dj membuat kepala Hanum terasa pusing.
"Minumlah, aku akan menemui teman temanku." Adrian memberikan jus jeruk dan pergi menghampiri teman temannya yang sedang asyik berdansa.
Dir, aku menunggumu di pesta Adrian!
Hanum mengirim pesan untuk Dira dan kemudian menyesap sedikit jus jeruknya. Hanum menyesali keputusannya datang ke acara Adrian. Seharusnya dari awal dia menyadari bagaimana pergaulan Adrian, kehidupan yang bebas lelaki itu memang tidak lepas dari club malam.
###
__ADS_1
Malam ini, Shakti berniat mencari udara segar setelah meneliti dan memahami beberapa laporan yang dikirimkan Doni lewat email.
Shakti memutuskan untuk tinggal di resort semalam lagi karena dia ingin membelikan sesuatu untuk Alexa. Sebenarnya, Shakti bukan tipe lelaki yang suka memberikan hadiah pada seorang wanita. Biasanya dia hanya mentransfer uang untuk keinginan pacarnya yang tentu lebih hobby shopping.
Tapi Alexa, wanita itu cukup sederhana. Bahkan, dia hanya akan membeli apa yang dia butuhkan. Belum pernah Alexa meminta sesuatu padanya. Mengingat istrinya itu, dia juga sangat merindukannya.
Shakti memutuskan untuk keluar kamarnya, dia akan ke cafe yang ada di resort untuk mengisi waktunya dan menunggu matanya mengantuk.
Lelaki itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, Pukul sebelas malam tapi cafe masih terbilang cukup ramai.
Shakti masih menikmati malam di pinggir pantai yang ada di kawasan Seminyak. Ditemani secangkir kopi, lelaki itu melihat beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Jam segini, Alexa pasti sudah tidur. Pikirnya di tengah rasa rindunya.
"Sendiri?"
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Clarisa yang sudah membawa secangkir coffelate.
"Silahkan." jawab Shakti kemudian menyesap cangkir kopinya. Sebenarnya Shakti merasa canggung dengan adanya Clarisa. Tapi dia tidak bisa menolak keberadaan gadis itu.
"Kamu di sini lama, Shak?" tanya Clarisa dengan menatap lekat lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
"Besok pagi aku sudah ke Denpasar. Kamu tahu toko perhiasan yang bagus di daerah sini?" tanya Shakti, dia pikir Clarisa lebih faham tentang itu.
"Nggak usah, kamu share lokasi saja tempatnya." jawab Shakti membuat Clarisa tersenyum. Dia masih merasakan nyeri di hatinya membayangkan betapa Shakti mencintai wanita itu. Iya, seharusnya dia yang mendapatkan cinta itu.
Mereka terdiam sejenak. Clarisa bermain dengan pikirannya sendiri, gadis dengan baju seksinya itu mengulas semua kenangan yang pernah mereka lalui.
"Cla, apa kabarmu? Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Shakti dengan ragu. Dia takut akan menyakiti perasaan perempuan itu lagi.
"Aku baik. Aku masih sendiri."
"Sejak Papa meninggal, aku sudah tidak punya semangat lagi." Mata Clarisa mulai berkaca- kaca. Seolah menggambarkan sebuah kesedihan dan rasa terpuruk yang begitu hebat.
"Om Hendra sakit apa?" tanya Shakti, lelaki itu merasa bersalah dan juga iba. Shakti menatap lekat wajah sendu seseorang yang pernah menempati ruang hatinya.
"Serangan jantung, saat polisi menangkapku, Papa begitu shock." kali ini Clarisa tak mampu membendung air matanya. Kesedihan yang paling dalam, saat orang tua satu satunya meninggalkannya dirinya dan itu karena kesalahannya.
__ADS_1
"Aku bersalah dengan Papa." lanjut Clarisa dengan suara bergetar. Dia menahan isak tangisnya.
"Cla, maafkan aku." Shakti mengusap air mata gadis di depannya. Dia bisa mengerti betapa sedihnya kehidupan yang sudah dilalui gadis itu.
"Semua salahku, Shak. Coba saja aku tidak sejahat itu denganmu. Coba saja aku bisa menerima jika hatimu sudah untuk gadis lain." Shakti semakin merasa bersalah, dia merasa sudah mengkhianati dan menghancurkan hidup perempuan di depannya.
"Jika kamu butuh sesuatu hubungi aku, Cla. Kamu tidak sendiri, kita masih bisa berteman baik." ucap Shakti dengan menggenggam tangan Clarisa. Gadis itu pun tersenyum tipis dan membalas genggaman hangat lelaki di depannya. Lelaki yang pernah menjadi harapan hidupnya.
"Sebaiknya kamu masuk ke kamar dulu! Semakin malam, anginnya semakin kencang." ucap Shakti. Dia menyadari Clarisa hanya mengenakan dress mini yang mana angin dengan bebas menembus pori pori kulitnya.
"Baiklah. Terima kasih sudah mendengarkan curhatanku." ucap Clarisa dengan tersenyum manis. Dia tahu Shakti menyukai gadis yang penurut.
Gadis berambut blonde itu pun melangkah meninggalkan meja mereka. Ketukan heelsnya terdengar nyaring. Sementara , Shakti mulai menyelesaikan sesapan terakhir isi cangkirnya.
"Awwwhh... Brang.... " mendengar suara barang pecah membuat Shakti langsung berjingkat dan menoleh ke belakang. Ternyata Clarisa terjatuh dan memegangi kakinya dengan merintih kesakitan.
"Cla, kamu kenapa?" Dengan wajah cemas Shakti menghampiri Clarisa yang masih duduk di lantai.
"Kakiku, Shak." rintih Clarisa dengan memegangi mata kakinya yang sudah memerah.
"Aku keseleo, Shak." Shakti langsung membantu Clarisa berdiri tapi wanita itu benar benar tidak bisa berdiri dan terpaksa Shakti harus menggendongnya menuju kamar Clarisa yang ada di lantai dua, yang kebetulan satu lantai dengan kamarnya.
"Seharusnya kamu tahu hells yang sangat tinggi itu sangat berbahaya." kalimat Shakti membuat Clarisa tersenyum kecil. Meski, lelaki itu tak mau menatapnya tapi dia tahu Shakti masih peduli padanya.
Dalam gendongan Shakti Clarisa membuka pintu kamarnya, dia masih merasa lelaki yang kini membawanya ke tempat tidur adalah lelaki yang sama seperti dulu.
"Aku akan meluruskan otot kakimu. Ini akan sedikit sakit, jadi kamu harus menahannya." ucap Shakti kemudian mencari kaki Clarisa yang terkilir.
"Aaarghhh... " pekik Clarisa saat Shakti menarik otot kaki wanita yang hampir menangis kesakitan.
"Sudah enak?" tanya Shakti kemudian meyelimuti wanita itu saat akan keluar kamar.
"Shak..." Clarisa menahan tangan Shakti membuat lelaki itu berhenti dan menoleh ke arahnya. Tatapan mereka kini beradu. Iya Shakti merasa iba dengan wanita yang kini menatapnya begitu lekat.
"Istirahatlah! Hubungi anak buahmu agar besok menemuimu." ucap Shakti dengan melepas genggaman tangan Clarisa.
__ADS_1
"Terima kasih, Shak."
"Sama sama." Shakti segera keluar dari kamar Clarisa. Dia berusaha kerasa menepis rasa canggungnya pada gadis itu.