Rindu Alexa

Rindu Alexa
Perjuangan


__ADS_3

Agam tidak jadi menyentuh makanan yang sudah dia pesan. Dia juga tidak tahan menunggu pagi untuk mengetuk pintu rumah orang yang belum dia kenal, tapi kemungkinan bisa memberinya informasi.


Semuanya orang yang ada di warung menatap heran lelaki yang terlihat cemas saat membayar pesanannya, yang tanpa dia sentuh sama sekali. Lelaki itu bergegas pergi dengan berjalan kaki dan meninggalkan mobilnya untuk menelusuri gang sempit seperti petunjuk Bapak tadi.


Seiring langkahnya yang tergesa, lelaki yang hatinya dipenuhi penyesalan kini menangisi gadis polos yang sudah lama menghilang dari hidupnya. Senyum tulusnya dan kesabaran Laras yang tidak pernah marah sama sekali. Agam begitu hafal semuanya, saat merasa kecewa atau marah, Laras hanya menghela nafas berat dan kemudian terdiam sejenak.


Anakku, darah dagingku. Bagaimana kabarnya?


Pikirannya kini penuh gejolak tentang dia mahkluk yang masih misterius beritanya. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan Laras dan kesulitannya setelah kepergian ibunya.


"Tok... tok... tok." Beberapa kali Agam mengetok pintu, meski lama tak ada yang membuka pintu, tapi pada akhirnya seorang wanita berumur membukakan pintu untuknya.


"Siapa? Ada apa? Kenapa malam malam bertamu." cecar wanita bertubuh tambun itu dengan wajah masih mengantuk. Tatapan nya masih bingung karena dia tidak mengenal orang yang kini bertamu di rumahnya dini hari.


"Siapa, Buk! " belum sempat Agam menjawab Kemudian muncul lelaki yang mungkin suaminya dari balik tirai.


"Saya mencari Larasati." Kalimat Agam langsung memberi kesadaran penuh. Kedua pemilik rumah menatap Agam dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga kemudian dipersilahkan.


Mereka mempersilahkan Agam untuk duduk. Wanita pemilik rumah itu pun kembali ke belakang.


Agam melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum membuka pembicaraan. Sudah pukul dua dini hari, dan kini dia bertamu di rumah orang asing.


"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat anda." ucap Agam dengan sopan.


"Saya ke sini untuk mencari Laras" Agam bisa melihat wajah terkejut sosok di depannya itu, tapi dia pun bisa mengerti. Dia tidak lagi bisa untuk berbasa basi.


Wajah keriput itu terlihat bingung. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu keluar dengan membawa teh hangat untuk tamunya.

__ADS_1


"Silahkan diminum, Mas." ucap beliau dengan sopan. Agam pun segera menyesap teh hangatnya untuk melegakan niat baik si pemilik rumah.


"Ini, Buk. Masnya mencari Laras. Bagaimana menurutmu?" ucap lelaki itu pada istrinya. Dia tidak bisa mengambil keputusan untuk memberi tahu atau tidak.


"Ada apa ya? Kenapa mencari Laras?" Wanita yang menjadi tuan rumah itu bernama Tini, Buleknya Laras.


Sejenak Agam terdiam, Dia bingung harus memulai ceritanya dari mana.


"Saya ingin tahu kabar dan keadaan Laras sekarang. Bagaimana keadaan bayi yang pernah dikandungnya?" tatapan Agam mengiba dan penuh permohonan membuat kedua orang yang ada di depannya itu meluruhkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kenapa baru mencarinya sekarang?" ucap Bulek Tini dengan meneteskan air mata, mengingat betapa sulitnya kehidupan yang di lalui keponakannya seorang diri.


"Saya tidak tahu alasan Laras pergi. Saya juga tidak tahu, jika Laras dalam keadaan hamil. Dan saya yakin itu anak saya." jelas Agam.


"Seandainya kamu tahu betapa sulitnya Laras menjalani semua ini, apalagi setelah kepergian ibunya. Hujatan demi hujatan harus ditelannya sendiri. Tidak ada yang memberikan Laras pekerjaan karena dianggap aib karena hamil di luar nikah dan tudingan tudingan yang buruk pada gadis itu terus saja mengalir." Bulek Tini tidak bisa melanjutkan ceritanya, dia pun tergugu oleh tangisnya. Sementara suaminya terus mengusap pundak istrinya agar bisa mengendalikan diri.


Melihat kesedihan yang begitu dalam dari Bulek Tini membuat Agam pun tidak bisa mencegah air matanya. Rasa bersalah, penyesalan dan rasa sedih bergelayut menjadi satu dalam hatinya.


"Di mana?" sela Agam dengan tidak sabar.


"Beliau priyayi yang baik dari sebuah dusun yang ada di lereng gunung, beliau kini yang merawat laras dan bayinya." Bulek Tini hanya bisa bercerita sedikit karena setelah hidupnya tenang, Laras hanya sekali datang ke rumah buleknya itu pun ketika ada tugas dari Bu Seno untuk menjual hasil sawah dan kebun di pasar itu dan berbelanja kebutuhan yang diperlukan.


"Bayi? Bagaimana keadaannya?" Ada yang tiba tiba membasahi relung hati lelaki itu. Anaknya, darah dagingnya telah lahir di dunia. Agam merasa menjadi ayah yang sangat buruk.


"Aku belum pernah bertemu bayinya Laras. Tapi Laras memberikan rute dan nama daerah dimana dia tinggal. Tapi, berhubung daerah itu sangat terpencil dan melewati hutan dengan jalan yang terkadang membuat orang tersasar jika tidak terbiasa, jadi Bulek belum pernah mengunjunginya." Bulek Tini langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mencari kertas pemberian Laras yang dia simpan dengan baik.


"Ini rutenya, Mas." ucapnya dengan menunjukkan kertas tersebut.

__ADS_1


Tak terasa hampir satu jam lebih mereka mengobrol, hingga Agam memilih untuk berpamitan mencari alamat tersebut.


"Nak Agam apa tidak istirahat dulu?" tawar Tini melihat wajah lelah Agam.


"Tidak Buk. Saya ingin secepatnya menemukan Laras dan anak kami." Agam pun langsung berpamitan. Tatapan penuh doa mereka tujukan pada lelaki dan keponakannya itu yang menjadi korban situasi.


Agam pun mulai memulai mempersiapkan perjalanan menuju medan yang dia tahu sangat sulit. Iya, tadi dia harus melaluinya demi menebus semua kesalahannya di masa lalu.


###


Sesekali Shakti melihat Alexa yang mondar mandir mengecheck apa saja yang akan dia siapkan untuk dibawa besok.


Gadis itu tidak menyadari jika suaminya sejak tadi terus mencuri pandang ke arahnya. Alexa memang sudah tidak peduli pada Shakti sejak pertengkaran tadi pagi.


Alexa kemudian masuk ke dalam Kamar mandi untuk bersiap tidur setelah seluruh tubuhnya merasa lelah.


Alexa kini keluar hanya mengenakan kaos kekecilan yang mencetak jelas bulatan di dadanya dan di padu dengan celana pendek.


Glek...


Shakti menelan salivanya dengan jakun naik turun saat melihat tubuh istrinya terlihat seksi. Rambut panjang berwarna hitam yang dicepol ke atas membuat leher jenjang dan putih Alexa begitu menggoda hasrat lelaki yang terus mencuri pandang ke arahnya.


"Shiittt... " umpat Shakti dalam hati saat miliknya sudah mengeras dan terasa sesak di dalam. Baru pertama kali ini, dia melihat Alexa mengenakan pakaian seseksi itu. Dadanya yang tercetak bulat dan paha putihnya terus membayang di otak lelaki yang saat ini berusaha mengembalikan kesadarannya.


Alexa pun tidak menyadari jika suaminya memperhatikan dirinya sedari tadi. Dengan santainya, dia langsung naik ke atas tempat tidur dan menaikan selimut dengan posisi membelakangi tempat di mana Shakti duduk.


Terkam/ Nggak. Terkam/ Nggak. Terkam/ nggak.

__ADS_1


Otak Shakti hanya berkutat dengan dua kata itu untuk pertimbangan. Bagaimana jika di tolak karena mereka masih dengan mode marah. Dia pasti akan sangat malu. Tapi, hasratnya sudah tidak bisa dibohongi lagi. Shakti terus saja menatap ke arah istrinya sebelum dia memantapkan keputusannya.


Berambung


__ADS_2