
Sepulang dari rumah sakit, Alexa langsung pergi ke mall untuk membeli buah buahan. Tentu setelah memberi tahu Shakti keberadaannya agar jika suaminya pulang ke rumah terlebih dahulu tidak bingung mencarinya.
Setelah membayar di kasih niatnya memang beristirahat terlebih dahulu di salah satu kafe dengan menikmati ice cream yang sudah dia inginkan.
"Eh, maaf!" ucap Alexa saat akan menabrak seseorang tapi kemudian tersenyum saat dia hampir menabrak Dimas.
"Lo, sendirian?" tanya Dimas sambil menunjuk Alexa.
"Iya, ini mau nyari yang lembut lembut di dalam!" jawab Alexa menunjuk ke dalam restoran.
"Sekalian, saja. Oh ya kenalkan ini sepupuku, Daniel!" Dimas memperkenalkan lelaki yang berada di sebelahnya pada Alexa.
"Alexa!" jawab Alexa dengan mengalihkan tatapannya saat melihat tatapan tajam lelaki bernama Daniel itu ke arahnya.
"Dim, aku duluan, ya!" ujar Alexa yang tidak enak harus mengobrol dengan dua lelaki.
Setelah memesan Ice cream dengan rasa coklat vanila, alex pun duduk di bangku paling pojok untuk memberikan jarak antara mejanya dengan meja Dimas.
"Siapa dia?" tanya Daniel begitu penasaran pada Alexa, lelaki berwajah Indo itu memang tertarik dengan wajah cantik dan tenang milik Alexa.
"Dulu teman TK tapi dia sekarang sudah menjadi dokter dan menikah dengan seorang pengusaha terkenal di kota ini. Kalau tidak salah pemilik hotel Arsshya." jawab Dimas membuat Daniel semakin tertarik. Dia menoleh ke belakang, memperhatikan sejenak wajah cantik Alexa dengan seksama.
"Dia sangat cantik!" gumam Daniel yang masih terdengar oleh Dimas.
"Dan sangat baik, cukup sempurna untuk menjadi pasangan hidup." tambah Dimas dengan tersenyum tipis.
Daniel memang penasaran dengan Alexa. Selain, memang cantik dan berkarakter wanita itu adalah milik Shakti. Iya, dia paling suka mengambil apa yang menjadi milik saingan bisnisnya itu. Termasuk meniduri Clarisa saat masih menjadi kekasih lelaki yang selalu dikagumi banyak orang.
Setelah menghabiskan Ice creamnya, Alexa pun bergegas keluar dari kafe itu dengan membawa plastik berisi buah yang baru saja dia beli.
"Aku duluan, Dim!" sapa Alexa saat melewati meja Dimas.
"Ati- ati lexa!" balas Dimas membuat Alexa mengangguk dan tersenyum.
Mall memang sangat ramai, sambil berjalan keluar Alexa memesan taxi online. Jika meminta Pak Hanif menjemput itu rasanya kurang efektif.
__ADS_1
Saat akan memasukkan kembali, ponselnya seseorang telah menyenggolnya hingga ponselnya terjatuh.
"Maaf - maaf! Aku akan menggantinya." ucap Daniel sambil melihat kondisi ponsel Alexa yang sebenarnya tidak apa apa.
"Tidak usah, itu ponselnya tidak rusak!" jawab Alexa berusaha mengambil kembali ponselnya.
"Aku tidak enak jika ada yang lecet atau rusak. Jadi sebaiknya aku menggantinya." Daniel masih mempertahankan ponsel Alexa ditangannya.
"Tidak usah, ponselku masih baik baik saja." Alexa mencoba merebutnya kembali. Dia merasa ada yang aneh dengan laki laki yang sedang dia hadapi.
Tarik menarik menarik ponsel itu terjadi diparkiran depan mall. Tubuh Alexa sedikit terhuyun kebelakang saat Daniel melepas ponsel itu.
"Kamu tidak apa apa?" tanya lelaki itu hampir menyentuh bahu Alexa, tapi dengan sigap Alexa memundurkan langkahnya.
"Brengsek... " tiba tiba Shakti yang datang langsung mendorong bahu sebelah Daniel dan memukul wajah lelaki itu hingga terpelanting ke samping.
"Jangan coba- coba menyentuh istriku!" Ancam Shakti dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak menyentuhnya, kecuali dia datang untuk meminta aku sentuh. Hahahaha!" tawa Daniel membuat hati Shakti memanas, hampir saja dia mengejar lelaki yang kini melangkah menjauh jika tidak di tahan istrinya. Daniel memang sengaja melakukannya. Dia tidak akan membuat hidup Shakti menjadi tenang.
"Aku baik baik saja, Mas." jawaban Alexa membuat Shakti kemudian memeluknya. Dia tidak akan membiarkan seseorang menyentuh istrinya.
"Ayo kita pulang!" ajak Shakti masih dengan merangkul istrinya dan mengambil alih barang belanjaan istrinya, dia membawa Alexa masuk ke dalam mobilnya.
"Mas Shakti kenal lelaki itu?" tanya Alexa saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Dia saingan bisnisku!" ujar Shakti dengan menyalakan mesin mobilnya.
Lelaki yang masih diliputi rasa khawatir itu menjulurkan tangan menggenggam jari jari kecil istrinya. Setelah kejadian ini, dia mungkin akan lebih hati-hati dengan Daniel.
###
Hanum mengerjapkan matanya, mentari sudah menampakkan cahaya kemerahan. Tidur siangnya begitu nikmat hingga tak terasa sudah mulai petang.
Setelah mencepol rambut panjangnya, dia pun menyeret langkah menuju dapur. Perutnya terasa lapar dan tenggorokannya terasa haus.
__ADS_1
"Sudah bangun?" tanya Arkha saat melihat Hanum keluar dari kamar. Arkha baru saja selesai latih gym, bahkan tubuh kekarnya masih terlihat mengkilap karena keringat.
"Sudah, aku lapar. Di kulkas ada bahan apa?" tanya Hanum masih dengan suara seraknya.
"Nggak ada apa-apa, cuma roti saja. Kak Arkha pesenin makanan ya?" tawar Arkha dengan berjalan mengikuti Hanum ke dapur.
"Nggak usah, Kak. Aku buatin roti saja ya?" tanya Hanum sambil menoleh ke samping menunggu persetujuan Arkha.
"Boleh!" Arkha menjawab cepat sambil tersenyum samar. Entah mimpi apa bocah galak itu tiba tiba baik.
Arkha masih menatap Hanum yang mengeluarkan roti, keju, mentega dan mayonaise. Gadis bar bar itu menjelma menjadi wanita dewasa.
"Untung saja ada bawang bombai." gumam Hanum yang tersenyum lega.
Arkha hanya menatap heran gadis berbibir mungil di depannya. Hanum terlihat cantik, kulitnya putih rambut lurus dicepol mempertontonkan leher jenjangnya yang mulus.
"Jangan melihatku seperti itu!" Hanum menjadi salah tingkat saat mendapati Arkha menatapnya tanpa kedip.
"Jus orange mau?" Hanum bertanya tanpa menoleh, dia sedikit gugup saat ditatap tak berkedip oleh lelaki yang ada di sebelahnya.
"Boleh... " jawab Arkha singkat.
Hanum mulai memanggang roti dan mulai membuat jus. Arkha semakin merapatkan tubuhnya, entah kenapa melihat Hanum yang sibuk dengan beberapa makanan membuat gadis itu terlihat seksi dan dewasa. Seolah ada magnet yang kuat untuk menariknya mendekat.
"Jangan dekat-dekat! Itu tubuhnya bau dan lengket." protes Hanum saat tangan mereka bersentuhan.
"Aroma tubuhku seksi, Num." ucap Arkha malah memeluk Hanum dari samping dan memajukan wajahnya di dekat hidung gadis yang berusaha mengelak tapi tak bisa bergerak.
"Kak Arkha lengket tau!" protes Hanum masih berusaha mendorong wajah Arkha yang sengaja di sodorkan ke wajahnya. Kemudian Hanum melirik kondisi roti.
"Kak Arkha, rotiku bisa gosong!" teriak Hanum membuat Arkha melepaskan tubuh mungil itu.
"Aku mandi dulu!" Arkha mencium pipi Hanum sebelum pergi. Dia sengaja membuat gadis itu kesal. Menggoda Hanum memang hal yang menyenangkan bagi lelaki yang kini berbalik keluar dapur.
"Apa- apaan, katanya nggak nafsu, main serobot saja!" gerutu Hanum sambil mengusap pipinya. Dan itu membuat Arkha terkekeh, sebelum menghilang dari dapur lelaki itu sempat mendengar Hanum menggerutu kesal sambil mengusap usap pipinya.
__ADS_1
Di bawah kucuran air shower, lelaki itu masih berfikir keras tentang hubungannya dengan Hanum. Dia mulai memahami gadis itu, hingga hubungan mereka semakin membaik. Hanum sebenarnya tidak buruk, tapi yang dia takutkan dia tidak bisa mencintai gadis itu karena hatinya menginginkan gadis lain. Dia pasti akan merasa bersalah jika tidak mencintai gadis itu layaknya wanita dewasa.