
"Kecil-kecil kamu makannya kuat banget, Num!" ucap Arkha masih dengan menggenggam tangan Hanum. Mereka masih menelusuri jalan trotoar dengan suasana malam yang masih cukup ramai.
"Biar kuat untuk mencakar orang!" sambut Hanum dengan menunjukkan jarinya yang siap untuk mencakar.
Seketika tawa Arkha meledak, dia pun merengkuh kepala Hanum dan mengapitnya dalam dadanya. Hanum pun merasa nyaman saat mendapat dekapan dari Arkha. Tapi, rasa lelahnya tidak bisa dipungkiri hingga dia meminta Arkha untuk pulang saja.
"Mau Kak Arkha gendong menuju parkiran?" tanya Arkha saat mendengar Hanum mengeluh lelah.
"Nggaklah, malu jadi pusat perhatian orang! Keliatan norak." sambut Hanum masih memaksa langkahnya menuju parkiran mobil.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dengan laju yang cukup santai. Sesekali Arkha melirik Hanum yang terdengar bergumam menirukan lagu yang diputar dari audio mobil.
"Cantik, unik tapi cukup menyusahkan." gumam Arkha yang tersenyum saat lirikannya tertuju pada Hanum yang terus menatap ke depan.
"Num, kenapa kamu tidak membantah Ibu yang jelas terlihat menyudutkanmu?" tanya Arkha membuat Hanum menghentikan nyanyiannya. Gadis itupun menoleh ke arah Arkha yang kini berganti menghadap jalan di depannya.
"Aku hanya tidak ingin, Ibuk menyalahkan cara didik Mama. Mama mengajariku bersikap cukup baik pada orang tua." jawab Hanum.
"Tapi, Papa bilang aku harus bisa jaga diri! menjaga dari ulah buruk orang lain dan juga diriku sendiri. Itu yang kadang membuat ego merubahku menjadi singa kecil. Hahahaha.... " tawa Hanum membuat senyum kecil di bibir Arkha. Lelaki itu tidak menyangka gadis bar bar menyerna begitu apik pesan orang tuanya.
"Mungkin, banyak orang menilai sifatku buruk dan arogan. Termasuk Kak Arkha, tapi biar saja Tuhan yang tahu aku seperti apa."
"Hanum... mana mungkin Kak Arkha menikahi gadis buruk." Spontan Arkha menyela. Lelaki itu pun menggenggam tangan kecil itu dengan begitu erat.
"Tapi, kan, terpaksa!" lanjut Hanum membuat Arkha terbungkam.
"Bukan terpaksa juga! Aku bisa saja mengajukan tes keperawanan jika ingin mengelak dari semuanya. Tapi, ntahlah saat itu aku seperti tidak bisa mengambil keputusan yang jelas." jawab Arkha kemudian yang sempat membuat Hanum terdiam menatap lelaki itu. Dia begitu sulit mengartikan kalimat Arkha. Sekali lagi dia tidak ingin berharap lebih pada lelaki yang saat ini berada di sebelahnya.
Tak terasa mobil Range Rover itu masuk ke dalam garasi sebuah rumah yang halamannya dipenuhi dengan bunga bunga yang tertata rapi.
"Kenapa?" tanya Arkha saat Hanum menghela nafas saat mobil berhenti.
"Aku harus menyiapkan kesabaran menghadapi Ibu mertua." ujar Hanum disambut senyum Arkha.
"Terima kasih sudah bersabar menghadapi Ibuk. Ayo kita keluar!" ucap Arkha membuat keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum... " sapa Arkha saat dia masuk ke dalam rumah. Terlihat Ibu dan Kania, adik sulung Arkha sedang menikmati makan malam.
"Waalaikum salam... " jawab keduanya bersamaan.
"Bang Arkha, Kania siapkan makan ya!" Kania beranjak dari duduknya dan menghampiri Arkha dan Hanum. Gadis itu kemudian menyambut tangan Arkha untuk saling kemudian menatap dan melempar senyum dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Dia Kakak iparmu, Hanum namanya."
"Kania, Mbak!" Kania langsung memeluk Hanum sebagai sambutan selamat datang.
"Aku panggilnya Mbak atau Adek, Bang?" goda Kania dengan mengendikkan kedua alisnya saat melirik abangnya.
"Nggak usah meledek kamu!" ucap Arkha.
"Bang, aku siapkan makan malam ya!" tawar Kania.
"Nggak usah, nanti kita makan malam sendiri. Ini mau mandi dulu. Gerah rasanya." jawab Arkha.
"Kamu datang ke sini mau jalan jalan saja atau menjenguk Ibuk, Ar? Kamu itu kayak nggak punya sopan saja." omel Arini. Arkha mendekati ibunya yang hanya melempar sindiran tanpa menoleh ke arahnya. Kania pun langsung kembali ke kursinya sedangkan Hanum masih berdiri mematung.
"Tentu mengunjungi Ibu, tapi tubuh Arkha sudah berkeringat. Jadi sebaiknya Arkha mandi terlebih dahulu ya!" jelas Arkha dengan memegang kedua bahu ibunya.
"Iya Ibu, lagian ada Mbak Hanum. Wajar kan jika Kak Arkha ingin mengenalkan kota kita." sela Kania yang sedikit kesal dengan sikap ibunya itu.
Merasa dicecar kedua anaknya Arini pun terdiam. Tapi beliau masih merasa kesal, karena putranya terlihat memanjakan gadis kecil yang dikenalkannya sebagai istri.
"Arkha permisi dulu, Buk." Arkha langsung menarik tangan Hanum untuk masuk ke dalam kamar. Dia tidak ingin ibunya kembali memojokkan Hanum.
"Maafkan Ibu jika membuatmu tidak nyaman, Num." ujar Arkha saat mereka berada di dalam kamar. Lelaki itu memegang kedua lengan bahu Hanum, matanya menatap lekat mata bulat yang dihiasi bulu lentik itu.
"Tenang saja. Aku sudah cukup mengisi tenaga untuk menghadapi kenyataan, Kak." sambut Hanum berusaha mencairkan suasana meskipun sejak tadi darahnya seperti mendidih, biar bagaimanapun dia bukan tipe orang yang mudah mengendalikan emosi.
"Benarkah?" Arkha sedikit lega. Tangannya pun membingkai wajah cantik di depannya. Berlahan, dia mengukir jarak diantar keduanya. Nafas keduanya pun saling menyapu dan berlahan bibir Arkha menyentuh bibir mungil merah delima milik Hanum. Dengan sangat lembut lelaki itu pun ********** hingga beberapa detik hingga membuat Hanum terengah karenanya.
"Pertama kali, ya?" tanya Arkha sambil tersenyum penuh bangga. Sedangkan, Hanum menunduk dengan wajah memanas menahan rasa malu.
"A- aku akan mandi, Kak." ucap Hanum dengan terbatas saat akan beranjak pergi. Tapi Arkha menahannya, dia ingin melihat wajah merona Hanum.
Arkh kembali mencium bibir ranum milik Hanum. Dia seperti seseorang yang sudah terkenal candu saat menyentuh sesuatu yang terasa kenyal itu. Kali ini, dia begitu senang Ada sedikit respon dari Hanum hingga membuatnya melakukan itu lebih Hanum.
"Kak Arkha!" Hanum menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Arkha karena merasa malu setelah melakukannya. Dia merasa bibir terasa tebal dengan kulit yang semakin menepis.
"Sayang... Kak Arkha baru mengajarimu dua kali,lo." Arkha memeluk tubuh mungil itu dengan rasa bahagia yang membuncah. Bahkan tanpa sadar dia mengecup puncak kepala Hanum yang masih menyembunyikan wajah malunya.
"Katanya mau mandi?" Arkha kembali meregangkan pelukannya, dia pun menatap wajah Hanum yang masih memerah.
"Hanum akan mandi dulu." Hanum langsung berjalan meninggalkan lelaki yang kini menatap punggungnya hingga menghilang dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
###
Alexa hari ini sudah menyiapkan semuanya termasuk tempat untuk mengajak Shakti dinner. Hari ini Shakti ulang tahun, dia sengaja untuk tidak membahasnya dan berpura pura lupa. Tapi, dia sudah menyiapkan semuanya termasuk sebuah kado spesial dan akan memaksa Shakti untuk dinner bersamanya.
"Ay, aku akan mandi sebentar!" ucap Shakti saat masuk ke dalam kamar dan melihat Alexa sudah rapi.
Lelaki itu melempar ponselnya dan berjalan menuju ke kamar mandi tapi tidak lama kemudian ponselnya berdering membuat Alexa menoleh.
"Clarissa... " gumam Alexa dengan sangat kaget melihat nama itu memanggil. Antara ragu dan rasa penasaran membuat Alexa memutuskan mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Shak." panggilan wanita itu membuat Alexa membekap mulutnya yang ingin berteriak
"Nanti jadi ke apartemenku, Kan?"
"Shak... Shakti.... kamu dengar?" Beberapa kali tidak menjawab Clarisa segera memutuskan panggilannya.
Dengan tangan bergetar, Alexa segera membuka ponsel suaminya untuk melihat berapa kali panggilan masuk sebelum ponselnya itu kembali terkunci.
Dadanya bergemuruh hebat dengan mata membola saat melihat beberapa panggilan masuk dari wanita itu. Sungguh Alexa merasa kecewa, dadanya terasa sesak dan tangan yang kemudian membuka pesan Wattshap itu pun semakin bergetar hebat.
Jangan lupa nanti siang aku tunggu di apartemen
Sebuah pesan yang baru masuk dari clarisa pun langsung terbaca oleh Alexa. Wanita yang sudah menangis itu pun mensecroll lagi semua pesan yang sudah lama. Tidak banyak hingga pesan ucapan terima kasih saat mengantarkan mantan kekasihnya ke kamar ketika mereka berada di bali pun terbaca oleh Alexa.
Seketika, tangan mungil itu meletakkan ponsel suaminya di atas bed. Tubuhnya terasa lemas dan dadanya terasa nyeri, dia tidak menyangka jika selama ini suaminya menyembunyikan hubungannya dengan sang mantan.
Alexa meletakkan kembali tasnya, kakinya merasa lemah untuk berdiri. Tatapannya menerawang hampa dan otaknya pun terasa kosong.
Shakti melirik istrinya yang terdiam, dia pun melanjutkan untuk merapikan diri.
"Ay, ayo kita turun untuk sarapan!" ucap Shakti dengan mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Tapi saat melihat Alexa hanya mematung lelaki itu mengulangi kembali kalimatnya. " Ayo turun, Ay. Kita bisa terlambat."
"Aku tidak berangkat." lirih Alexa tubuhnya masih terasa lemas.
Shakti pun menoleh ke arah istrinya, dengan heran dia mendekati istrinya yang terlihat pucat.
"Kamu sakit?" tanya Shakti. Tangannya pun segera ditepis Alexa saat akan menyentuh wajahnya.
"Biarkan aku sendiri! Aku lelah... " lirihnya sedikit berbisik, membuat Shakti sedikit heran tapi akhir akhir ini mood istrinya memang berubah ubah.
"Aku akan berangkat dulu! Nanti aku akan meminta Mbok Jum mengantar sarapan ke atas." pamit Shakti, dia berusaha untuk mencium kening istrinya tapi Alexa memalingkan wajahnya. Tapi lelaki itu memang tidak ingin memperpanjang masalah ini dulu karena pati ini akan ada meeting untuk semua pemegang saham.
__ADS_1
"Istirahat, ya!" Shakti mengelus kepala istrinya dan pergi meninggalkan Alexa yang masih mematung dengan rasa nyeri hatinya.