Rindu Alexa

Rindu Alexa
Menunggu


__ADS_3

"Papa, anterin Hanum nyari buku ya!" pinta Hanum setelah mereka menyelesaikan sarapan.


"Itu minta antar Kak Aleks." jawab Hans yang sudah bersiap ke kantor, hari ini memang ada beberapa jadwal sidang.


"Aleks ada kuliah, Pa. Lagian tugas Aleks banyak." elak Aleks, yang sangat ogah sekali berurusan dengan kembarannya yang bawelnya bikin darah tinggi.


"Makanya kamu cari pacar biar ada yang nganterin, Num." celetuk Hans membuat Zoya melotot ke arah suaminya.


"Katanya nggak boleh pacaran, Pa?" sela Alexa yang dari dulu di wanti wanti oleh Hans tidak boleh pacaran.


"Kalau kamu nggak boleh, Al. Beda dengan Hanum, kalau Hanum boleh."


"Soalnya paling yang jadi pacarnya Hanum tidak betah. hahaha." jelas Hans membuat Hanum mengerucutkan bibirnya.


"Papa, jahat banget sama anaknya." protes Hanum membuat Hans semakin terbahak. Dia paling suka menggoda gadis kesayangannya itu.


"Sudah- sudah, nggak ada yang boleh pacaran!" Kali ini Zoya menengahi.


"Kak Aleks sebelum ke kampus, nanti Anterin Kak Ale ke rumah Tante Gayatri!" lanjut Zoya, mengingatkan kembali tugas putranya.


Wanita mungil dengan semburat kecantikan yang masih terlukis jelas di wajahnya itu kemudian membereskan meja makan.


"Zoy, nanti anterin makan siang ke kantor ya!"


"Pepes salmon, sayur asam dan jangan lupa tempe goreng, ya!" pinta Hans. Iya ketiganya makanan favorit Hans dan hanya Zoya yang bisa memasak sesuai dengan seleranya.


"Iya, Mas!" Zoya pun mengantarkan kepergian Hans hingga suaminya masuk ke dalam mobil.


Kepergian Hans, di susul dengan kepergian Alexa yang diantar oleh Aleks, karena Alexa belum merasa nyaman untuk pergi sendirian, apalagi untuk pergi ke tempat umum.


###


Hari ini Shakti begitu bersemangat. Rencananya, seusai meeting, dia akan pulang dan menemui istrinya.


"Semua sudah beres dan akan balik hari ini, Ark." ucap Shakti saat mereka berjalan keluar ruangan.


"Apalah kata Pak Bos." jawab Arkha sekenanya. Bagi lelaki berkulit sawo matang itu tidak masalah jika harus tinggal lama di sini karena urusan di kantor pusat sudah terselesaikan.

__ADS_1


"Kapan kamu menikah, Ark? Jika menikah ada seseorang yang menjadi semangat kita pulang." Arkha melirik lelaki yang ada di sebelahnya. Arkha kemudian tersenyum, baru kali ini dia merasa Shakti menganggap begitu pentingnya seorang wanita dalam hidupnya.


"Setelah semua adiku lulus kuliah, dan ini aku sedang memantapkan pilihanku pada seorang gadis." jawab Arkha sambil tersenyum, dia berharap Rania bisa menerima saat dia mengajaknya menikah.


"Gajimu dan fasilitas yang perusahaan berikan tidak akan kurang jika untuk menghidupi keluarga dan istrimu. Jika memang gadis pilihanmu Rani... siapa?"


"Rania." sahut Arkha meluruskan.


"Iya, siapalah namanya."


"Rania gadis yang sederhana, pintar dan dia juga sangat pengertian. Tapi, aku takutnya dia punya pilihan lain, ya...mungkin yang seusianya atau seseorang yang ternyata aku belum tahu status mereka." Masih banyak yang harus di pertimbangkan, Arkha hanya takut Rania dekat dengan dirinya hanya karena mereka berasal dari kota yang sama.


"Baiklah aku pulang dulu! Aku sudah kangen sama si Ale Ale." ucap Shakti mengikuti panggilan kecil alexa dari keluarganya, lelaki itu menepuk bahu Arkha sebelum pergi melangkah menghampiri mobilnya.


"Hati-hati di jalan." teriak Arkha dengan menatap kepergian Shakti.


Lelaki yang kini sedang berjalan menghampiri mobilnya, dia memilih untuk segera kembali ke penginapan. Tapi, saat mengingat beberapa pesan masuk, lelaki itu kembali membuka ponselnya.


[Bang Arkha bisakah aku minta tolong mengajariku untuk membuat situs Web]


Pesan dari Rania membuat Arkha langsung melakukan panggilan pada gadis itu.


"Waalaikum salam, Ran. Ini Bang Arkha lagi di luar kota." Arkha bisa melihat wajah manis itu tersenyum ke arahnya.


"Oh, aku kira bang Arkha ada di sini."


"Jika mau nunggu Abang, lusa Abang balik ke kota." ucap Arkha.


"Baiklah, aku akan menunggu Abang." jawab Rania membuat Arkha tersenyum.


"Kalau begitu Ran, tutup dulu ya bang, ini mau ada kelas."


"Baiklah, sampai jumpa. Assalamu'alaikum." Arkha pun menutup panggilannya.


Tapi,dia tidak langsung meletakkan ponselnya. Lelaki itu kembali membuka rentetan story di Whatsapp.


Hanum. Bocah bar- bar itu terlihat sedang berselfie di sebuah gazebo yang ada di dekat kolam renang. Arkha tersenyum saat melihat wajah cantik dan sok imut itu yang dia lihat, karena pada kenyataannya bocah itu sangat sangat merepotkan sekali.

__ADS_1


###


Sudah tengah malam, Tapi Alexa masih terlihat gusar, dengan sesekali melihat ponselnya. Seharian ini dia sudah mengirim beberapa pesan dan bahkan menelponnya berkali kali, tapi tidak diangkatnya juga.


"Kenapa, Kak?" tanya Hanum dengan menindih tubuh kecil kakaknya.


" Mas Shakti tidak bisa dihubungi, ya?" lanjut Hanum. Dia bisa melihat rasa cemas kakaknya saat hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Pasti, dia sedang bersenang - senang dengan wanita lain." goda Hanum.


"Hanum... " Alexa ingin sekali menangis mendengar jawaban Hanum seperti yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Wajarkan, orang berduit jauh dari istri. Pasti banyak godaannya." bocah itu semakin membuat Alexa ingin menangis. Iya bahkan, matanya sudah terlihat berkaca kaca saat mendengar penjelasan adiknya.


"Ya Allah, Kak. Gitu saja nangis. Ayo tidur! Besok hajar saja kalau ketemu." bocah itu merekatkan pelukannya di tubuh kakaknya.


Setelah puas menggoda kakaknya Hanum lun terlelap, tinggal Alexa yang malah menangis memikirkan suaminya yang tidak juga membalas pesannya atau balik menelpon hingga tengah malam.


Dengan memeluk ponselnya, Alexa mulai terlelap. Dengan pikiran tidak tenang dia pun akhirnya tertidur. Hingga akhirnya, saat Dini hari, seseorang membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak di kunci.


Shakti berjalan menghampiri tempat tidur dan dia berjongkok di dekat istrinya melihat dengan teliti wajah yang sudah dia rindukan.


"Astaga, Ay. Tidurnya pakai meluk ponsel." Berlahan dia mengambil ponsel Alexa dan meletakkannya di nakas. Dia juga bisa melihat masih ada bekas air mata yang menetes di bantalnya.


Setelah meletakkan ponsel dan kunci mobil, Shakti menghampiri Hanum. Lelaki itu menepuk pelan tubuh adiknya.


"Astagfirullah... " Hanum terkaget apalagi dia tidak mengenakan jilbab.


"Pindah sana!" ucap Shakti dengan seenaknya, Hanum hanya bisa melotot melihat tingkah kakak iparnya.


"Besok Mas Shakti belikan ponsel baru!"


"Beneran?" tanya Hanum untuk kembali meyakinkan kakak iparnya.


"Iya." sahut Shakti dengan membuat Hanum kemudian bergeser dan turun dari tempat tidur. Masih dengan mengantuk bocah itu keluar dari kamar Alexa.


Dengan senang hati, Shakti masuk ke dalam selimut istrinya. Dia masih belum bisa memejamkan matanya, lelaki itu menyingkirkan anak rambut istrinya untuk bisaa melihat wajahnya dengan sempurna.

__ADS_1


Alexa mulai bergerak gelisah membuat Shakti menghentikan gerakannya. Mungkin karena naluri, wanita itu spontan memeluk tubuh besar yang berbaring di sampingnya, bahkan dia menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya membuat Shakti tersenyum dengan tingkah Alexa yang masih memejamkan matanya.


"Aku merindukanmu, Ay." bisik Shakti kemudian lelaki itu ikut memejamkan matanya dengan memeluk tubuh kecil di sebelahnya.


__ADS_2